BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 189


__ADS_3

Selamat membaca ..


***


 


“What’s up R? (Ada apaan, R?).” Tanya Andrew sesaat setelah ponselnya berdering. Reno yang menghubunginya.


‘Mana adik gue?. Gue telpon ke ponselnya ga diangkat.’ Sahut Reno dari sebrang.


“Lagi mandi.” Ucap Andrew singkat.


‘Jangan mentang – mentang lagi Honey Moon (Bulan Madu), lo hajar adik gue abis – abisan.’ Celetuk Reno asal.


“Sialan! Lo pikir gue maniak?!.” Sahut Andrew tak terima.


‘Who knows? (Siapa tau?).” Timpal Reno. 'Ngomong – ngomong, apa semua baik – baik saja?.'


“Cih.” Andrew setengah terkekeh. “Adik lo sama gue lah. Masih lo kirim mata – mata.”


'Hanya memastikan Little F bahagia.' Ucap Reno enteng. 'He’s my sister crazy admirer.****(Dia penggemar gila adik gue).' Tambah Reno yang sudah mengetahui perihal laki – laki bernama Nick.


“Gue tau.” Sahut Andrew.



**Flash back kejadian setelah pertemuan dengan Nick On – Andrew’s side (Pihak Andrew)


“Heart, tunggu sebentar.” Ucap Andrew menyuruh Fania masuk mobil duluan.


Fania menurut, lalu Andrew tampak menelpon seseorang di luar mobil tanpa Fania tau pembicaraannya.


‘Check this restaurant CCTV and find out about the man who’s been talked with my wife (Periksa CCTV restoran ini dan cari tau soal laki – laki yang berbicara dengan istri gue).’ Ucap Andrew kepada seseorang di sebrang telpon.


Kemudian ia langsung bergegas masuk mobil setelah orang yang ia telpon untuk mencari tau tentang Nick mengiyakan dan Andrew memutuskan panggilannya.


Flash back kejadian setelah pertemuan dengan Nick Off – Andrew’s side (Pihak Andrew)



**Flash back kejadian setelah pertemuan dengan Nick On – Reno’s side (Pihak Reno)


‘Sir.(Tuan).’ Seseorang menghubungi Reno ke ponselnya.


‘Talk. (Bicara).' Ucap Reno datar.


‘There’s a small incident, Sir. (Ada insiden kecil, Tuan).’ Ucap seseorang yang ditugaskan Reno untuk memperhatikan Fania dan Andrew disebrang telpon. Sengaja menempatkan seseorang meski tau Andrew pun sudah membawa persiapan, hanya untuk sekedar berjaga – jaga.


‘Tell me (Katakan padaku).’ Ucap Reno kepada sang informan. Lalu sang informan menceritakan detail kejadian pertemuan Andrew dan Nick di restoran. 'Find out any information about that guy (Cari informasi tentang laki – laki itu).' Kemudian Reno memutuskan panggilan.


Flash back kejadian setelah pertemuan dengan Nick Off – Reno’s side (Pihak Reno)


*


“He’s my sister crazy admirer.(Dia penggemar gila adik gue).*” Tambah Reno yang sudah mengetahui perihal laki – laki bernama Nick.


“Gue tau.” Sahut Andrew. “But your sister haven’t told me anything yet (Tapi ade lo belom cerita apa – apa ke gue).”

__ADS_1


“Males cerita ke elo gue yakin. Dia paham sekali kalau suaminya itu suka cemburu buta!.” Sahut Reno ketus.


“Hanya menjaga milik gue.” Sahut Andrew datar.


“Ya udah, nanti kalau Little F sudah selesai mandi, suruh dia telpon gue.” Ucap Reno. “About that guy.. (Tentang cowok itu) ga ada info yang berarti sejauh ini. You don’t need bothering yourself to get information about him. Let me. (Lo ga usah repot – repot cari informasi tentang laki – laki itu. Biar gue aja).”


“Okay.” Sahut Andrew. “She’s finish already (Dia udah selesai mandi).” Ucap Andrew cepat saat melihat Fania sudah keluar dari kamar mandi.


“Let me talk to her (Gue mau bicara sama dia). Sahut Reno dan Andrew berjalan menghampiri Fania.


“Your brother (Kakak kamu).” Ucap Andrew seraya memberikan ponselnya pada Fania.


“Halo Kak Ren.” Sapa Fania.


“Hi, Little F. Apa kabar Sweety? Enjoy your Honeymoon ? (Menikmati bulan madumu?).” Sahut Reno seraya bertanya.


