
Selamat membaca ...
“Apa kamu mencintainya juga? Atau.. mungkin pernah mencintainya? ....” Pertanyaan Andrew sedikit mengagetkan Fania.
Fania memandangi Andrew yang barusan bertanya tentang perasaannya pada Dewa.
“Apa kamu ingin jawaban jujur dari aku?.”
“Sangat.” Ucap Andrew yang juga sedang mengambil ancang – ancang dengan hatinya, kalau apa yang akan diucapkan Fania adalah suatu hal yang ia khawatirkan atau ia takutkan.
“Well, aku ingin kamu dengarkan ini baik – baik, D ....”
“Okay. Tapi sebelum itu aku ingin tanya, apa kamu tau perasaan Dewa ke kamu?.”
Fania mengangguk. “Ka Dewa baik. Dan aku tau dia punya perasaan yang spesial sama aku. Meski dia ga pernah bilang. ”
Fania memulai ucapannya, Andrew masih menatap Fania yang juga tak mengalihkan pandangannya. Selain tahu Andrew sangat membenci orang yang bicara padanya tanpa melihatnya, namun Fania tau juga kalau Andrew bisa membaca jujur atau tidaknya seseorang hanya dari pandangan mata.
Dan Fania hanya ingin berkata jujur sejujur – jujurnya pada Andrew tentang dia dan Dewa dulu.
“Dia memperlakukan aku dengan sangat baik. Sangat perhatian dan dia buat aku nyaman.... Sejenak juga bisa menghilangkan kesedihan aku yang hilang kontak dengan kamu dan kak Reno. Tapi aku ga pernah cerita tentang kalian sama dia. Yah, ka Dewa itu memanjakan aku dengan perhatian dan waktu – waktu yang menyenangkan. Honestly ( Sejujurnya ), aku bahagia ada seseorang yang memperlakukan aku seperti itu.”
“Kamu mencintainya?.” Andrew memberanikan diri untuk bertanya sebelum Fania kembali bercerita.
“Sekarang engga.”
“Dulu?. Apa kamu pernah jatuh cinta juga sama dia?.”
Fania tersenyum. Hati Andrew lumayan cemas, karena Fania tidak segera menjawab.
“Cinta ....”
Deg!. Ada hantaman keras di hati Andrew.
“Satu – satunya cinta yang pernah aku rasa pada seorang pria, ya kamu. Aku hanya pernah suka dan mengagumi Ka Dewa. Tapi kalau cinta, ya kamu. Kamu seorang.”
“Say it again! ( Katakan sekali lagi ).”
Andrew meraih wajah Fania dengan cepat, ingin mendengar lagi kalimat yang barusan Fania katakan.
“Aku hanya mencintai seorang pria dalam hati dan hidup aku. Kamu, D. Ga pernah ada orang lain.”
“Say it again! ( Katakan sekali lagi ).” Andrew masih ingin mendengar kata cinta dari Fania dengan wajah yang menunjukkan rona bahagia dari pengharapannya.
“I love you .. D. Hanya kamu.”
Mata Andrew berbinar. Mendengar Fania mengucapkan apa yang ia sangat – sangat ingin dengar. Kalau Fania hanya mencintainya, hanya dia.
Cup!.
Andrew meraih tengkuk Fania dan langsung mencium bibir tipis Fania yang selalu nampak mengoda baginya, candunya.
“I Love you more ( Aku lebih mencintaimu ).” Ucap Andrew yang sedikit terharu. Lalu melanjutkan kembali menempelkan bibir Fania dengan bibirnya. Mencium dalam – dalam, mencurahkan segala rasa. Cinta!.
Syutt!
Fania, yang tanpa Andrew duga menarik keatas kaos ketat hitam yang ia kenakan hingga terlepas.
Terpampang indah dada dan perut atletis Donald Bebek plontos dihadapan Fania. Membuat si Kajol sedikit menelan salivanya melihat dada Atletis Andrew yang susah dicubit saking kencang dan padat, tak lupa roti sobek yang tercetak sempurna diperut Andrew.
“Heart....” Andrew sedikit terkejut karena Fania membuka kaosnya dengan tiba – tiba dan membuangnya ke sembarang arah.
Fania mengabsen tiap inci wajah Andrew hingga ke garis rahangnya. Menyentuh tulisan didada kiri Andrew.
“I miss you (Aku kangen).” Ucap Fania dan Andrew kembali menciumnya. C*iuman yang dalam hingga menuntut.
“I miss you more ... (Aku lebih kangen).” Ucap Andrew sambil membuka satu persatu dress rumahan yang dipakai Fania.
Author tutup mata ah
**
Cinta .....
‘Cinta itu seperti sakit punggung, tidak terlihat di sinar X, tapi kau bisa merasakannya.’ Kira – kira begitulah yang om George Burns bilang.
Yah, bener juga sih. Cinta, sesuatu yang tak nampak, tapi memiliki efek yang luar biasa.
