
Selamat membaca ...
“What happened Mario?!. (Apa yang sudah terjadi, Mario?).” Tanya Andrew segera saat melihat Mario keluar dari ruangan Fania. “She’s okay right?. (Dia baik – baik saja, Kan?).”
“You better go inside ... (Lebih baik lo masuk ke dalam).” Ucap Mario pelan.
Andrew belum bergerak meski Mario memintanya masuk ke dalam ruangan dimana Fania dirawat. Dokter yang juga temannya itu tak berbicara banyak, hanya menyuruhnya masuk. Ragu , takut untuk masuk.
Takut kalau pikiran terburuknya terjadi pada Fania nya. Namun disatu sisi Andrew penasaran. Ia memperhatikan raut wajah Mario dalam diamnya.
“Andrew....” Ucap Mario lagi.
“Ndrew.” Reno memegang bahu Andrew dan seketika adik angkat merangkap adik iparnya itu menoleh dengan wajah khawatir dan ragu. Reno mengerti Andrew takut, karena ia sendiri pun sama. Namun Reno tetap coba menegarkan Andrew, tak berucap hanya mengkode pelan dengan kepalanya agar Andrew segera masuk.
“She was dropped. Her blood pressure and her body temperature was too low. But I already did some emergency measures and you need to sign some approval papers. (Kondisinya sempat melemah. Tekanan darah dan suhu tubuhnya sangat rendah. Tapi gue udah melakukan tindakan medis dan lo harus menandatangani beberapa berkas
persetujuan).” Mario menjelaskan saat Andrew sudah berada di dalam ruangan Fania bersamanya.
“You still have no idea when she can wake up? (Apa lo masih ga tau kapan dia bisa bangun?).” Tanya Andrew sambil memandangi Fania nya.
“Be more patience it’s all I can say. I’m not giving you false hope (Masih harus bersabar, itu aja yang bisa gue bilang. Gue ga akan kasih lo harapan palsu).” Ucap Mario. “Well, I go outside then (Okelah, gue keluar dulu).”
***
Sakit ...
Panas ...
Sesak, seperti tak ada udara ...
Dingin... sangat dingin ...
Gelap...
‘Heart, aku disini.’ ..
Samar....
“Nald..?.”
‘Enough Heart, I’m so afraid ... (Cukup sayang, aku sangat takut..)’
Masih samar...
“Nald..?.”
‘Bangun sayang, kamu dengar aku, kan ....’
“Aku denger Nald.... Aku denger.... Aku tau kamu yang sedang menggenggam tangan aku....”
__ADS_1
*******
“Mario!” Andrew berteriak memanggil Dokter yang merupakan temannya itu.
Mario mendengar Andrew berteriak, termasuk juga Keluarga Smith dan Keluarga Cemara. Sedang menjelaskan kondisi terakhir Fania, setelah tadi sempat drop.
Dokter itu langsung sigap masuk ke ruangan dimana Fania berada. Diikuti Reno yang spontan ikut masuk ke dalam ruangan.
“What’s wrong, Andrew?. (Ada apa Andrew?).” Tanya Mario panik.
“She .. She’s moving her finger! (Dia .. Dia menggerakkan jarinya!).” Andrew berdiri dengan wajah penuh harap pada Mario.
Dan Mario pun dengan cepat mengecek keadaan Fania secara langsung termasuk pergerakan pada alat bantu medis yang terpasang pada wanita itu.
Tak berapa lama Dokter itu selesai, lalu menghela nafasnya pelan. Memandang Andrew lalu menghampiri laki – laki itu.
“Be patience Andrew, it takes time. I know you love her that much.(Sabar Andrew, ini butuh waktu. Gue tau lo sangat mencintainya).” Ucap Mario yang berpikir kalau Andrew sedang berhalusinasi.
“She was moved her finger, Mario. I felt it!. (Dia menggerakkan jarinya, Mario. Gue bisa merasakannya tadi!).” Andrew mencoba meyakinkan Mario. “Check her once again, please. (Periksa dia sekali lagi, gue mohon).” Ucap Andrew seraya mengiba.
“Look Andrew ( Begini Andrew ), You see the that monitor?. Her heart beat still low, not stabil yet. (Lo lihat monitor itu?. Detak jantungnya masih bergerak lambat. Belum stabil).” Mario menunjuk ke satu alat agar Andrew mengerti.
“I know! But her finger was moved!. (Gue tau! Tapi tadi jarinya bergerak!).” Andrew masih kekeh dengan pernyataannya. Bahwa dia merasa gerakkan jari Fania meski amat pelan, namun ia yakin kalau dia tidak sedang berhalusinasi.
“You need some rest Andrew. (Lo butuh istirahat, Andrew).” Saran Mario yang di iyakan oleh Reno.
“He was right. Take a rest. Just for a while. I replace you, here. ( Dia memang benar. Istirahat sebentar. Biar gue yang gantiin lo disini ).” Ucap Reno.
-----------
“Nald .. kamu dimana?. Jangan lepas tangan aku. Aku takut....”
