BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 268


__ADS_3

Selamat membaca....






“Don’t ever say anything bad about my wife or I won’t hold myself. ( Jangan pernah bicara buruk tentang istri saya, atau saya tidak akan enggan ).”


Andrew berkata dengan tajam pada Tuan Peter, ayah kandung Reno itu. Yang sontak langsung terdiam mendengar peringatan Andrew barusan. Sedikit banyak ia tahu bagaimana tabiat seorang Andrew Smith.


“Andrew, be polite, Son. ( Andrew, sopan lah, Nak ).” Dad memegang bahu putranya itu. “Better we sit, Peter. We can talk more unimpeded. ( Lebih baik kita duduk, Peter. Kita bisa bicara dengan lebih leluasa ).”


Tuan Peter pun menuruti saran Dad untuk duduk. Dua pria setengah baya itu duduk bersebrangan, sementara Reno dan Andrew tetap berdiri ditempatnya. Dan Jeff memilih duduk sedikit jauh dari keempat orang tersebut, namun ia masih tetap dapat mendengar pembicaraan mereka.


‘Besar juga nyali Uncle Peter untuk datang kesini sendirian.’ Batin Jeff bermonolog. ‘Dia ga pahamkah anaknya itu siapa dan seperti apa sekarang?.’ Jeff memandangi ayah kandung Reno sambil membatin sendiri.


“Apa yang membuatmu datang kesini?.”


Tanya Reno datar pada sang ayah.


“Kamu masih bertanya, hah?. Berhenti mengganggu kami!.” Tuan Peter berkata dengan tajam pada putranya itu. Sementara Reno menyunggingkan senyum sinisnya.


“Kalian sudah cukup bersenang – senang dengan menikmati apa yang seharusnya tidak kalian nikmati.” Ucap Reno dingin. “Harta Ibuku.”


“Jangan asal bicara kamu.” Sahut Tuan Peter.


“Harta Ibuku yang kau rampas tanpa malu dan kau gunakan untuk menghidupi simpananmu dan anak – anaknya. Perempuan murahan yang kau pelihara.”


“Jaga bicara kamu Reno Alexander!.” Tuan Peter menghardik Reno sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah putranya itu. Reno sedikit menggerakkan wajahnya.


“Tangan kotormu, jangan sampai menyentuhku.” Ucap Reno lagi.


“Kamu! Anak tidak tahu diri!.” Tuan Peter masih emosi.


“Siapa yang kau bilang tidak tahu diri, hem? Tuan Peter?.” Ucap Reno dengan sinis. “Seharusnya kau berkaca.”


“R, Behave. His your Father. ( R, jaga sikapmu. Dia ayahmu ).” Ucap Dad dengan lembut pada putra angkatnya itu sambil menghampiri Reno. “ Remember who you are, Son. ( Ingat siapa dirimu, Nak ).”


“I know who I am Dad, Don’t you worry. I remember it, always. ( Aku tahu siapa diriku, Dad. Jangan khawatir. Aku ingat siapa diriku, selalu ).” Ucap Reno dengan sopan pada Dad. “ Maybe you can said that to him. Is he and his mistress ever remember who  they are, or even have enough shame?. ( Mungkin Dad bisa katakan itu padanya. Apa dia dan simpanannya itu ingat siapa diri mereka, atau setidaknya punya malu sedikit ).”


“Sekali lagi aku peringatkan Jaga mulut kamu Reno Alexander!.” Sekali lagi Tuan Peter menghardik Reno. “Aku ini ayah kandungmu! Dan harus kau ingat, kau hanya anak angkat di keluarga ini. Kau bagian dari Keluarga Alexander!.”


Reno tertawa pelan, terdengar seperti ejekan.


“Mulai hari ini aku membuang nama Alexander dari namaku!.” Ucap Reno dengan tegas. “Aku, Reno Aditama. Reno, Aditama, Smith!.” Sekali lagi Reno menegaskan dengan suara nya yang lantang dan tajam.


“Apa?!.” Tuan Peter sangat terkejut. Termasuk juga Dad, Andrew dan Jeff. Ia menatap sang putra yang terang – terangan menunjukkan kebencian padanya.


“Seperti yang kau dengar. Aku bukan lagi bagian dari Keluarga Alexander mulai sekarang. Aku bahkan malu pernah menggunakan nama itu.”


“R ....”


Dad bermaksud meredam Reno.


