BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 213


__ADS_3

Selamat membaca...


 


“Obstetricians. (Dokter Kandungan)?.” Gumam Fania.


Seketika hati Fania sedikit berbunga. Andrew membawanya ke seorang Dokter Kandungan. Mungkin suaminya itu sudah berubah pikiran dari menunda menjadi ingin cepat – cepat punya momongan sehingga mengajaknya berkonsultasi siang ini.


“Good afternoon, Mister and Mrs. Andrew Smith (Selamat siang, Tuan dan Nyonya Andrew Smith).” Seorang Dokter cantik berambut pirang menyapa mereka berdua.


“Ayo masuk.” Andrew mengajak Fania masuk ke dalam ruangan. “Good afternoon, Judith. How are you? (Selamat siang Judith, apa kabarmu?).”


“I’m very good. Have a seat (Aku sangat baik. Silahkan duduk).” Ucap Judith ramah, menyalami Andrew dan Fania. “How are you Mrs. Fania? (Bagaimana kabarmu Nyonya Fania?).”


“I’m good thank you. Just call me Fania (Aku baik terima kasih. Panggil aku dengan Fania saja).”


Judith tersenyum. “Alright then, Fania (Baiklah kalau begitu, Fania).”


“So, just like what I have told you before, Judith. Have you decided which one is the most safe and suitable for my wife? (Jadi, seperti yang sudah aku bilang ke kamu sebelumnya. Apa kamu sudah memutuskan mana yang


aman dan cocok untuk istriku?).” Andrew bertanya pada Judith.


“Maksudnya apa Nald?.” Fania bertanya pada Andrew karena tidak paham maksud pertanyaan Andrew pada Judith.


Judith pun spontan melirik Fania. “Is she don’t know the reason you brought her here? (Apa dia tidak tau alasan kamu ajak dia kesini?).” Menerka karena melihat Fania yang nampaknya sedikit bingung.


“She’ll know after you talk (Dia akan tau setelah kamu berbicara).” Ucap Andrew.


“Okay.” Sahut Judith lalu dokter itu nampak membuka lacinya.


“Nald, kenapa sih?.” Fania masih bertanya. “Yang tadi kamu maksud apa?.”


“Judith akan menjelaskan. Ini yang terbaik untuk saat ini.”


“Terbaik untuk apa?.”


“Kita.”


Fania makin ga paham maksud Andrew. Ia kembali melihat pada Judith yang sudah mengeluarkan beberapa barang dari laci kerjanya dan menempatkan diatas meja, beserta lembaran yang dokter cantik itu pegang seperti


sebuah brosur.


Judith menatap Andrew dan Fania bergantian. “Are you sure about this, Mister Andrew? (Apa kamu yakin soal ini Tuan Andrew?).”

__ADS_1


Andrew hanya mengangguk.


“Alright then (Baiklah kalau begitu).” Ucap Judith.


“What is that? (Apa itu?).” Tanya Fania pada Judith, menatap benda – benda yang tadi diletakkan oleh dokter itu sambil matanya mencoba melihat dengan jelas.


Judith tersenyum. “I will explain (Akan aku jelaskan).”


Fania kini memperhatikan lembaran kertas bergambar ditangan Judith yang bertuliskan ‘Birth Control’.


“All of this stuffs are contraception, aren’t they? (Ini semua bukannya alat kontrasepsi?).” Fania berbicara sambil menunjuk pada barang – barang dan brosur yang di pegang Judith.


Judith kembali tersenyum. “Exactly (Tepat sekali). Mister Andrew wan ....”


Fania menatap Andrew. “Tunggu, ini maksudnya?. Kamu suruh aku pakai alat kontrasepsi gitu Nald?.”


Judith tak melanjutkan ucapannya, karena Fania memotong dan meski tak paham dengan Bahasa Indonesia, dokter itu bisa menerka kalau wanita di depannya ini seperti sedang bertanya pada suaminya.


Andrew pun menatap pada Fania. “As I said, this is what best for now (Seperti yang aku bilang, ini yang terbaik untuk sekarang). Judith will explain all of it and you choose which one of those that you want to use (Judith akan menjelaskan tentang semuanya dan kamu pilih mana yang akan kamu mau gunakan).”


“Apa kamu bilang?!.” Fania tak percaya apa yang didengarnya.


Kalau ternyata Andrew mengajaknya ke Dokter Kandungan untuk konsultasi seputar kehamilan atau sekedar tes kesuburan, malahan mengajak Fania untuk memasang alat kontrasepsi.


“No! I don’t need any explanation about all of it! (Tidak! Aku ga butuh penjelasan tentang alat – alat itu).” Fania bangkit dari duduknya, menatap Andrew dengan matanya yang mulai berkaca – kaca karena Andrew akan membuatnya memakai alat kontrasepsi.