“Kabar baik Kak.” Jawab Fania. “Really enjoy.(Sangat menikmati). Mau dibawain apaan?.”


“Kebetulan lo nanya. Bawain gue durian Thailand.” Sahut Reno.


“Hah?. Buat siapa Kak Ara?. Emang boleh gitu bawa durian di pesawat?.” Tanya Fania dan seketika Andrew mendekat lalu mengkode Fania dengan kepala seperti bertanya.


“Boleh lah. Pake pesawat pribadi ini. Pasti boleh.” Fania meng – loud speaker telpon. “Buat gue.” Ucap Reno.


“Ga salah denger gue?. Sejak kapan lo doyan duren?. Bukannya lo ga suka sama nih kayak si Donald?. Nyium baunya aja udah pada mau muntah perasaan gue dulu.” Cerocos Fania.


“What did you say, R? (Lo bilang apa, R?).” Tanya Andrew yang didengar Reno. “Lo suruh bawa durian dari sini?.”


“Yap. Katanya durian Thailand enak.” Sahut Reno santai.


“Hell No! (Engga banget!). Lo tau gue ga suka , bahkan baunya aja gue ga suka!. Lo suruh gue bawa?. Lo gila!.” Cerocos Andrew. “Beside, sejak kapan lo suka makan durian?.”


“Gue lagi kepingin lah.” Jawab Reno santai. “Bawain ya, My Lovely sister (Adikku yang manis). Nanti uang jajan gue tambahin.”


“Big No, R (Sangat tidak mungkin, R). Minta yang lain. Durian, No! (Duren, Engga!). Uang jajan lo ga perlu kasih lagi. Gua bisa kasih berkali kali lipat!.” Andrew memprotes permintaan Reno yang ingin dibawakan Durian, karena Andrew memang sangat anti dengan buah tersebut.


“Gue ga minta lo yang beliin!.” Sambar Reno.


“My plane, My rules ! (Pesawat gue, peraturan gue!).” Timpal Andrew. Membuat Fania pusing sekaligus dilema.


“Aduuuuuhh. Pusing gue ih!.” Fania menyerah kalau dua orang tersebut sudah berdebat. “Lagian lo doyan duren sejak kapan sih?. Bukannya di London susah nyari duren?. Tau – tau demen?.”


“Nah, sejak kapan lo suka makan durian?. Aneh!.” Sahut Andrew lagi.


“Udah bawain aja. Ga mau tau gimana caranya, harus bawa. Karna gua ingin makan itu durian Thailand. Bye!.” Reno langsung memutus panggilan. Membuat Fania makin pusing.


Meski suka, walau ga hobi banget makan durian dan memang kepingin juga nyobain durian Thailand  sewaktu melihat ada yang jual kala berjalan – jalan dengan Andrew, namun dia urung karena tau banget kalau dari dulu Andrew anti sama buah tersebut. Bahkan bisa muntah karna baunya yang dirasa Andrew terlalu menusuk hidung. Bikin mual katanya karena baunya yang aneh.


Setau Fania Reno pun dulu sama seperti Andrew yang anti sama durian. Nah sekarang itu si kakak ganteng minta dibawain durian. Fania melirik Andrew, berharap ada solusi.


“Lebih baik aku belikan kakak kamu fried scorpion (Kalajengking goreng) daripada durian. Kalau perlu kalajengking hidup satu peti.” Andrew terus protes membuat Fania makin pusing.



**London...


‘Ram. Any suspicious thing about that Guy?. (Ram, ada info mencurigakan tentang laki – laki itu?).” Reno menghubungi informannya di Thailand yang ia suruh untuk mencari tau tentang Nick. Pasalnya hati Reno sedikit merasa gelisah, entah kenapa. Namun sejauh ini tidak ada hal yang mencurigakan soal sosok Nick setelah pertemuan laki – laki itu dengan Fania dan Andrew.

__ADS_1


Selain soal kisah beberapa tahun lalu saat Nick gencar mengejar Fania, hingga Little F nya itu sempat sembunyi kemudian laki – laki itu kembali ke Negaranya dan tak pernah lagi terlihat hingga saat Reno menemukan Fania.


‘No Sir. (Tidak Tuan).” Jawab Ramando yang biasa Reno dengan ‘Ram’. “I haven’t saw him out from the hotel that he stayed. (Aku belum melihatnya keluar dari hotel tempat dia menginap sampai saat ini).’ Jawab Ramando.


