
Selamat membaca...
“Good Morning Kajol yang cantik tapi hobi ngambek.” Sapa John seraya menggoda saat berpapasan dengan Fania ditangga, saat dirinya juga bergegas turun untuk sarapan.
“Good morning Bule Koplak.” Sahut Fania membuat Jeff terkekeh.
“Morning Little F.” Sapa Reno dari bawah tangga.
“Morning Kak.” Sahut Fania. “Kak Ara sama Michelle belom turun?.”
“Udah di halaman belakang.” Ucap Reno.
“Good morning Miss Fania.” Nino muncul juga pagi itu.
“Eh, masak aer biar mateng.” Celetuk si Kajol
“Cakep Jol.” Timpal John
“Good morning mas Nino ganteng.” Timpal si Kajol lagi.
Membuat Reno dan John terkekeh geli dengan kelakuan si Fania pagi itu yang pagi – pagi udah bikin olahraga mulut.
“Excuse Me, Miss? (Maksudnya, Nona?).” Tanya Nino yang memang ga paham maksud Fania. Hanya dengar Good Morning dan namanya yang disebut Fania aja yang dia tau.
“No ekcus ekcus oke?.” Celetuk Fania sambil tersenyum lebar. “Ayo Kak Ren, makan ah.” Ia lalu menggandeng kakak gantengnya yang masih terkekeh.
“Come, Nino. Let’s join us. (Ayo Nino gabung sama kita).” Ajak Reno pada Nino. Dan mereka ber empat berjalan menuju halaman belakang untuk sarapan.
***
“Ini tumben mas Nino yang cool ini pagi – pagi udah disini Kak Ren?.” Tanya Fania pada Reno.
“Mau gue kasih kerjaan yang banyak. Karena gue ada urusan lain.” Jawab Reno. “ By the way John, persiapan hari ini sudah oke semua?.”
“All done. (Udah beres semua). Tinggal jalan.” Sahut John. “After lunch we go to the Airport. (Selepas maksi kita ke Airport).
“Kalian mau ke luar negeri juga?.” Tanya Fania.
“Yup.” Sahut Reno.
“Yah sepi dong gue bertiga doang sama Kak Ara dan Michelle.” Ucap Fania.
“Mereka berdua ikut.” Sahut John. Fania terdiam.
“Jadi gue ditinggal sendirian?. Mom and Dad aja belom balik si. Tega amat ninggalin gue sendirian.” Ucap Fania yang raut wajahnya sedikit berubah.
“Ga usah ngambek. Kalau mau ikut juga abis sarapan packing sana.” Ucap Reno santai.
“Hah?. Seriusan?!.” Wajah Fania berubah sumringah.
“Hem.” Reno dengan kata andalannya.
“Emang mau kemana?. Biar tau baju apaan yang mau disiapin.” Tanya Fania bersemangat.
“Yang biasa aja. Dan ga usah banyak – banyak.” Ara yang menjawab.
“Emang mau kemana sih?.” Tanya Fania lagi.
‘She’s talking too much (bawel banget sih dia).' Batin Nino melihat Fania yang ngomongnya ga kelar – kelar.
“Susul Mom and Dad.” Jawab John.
__ADS_1
“Oh ya?. Ke?.” Tanya Fania lagi
“Bawel.” Sahut Reno membuat Fania mencebik.
“Udah packing aja lo.” Celetuk John.
“Iyeeee.” Sahut Fania.
“Eh iya handphone lo mana?.” Tanya Reno.
“Nih.” Fania mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Aktif?.” Tanya Reno lagi
“Aktif.” Jawab Fania.
“Andrew katanya ga bisa bisa telpon lo. Chat gagal terus.” Ucap Reno.
“Udah gue blok!.”
***
“Woy, Kajolita Esperansah de La Costa. Tidur kayak orang mati lo!.” Goda John saat melihat Fania melihat Fania terbangun dan mengulet di tempat duduknya.