Kita bisa amat – amat sangat bahagia, namun sakit karna cinta juga kadang luar biasa.
Cinta dan Suka, apa bedanya?.
Suka....
__ADS_1
Seperti yang pernah aku rasa pada Ka Dewa.
Hati ini pernah berdebar saat sama – sama dia. Ga munafik sih. Cewe mana yang ga meleleh dengan sepaket ketampanan dan kebaikan serta perhatian seorang Dewa Finn?.
Hanya berdebar, itupun tak lama, tak dalam.
Tapi pada Andrew?. Si Donald Bebek ngeselin itu? ...
Hati ini ga hanya berdebar, tapi juga bergetar. Saat melihat dia, saat bersamanya.
Andrew dan semua yang ada dalam dirinya. Mempesona gue, membuat gue tergila – gila.
Suka? Pasti!.
Cinta?. Aku rasa iya.
Memang cinta, karena rasanya ‘kosong’ saat dia ga ada.
Sedih, saat menahan rindu.
Rasanya semua berwarna merah muda kalau sudah bersamanya.
Didekatnya, dalam pelukannya, merasakan setiap ciuman dan sentuhannya.
Cinta ....
Iya! Aku cinta dia. Andrew! Sangat!. Cinta pertama dan satu – satunya. Hanya dia ....
My Beloved Hubby
Suami tercintaku, Andrew Adjieran Smith!
Donald Bebeknya aku!
‘D’ kuseorang!
Dan pada akhirnya, cinta yang aku punya adalah cinta yang aku dapat.
Saat ini bersamanya .... I Love You Donald Bebek!. Murni dari hati aku yang terdalam
**
'Dan si Donald Bebek plontos bertubuh atletis ini yang mampu membuat aku hampir gila dengan '‘nikmat'' yang tiada tara. Yang mampu membuat sisi liar seorang Fania keluar hampir tak terkendali.'
“Faster, Heart.... (Lebih cepat, sayang .....).” Ucap Andrew setengah tersengal, saat Fania sudah bergerak diatasnya. Dengan peluh yang sudah membasahi hampir seluruh tubuh keduanya.
“I love you, ....” Fania menggigit bibir bawahnya, saat posisi sudah berganti. Menatap dalam – dalam manik mata Andrew, dan wajahnya yang sayu saat laki – laki itu sedang bergerak dengan intens diatasnya.
“Andrew..... Donald ... D ... engghh!.....”
“Mau aku berhenti, hem?.”
“Mau aku kebiri, heeeeeem ....?.”
“Nakal....” Bisik Andrew ditelinga Fania saat dua bongkahan belakangnya di remas gemas. Membuat hawa kamar mereka terasa makin panas, menutupi hawa pendingin ruangan dan semilir angin sore yang berhembus melalui pintu balkon yang terbuka.
***
“Andrew, Fania. Untunglah kalian sudah bangun juga, jadi kita tetap bisa dinner sama – sama.”
Sapa Mom Erna pada Andrew dan Fania yang juga sudah ikut bergabung ke ruang makan. Sama - sama baru nongol dan makan malam sedikit terlambat.
“Semuanya baru pada keluar kamar juga?.” Tanya Fania pada para anggota keluarga yang juga nampak baru bermunculan.
“Gue sama Ara ketiduran. Very tired (Cape banget).” Sahut Reno.
“Enak bisa tidur. Gue sih ditidurin.” Celetuk si Kajol yang mulutnya suka nge blong kayak rem.
Dan Andrew hanya melongo mendengar celetukan Fania.
“Pantes makin bersinar aja itu kepala. Udah buka ‘puasa’.” Timpal Reno.
Fania dan yang lainnya hanya terkekeh.
“Ketawa. Tadi yang mulai siapa, heemm?...” Andrew mencubit gemas pipi Fania.
“Ish, sakit ih, Donald Bebek!.” Fania mencebik pada Andrew.
“Sorryyyy.” Ucap Andrew lalu mengecup pipi Fania.
“Excuse me (Coba tolong). Bisa ga Tuan dan Nyonya Bebek jangan mengumbar kemesraan disini. Selera makan gue sedikit terganggu.” Ledek John.
“Jomblo, sirik aje. Weeee.” Celetuk Fania yang kemudian mengambil tempat dikursi makan seperti biasa.
“Everything are good, Andrew, Fania? (Kalian sudah baikan?).” Tanya Dad pada dua sejoli yang nampak sudah akur lagi.
“Very good, Dad (Sangat baik, Dad).” Jawab Andrew sambil memainkan alisnya. Membuat Dad terkekeh.
“Sombong! Kemarin aja udah seperti orang sekarat, gara – gara dicuekin Kak Fania.” Celetuk Michelle ikutan meledek Andrew.
__ADS_1
“Oh, udah berani sekarang ya?.” Ucap Andrew pada Michelle yang meledeknya.
