
Selamat membaca...
Reno, Ara, Andrew dan Fania beserta dua J
sudah kini sudah berada di rumah Andrew yang letaknya tidak terlalu jauh dari
lapangan basket kenangan.
Ketiganya sudah duduk di ruang tamu yang
tampak luas di rumah Andrew. Sudah memulai obrolan santai sambil bercengkrama.
Fania punya sedikit kenangan di rumah itu, sempat berkenalan dengan Mom dan
Dadnya walau ga sedekat dengan Bundanya Reno karena Fania lebih sering main dan
menginap di rumah Reno.
“Mom and Dad lo mana Nald?.” Tanya Fania saat
mereka sudah duduk ditempat pilihan masing – masing.
“Mereka di London.” Jawab Andrew sambil
menoleh pada Fania.
“Terus ade lo?. Sampe sekarang gue ga pernah
ketemu itu sama dia. Di London juga?.” Tanya Fania lagi sambil matanya
menelusuri ruang tamu Andrew.
“Iya mereka semua di London. Michelle dulu
waktu lo suka main kesini masih sekolah di Bandung.” Jawab Andrew lagi.
“Hmmm.” Ucap Fania sambil ngangguk – ngangguk.
Fania dan Andrew duduk bersebelahan di salah
satu sofa panjang yang ada di ruang tamu. Sementara Ara sudah dipastikan duduk
di sofa yang panjang bersama Reno. Sementara John duduk di sofa single di dekat
Andrew dan Fania. Dan Jeff duduk sendirian di sofa panjang lainnya.
“Eh iya Fan, dari tadi perasaan gue lo
manggil si Andrew pake Nald, Nald. Apa sih? Panggilan sayang gitu?.”
Tanya Jeff penasaran.
“Kepo amat.” Sahut Fania pelan sambil melirik
Jeff, membuat Andrew yang disampingnya tersenyum.
‘Belum hilang judesnya.’ Batin Andrew.
“Hah? Apa sih? Gue ga denger lo bilang apa
barusan?.” Timpal Jeff. “Pindah sini makanya, duduk samping gue.” Ucap Jeff
lagi sambil menepuk nepuk bantalan sofa disebelahnya.
“Ogah. Pasti lo mau modusin gue.” Sahut Fania
pada Jeff yang tadi sudah dikenalkan oleh Andrew saat masih di lapangan basket.
Dan Fania sudah bisa membaca gerak – gerik Jeff yang sok akrab dan ganjen.
Karena sepanjang jalan saat mereka berenam
menyusuri jalanan dari lapangan basket menuju rumah Andrew, Jeff beberapa kali
__ADS_1
belaga sok akrab dengan mencoba merangkul Fania.
Dan tentu saja aksinya selalu dicekal oleh
Guardian Angel nya Fania plus satu Guardian Angel cadangan yang tak lain adalah
John. Kalau Ara Cuma cekikikan aja ngeliat kelakuan empat cowok itu.
“Nah, pinter adek angkat gue. Jangan mau
deket dia.” Ucap John sambil menunjuk Jeff.
“Sialan lo emang.” Sahut Jeff membuat yang
lainnya terkekeh.
“Sembarangan lo sebut Fania adek angkat. Lo
ga ada dalam sejarah.” Reno menimpali ucapan John.
“Emang, kepedean.” Sahut Jeff
“Yah, emang bener. Fania juga udah anggap gue
ini kakaknya. Iya kan, Fan?.” Ucap John yang meminta dukungan Fania.
“Serah lo deh Kak John. Asal lo bahagia.”
Sahut Fania santai membuat yang lain tertawa.
“Ah gitu kan Demi Moore KW.” Ucap John sebal.
“Udah makan Fan?.” Tanya Andrew pada Fania.
“Udah sih tadi dirumah sama Kak Reno dan Kak
Ara. Tapi sepertinya habis nangis laper lagi ini. Hehehe.” Jawab Fania sambil
“Dasar.” Sahut Andrew sambil membelai kepala
Fania lalu berdiri. “ I’ll tell Bi Cici to prepare food then.” Andrew berjalan
menuju ke area dalam rumahnya dari ruang tamu untuk meminta salah satu asisten
rumah tangganya yang bernama bi Cici menyiapkan makanan untuk mereka semua.
***
Andrew sudah kembali ke tengah – tengah teman
sekaligus keluarga baginya yang masih asik duduk – duduk di ruang tamu.
“Eh iya Kak Reno, mobil lo itu gimana?.”
Tanya Fania pada Reno yang seketika ingat dengan mobil Reno yang di parkir
dekat lapangan basket saat menurunkannya tadi. Soalnya Reno dan Ara ikut
berjalan kaki ke rumah Andrew.
“Gue udah suruh supir ambil dan anter
kesini.” Jawab Reno dan Fania hanya ber OH ria.
Sejenak ke enam orang tersebut pada fokus
dengan ponselnya masing – masing. Sekedar mengecek pesan di aplikasi chat atau
sekedar mengecek notifikasi sosmed mereka.
Fania duduk santai dengan bersandar
di sanggahan sofa dan menopang satu kakinya,
__ADS_1
juga terlihat sibuk dengan jempol di hp nya
sambil memainkan ujung bawah rambutnya.
Gadis itu juga belum melepas topi kesayangannya.
Andrew yang hanya melihat ponselnya sebentar,
mengalihkan pandangannya pada Fania yang tampak fokus dengan hp nya itu sambil
memainkan rambutnya.
“Rambut lo dipanjangin juga akhirnya.” Ucap
Andrew karna melihat Fania yang sedang memainkan rambutnya.
“Kenapa emangnya, ga boleh?.” Tanya Fania
yang langsung menatap Andrew dan meletakkan handphone di sampingnya.
“Yang bilang ga boleh itu siapa?. Kan gue
Cuma bilang itu rambut lo akhirnya di panjangin juga.”
Ucap Andrew setengah terkekeh.
“Eh Fan, lo ga gerah apa itu topi masih
dipakai aja. Lepas sih udah di dalem rumah juga.” Ucap Jeff pada Fania, yang
risih liat Fania masih pake topi dalem rumah.
“Masalah?.” Tanya Fania menimpali perkataan Jeff.
“Bener yang Jeff bilang, Fan. Buka aja topinya.
Gue aja yang ga ada rambut udah copot topi dari tadi.” Ucap Andrew yang
mendukung ucapan Jeff supaya Fania membuka topi yang ia pakai biar ga gerah.
“Iya sih.” Sahut Fania sambil menegakkan
duduknya kemudian bergegas ingin membuka topi yang ia pakai.
“Penasaran lihat Fania yang feminim dengan
rambut panjangnya.” Goda Andrew pada Fania.
Fania sejenak menghentikan tangannya untuk
mencopot topi yang ia kenakan. Masih dengan posisi yang sama, namun belum
mencopot topinya hanya memegang ujung depan dan belakang topi. Fania melirik
pada Andrew.
“Biasa aja ngeliatin nya.” Ucap Fania pada Andrew.
“Emang harus gimana ngeliatin nya coba?.” Sahut
Andrew mencubit pelan pipi Fania.
“Awas....” ucap Fania lagi sambil senyum – senyum ga jelas.
“ Awas apa?.” Tanya Andrew
“Awas nanti jatuh cinta.”
Ah kode banget Fania
**
To be continue ....
__ADS_1