BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 209


__ADS_3

Selamat membaca .....



“Morning, Mom, Dad. ( Pagi Mom, Dad ).” Sapa Fania pada kedua mertuanya itu pagi ini.


“Morning, Dear. ( Pagi sayang ).” Sahut Dad dan Mom bersamaan.


“How are you today?. Feeling better?. ( Bagaimana kabarmu hari ini?. Merasa lebih baik? ).” Tanya Dad karena melihat wajah Fania sudah kembali ceria, tidak seperti kemarin.


“Very good, Dad. Thank you. ( Sangat baik, Dad. Terima kasih ).” Fania tersenyum.


“Ah iya Fania, kemarin ada kiriman untuk kamu dari Keluarga Cemara.” Ucap Mom Erna sambil mengkode salah satu pelayan untuk mengambilkan kiriman tersebut.


“Morning.” Terdengar sapaan dari beberapa orang saat Fania ingin membuka paket dari Keluarga Cemara.


“Lah kalian semua kapan datengnya?.” Tanya Fania saat melihat Reno, Ara serta dua J. Karena saat makan malam mereka berempat memang tidak ada.


“Morning.” Terdengar sapaan dari dua orang lagi. Andrew dan Michelle datang berbarengan. “Kak Fania udah sehat?.”


“Lo sakit?.” Reno khawatir. Memegang dahi Fania secara spontan.


“Engga.” Sahut Fania. “Kurang enak badan doang kemaren. Tapi udah ga apa – apa Kak.”


“Hem, ya udah.” Sahut Reno.


“What is it, Heart?. ( Apa itu sayang? ).” Tanya Andrew yang melihat Fania akan membuka sebuah kotak agak besar yang diletakkan diatas meja di ruang keluarga.


“Kiriman dari Mamah.” Jawab Fania sambil mulai membuka dus tersebut.


Andrew menghampirinya. “Let me. ( Biar aku ).”


Fania melihat isi kiriman dari Mama Bela tersebut, setelah Andrew sukses membuka dus tersebut. Ia tersenyum.


“Mama kamu kirim apa sayang?.” Tanya Mom Erna penasaran.


“Semua yang Fania minta, Mom.” Ucap Fania tersenyum lebar. “Oh iya Kak Ren, lo masih pengen duren?.”


Andrew dan Michelle mundur teratur sembari menutup hidungnya. Kedua kakak beradik itu kompak tidak menyukai buah yang barusan Fania bilang itu. Berjaga – jaga siapa tau ada buah yang baunya menyengat itu di dalam dus, meski tak mencium ada bau dari durian di dalam dus.


Yang lain menatap dua orang tersebut. Mereka terkekeh geli.


Termasuk Fania. “Apa sih?. Ga ada duren di dalem sini.”


Andrew maju sedikit dan memajukan kepalanya untuk melihat ke dalam dus. Langsung tak lagi menutup hidungnya saat dia tak melihat duren dalam dus tersebut.


“Aman, Chel.” Ucap Andrew pada Michelle dan gadis itu menghela nafas lega, tak lagi menutup hidungnya.


“Udah kesampaian waktu di Thai.” Sahut Reno menjawab Fania.


Udah beneran doyan sekarang?.” Tanya Fania lagi.


“Doyan banget sih engga. Hanya sudah bisa makan itu aja.” Jawab Reno.


“Iya aneh. Tiba – tiba pengen makan duren.” Celetuk Ara. Reno mengangkat bahunya karena dia sendiri pun heran kalau dia tiba – tiba ingin makan buah yang dulu amat sangat dia benci itu seperti halnya Andrew dan Michelle.


“Heeemmm.” Fania kembali mengobrak – abrik isi dalam dus. Yang diperhatikan oleh yang lainnya.


Ara yang kepo mendekatkan diri pada dus tersebut termasuk Jeff.


“Minta dikirimin apa sih lo Jol dari Mama Bela?.” Tanya Jeff sembari ikutan membongkar isi dus. “Apaan nih?.” Tanya yang melihat sebuah barang terbungkus plastik transparan berbentuk lonjong itu. “Do-dol? ....”


“Sini!.” Fania merampas dodol tersebut dari tangan Jeff. “Kesukaan gue ini!.”

__ADS_1


“What is it?. ( Apa itu? ).” Tanya Andrew.


“Dodol!.” Jawab Fania.