Fania belum menjawab hanya mencebik pada John.
“Ini sebenernya kita mau kemana sih?. Perasaan waktu naek jet pribadinya si ono pilotnya cuap cuap.” Ucap Fania sambil setengah menguap.
“Si Ono?.” Tanya Michelle yang sepertinya sedang bersiap siap dari duduknya.
“Your brother.(Kakak lo).” Sahut Fania malas. Reno, Ara dan John terkekeh.
“Kak Fania nih. Kasian tau Kak Andrew dari kemarin nanyain Kak Fania terus.” Ucap Michelle. “Unblock sih Ka. Nanti dia depresi.” Gadis itu terkekeh.
“Tau ah.” Sahut Fania. “Ini kita udah sampe?.” Fania membuka tirai kaca pesawat pribadinya Reno.
“Dih apaan tau.” Sahut Fania. “Eh kayaknya ini model bandara gue kenal.”
“Cepet turun ah.” John menarik tangan Fania. “Mau ketemu keluarga cemara ga lo?.”
**
“Ini gue bingung deh beneran. Waktu di London katanya mau nyusulin Dad sama Mom. Terus tau – tau kalian ajak gue balik ke sini.” Cerocos Fania saat mereka sedang berada di dalam mobil yang sedang melaju.
“Ya Dad sama Mom juga lagi di Jakarta.” Sahut Reno.
“Emang Dad sama Mom tinggal di mana kalo di Jakarta?.” Tanya Fania lagi.
“Ya dirumah yang biasa.” Jawab Ara.
“Lah ini si Michelle kenapa pulang ke rumah Kak Reno, engga langsung ke rumahnya?.” Fania masih dengan cerocosan pertanyaannya.
“Mom and Dad lagi ga di rumah.” Jawab Reno sabar.
“Oh.” Fania ber Oh ria. “Nah terus kapan anter gue ke keluarga cemara ini?. Udah ga sabar kan mau ketemu mereka.” Cerocosan Fania masih bersambung. “Nih kita ada acara dimana sih?. Segala rapih begindang.”
‘Kak Fania bawel banget sumpah.’ Batin Michelle.
“Adik lo bisa dibekap dulu ga mulutnya?.” Celetuk John. “Pusing gue.”
“Dih gue nanya lah.” Timpal Fania. “Kita rapih banget begini, Mom and Dad bikin acara gitu?. Soalnya kan kayaknya gue cakep banget ini.” Narsis dah mulai si Fania.
Keempat orang yang bersamanya hanya geleng – geleng aja melihat si Fania yang menatap dirinya dalam cermin kecil sambil menggerak gerakkan kepala dan sesekali mengatupkan bibirnya, cek lipstick.
“Amit gue sih.” Celetuk John.
__ADS_1
“Suka hati gue lah.” Timpal Fania lalu memandang ke arah luar mobil. “Dih, tau – tauan Pak Yanto lewat sini?.” Tanyanya saat melihat jalanan yang ia kenal.
“Kenapa memangnya, Sweety?.” Tanya Ara.
“Berarti tadi keluar tol Barat?.” Fania bertanya balik. “Kok gue ga ngeh?.”
“Yang sibuk ngaca sama memuji diri sendiri siapa?.” Sahut Reno dibalas cebikan oleh Fania.
“Pak Yanto kok tau lewat sini. Ini kan tembusan rumah gue Kak. Cuman beda komplek. Ini mau kemana ?ketemu keluarga cemara dulu?.” Fania kembali nyerocos sambil kepalanya celingak celinguk.
“Astaga Kak Fania ....” Gerutu Michelle namun diabaikan Fania yang sibuk celingak celinguk.
“Ih kalo mau ke Keluarga Cemara bilang kek, gue bisa beliin apa gitu buat oleh – oleh. Mana dari London ga bawa apa apaan. Paling engga kan bisa beli tadi tuh di Mal.” Si Kajol nyerocos lagi. ‘Bisa ngamuk itu keluarga cemara kalo ga dibawain oleh – oleh dari luar negeri.’ Batin Fania.