“Heart, don’t be like this. Back to sit, please? (Sayang, jangan begini. Tolong duduk lagi).” Ucap Andrew sembari menatap Fania dengan sikap tenangnya.


“Kamu suruh aku pasang alat kontrasepsi, sementara aku aja belum pernah melahirkan, Nald.” Fania tak menggubris Andrew yang menyuruhnya duduk kembali.


Membuat Judith terpaku ditempatnya, karena merasa ada ketegangan yang mulai terasa saat ini antara sepasang suami istri yang ada di depannya itu.


“Lalu kenapa, Heart?. Aku sudah bilang semalam kan?. Aku belum siap untuk memiliki anak saat ini. Tolong mengerti.” Ucap Andrew masih dengan sikap yang tenang.


“Kenapa?! Kenapa kamu bilang?.” Fania mulai tampak emosi. “Kamu harusnya bicara dulu sama aku, soal ini!.” Nada suaranya mulai sedikit meninggi.


“Fania.. sit down please (Fania... tolong duduk).” Andrew mencoba tetap tenang. Ia paham kalau Fania pasti tidak terima dengan keputusannya ini. Namun laki – laki itu punya alasan sendiri kenapa ia tidak ingin Fania hamil dulu.


Judith jadi serba salah melihat Fania yang tampak gusar. Meski dia sendiri juga sudah mengatakan pada Andrew, kalau Andrew yang menginginkan istrinya menggunakan alat kontrasepsi sebaiknya membicarakan dulu hal tersebut dengan istrinya.


“Um, I think I will leave both of you to talk first (Um, saya pikir sebaiknya saya meninggalkan kalian berdua untuk berbicara terlebih dahulu).” Judith hendak berdiri, namun Andrew berbicara lagi padanya.


“No! Just stay (Tidak! Tetap disini).” Sergah Andrew pada Judith. “Fania, I ask you nicely. Please sit down. It won’t be long (Fania, aku minta dengan baik – baik, tolong kamu duduk. Ini takkan lama).”

__ADS_1


“Aku ga mau!.” Fania tetap berdiri.


“Fania!.” Andrew mulai tak sabar. “Ini sudah menjadi keputusan aku. Dan kamu harus terima.” Mencoba menetralkan kembali nada bicaranya. “Make it fast Judith. Which one? (Percepat Judith. Yang mana?).”


“Mister Andrew, I ... (Tuan Andrew, A ....).”


“Which one?! (Yang mana?!).” Andrew mulai gusar, bertanya sedikit kencang pada Judith sambil memegang erat tangan Fania yang ia sudah perkirakan akan pergi berjalan keluar dari ruang praktek Judith tersebut.


Dokter itu menjadi serba salah dengan situasi saat ini. Membuatnya sedikit hilang konsentrasi.


“How about these pills? (Bagaimana dengan pil ini?).” Andrew meraih lempengan pil KB dari beberapa alat kontrasepsi lainnya. “How to use these? (Bagaimana cara menggunakannya?).”


“Regularly consume in everyday (Diminum setiap hari).” Judith menjawab pertanyaan Andrew.


“I take this then (Aku ambil ini kalau begitu).” Ucap Andrew pada Judith lalu menatap Fania.


“Ga akan aku minum!.” Pekik Fania yang air matanya sudah hampir turun.


“Send me more details thru message (Kirimkan aku detail penggunaannya via pesan).” Andrew mengabaikan ucapan Fania. Berbicara pada Judith, tetap memegang erat tangan Fania.


Judith mengangguk.


“I’ll transfer your fee (Pembayaranmu akan aku transfer).” Ucap Andrew pada Judith dan dokter itu kembali mengangguk. “Ayo kita pulang.” Andrew membawa Fania keluar dari ruangan Judith.


“Egois!.” Ucap Fania yang air matanya sudah turun saat Andrew menuntunnya. Meski begitu Andrew tak mau menoleh padanya.


Andrew tetap berjalan tak bicara hingga dia dan Fania berada dalam mobil.


“Home (Rumah).” Ucap Andrew pada supir mereka.


Keheningan pun menyelimuti Andrew dan Fania selama perjalanan mereka kembali ke Kediaman Smith. Fania melempar pandangannya ke arah luar kaca mobil dengan air matanya yang turun setitik demi setitik, menahan


amarah dan sakit dalam relung hatinya atas keegoisan Andrew.


Andrew memandangi Fania yang membuang muka darinya. Namun tak berbicara sepatah kata pun. ‘Sorry, Heart. (Maaf Sayang).' Hanya berkata dalam batinnya.


*****


To be continue..


Dikasih dua episode deh nih sekarang buat para readernya Author yang masih setia.


Terima Kasih Supportnya untuk Author dan Novel ini sampai sekarang

__ADS_1


Loph Loph 💗


__ADS_2