
♣POPPA and MOMMA ♣
Selamat membaca..
- - -
- - -
- - -
Andrew dan Fania berjalan dengan Andrea yang berada dalam gendongan tangan Andrew.
Setelah satu bulan Fania dan Andrea di rawat di Rumah Sakit, pada akhirnya Fania dan Andrea sudah bisa kembali pulang untuk berkumpul bersama keluarga mereka. Fania, Andrew dan Andrea datang bersama Reno, Ara dan Varen yang menjemput dan menemani dari Rumah Sakit hingga sampai ke Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, dimana seluruh keluarga yang lain termasuk Keluarga Cemara dan Dewa sudah menunggu kedatangan mereka.
“Ah akhirnya yang ditunggu datang juga.” Mom dan Mama Bela sudah menunggu kedatangan Fania dan rombongan di pintu masuk Mansion.
Ia langsung menyambar Andrea yang berada di gendongan Andrew lalu berjalan bersama Mama Bela sambil menggendong bahagia cucu mereka itu.
“Varen, sini sama Nene Bela.” Mama Bela menghampiri Varen yang bersama Dad dan Momnya itu. Bocah empat tahun yang jauh lebih pintar dari anak seumurannya itu langsung menggandeng tangan Wanita yang merupakan satu dari tiga nenek yang dia punya. Varen paham Bahasa Indonesia, karena kedua orang tuanya, juga Mama Anye sering berkomunikasi dengan Bahasa. Namun hanya belum terbiasa untuk mengucapkannya.
“Kamu mau langsung ke kamar, Heart?” Tanya Andrew.
“Engga D, ikut kumpul dulu. Cape aku rebahan terus.”
“Ya sudah. Tapi jangan lama – lama ya?. Biar bagaimanapun kamu belum pulih benar.”
“Iya.”
**
“Kamu sangat terkenal ternyata ya, meski kamu bukan seorang public figure, Heart.” Ucap Andrew pada Fania saat mereka sudah berada di kamar mereka.
Fania tersenyum.
“Kenapa hem?.” Fania mendekati Andrew yang sedang memegang ponselnya.
Andrew memperlihatkan pada Fania apa yang sedang dilihatnya dalam akun Fania disebuah medsos.
“Foto yang baru kamu upload sudah mendapat ribuan like dari para fans kamu.” Ucap Andrew.
“The power of Selebgram, D.” Ucap Fania terkekeh.
“Ingat ya, jangan pasang foto sendiri, apalagi dengan pakaian seksi. Pasang saja foto yang ada akunya.” Andrew mengingatkan.
“Kamu nih, masih aja cemburuan.” Ucap Fania lagi.
“Aku hanya ga suka wajah kamu menjadi fantasi liar para laki – laki di luar sana.” Sahut Andrew. “You’re mine, remember?. Forever mine (Kamu milik aku, ingat?. Selamanya milik aku).”
“Iya, D.”
“Ga apa ya, untuk sementara Andrea tidur terpisah dengan kita?. Hanya sampai kamu benar – benar pulih, Heart.”
“Iya ga apa – apa. Ada mama sama Mom yang bantu ngurusin Andrea” Ucap Fania sambil menempelkan kepalanya dengan kepala Andrew.
“Keluarga Cemara ga mau ikut bareng tinggal sama kita disini?. Coba kamu bujuk mereka, Heart?. Biar kita semua terus kumpul sama – sama.”
“Ga akan mau, mereka. Lebih nyaman tinggal di Indonesia kalau mereka sih.”
Andrew manggut – manggut. “Ya sudah, kamu istirahat ya?. Aku mau lihat Andrea”
“Aku ikut. Mau kasih kiss good night.”
Andrew mengangguk.
**
Andrew dan Fania menyambangi kamar Andrea yang didominasi warna pink putih dan biru, sesuai permintaan Fania. Lumayan masih ramai di kamar Andrea, saat mereka ingin memberikan kecupan selamat malam untuk putri mereka itu.
__ADS_1
Sedikit berat sih memang, kalau harus tidur terpisah. Padahal Fania membayangkan saat bayinya lahir nanti, dia akan menempatkan bayi itu di ranjangnya, menidurkannya diantara dirinya dan Andrew. Tapi yah apa mau dikata
kalau musibah sudah terjadi. Hanya bisa pasrah dan sabar juga berdoa agar semua akan selalu baik – baik saja kedepannya.
Yang patut Fania syukuri adalah bayinya dan Andrew dapat lahir ke dunia sengan selamat. Meski dilahirkan dalam suasana yang lumayan mencekam. Tak terbayang oleh Fania jika ia tidak selamat dalam kecelakaan, dan jika Andrea sudah keburu lahir seperti sekarang, Andrea akan menjadi anak piatu.