‘Hem, okay then. (Baiklah kalau begitu). Keep on eye to that guy. (Tetap awasi orang itu). Make sure He’s not misbehave (Pastikan dia tidak berulah).’ Ucap Reno.


‘I will Sir. (Pasti Tuan). All latest information about him have been sent to your email (Semua informasi terbaru tentang laki – laki itu, sudah dikirim ke email anda).’ Ucap Ramando.


‘Alright then. (Baiklah kalau begitu). Thanks a lot Ram. (Makasih banyak Ram).’ Sahut Reno.


‘My pleasure, Sir (Saya senang melakukannya, Tuan).’ Jawab Ramando dengan sopan.


‘Nick Alister....’ Gumam Reno sambil membaca setiap informasi yang ia terima tentang Nick yang masuk ke emailnya.


**


“Heart.” Panggil Andrew kala Fania sedang membereskan pakaiannya dan Andrew.


“Hem?.” Sahut Fania sembari menoleh disela wanita itu mondar – mandir memindahkan pakaian dan barang – barang dari dalam lemari ke koper mereka.


“Yakin mau kembali hari ini?.” Tanya Andrew sambil memeluk Fania dari belakang.


“Yap.” Sahut Fania yakin. “Udah ah aku mau merapihkan barang – barang dulu.”


“Kenapa mau buru – buru pulang, hem?.” Tanya Andrew yang kini menyandarkan tubuhnya di meja rias, sambil menghadapkan Fania padanya dan merangkul pinggang istri yang amat dicintainya itu.


“Kan aku bilang udah bosen.” Sahut Fania coba tersenyum. ‘Nanti aja ceritanya kalau udah di London.’ Batin Fania.


“Aku Cuma tanya ya, jangan marah, jangan tersinggung.” Ucap Andrew sambil tersenyum. Fania mengangguk meski hatinya sedikit khawatir. “Apa karena laki – laki itu?.”


Fania sedikit terkejut, namun ia mampu mengendalikan keterkejutannya di depan Andrew. Menutupi sedikit, hanya sebentar, nanti pasti ia akan jujur menceritakan soal Nick pada Andrew setelah mereka sampai di London.


“Jujur, iya.” Fania mencoba bersikap tenang. “Aku Cuma malas aja kalau harus ketemu orang itu lagi. Nanti kita bertengkar lagi.”


‘Apa yang membuat kamu ga mau cerita hal yang sebenarnya padaku , Heart?.’ Batin Andrew namun ia tersenyum sambil membelai lembut wajah Fania, menatap dalam manik mata istrinya. “Kalau soal itu, kamu ga usah khawatir, my love. I can handle him (Aku bisa mengatasinya).”


“Aku tau.” Fania balas tersenyum.


“So, what makes you afraid then?. (Jadi apa yang membuatmu takut?) kalau kita ketemu dia lagi, hem?.” Ucap Andrew masih dengan senyumnya. “Apa dia pernah mengganggu kamu dulu?.”


Fania kembali terkejut, namun sekali lagi dia berusaha bersikap biasa di depan Andrew untuk saat ini.


“Bukan takut, hanya sedikit khawatir.” Ucap Fania.


“About? (Soal?).” Tanya Andrew.


“Dia itu rada rese itu aja.” Jawab Fania.


“Heeemmm....” Sahut Andrew dengan deheman nya. “How ‘bout spending one more day, here? (Bagaimana kalau kita tinggal sehari lagi?). Besok baru pulang.”


Pikiran Fania menerawang. Kalau ia terang – terangan menolak saran Andrew, nanti suaminya itu curiga dan pasti Fania akan diberondong pertanyaan, yang sepertinya saat ini enggan ia layan. Namun disatu sisi ia ingat saran kak Rita.


“Up to you then , My Hubby (Terserah kamu kalau begitu, Suamiku).” Ucap Fania pada akhirnya sambil menangkup wajah Andrew dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir sang suami yang kemudia tertahan, karena si Donaldnya itu memegang tengkuk Fania dan lebih merapatkan tubuh istrinya itu.


“Beneran, terserah aku?.” Tanya Andrew dengan seringai nakal yang muncul disudut bibirnya. Dan Fania tau pertanyaan sekaligus pernyataan itu mengarah kemana.


‘Mandi lagi ini urusannya.’ Batin Fania. “Modus.” Bisik nya di telinga Andrew sambil kedua kakinya dilingkarkan pada pinggang suaminya yang setengah terduduk di meja rias dalam walk in closet. “Satu ronde aja loh ya.”

__ADS_1


***


To be continue..


__ADS_2