“Dodol?.” Andrew tampak berpikir. “Yang kenyal – kenyal itu?.”


“Susah kalau otak mesum sih. Selalu terbayang yang kenyal – kenyal.” Celetuk John yang membuat semua orang terkekeh geli.


“I’m asking, okay?!. ( Gue kan nanya, oke?! ).” Protes Andrew pada John.


“Tau lo Kak John, su’udzon aje.” Timpal Fania. “Bener emang kenyal si.”


“See?. ( Nah kan? ).” Sahut Andrew. “Manis?.”


“Sangat. Kayak aku.” Celetuk Fania sambil nyengir.


“Ya udah buka, gue mau coba.” Timpal Reno. “Dodol rasa apa?.”


“Dureeeeennnn!.” Ucap Fania girang seraya melirik jahil pada Andrew dan Michelle. Menggoda mereka. Yang spontan langsung menjauh.


Membuat semua orang tergelak geli. “Coba buka.” Reno tiba – tiba merasa air liurnya hampir keluar mendengar kata duren. “Theresa go get a knife to cut this. ( Theresa ambil pisau untuk memotong ini ).”


“No need Theresa!. ( Ga perlu Theresa! ).” Fania menyambar cepat. “Buka ginian doang aja segala pake pisau. Nih, tinggal diginiin doang.”


Dodol pun sukses dibuka Fania. “Makan tinggal potek aja nih. Horang kayah suka pada ribet.” Ucapnya sembari memotong dodol dengan tangannya lalu memakan potongan tersebut. “Hm, yummy. ( Hm, enak ).”


Reno nampak makin tergiur melihat ekspresi Fania yang dibuat – buat itu. Ia langsung menyambar dodol ditangan Fania dan memoteknya seperti yang adik kesayangannya itu lakukan.


Mata Reno berbinar saat dodol duren itu sudah masuk kemulutnya. Tak perduli meskipun tangannya lengket. “Enak banget Fania!.”


“Coba Hon.” Ara ikut tergiur. Reno menyuapi istrinya.


Ara pun sama berbinar nya merasakan dodol kiriman Mama Bela tersebut. Membuat yang lain ikut penasaran untuk mencoba terkecuali Andrew dan Michelle.


Andrew dan Michelle sama – sama mengendikkan bahunya. Tanda kalau mereka jijik untuk merasakannya.


“Brush your teeth after that, Heart!. ( Sikat gigi setelah itu, Heart! ).” Ucap Andrew yang melihat Fania memakan dodol dengan asiknya.


“Tadi mandi juga sikat gigi.” Sahut Fania.


“Iya sikat gigi lagi setelah itu. Bau nanti mulut kamu.” Protes Andrew yang amat tak senang melihat Fania memakan dodol duren tersebut. Meskipun tak menyengat seperti buahnya. Tetap saja itu terbuat dari duren yang baunya amat Andrew tak suka.


Yang lain pun cekikikan.


“Ga apa – apa Fania. Biar dia ga sering – sering cium kamu.” Goda Mom Erna.


“You’re so right, Mom. ( Mom benar sekali ).” Reno mendukung Mom. “Bagus ini jadi senjata lo untuk menghindari kemesuman suami lo.”


Lagi – lagi yang lain terkekeh geli. Membuat Andrew makin sebal.


“Come, Chel. Let’s go for breakfast!. ( Ayo Chel, mending kita sarapan! ).” Andrew mengajak Michelle menjauhi para pecinta dodol duren itu.


Andrew dan Michelle langsung berjalan cepat ke halaman belakang, tempat mereka akan sarapan pagi itu, karena cuaca yang cerah.


Yang lain akhirnya mengalah dan menyusul Andrew serta Michelle yang duluan menuju tempat sarapan mereka di halaman belakang. Disambut dengan tatapan sebal oleh Andrew dan Michelle tentunya.


Fania dan yang lain terus terkekeh geli, hingga saat para maid selesai menata sarapan dan melayani mereka.


“Sekali – sekali bikin nasi uduk nih buat sarapan. Pake gorengan sama sambel kacang.” Celetuk Fania saat seorang maid menyajikan sarapan diatas piringnya.


“Kamu ga usah ngomong. Bau duren!.” Celetuk Andrew yang masih sebal.


Fania terkekeh lagi. “Wa elah, Tuan Muda Andrew, sentimen amat.”