Belum lagi si Donald Bebek bakalan jadi Hot Duda. Ah, rasanya Fania ga rela kalo Andrew jadi rebutan para ulet bulu gatel di luar sana. Tapi miris juga saat mendengar ‘hancur’ nya Andrew saat sebentar ia meninggalkan dunia.
Belum lagi Andrew bilang akan menyusulnya kalau Fania benar – benar pergi. Tak terbayang gimana nanti nasib Andrea kalau Papa dan Mamanya ga ada.
“Si Andrea ini nih, kayak Kak Andrew versi cewek ya.” Celetuk Prita sambil senderan di box bayi Andrea, memandangi ponakan barunya itu. Fania dan Andrew tersenyum.
“Iya bener kamu, Prita. Untung aja dia ga plontos kayak Daddynya” Sahut Ara yang juga ada di kamar Andrea. Mereka pun terkekeh bersama.
“Bagus itu kalo anak cewek mirip bapaknya, kate orang kan bagus rezekinya. Contoh noh si Kajol lebih mirip papahnya. Rezekinya bagus bener. Punya suami kayak Endru yang cinta mati ama die. Ganteng, kaya, biar botak
juga.” Ucap Mama Bela lalu ia terkekeh sendiri, diikuti kekehan mereka yang ada di kamar Andrea, termasuk Andrew.
“Andrew yang beruntung punya Fania dalam hidup Andrew mah.” Ucap Andrew yang kemudian menggendong Andrea dan mendekatkannya pada Fania yang sudah duduk, dengan Varen didekatnya.
“Mamma.”
“Yes, my prince?” Fania menanggapi Varen saat Andrea sudah ada dalam gendongannya dan Andrew duduk didekat mereka sambil memangku Varen.
“Is she will call you Mommy or Mamma?. (Dia akan memanggilmu Mommy atau Mamma?)” Tanya Varen pada Fania. “It means that she is my sister, right?. (Dia ini adikku, kan?)”
Semua orang tersenyum kecuali Mama Bela.
‘Ngomong apaan sih ini bocah?.’ Batin Mama Bela yang ga paham Bahasa Inggris selain Oh yes, Oh No itu.
“Of course, she is. (Tentu aja iya, dia adik kamu).” Sahut Fania. “Do you like her?. (Apa kamu menyukainya?).”
“I love her Mamma, not only like to Andrea. I will always protect her, trust me. (Aku mencintainya Mamma, tidak hanya menyukai Andrea. Aku akan selalu melindunginya, percaya padaku).” Ucap Varen. “I’m a man with a word (Aku pria yang memegang kata – katanya).” Ucapnya lagi menirukan gaya sang Daddy dan Andrew saat mereka sedang serius. Membuat mereka yang melihatnya tergelak.
‘Au ah.’ Batin Mama Bela lagi. ‘Kudu tinggal di bekasi ini anaknya si Reno ama Ara.’ Ngedumel sendiri.
“Bener kata si Varen tuh Kak, lo harus punya panggilan buat lo sama Kak Andrew. Jangan Mom sama Dad lagi, udah dua yang make sih. Dad Anthony sama Kak Reno, Mom Erna sama Kak Ara. Lo yang kreatip dikit”
“Ntar anak kedua lo namanya si Dul.” Mama Bela ikutan nyeletuk. Mereka pun tergelak lagi. “Pipi Mimi kek.”
“Anang KD kali ah” Timpal Prita. “Jangan Papa Mama, nih orang Bekasi udeh ada. Mama Anye juga udah pake noh Mama”
“Iye, ye. Apaan ya?”
Fania tampak berpikir.
“Poppa and Momma!.” Celetuk Andrew sambil menunjuk dirinya dan Fania. “Varen calls us Pappa and Mamma. (Varen panggil kita Pappa dan Mamma). Ya sudah kita pakai itu aja, Heart. Bagaimana?.”
Fania nampak menimbang sebentar.
“Okelah. Poppa and Momma!.”
“What do you think my Prince?. (Bagaimana menurutmu Pangeranku?)” Tanya Andrew pada Varen.
“Agree!. (Setuju!)” Sahut Varen semangat. “Can I call with that too? Poppa and Momma?. (Aku boleh ikut memanggil dengan sebutan itu juga? Poppa and Momma?).” Tanyanya pada Andrew dan Fania.
“Of course our handsome Prince. (Tentu saja pangeran kami yang tampan).” Sahut Andrew. “Oke sudah waktunya kita beristirahat.” Andrew mengambil Andrea dari gendongan Fania yang sudah dihadiahi kecupan oleh sang Momma.