“Oleh – olehnya udah sampe duluan. Santai aja kenapa.” Sahut Reno.
“Cius loh Kak.” Timpal Fania
“Hem.” Jawaban andalan Reno kalau sudah malas.
“Eh?.” Fania heran karena mobil yang ia tumpangi berbelok masuk ke sebuah cluster Perumahan yang biasanya jalanan luarnya adalah akses alternatif dia motong jalan. Cluster Perumahan incarannya Fania kalau uangnya sudah terkumpul untuk membeli satu unit rumah untuk keluarga cemara.
Rumah yang tidak terlalu besar namun jauh lebih bagus dari tempat tinggal keluarga cemara saat ini. Paling engga Fania mau beli rumah dua lantai buat keluarganya di Cluster tersebut.
“Kalian ada kenalan disini?.” Tanya Fania yang tak sadar mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah bercat abu – abu berpagar hitam yang tidak terlalu tinggi nampaknya dan terbuka lebar.
“Ayo turun.” Ajak Ara.
‘Bagus juga ini rumah model begini buat keluarga cemara.’ Batin Fania.
“Ngapain bengong?. Ayo masuk.” John menggandeng Fania.
“Rumah siapa Kak?.” Tanyanya pada John. Sambil badannya berputar memperhatikan rumah yang memiliki dua garasi sepertinya. Karena terlihat pintu satu lagi dari garasi luar.
“Sebentar aja diem bisa ga?.” Jawab John yang sudah cape denger si Fania nanya ga kelar – kelar. Sementara Reno, Ara dan Michelle sudah terlihat masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum”. Ucap Fania dan John berbarengan.
“Wa’alaikumsalam.” Terdengar jawaban dari ruang tengah rumah tersebut. Fania menatap lurus.
“Selamat datang Kakakku Tersayang yang cantiknya Masa Iye?.”
“PERIWITAAAAAAAN!!.” Teriak Fania saat melihat adiknya yang cantik tapi suka gesrek itu berdiri tak jauh menyambutnya dengan senyuman. Wajah Fania benar benar sumringah dan langsung menyambangi Prita yang juga berjalan ke arahnya.
“Kangen Kaa ....” Prita memeluk Fania dengan haru.
“Ya Allah Prita, gue juga kangen.” Ucap Fania sambil menciumi pipi adiknya.
“Kak.” Si Papah juga sudah berdiri bersama si Mamah di belakang Prita dan Fania.
Senyum Fania melebar dan matanya juga berkaca – kaca. Menoleh ke arah John di belakang. Lalu kembali menatap dua orang tua kesayangannya itu.
“Kamu sehat Kak?.” Ucap si Papah berkaca – kaca.
“Sehat Pah, Alhamdulillah.” Jawab Fania sambil memeluk si Papah. Kemudian beralih ke Mamahnya.
“Ya Allah Kajool. Tambah cakep aja luuuu.” Mama Bela berhambur ke anaknya dengan air mata bahagia yang sudah turun setetes di pipinya.
“Ya Allah Syahelah, Fania kangen, Mah.” Ucap Fania yang memeluk erat si Mamah.
“Sama Fania, kita semua kangen. Udah ga sabar nunggu kamu dateng.” Ucap Mama Bela membelai wajah anaknya berikut si Papah yang membelai pelan kepala anaknya takut ngerusakin tatanan rambut si Kajol kayaknya.
“Kok ada disini?. Emang ini rumah si....” Kalimat Fania berhenti saat matanya menangkap sosok seseorang yang sedang berdiri tegak dengan senyuman yang dua hari ini di rindukan Fania. Menatap lurus padanya, menunggu Fania nya.
*
__ADS_1
To be continue ..*