“Kau bukan lagi bagian dari hidupku!. Aku hanya memiliki satu ayah, dan dia sedang berdiri disampingku saat ini.” Ucap Reno lagi.


“Son.. ( Nak ).” Kembali Dad meraih bahu Reno.


“It’s okay Dad, I supposed to do this since long time ago. ( Tak apa Dad, aku seharusnya sudah melakukan ini sejak lama ).” Reno masih berbicara. “Dia yang merangkulku, Dia yang mengajariku segala hal, dan dia yang melindungiku saat kau sibuk bersenang - senang diatas penderitaan ibuku dengan keluarga terkutuk mu itu!.”


Reno menarik nafasnya sejenak, menghembuskannya sembari melepas kesal dan gundah yang ia rasa selama ini.


“Kau dan simpananmu yang terkutuk itu, sudah membuat Ibuku meninggal dengan segala penyesalan dan luka, serta kekecewaan bersamanya. Apa kau perduli?!” Reno terkekeh sinis. “Tentu saja tidak! Karena kau sibuk mencuri harta ibuku untuk J*lang peliharaan mu!. Cih!.”


Tuan Peter terdiam. Entah mengapa ia merasa kalau Reno membuatnya terintimidasi saat ini.


“Kau! Menggunakan ketulusan ibuku hanya untuk kepentingan pribadimu! Kesenanganmu bersama j*alangmu itu!.” Reno mulai tak lagi nampak tenang.


Namun Dad tak bisa menahannya, Reno sedang meluapkan segala ketidak puasan nya pada sosok ayah kandung yang dia anggap sudah menyia – nyiakan dia dan ibunya.


“Kau bahkan menggunakan harta ibuku untuk menghidupi perempuan murahan itu dan anak – anaknya. . Anak – anak haram kalian!. Dari sejak dia masih hidup” Suara Reno makin meninggi. “Kau sudah bersamanya lebih dulu, tapi kau memanfaatkan kebaikan Kakek dan membuat Bunda jatuh pada tipuan mu. Jangan kau pikir aku tak tahu, ‘Ayah?!’.”


Skak Mat!.


Tuan Peter bergidik. Bertanya – tanya sendiri bagaimana Reno bisa mengetahui semuanya.


“Sejak awal kau sudah memanfaatkan ibuku, bahkan sebelum kau menikahinya.”


Tuan Peter semakin bungkam.


Reno terdengar tertawa hambar.


“Entah kau yang terlalu pintar, atau Ibuku yang terlalu bodoh, hingga ia begitu mempercayaimu.”


“R, please don’t talk like that, Son. ( R, tolong jangan bicara begitu, Nak ).” Dad mengingatkan. Bukan karena ingin menjaga perasaan Tuan Peter, tapi Dad justru mengkhawatirkan psikologis Reno saat ini.


“Cukup sudah. Aku sudah membuat keputusan. Aku tak merasa memiliki ayah sepertimu. Lebih baik sekarang kau pergi dan kembalikan apa yang sudah kau ambil dengan cara yang licik dari ibuku. Kembalikan secara baik – baik, atau aku tak akan segan untuk menghancurkan kalian.”


Reno berbalik dari hadapan ayahnya.


“Aku, Reno Aditama Smith, tak pernah main – main dengan ucapanku.” Kemudian ia pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Tuan Peter yang sudah berdiri mematung.


**


“D ....” Fania menoleh ke arah kanan wajahnya saat merasakan dua tangan kekar melingkar dipinggangnya dan dagu dari pahatan wajah tampan yang dicintainya bertengger dibahu kanannya, seiring dengan aroma musk yang tercium dari tubuh Andrew.

__ADS_1


Andrew belum menyahut. Ia sedang menikmati menghirup dalam – dalam arum jilt tuberose yang menempel ditubuh Fanianya. Relaksasi pribadinya Andrew.


Fania memiringkan kepalanya, bertumpu sedikit dikepala Andrew. Menikmati momen manis mereka saat ini.


Bikin ngiri author aje ini si Kajol ama Donald Bebek.


“Ayahnya Kak Reno masih ada, D?.”


Andrew menggeleng. Fania menghela nafasnya sedikit panjang.


“Kenapa, hem?. Tarik nafas seperti itu. Apa yang sedang kamu pikirkan, Heart?.”


Andrew pun membalikkan tubuh Fania untuk menghadapnya.


“Bukan apa – apa. Cuma sedikit merasa ga enak aja.” Ucap Fania.


