BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 45


__ADS_3

🍁SEPENGGAL KISAH🍁


Selamat membaca...


***********************


Masih di Indonesia ...


“Ada cewe cantik yang membawa anak laki – laki.”


“Bas**rd! (B*jingan!)”


Jeff terkekeh.


“Baru sebulan lo putus dari si Aila udah dapat lagi incaran baru aja. Gila emang Kakak John!.” Ucapnya. “Selera lo John, John. Kemarin janda, sekarang lo mengincar mamah muda?.” Jeff kini tergelak.


“Bukan ibunya. Tapi anak laki – lakinya.”


Gantian mimik muka Jeff yang terlihat aneh. Sedikit bingung. Jeff pun spontan mengernyitkan dahinya.


“Itu anak tampangnya, mirip banget sama lo waktu kecil, Jeff!.”


“Hahaha... Lo masih jet lag kayaknya John. Jadi mata lo agak buram!” Jeff tergelak mendengar penuturan John barusan.


John mengusap – usap dagunya, seperti sedang berpikir.


“Asli Jeff! Gue serius ini, oke?!. Itu anak laki – laki yang tadi gue lihat, benar – benar duplikat lo waktu masih kecil. Gue sendiri bahkan sempat kaget tadi.”


“Dan lo pikir itu anak gue?.” Jeff menyela.


“Bisa jadi kan?”


“Lo gila!.” Ucap Jeff sambil geleng – geleng.


“Who knows, Dude?! (Siapa tahu, Bro?!). Lo kan banyak menyumbang sp*rma dibanyak perempuan!”


“Yeah, like you’re not? (Macam lo engga aja?).”


“Ga sebanyak dan separah elo yang jelas! And I play save, okay?! (Dan gue main aman, oke?!).” John masih beradu argumen dengan Jeff. “Dan para perempuan yang pernah tidur dengan gue itu masih bisa dihitung pakai jari. But you?!... (Tapi elo?!).”


Jeff tergelak. “Lo pikir gue ga main aman?!. Gue juga ga pernah asal main sama perempuan tanpa pengaman, John!. Gue udah antisipasi setiap perempuan yang pernah tidur bareng gue supaya ke depannya mereka ga sok ngaku – ngaku hamil anak gue!.” Jeff masih tak mau kalah.


“But seriously, Jeff (Tapi beneran deh, Jeff), anak laki – laki yang tadi gue lihat itu replika muka lo waktu seumur dia.”


“Sudahlah John, lebih baik cepat kita habiskan ini makanan supaya kita bisa cepat ke rumah Keluarga Cemara, sebelum macet!.” Ucap Jeff yang kembali santai dan tak lagi ambil perduli dengan ucapan John soal anak laki –


laki yang dibilang mirip dengannya itu.


“Damned, gue penasaran sumpah!.” John berdiri dengan tiba – tiba. Ia kemudian berjalan menuju ketempat anak laki – laki yang tadi ia lihat.


“Ish ini orang!.” Jeff menggerutu melihat John yang nampak sangat penasaran itu. Dan pada akhirnya ia pun mengikuti John.

__ADS_1


Mata John kini sedang mencari – cari sosok wanita yang ia maksud tadi.


“Mana?.” Tanya Jeff.


“Tadi mereka duduk disini”


John menunjuk ke satu meja tempat tadi dia melihat anak laki – laki yang mirip Jeff dengan dua orang perempuan.


Jeff hanya menggelengkan kepalanya. “Stress gue rasa lo John, ditinggal Aila sama dimusuhin si Prita.” Kemudian si bule gila melenggang pergi untuk kembali ke mejanya.


“Sumpah gue penasaran.”


Kini John bergumam sendiri sambil berjalan ke arah pintu masuk restoran dan celingak – celinguk didepannya.


“Ck! Sudah ga ada lagi, mereka”


***


“Excuse me, Sir. Is there any problem? ( Permisi Tuan, apa ada masalah? ).” Seorang staff restoran yang berada di dekat pintu masuk bertanya pada John dengan sopan. Ia berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris, karena ia pikir John itu memang bule beneran.


Yah kalau tampak luar memang si bule KW nan koplak itu mempunyai ciri – ciri bule pada umumnya.


“Ah ya! Do you see a woman with a little boy?. She just ate here ( Ah ya! Apa kamu lihat seorang wanita dengan seorang anak laki – laki?. Mereka tadi makan disini ).” Ucap John pada staff resto tersebut.


“You mean two women with a three years boy, I guess? ( Maksud anda dua orang wanita dengan anak laki – laki kira – kira berumur tiga tahun? )”


“Exactly! ( Tepat sekali! )” Mata John berbinar karena staf resto tersebut tahu orang yang dia maksud.


John setengah berlari ke arah yang ditunjukkan staf tadi. Celingak celinguk sebentar lalu berdecak karena tak melihat lagi orang yang dia cari.


