
Selamat membaca...
“Ngapain?.” Tanya Fania pada Andrew saat gadis itu hendak menutup pintu kamar Andrew dan melihat si Donald ada di belakangnya.
“Masuk kamar, tidur.” Jawab Andrew.
“Ya emang gue mau tidur.” Sahut Fania. “Lo mau ngapain disitu. So sweet banget mo ucapin met bobo ya?. Cie.. Donald.”
“Iya nanti aku kasih ciuman selamat malam ga hanya ucapan.” Sahut Andrew tanpa dosa.
“Dih modus. Udah ah, gue mau tidur nih.” Ucap Fania hendak menutup pintu.
“Iya sama. Emang kamu aja yang ngantuk?. Aku juga sama.” Ucap Andrew juga sambil menahan pintu kamarnya.
“Ya udah sana ke kamar kamu.” Sahut Fania.
“This is my room, Fania.” Ucap Andrew yang akhirnya menerobos masuk. Sementara Fania masih berdiri ditempatnya.
“Iya tau ini kamar lo Nald, jadi maksudnya gue disuruh pindah ke kamar lain?.” Tanya Fania membuat Andrew yang
hendak masuk ke kamar mandi jadi menghampiri gadis itu lagi.
“Yang suruh kamu pindah siapa?.” Ucap Andrew sambil menutup pintu. Membuat Fania jadi sedikit grogi.
‘Maksudnya dia mau tidur disini juga gitu?.’ Batin Fania.
“Hayo mikirin apa?!.” Ucap Andrew sambil mengetuk pelan dahi Fania.
“Sakit ih.” Protes Fania sambil memegang dahinya.
“Masa gitu aja sakit?. Pelan aja aku ngetuknya juga.” Ucap Andrew sambil mengusap dahi Fania. “Udah tidur sana.
Brush your teeth then go to sleep.”
“Lo mau tidur disini juga?.” Tanya Fania pelan. Andrew malah tersenyum.
“Ya terus dimana lagi?.” Tanya Andrew balik.
“Kamar tamulah.” Jawab Fania.
“Ini kan kamar aku?!. Hem ?.” Ucap Andrew. “Aku ganti baju dulu ya.”
Fania masih bergeming di tempatnya berdiri. ‘Jadi? Seriusan ini gue sama dia tidur sekamar?.’ Fania masih sibuk
dengan pikirannya.
Membuat Andrew yang tadi sudah menjauhi Fania untuk berjalan ke walk in closet miliknya, kembali menghampiri gadis itu karna si Sweetheart masih berdiri di tempatnya.
“Kenapa?. Mikirin apa?. Takut aku apa – apain?. Hem?.” Ucap Andrew yang tiba – tiba memeluk Fania dari belakang.
Membuat jantung Fania berdegup kencang.
Fania yang kaget dengan Andrew yang memeluknya, seketika tersadar dari lamunannya yang memikirkan dia dan si Donald akan tidur sekamar. “Um, i-itu ....” Ucap Fania sedikit terbata.
“Udah jangan mikir macem – macem, semalam kan aku juga tidur disini. Aman kan kamu pas bangun?. Masih pakai baju lengkap?.” Goda Andrew.
“Ih, mulai.” Sahut Fania seraya berbalik menghadap Andrew yang tadi memeluknya dari belakang. Andrew pun terkekeh.
__ADS_1
“Udah, tidur sana. Aku mau ganti baju.” Ucap Andrew sambil mengelus kepala Fania lalu berjalan masuk ke walk in closet.
Fania akhirnya berinisiatif untuk duduk di sofa dan menyetel TV sambil menunggu Andrew ganti baju.
‘Disuruh tidur, malah nonton TV.’ Batin Andrew sewaktu melihat Fania disofa, saat sudah selesai mengganti baju dan membersihkan wajah serta gigi dan mulutnya.
Fania menoleh saat Andrew keluar dari kamar mandi yang tembus dari dalam walk in closet nya.
“Tidur Fania.” Ucap Andrew sambil mendudukkan dirinya di sofa, tepat disamping Fania.
“Gue belom ngantuk. Lo aja sana tidur duluan.” Ucap Fania sambil sibuk mengganti channel TV. “Kita switch ya malam ini. Lo di ranjang gue disini. Semalem kan lo dah tidur di sofa. Sekarang gue. Oke?.”
“Ga oke.” Sahut Andrew. “Nanti badan kamu sakit tidur di sofa.”
“Ya emang lo sendiri ga sakit badannya?.” Tanya Fania. “ Udah santai aja Nald, ga usah ga enakan sama gue sih. Woles aja woles.”
“Bahasa apalagi itu Fania?.” Sahut Andrew.
“Santai kek di pantai.” Jawab Fania sambil nyengir. “Ga masalah gue tidur di sofa. Tidur di lantai juga sering kok
kalo di kontrakan dulu. Jadi sudah terbiasa.”
Tanpa Fania sadari, lagi – lagi Andrew merasa bersalah pada Fania setelah mendengar perkataan si Sweetheart nya itu.
“Maafin aku ya, lama datangnya.” Ucap Andrew sedikit lirih sambil mengelus kepala Fania. Membuat Fania menoleh pada sang kekasih hatinya.