Andrew terlihat sedikit khawatir. “Apa kamu merasakan sakit?.”


“Engga, Bukan itu. Aku hanya merasa ga enak sama Ayahnya Kak Reno. Ga sangka juga kalau ternyata hubungan keluarga mereka serumit itu. Seingat aku sih, kayaknya ketemu sekali dua kali dulu, ayahnya Kak Reno itu orang yang humble.”


Andrew tersenyum. “Kadang apa yang terlihat diluar, belum tentu sesuai dengan yang didalam, Heart.”


Fania manggut – manggut.


“Aku aja baru inget, ayahnya Kak Reno ga ada di Pernikahan kita, ya?.”


“Memang dia ga diundang. R yang minta. Dan kami menghormati permintaannya.”


“Huumm ....”


“Saat dia menikah aja, sebenarnya dia ga mau Uncle Peter datang. Tapi demi menghormati Bunda waktu itu, ya terpaksa Reno memintanya datang. Itu pun Bunda sendiri yang menelpon Uncle Peter.”


“Memang Bunda itu baik banget ya?. Sayang aku ga bisa ketemu lagi. Cuma bisa lihat pusaranya aja.” Fania berkata lirih.


“Tapi Bunda pasti sudah bahagia, karena si Demi Moore KW selain sudah ketemu, dan sekarang udah jadi istrinya si Donald Bebek.”


“Masa?.” Ledek Fania. “Bukannya kamu sering dimarahin Bunda juga karena sering gangguin aku?.”


“Iya. Tapi Bunda pernah bilang sih sama aku soal kita.”


“Apa?.”


“Bunda bilang, kalau aku dan kamu itu berjodoh. Katanya waktu itu, hatinya yang merasa seperti itu.”


“Terus reaksi kamu?.”


“Ya aku ketawa lah.” Andrew memamerkan barisan giginya pada Fania.


“Terus sekarang bucin sama aku. Sukurin kualat!.” Fania mencebik manja.


Andrew tergelak, lalu menghujani wajah Fania dengan ciuman gemas.


“Halah. Gombal!.”


Cup!.


Andrew mendaratkan ciuman dibibir Fania dan dibalas manis oleh si Kajol.


“D,”


“Hem?.”


“Maafin aku, ya.”


“For?. ( Untuk? ).”


“Aku ga bisa jaga.”


Fania tertunduk dan mengelus perutnya.


“Berhenti bilang seperti itu.” Andrew membawa Fania dalam dekapannya. “Bukan salah kamu. Dan jangan bahas lagi soal itu. Aku ga suka mendengar kamu menyalahkan diri sendiri.”


Fania melingkarkan tangannya dipinggang Andrew. “Mudah – mudahan aku bisa cepat hamil lagi, ya?.”


Andrew mengeratkan dekapannya.


**


“Ndrew.”


Reno menyambangi Andrew di garasi pribadi mereka saat malam sudah menyapa. Si Donald Bebek itu nampak sibuk mengotak – atik salah satu mobil sport miliknya, namun wajahnya nampak sedikit muram.


Andrew menoleh saat mendengar suara Reno. “R.”


Reno melangkah mendekati Andrew.


“Fania udah tidur?.”


“Sudah.” Sahut Andrew yang kemudian merapihkan kotak peralatan didekat kakinya. “Gimana keadaan lo?.”


Reno setengah tersenyum.


Andrew memperhatikannya.


“Gue baik – baik saja, jangan khawatir. Lo sendiri?.” Ucap Reno seraya bertanya. “Ada yang mengganggu pikiran lo?.”


Andrew menaikkan alisnya, juga mengendikkan bahunya. Duduk disamping Reno lalu menyalakan rokoknya.


“Lo udah bicara dengan Little F tentang apa yang dikatakan oleh Judith?.”

__ADS_1


“Gue belum punya cukup keberanian.”


“But sooner or later, she needs to know. ( Tapi cepat atau lambat dia perlu tahu ). Setidaknya dia harus mendengarnya sendiri dari mulut lo. Kalau lo rasa sulit, temui Judith bersama Little F.”


Andrew manggut – manggut. “I just can’t imagine, How’s Little F reaction. ( Gue hanya ga bisa membayangkan, bagaimana reaksi Little F nanti ).”


Sesaat keduanya terdiam larut dalam pikiran mereka masing – masing sambil menyesap batangan nikotin yang terselip diantara jari mereka.