“Udah gitu, Chel. Tenang, ada Kakak Fania yang belain,” Ucap Fania sambil menoleh pada Andrew dengan menaikkan alisnya. “Apa?. Mau protes?.”
“Ga berani.” Andrew mengangkat tangannya seraya berguyon. Membuat semua orang tergelak melihat Andrew dan Fania dan menghangatkan suasana.
“Kalau si Donald Bebek ngeselin macem – macem lagi. Jadiin dia tiang sekalian, Little F.” Celetuk Reno lagi yang membuat mereka kembali tertawa.
“Kamu sepuluh ....” John bersuara dengan nada, dengan tangannya menunjuk pada Fania. Dengan muka tengilnya ga ketinggalan.
“Aku sebelas ....” Fania menggerakkan badan dan jempolnya. Konek sama kalimat si bule koplak barusan. Dan mereka tergelak lagi.
“Kayaknya dibadan lo ga ada tulang ya, Jol?. Elastis banget. Kalo ngomong ga usah pake gerak berlebihan ga bisa, memang?.” Celetuk Jeff. "Kalah atlit Gymnastic."
“Ga bisa!.” Ledek Fania dan Jeff hanya geleng – geleng. “Dah ah, ayo kita makan.”
“Dewa ga ikut makan, Babe?.” Tanya Reno pada Ara, yang membuat Fania menoleh padanya.
“Ka Dewa masih disini, Kak Ren?.” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Fania.
“Selamat malam, semua.” Dewa sudah muncul sebelum Reno menjawab Fania.
‘O – Ow.’ Batin Fania was – was. Ia melirik Andrew.
“Hai Wa, come and join us here (Ayo gabung).”Yang dilirik Fania bicara dengan wajah yang nampak biasa dan santai.
“Thanks.” Sahut Dewa lalu duduk disatu bangku yang tersisa.
“Jangan suka memperhatikan istri orang ..... apalagi istri gue.” Ucap Andrew datar yang tertuju pada Dewa.
Dewa terkekeh. “Halo, Naomy. Semoga kamu ga bosen liat aku ya.”
“Engga lah Ka. Masa bosen liat orang ganteng.” Sahut Fania dan langsung mendapat lirikan sinis dari Andrew.
“Jangan cari gara – gara Kajool ....” Celetuk Ara setengah terkekeh begitu juga yang lainnya.
“Aku kurang ganteng?.” Andrew melirik pada si Kajol.
“Ca ilah, gitu aja sensi, Donald Bebek.” Timpal Fania sambil memencet gemas hidung Andrew. “Ganteng, Guanteng banget kek sekoteng yang belom mateng.”
Andrew menggeleng malas. Dan mereka semua memulai makan malam diselingi candaan dan obrolan.
“Oh iya Wa, Lo jadi stay (tinggal di London?).” Tanya John pada Dewa saat mereka hampir selesai makan.
“Sepertinya jadi.” Dewa memandang pada Andrew dan Fania.
“Gue kira lo mau balik ke Indo, Wa?.” Timpal Jeff.
“No. Gue berubah pikiran.”
“Ada cewe yang kamu taksir jangan – jangan di London.” Celetuk Mama Anye.
“Memang.”
“Anak ABG yang pernah lo kejar – kejar dulu?.” John bertanya lagi.
“Udah ga ABG lagi.”
Andrew melirik malas pada Dewa yang tampak tersenyum padanya.
“Udah jadi wanita cantik?.” Timpal Jeff.
“Sangat cantik.”
‘Bukan gue ke ge er an sih, tapi ini kayaknya ngomongin gue, bukannya?.’ Batin Fania was – was. ‘Bisa repot ini urusan kalo si Donald Bebek jadi sensi.’
“Mau berusaha mendapatkan wanita pujaan nih ceritanya pindah ke London?.” Celetuk Mom Erna.
“Kalau suaminya ga marah ....” Dewa tersenyum dengan artian yang kiranya hanya beberapa orang yang paham. Sementara yang ga paham sedikit terkejut juga dengan ucapan Dewa barusan.
Andrew melirik dan menatapnya sedikit tajam, namun Dewa tetap bersikap santai.
“Jadi wanita idaman Ka Dewa sudah menikah?.” Tanya Michelle. Dewa mengangguk.
‘Haish, kenapa mereka bisa jatuh cinta pada wanita yang sama?. Si Little F, pula.’ Batin Reno yang menganggap Dewa sama seperti Andrew.
“Jangan niat jadi Pebinor Dewa.” Ucap Mama Anye. Dewa terkekeh.
“Apa itu Pebinor?.” Andrew buka suara.
“Perebut Bini Orang alias Perebut Istri Orang.” Fania spontan menjawab.
“Mau Mati!.” Ucap Andrew dengan suara yang terdengar penuh penekanan. Membuat semua orang menatap padanya.
Fania menelan salivanya.
***
To be continue ....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak my bebi bala – bala semua .....