__ADS_1


Andrew menatap sebal pada Fania. “Ya habis kamu. Udah tau aku ga suka durian. Malah kamu makan itu tadi dodol durian banyak – banyak.”


“Iya, maap.” Sahut Fania. ‘Bener nih kata Kak Reno, bisa jadi senjata ini dodol duren.’ Batin Fania geli sendiri.


Lalu mereka semua memulai sarapannya.


“Excuse me. ( Permisi ).” Reno berdiri dari duduknya. Membuat yang lain terheran – heran termasuk Ara.


“Kenapa Hon?.” Tanya Ara. Reno mengangkat tangannya lalu buru – buru lari menuju toilet.


“Kak Reno sakit, Kak Ara?.” Tanya Fania. Ara menggeleng.


Tak lama Reno kembali dari toilet dengan wajah yang sedikit pucat. Duduk kembali ke tempatnya tadi.


“Pasti ini Kak Reno keracunan, makanan aneh tadi.” Celetuk Michelle asal.


“Sembarangan lo, Chel. Ini gue ga apa – apa buktinya.” Timpal Fania.


“Fania is right. Dad also okay. ( Fania benar. Dad juga ga apa – apa ).” Dad mendukung ucapan Fania.


“Lita, take this away, please. ( Lita, tolong ambil ini ).” Reno meminta salah satu maid untuk menyingkirkan sarapannya.


“Kenapa Hon?.” Tanya Ara yang heran, mewakili keheranan anggota keluarga yang lain. Pasalnya Reno suka English Breakfast selama ini.


“Entah. Tiba – tiba aku merasa mual setelah makan ini sedikit tadi.” Jawab Reno.


“Gue rasa karena perut lo ga terbiasa dengan dodol tadi.” Timpal Andrew. “Belum sarapan lo udah coba itu makanan aneh.”


“Tapi aku juga ga apa – apa kok Ndrew.” Sahut Ara.


“Mom also okay. ( Mom juga baik – baik saja ).” Timpal Mom Erna. “Maybe you should check your condition to Owen. ( Mungkin kamu harus periksa ke Owen ).” Mom Erna menyarankan agar Reno diperiksa oleh Dokter Keluarga mereka.


“Ya, nanti R telpon Owen.” Sahut Reno.


“Kamu mau sarapan apa jadinya, Hon?.” Tanya Ara.


“Nope, aku ga ingin makan. Rasanya masih mual.” Jawab Reno. “Fan, gue minta dodol durennya lagi, ya?.”


“Ambil aja sih Kak. Banyak kok itu mama kirim.” Sahut Fania.


“Ya udah gue ambil ya?.” Reno bergegas berdiri dari duduknya. Melangkah menuju ruang keluarga tempat mereka meninggalkan dus berisi segala macam camilan termasuk dodol duren yang Reno inginkan saat ini.


“Weird. ( Aneh ).” Gumam Jeff.


“Ini mpe – mpe kan Little F?.” Tanya Reno yang sudah kembali membawa bungkusan lain selain dodol duren. Fania mengangguk. “Bisa langsung dimakan?.”


“Di goreng dulu Kak.” Jawab Fania. “Lo mau?. Asem sama pedes tapi ini bumbunya. Nanti lo malah sakit perut makan ginian pagi – pagi. Tapi kalo mau gue gorengin sekalian racikin sini.”


“Ngerepotin ga?.” Tanya Reno. “Cuma digoreng aja, kan?. Maid bisalah pasti.”


“Iya sih, Cuma digoreng aja. Sama kuahnya itu dipanasin sebentar.” Jawab Fania. “Sini deh, gue bilang sama Theresa.”


Fania beranjak dari duduknya dan langsung melangkah ke dapur untuk menginstruksikan pada salah seorang maid untuk menyajikan mpe – mpe yang diinginkan Reno.


‘Kak Reno aneh ni. Pagi – pagi mau makan mpe – mpe.’ Batin Fania. ‘Eh tunggu – tunggu. Kak Reno tiba – tiba mual, tiba – tiba doyan duren, tiba – tiba mau makan yang pedes asem.’ Fania menerka – nerka. ‘Ah, udah pasti ini sih.’


****


To be continue...


Jangan Lupa untuk Kasih Like, Vote, Komen dan Ratingnya Yah


Terima Kasih Reader – Reader ku sayang.

__ADS_1


__ADS_2