
Selamat membaca......
Tring. Sebuah pesan di aplikasi chat ponsel Fania berbunyi saat dirinya memilih untuk menghabiskan satu batang rokok sebelum mengganti pakaian, sambil mendengarkan musik dari ponsel dengan menggunakan headset. Kepalanya sedikit pening, dan mungkin satu batang rokok dan musik bisa sedikit menetralkan pening di kepalanya.
Are you okay, Sweety?. (Apa kamu baik – baik saja sayang?). Isi chat dari Ibu Peri.
I’m okay Kak. (Iya Kak). Balas Fania.
Jangan dipikirkan yang pria brengsek tadi bilang di restoran. Tulis Ara.
Engga Kak. Ga merhatiin malah. Cuma fokus sama Andrew yang emosi aja tadi. Balas Fania. Lagi – lagi karna gue..
Engga lah, sayang. He Loved You (Dia cinta kamu). Sangat. Tulis Ara lagi. Ya udah istirahat sana.
Kak, mungkin ga seharusnya gue disini. Gue balik ke Indo aja ..
*
Gadis itu meletakkan ponsel diatas pahanya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Seperti berpikir sebentar lalu melepas head set, hendak beranjak untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri.
“Kenapa masih belum ganti baju?.” Tanpa Fania sadari Andrew sudah berdiri di dekatnya dan membuat gadis itu sedikit terkejut.
“Eh Nald. Ini baru mau ganti baju.” Ucap Fania seraya berdiri dan berjalan melewati Andrew. ‘Kapan datengnya ini orang?.’ Batin Fania.
“Memikirkan apa?.” Andrew menahan tangan Fania karna ia melihat gerak – gerik Fania yang sepertinya sedang berbalas chat dengan seseorang dan melihat gadis pemilik hatinya itu menangkup wajah cantiknya dengan kedua tangan seperti sedang berpikir untuk mengambil keputusan.
“Hem?.” Fania menoleh. “Ga mikirin apa – apa. Cuma tadi asem aja mulut aku.” Ucapnya dan Andrew tersenyum tipis lalu melangkah ke sofa santai yang mengarah ke balkon.
“Habis chat sama siapa?.” Tanya Andrew sambil memegang ponsel Fania seraya duduk di sofa.
Fania menggigit bibirnya. ‘Gawat dia kalo baca chat gue sama kak Ara. Nanti dia marah malah.’
__ADS_1
“Hem?.” Andrew memegang ponsel Fania. Melihat sekilas namun tidak membuka isi ponsel meski ponsel gadisnya itu tidak terlindung sandi dan akses masuk lainnya. Menunggu jawaban Fania sambil memandangnya.
“Engga, Cuma liat – liat foto aja sambil denger musik.” Ucap Fania lalu meminta ponselnya yang dipegang Andrew dan laki – laki itu tersenyum tipis lagi. “Sini, aku mau charge dulu. Low bat.” Pinta Fania cari aman seraya mendekat.
Syut!. Andrew menarik pelan Fania dan mendudukkan gadis itu dalam pangkuan nya.
“Kamu tau?. Aku ga suka dibantah kan?. Kamu juga harus tau, aku ga suka orang yang tak jujur.” Ucap Andrew pelan sambil menatap Fania. Tersenyum, tapi wajahnya melukiskan hal lain yang tak sejalan dengan senyumannya.
**
“Bagaimana Dad?. Apa Andrew dan Fania baik – baik saja?.” Tanya Mom Erna pada suaminya saat laki – laki itu sudah kembali ke kamar mereka.
“We have to deplenish our schedule for next week. ( Kita harus mengosongkan jadwal untuk minggu depan ).” Jawab Tuan Anthony yang sudah sangat memahami Bahasa Indonesia.
Mom Erna tampaknya paham maksud suaminya dan wanita itu pun manggut – manggut saja.
**
Fania terdiam menatap Andrew. Batinnya sedang berperang. Antara harus jujur atau tidak pada Donald nya yang sepertinya mengetahui kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Fania ingin pulang ke Indonesia. Bukan karena takut karena melihat emosi Andrew yang sudah dua kali tampak di depan matanya. Melainkan rasa khawatir, kalau Andrew akan tidak fokus dengan hal lain kalau dirinya berada terlalu dekat. Tapi kalau jujur ke Andrew sekarang ini, Fania takut Donald nya itu malah salah paham.
Takut kalau Andrew berpikir dia mau menjauhinya karna takut. Tambah lagi Andrew habis marah – marah sampe mukul orang tadi.
“Um .. itu.. aku abis chat sama kak Ara juga sih.” Jawab Fania. “Dia tanya apa aku baik – baik aja soal kejadian tadi.”
“Then?.” ( Lalu ? ). Tanya Andrew.
‘Duh, kenapa dia jadi menyeramkan gini si?.’ Batin Fania. “Ya itu aja sih.”
“Kamu takut sama aku sekarang, hem?.” Tanya Andrew lagi.
__ADS_1
“Engga.” Jawab Fania sambil tersenyum dan membelai wajah Andrew. Meski sudah sering berdekatan tetap saja wajah si Donald nya itu selalu membuat dadanya berdebar.
Wajah dengan rahang yang begitu kokoh. Alis tebal yang seperti diukir. Hidung mancung. Bibir yang selalu menggoda iman Fania.
‘Aish. Sejak kapan otak gue jadi ngeres mulu asal udah liat mukanya sedekat ini.’ Batin Fania yang menahan untuk tidak menggigit bibir bawahnya sendiri saking gemes.
“Jangan menyembunyikan sesuatu dari aku.” Ucap Andrew lagi, masih dengan nada suara yang datar. Menyadarkan otak ngeres Fania yang lupa disapu. “Aku ga suka.”
“Aku mau pulang....” Fania memeluk Andrew dan menyembunyikan wajahnya diantara bahu bidang dan ceruk leher Andrew.
Deg. Andrew merasakan sedikit dentuman dihatinya.
“Aku rasanya jadi beban buat kamu. Kak Reno dan kalian semua.” Ucap Fania lirih masih bergelayut, memeluk Andrew. Matanya mulai berkaca – kaca. “Kita mungkin ga seharusnya bersama sampai ke tahap ini. Mungkin ikatan yang dulu sebagai teman, sahabat dan kakak, itu lebih baik.”
Ada yang tercekat di tenggorokan Fania saat kalimat itu ia ucapkan. Memeluk Andrew erat karena sebenarnya ia enggan untuk berpisah. Cintanya terlalu dalam. Namun disisi lain, sekarang ia merasa tidak pantas. Tak mau Donald kesayangannya terlibat masalah, karna dirinya.
“Kamu mau mutusin aku?.” Tanya Andrew tak bergerak. Sambil merasakan dadanya yang bergemuruh mendengar ucapan Fania. “Jawab. Jangan bertele – tele.”
Mata Fania mulai basah. Tapi tak mengendurkan pelukannya. Sedih, pilu, berat dan tak rela sebenarnya. Namun ia
mengangguk.
Fania tak menjawab dengan suara, tapi Andrew merasakan gadis yang ia cintai sepenuh jiwa itu menganggukkan kepalanya. Dadanya bergemuruh, nafasnya mulai berat. Ada sulutan emosi karena jawaban Fania.
“Perasaan aku ga akan berubah Nald.” Fania mengendurkan pelukannya. Berkata lirih.
Maybe, I’ll Never Love Again.
(Mungkin aku tidak akan pernah mencintai lagi)
*
__ADS_1
To be continue ..*