“Ah!.” Kemudian ia kembali ke arah resto dan staf yang tadi berbicara padanya, bertanya lagi.


“I’m sorry Sir, but is there any problem with the person that you have looking for? ( Maaf Tuan, tapi apa ada masalah dengan orang yang sedang anda cari? ).”


“Oh No, No. Never mind. Thanks before ( Oh tidak, tidak. Bukan apa – apa. Terima kasih sebelumnya ).” John kemudian berjalan kembali menuju mejanya dan Jeff yang geleng – geleng saat John kembali duduk dihadapannya.


“Lo ngapain sih, penasaran sampe sebegitunya, John?”


“Kalau itu anak ga sekedar mirip sama lo, gue ga akan se - penasaran ini, Jeff. Mata gue masih sangat bagus untuk melihat kalau kemiripan kalian itu sembilan puluh persen.”


“Mungkin hanya mirip, Mister John...” Sahut Jeff santai.


“Mungkin. Tapi ga mungkin semirip itu.” John menatap Jeff.


“Umur berapa memang itu anak?” Tanya Jeff.


“Sekitar tiga tahunan kalau gue ga salah” Sahut John.


Jeff terkekeh. “So, sudah dipastikan itu bukan anak gue!.” Ucap Jeff. “Ga mungkin, John.” Sambungnya. “Satu, gue tahu pasti kalau gue selalu pakai pengaman.”


Ia sekali lagi meyakinkan John.

__ADS_1


“Dua, kalau itu anak gue, kenapa ibunya ga cari gue untuk minta pertanggung jawaban?. Mikir ga sih lo?. Mana ada perempuan yang notabene hamil sama gue, tapi ga minta pertanggung jawaban gue, tapi juga malah memilih buat


membesarkan anaknya sendirian?. Lo pikir gampang jadi single parent?. Ga mungkinlah!. Mana ada perempuan sebodoh itu!”


“Iya juga sih.” John nampak berpikir. Tak lama ia mengendikkan bahunya.


John pun kembali melanjutkan makannya yang tertunda agar bisa segera pergi ke rumah Keluarga Cemara. Namun otaknya masih terus berpikir.


“Ah iya gue tahu!”


“Damned you John!! ( Sialan lo John!! )”


Jeff spontan mengumpat karena tersedak minuman akibat suara John yang mengagetkannya.


“Habis ini lo ikut gue.”


***


Jeff memicingkan matanya sambil memutar berkali – kali kopian video dari CCTV restoran yang didapat John dari restoran tempat mereka makan siang tadi. Setelah John dengan kuasanya,  berhasil mendapatkan akses untuk mengecek kamera CCTV restoran yang kebetulan punya gambar yang jelas menangkap wajah anak laki – laki yang


diyakini John amat sangat mirip dengan Jeff.


“Sial! Si John benar ternyata. Pantes saja dia ngotot. Ini anak duplikat muka gue banget waktu kecil”


Jeff memijat pelipisnya. Ia sudah kembali ke Kediaman keluarga Smith yang di Jakarta dan kini sudah berada di kamarnya, selepas dari rumah Keluarga Cemara dan hanya bertemu dengan Papa Herman dan Mama Bela, sementara si Priwitan yang di harap – harap bisa ketemu oleh John lagi ga ada.


Lagi pergi ke luar kota kalo kata Papa Herman. Dan John pun dongkol setengah mati.


“Masa dia anak gue?.” Jeff memutar lagi video dalam surelnya. “Tapi mirip banget, sialan!”


Lagi – lagi Jeff mengumpat sendiri. Dirinya menampik soal anak laki – laki tersebut, tapi hatinya penasaran juga.


“Tapi ibunya?.”


Jeff memperhatikan dua wanita yang berada dekat dengan anak tersebut. Kini matanya memperhatikan dengan seksama kedua wanita yang ada di video.


“Kayaknya gue ga pernah make love sama dia. Asing banget mukanya.” Jeff memperhatikan satu – satu wanita dalam video. Menjeda sebentar video sambil membesarkan tampilan layar. “Ga gue ga kenal sama dia.”


Jeff memutar lagi video yang sedang ia lihat.


Setelah yakin kalau wanita berambut coklat terang itu ia tidak kenal sama sekali. Kini Jeff beralih memperhatikan wanita yang satunya yang nampak sering terlihat berinteraksi dengan bocah kecil yang mirip dengan dirinya itu.


Sedikit kesulitan melihat jelas wajah si wanita berambut hitam sebahu yang seringnya menengok ke arah bocah laki – laki tersebut.


Mata Jeff membola saat menangkap gambar yang menunjukkan wajah si wanita berambut hitam sebahu itu. Jeff menjeda video tersebut.


“This is fuc**n’ impossible!!* ( Ini benar – benar ga mungkin!! ).” Jeff mengumpat kasar sambil meremas kasar rambutnya. Ia tampak tak percaya sekaligus frustasi.


**


To be continue.....

__ADS_1


__ADS_2