****


“Explain to me, what you have explained to R and Ara. ( Jelaskan padaku, apa yang sudah kamu jelaskan pada R dan Ara ). Is she can’t pregnant anymore?. ( Apa dia sudah tidak bisa hamil lagi? ).”


Andrew bertanya sedikit ragu pada Judith saat memiliki kesempatan untuk bicara soal kondisi Fania pada dokter cantik itu.


“No, wasn’t like that. ( Tidak, bukan seperti itu ). She still can to be pregnant, but maybe a little bit difficult. ( Dia masih bisa hamil, tapi mungkin sedikit sulit ).”


Andrew mendengarkan Judith dengan seksama.


“There’s a little bit blockage in her fallopian tube. ( Ada sedikit penyumbatan di tuba fallopi nya ).”


“How to solve it?. ( Bagaimana mengatasinya? ).”


“ A lot of ways. ( Banyak cara ).”


“Big risk?. ( Apa beresiko besar? ).”


“No. ( Tidak ).”


“Are you sure?. ( Apa kau yakin? ).”


“Yes. ( Ya ). But if you guys are planning to have a baby around the corner, come to me for a consultation. ( Tapi jika kalian berencana untuk memiliki bayi lagi dalam waktu dekat, datanglah padaku untuk konsultasi ). Just to avoid she might have an abortus habitualis, ( Agar mencegah dia mengalami keguguran yang berulang ).”


*****


“Saat ini gue sudah cukup tersiksa melihat dia yang seperti merasa bersalah sama gue, kalau seandainya Little F tahu tentang kebenaran kalau dia akan sulit hamil kedepannya....” Andrew menarik nafas panjang dan berat. “Melihat dia yang kadang menatap gue dengan rasa bersalah dimatanya saat ini, sudah cukup membuat gue terluka. Bagaimana setelah nanti dia tau kalau dia akan sulit memberikan keturunan?.”


Gantian Reno yang menarik nafasnya.


“Gue hanya ga ingin dia berpikir macam – macam. You know her right?. ( Lo tau dia kan? ). Susah diprediksi apa yang ada dalam pikirannya.” Ucap Andrew lagi.


“Ya, lo memang benar.” Sahut Reno.


“Gue cinta Fania, R. Ga perduli dia bisa kasih gue anak atau engga. I really don’t care. ( Gue benar – benar tidak perduli ). Tapi dia ga akan berpikir sama. Jadi untuk sementara waktu ini, dia lebih baik tidak perlu tau apa – apa soal ini.”


Reno manggut – manggut. Sedikit banyak paham mengenai kegundahan Andrew. Ada rasa bersalah yang besar juga pada Fania dan Andrew di relung hatinya saat ini.


“Maafin gue Ndrew. Harusnya ini ga terjadi. Lo dan Little F.. sampai harus kehilangan bayi kalian. Harusnya sudah gue bereskan mereka sejak lama.”


Andrew menggeleng pelan. “Wasn’t your fault, R. ( Bukan salah lo, R ).”


Mereka terdiam lagi. Kembali larut dalam pikirannya masing – masing.


**


“Halo, Doctor Judith, sorry for disturbing you this late. ( Halo, Dokter Judith, maaf mengganggumu selarut ini ).”


“.....”


“Can I meet you tomorrow?. ( Apa aku bisa menemuimu besok?).”


“.....”


“What time? ( Jam berapa? ).”


“.....”


“Um ... can I ask you something?. ( Boleh aku meminta sesuatu padamu? ).”


“.....”


“Don’t tell Andrew if I want to meet you tomorrow. ( Jangan beritahu Andrew kalau aku ingin menemuimu besok ).”


“.......”


“Thank you. See you tomorrow. ( Terima kasih. Sampai jumpa besok ).”


“......”


Fania mematikan sambungan teleponnya.


****


To be continue....


Maap ya, satu episode dulu.


Just info juga untuk para reader, bukan Authornya sengaja sengaja banget buat cari konflik untuk manjangin episod yah. Cuma Author sedang mengerucut kan alur supaya bisa dapet ending yang gantung nantinya.


Karena sudah Author bilang BSS ini ga ada season – season – nan. Kalau sekuel, mungkin akan dibuat setelah novel ini tamat.


Demikian sekilas inpoh.


* Babang Andrew lagi galau di garasi 😄 *



* Babang Reno lagi nemenin si Donald Bebek yang lagi galau😃 *


__ADS_1


__ADS_2