“See you tomorrow my Prince. (Sampai ketemu besok, pangeranku)” Fania memberikan kecupan pada laki – laki mungil nan tampan dan menggemaskan itu.
"See you tomorrow Momma!"
“Oke semuanya, Poppa sama Momma mau istirahat dulu. See ya!.” Ucap Andrew sembari pamit dan keluar dari kamar Andrea sambil menggandeng Fania.
***
“Sedang melamunkan apa, Momma?. Sedang memikirkan Poppa yang menawan ini?.” Andrew terkekeh menghampiri Fania yang nampak sedang melamun sembari menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Andrew geli sendiri sebenarnya dengan sebutan ‘Poppa dan Momma’ yang ia usulkan sendiri. Tapi ternyata Fania menyetujuinya, ya sudah.
__ADS_1
“Kebanting banget ama otot kamu, D. Dipanggil Poppa.” Fania ikut terkekeh.
“Pada dasarnya aku kan imut – imut. Babyface” Ucap Andrew yang sudah meringsek memeluk Fania.
“Baby Panda.” Sahut Fania sambil terkekeh lagi.
“Kangen, Heart.”
Kayaknya sedikit menjurus.
“Iya aku juga, D. Udah lama kayaknya ga dipeluk gini.” Sahut Fania.
“Badan kamu masih sakit?” Mukadimah alias pembukaan mengarah ke usaha untuk mengairi sawah keknya.
“Udah engga, Alhamdulillah”
‘Ah terima kasih Tuhan, malam ini aku bisa menambah ibadah’ Batin Andrew girang. “Poppa kangen. Mana hujan, Dingin, butuh yang hangat – hangat” Mode mesum on.
“Aku buatkan teh ya?. Atau kopi?. Atau mau aku buatkan apa?. Udah kuat ini lumayan, kalo Cuma buat makanan sih.” Fania menawarkan.
“Menurut kamu hujan – hujan gini enaknya ngapain?”
Oke mulai nyerempet.
“Makan Indomie” Jawaban yang diluar ekspektasi Andrew.
“Ck!. Masa makan Indomie.” Donald Bebek sebal, karena si Kajol kaga paham.
“Nah ujan – ujan emang enaknya makan Indomie . Internet. Indomie telor kornet, pake irisan cabe. Jadi laper aku.” Ucap Fania polos.
“Aku sudah kelaparan selama satu bulan malah” Andrew tak lagi basa – basi. Tangan terampilnya mulai membuka kancing piyama Fania.
“Mau ngapain deh?” Fania menahan tangan Andrew.
“Ah Momma, seperti ga paham aja.” Ucap Andrew. “Udah ga sakit kan badannya?. Janji aku pelan – pelan, kamu ga usah kerja biar aku aja. Cukup nikmatin aja, hem?.”
“Poppa.....” Ucap Fania sambil mengelus garis rahang Andrew yang wajahnya kini sudah bermain diceruk leher Fania, dan tangannya sedang mengukur diameter gunung himalaya dari balik piyama.
“Heemmm ...”
“Inget, aku habis melahirkan. Kamu puasa dulu semedi di goa.”
“Kan udah sebulan, Momma. “
“Empat puluh hari Poppa” Fania menggeser tangan Andrew dari gunung himalaya nya.
“Apa?!”
“Iya, Poppa harus puasa empat puluh hari.” Fania tersenyum sambil memainkan alisnya.
“Serius kamu?” Andrew mendelik.
“Iyap. Empat puluh hari paling cepat. Nah berhubung Momma kalo lagi PMS itu deres, ada kemungkinan sampe maksimal enam puluh hari.” Ucap Fania mengancingkan kembali piyamanya dan menarik selimut hingga dada. “Nitey nite, Poppaa ....”
“Momma .. tega....” Andrew meratap. “Tapi kan kamu ga lahiran normal, Heart?” Masih usaha.
“Tetep aja namanya abis lahiran, hitungannya nifas, D ku tha yang.” Ucap Fania. “Sabar yah, Poppaa.” Meledek dengan senyumnya.
‘Bisa – bisa rusty (Karatan) ini kalau begini.’ Batin Andrew memikirkan nasib si Bona miliknya.
“Mau kemana, D?” Fania merasakan pergerakan di ranjang. Matanya yang sudah terpejam itu kembali terbuka.
“Solo Karir!” Si Donald Bebek melangkah ke kamar mandi.
Momma terkekeh geli, karena Poppa akan bermain sabun sepertinya.
**
__ADS_1
To be continue ..
Menuju Akhir Cerita.