‘Look Andrew ( Begini Andrew ), You see the that monitor?. Her heart beat still low, not stabil yet. (Lo lihat monitor itu?. Detak jantungnya masih bergerak lambat. Belum stabil).’ ...
“Siapa ...?.”
‘I know! But her finger was moved!. (Gue tau! Tapi tadi jarinya bergerak!).’ ...
“Nald ....”
‘He was right. Take a rest. Just for a while. I replace you, here. ( Dia memang benar. Istirahat sebentar. Biar gue yang gantiin lo disini ).’
“Kak Reno....”
‘I’m okay. (Gue baik –baik saja).’
“Nald....”
“Nald....”
__ADS_1
----------
‘Heart?.....’ Mata Andrew tertuju pada satu arah. Terpaku, melihat tangan Fania yang terangkat. Memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi. “Heart?!.” Suaranya lolos pada akhirnya saat menangkap pemandangan didepannya.
Mario dan Reno ikut menoleh ke arah Andrew melihat dengan terpaku dan tak lama bersuara.
“Little F?!.” Kini Reno bersuara dengan semangat. Sementara Mario membulatkan matanya.
‘Thanks God. (Terima kasih Tuhan).’ Batin Mario yang kemudian langsung memeriksa Fania.
“Heart....” Seutas senyum di wajah Andrew yang tak nampak akhirnya muncul dengan matanya yang sedikit basah.
“Let me Check her first, okay?. (Biar gue periksa dia dulu, oke?).” Ucap Mario pada Andrew dan Reno. Kedua laki – laki itu pun mengangguk dengan antusias.
“Nald ....” Terdengar lagi suara Fania yang masih samar namun sedikit mengangkat tangannya seperti ingin menggapai sesuatu.
“I’m here!. (Aku disini).” Andrew segera meraih tangan Fania yang bergerak lemah. Menggenggam tangan yang sudah merespon itu dengan hati yang teramat lega. “Aku ga akan kemana – mana.” Airmata bahagianya menetes.
Reno juga tidak bisa menahan harunya kala melihat mata Little F kesayangannya perlahan mulai terbuka. Kakak gantengnya Fania itu setengah terisak seperti Andrew saking lega dan bahagia.
“Kak....” Ucap Fania pelan.
“Gue disini, Little F.” Jawab Reno dengan suara sedikit serak. Fania tersenyum tipis pada Andrew dan padanya.
“Nald....” Panggil Fania lagi pada Andrew.
Andrew tersenyum bahagia. “I’m here Heart. I’m here. (Aku disini Sayang, aku disini).”
“Ma’am, can you hear me?. ( Nyonya, apa kau bisa mendengarku? ).” Mario berbicara pada Fania yang menoleh perlahan padanya. Lalu mengangguk pelan. “Don’t talk and move too much. Look at me. ( Jangan bicara dan bergerak terlalu banyak. Lihat saya ).”
Mario mengecek netra Fania lalu detak jantung Fania melalui stetoskopnya sambil melihat juga kesatu monitor, kemudian menekan tombol untuk memanggil perawat yang tak lama datang.
“You can breathe now, Andrew. (Lo bisa nafas sekarang, Andrew).” Mario tersenyum dengan kelegaan yang juga nampak di wajah Dokter muda tersebut. “You too. (Lo juga).” Ucapnya pada Reno yang dijawab anggukan oleh laki –laki itu.
Mario tau kalau selain Andrew, Reno juga sama kacaunya seperti Andrew, saat wanita yang baru melewati masa krisisnya ini masih belum menunjukkan respon positif. Bahkan Reno sempat mengancamnya kalau andainya dia tidak bisa menyelamatkan wanita yang sudah diklaim sebagai adiknya Reno Alexander itu.
“Ndrew, gue keluar dulu. Kasih tau yang lain kalau Little F sudah sadar.” Ucap Reno pada Andrew yang kemudian mengangguk, karena Andrew tak mungkin mau kalau disuruh keluar dari ruangan tempat Fania berada itu.
“Nald....” Hanya sepatah dua patah kata saja yang bisa terucap dari mulut Fania. Tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya seperti tak bertulang.
“Iya Heart, kamu jangan banyak bicara dulu ya?. Aku disini, ga akan kemana – mana.” Ucap Andrew lalu mengecup kening Fania dengan matanya yang basah. Fania mengangguk pelan dan Mario tersenyum.
“Wait until everything are stabil, than we can move her. (Tunggu sampai semuanya benar – benar stabil, baru kita bisa pindahkan dia).” Ucap Mario pada Andrew. “I’ll go to make some report. I’ll be back. (Gue bikin laporan dulu. Secepatnya gue balik kesini).”
“Thank you Mario. I owe you a lot. (Makasih Mario. Gue hutang banyak sama lo).” Ucap Andrew tulus pada Mario.
Mario mengangguk sambil tersenyum. “Don’t mention it, Man. You helped me a lot also. My time to return. (Jangan ngomong gitu, Bro. Lo juga udah sering nolong gue. Giliran gue sekarang).” Menepuk bahu Andrew lalu melangkah keluar dari ruangan, namun meninggalkan satu perawat untuk tetap memonitor Fania.
*
__ADS_1
To be continue...*