“Udah ah, jangan minta maaf melulu. Bosen dengernya.” Fania coba mengalihkan pembicaraan.
“Sini.” Andrew menarik pelan Fania untuk membawa gadis itu dalam pelukannya. Sejenak keduanya diam tak bicara. Hanya menikmati momen yang dirasa membahagiakan bagi keduanya.
“Istirahat sana.” Ucap Fania setelah melepaskan pelukan Andrew.
“Mau dinina boboin?.” Ledek Fania.
“Why not?.” Ucap Andrew sambil meletakkan kepalanya diatas kedua paha Fania yang dihalangi bantal kursi.
“Dasar.” Sahut Fania namun gadis itu merasa bahagia setiap kali Andrew tidur dipangkuannya.
“Little F. Sejak kapan jadi penyanyi?.” Tanya Andrew sambil menatap wajah Fania yang tertunduk menghadap wajahnya.
“Lulus SMA.” Jawab Fania.
“I missed that moment.” Ucap Andrew sambil membelai wajah cantik Fania.
“Yang penting lo disini sekarang, Nald.” Ucap Fania sambil tersenyum tulus pada Andrew. Senyuman yang kiranya Andrew rasa mampu meruntuhkan dunianya. Asik dah.
‘So beautiful.’ Batin Andrew saat Fania tersenyum padanya barusan.
“Why like music and singing?. Love it. You said it was your soul.” Ucap Andrew yang bertanya kenapa Fania begitu
menyukai musik dan bernyanyi sampai menjadikan dua hal itu bagian dari jiwanya.
Gadis itu tersenyum lagi sebelum menjawab Andrew, membuat jantung Andrew berdebar setiap kali laki – laki itu melihat senyuman tulus Fania.
“Karna gue merasa lewat musik dan bernyanyi, selain doa, dua hal itu bisa bikin gue lupa sama sedih gue karna lo
dan Kak Reno yang menghilang dari hidup gue.” Ucap Fania yang matanya menatap Televisi namun pikirannya seperti melayang. “Dua hal itu juga ada harapan gue untuk menyampaikan rasa dihati gue.”
__ADS_1
Andrew masih dalam posisinya sambil menatap Fania yang bercerita. Lagi – lagi ada sedih yang tersirat dari ucapan Fania dan itu terasa menggores hati Andrew.
“Berharap angin membawa perasaan gue lewat lagu yang gue nyanyikan saat gue rindu kalian, supaya kalian ga lupa sama gue, dan merasa kalau gue akan selalu menunggu kalian datang.” Ucap Fania lagi. “Karna gue sayang kalian dan akan terus begitu.” Mata Fania mulai berkaca – kaca. “I feel music and singing are my soul, untuk melengkapi sebagian jiwa gue yang kosong.”
Andrew yang tak tahan mendengar cerita Fania yang menggambarkan kesedihan gadis itu selama terpisah dengan para abang ketemu gedenya pun langsung mengangkat kepalanya dari bantalan diatas paha Fania. Menghadapkan dirinya pada Fania yang masih memandang lurus kedepan.
“Ya, berharap lagu bisa menyampaikan kenaifan gue untuk seseorang meski mungkin dia sudah lupa sama gue.” Fania lalu menghela nafasnya. “Karna rasa yang tumbuh buat dia, jauh berbeda dengan perasaan gue ke Kak Reno.”
Andrew menggengam tangan Fania, erat. Membuat gadis itu pun menoleh dan tersenyum padanya dengan mata yang berkaca – kaca.
“Bukan cinta monyet ternyata. Dia cinta dalam hati gue. My soul.. You are.” Ucap Fania tulus dengan senyuman untuk Andrew.
Membuat Andrew meraih pelan wajah Fania dan menempelkan bibirnya pada bibir Fania.
“I love you Fania.” Lalu Andrew kembali mencium Fania dengan lembut, dalam dan hangat.
Fania pun mengikuti irama kelembutan serta kehangatan bibir Andrew.
“Maaf untuk kesedihan dan penantian kamu....” Ucap Andrew setelah melepaskan ciumannya pada Fania. “Aku akan ganti sedih kamu dengan bahagia. Karna seperti halnya aku dihati kamu, begitupun kamu dihati aku.”
Andrew merengkuh Fania dalam pelukannya. Menyalurkan setiap rasa sayang dan cintanya pada Fania.
“Makasih ya Nald.” Ucap Fania saat dalam pelukan Andrew.
“Thanks to you Fania, terima kasih udah menjadikan aku bagian dari jiwa kamu. “ Ucap Andrew. “I love you and all I want is you. Aku akan membuat diriku pantas untuk kamu.”
---
Menatap indahnya senyuman diwajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya citra terindah
Bila kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata yang tak mampu
Kuungkap kan kepada dirimu...
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang menyakini ku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku
---
‘God, I love her. Just wanna be with her.’. Batin Andrew saat memeluk Fania.
‘Jangan rubah takdirku, Tuhan. Biarkan aku selalu bersama Donald ku, merasakan cintanya hanya untukku.’ Batin Fania.
*
__ADS_1
To be continue ...*