
♣CERITA LAIN SOAL KEGESREKAN♣
*****
Selamat membaca..
“Eh Sweety, sudah bangun?.” Ara menyapa Fania dengan senyumnya saat si adik ipar itu sudah bangun dari tidurnya.
“Kak Ara ... sama siapa?.”
“Mom, Michelle, Keluarga Cemara, Dad juga.”
“Heeemmm, terus mereka mana sekarang?. Lagi liat Andrea ya sama Andrew?.” Fania hendak meraih air minum di atas nakas disampingnya.
“Eh, bilang do kalau mau minum, Sweety.” Ara menahan tangan Fania dan mengambil gelas diatas nakas yang berisikan air minum untuk Fania.
“Makasih Kak Ara.” Ucap Fania setelah menenggak sebagian air didalam gelas. “Kak Reno dan yang lainnya pergi ngantor ya?. Apa Andrew ke kantor juga?.”
“Mana mungkin si Donald Bebek akan mikirin pergi ke kantor saat kamu masih begini, Sweety.” Ucap Ara. ‘Dia malah mikirin mau kasih pelajaran orang yang nabrak kamu sama kakak kamu tuh. Sama – sama pendendam. Ga
tenang hidupnya kalau belum membalas. Hahhh....’ Batin Ara. “Mereka sedang pulang sebentar.”
“Oh, ya udah ga apa – apa, kasian juga emang pada disini terus. Pada sakit pasti badannya.”
‘Otak mereka yang sakit kalau soal balas dendam, mode crazy on.’ Ara membatin lagi. “Ga lama kok, mereka hanya rehat aja sebentar, nanti akan kesini secepatnya.
Fania mengangguk. “Eh, Kak maaf deh, bisa tolong liatin dilaci ada hape gue ga?.”
“Ada Sweety, tadi Andrew memang titip. Nanti ponsel baru kamu diantar kesini. Ini ponsel kamu yang lama layarnya agak retak soalnya.”
Ara memberikan Fania ponsel miliknya.
“Alah Cuma retak gini doang, segala pake ganti henpon baru. Sayang – sayang duit. Orang masih nyala juga ini.”
Ara terkekeh. “Ya masa istrinya Andrew Smith pakai ponsel yang layarnya retak?.” Ucapnya. “Kamu makan dulu ya?, udah waktunya minum obat juga.”
Fania mengangguk. “Tapi bentar ya Kak, gue mau telpon sebentar.”
Gantian Ara yang mengangguk, lalu merapihkan makanan untuk Fania.
****
“D ...”
‘Ya, Heart? Kamu sudah bangun?.’
“Udah. Baru aja. Kamu dimana?. Lagi istirahat kata Kak Ara?.”
‘Aku di rumah, Heart. Iya istirahat sebentar, ga apa – apa ya?.’
DOR! DOR! ...
“Astagfirullah! Kamu lagi dimana D?! Lagi ngapain?! Itu suara tembakan, kan?!.”
'Oh ini, aku lagi main PUBG.’
“Main PUBG?. Suaranya kenceng banget gitu?.”
‘Aku nyalakan Soundbar (Pengeras Suara). Jadi kencang suaranya.’
“Oh, ya ampun D, lemes jantung aku denger suara tembakan kenceng begitu.”
‘Iya sengaja biar lebih seru, seperti nyata jadinya.’
“Dasar kamu nih. Kamu sama siapa di rumah?.”
‘Aku sama R, dua J dan Dewa.’
“Oh...”
‘R, say something! (R, ngomong sesuatu!).’
‘Hey Little F, nanti telfon lagi bisa ga? Gue lagi Battle (Tanding) sama Andrew, tanggung!.’
“Seru amat kayaknya, Kak Reno sampe kedengeran ngos – ngosan kayaknya.”
‘Iya biar seperti seolah -olah kalau aku sama R lagi lari mengejar penjahat.’
DOR! DOR! ...
‘Wa! Eldron bagian gue!. Eh, maaf Heart. Jadi teriak kekamu. Terlalu seru.”
“Eldron?.”
‘Oh, itu nama musuh di PUBG, Eldron namanya.’
“Oh. Kamu kesini lagi kapan?.”
‘Iya sebentar lagi selesai, nanti aku langsung temui kamu ya?.’
“Ya udah, take your time D, istirahat aja dulu kamu. I love you.”
‘Love you more, my Love. My Heart.’
__ADS_1
Fania mematikan ponselnya. “Main PUBG seseru itu emang ya?.” Fania menggumam sendiri. “Gue kira itu game Cuma ada diaplikasi hape, ada juga game konsolnya?.”
Fania mengendikkan bahunya sendiri. Lalu meletakkan ponsel di sampingnya.
“Apa kata Andrew?.” Tanya Ara sambil meletakkan tray berisikan makanan untuk Fania. ‘Penasaran gue mereka pake alasan apa.’
“Iya dirumah. Lagi main PUBG katanya. Segala pake speaker. Heboh banget. Sampe kaget gue, denger suara tembakan.”
“Hah?!.”
Ara tanpa sadar setengah memekik mendengar ucapan Fania.
“Kenapa Kak?.”
“Ah, ga apa – apa. Kaget aja, kirain lagi pada tidur, ponsel kakak kamu mati soalnya.”
“Biarin aja lah kak, pada iseng kali jadi pada main game dirumah.”
‘Main PUBG?. Ga ada alasan lain apa?.’ Batin Ara pun tak habis pikir. “Iya biarin aja, Sweety. Asal mereka bahagia.”
**
“Is everything all right, Sir? (Apa semua baik – baik saja, Tuan?).”
Nino menghampiri para Tuan Muda yang baru memasuki area dalam rumah sakit.
“Don’t you worry about that, Nino (Lo jangan khawatir soal itu, Nino).” Sahut Reno sambil menepuk – nepuk bahu Nino.
Nino pun manggut – manggut.
Andrew tersenyum pada salah satu orang kepercayaan Reno selain John itu.
“You just missed the party Nino (Lo hanya melewatkan pestanya, Nino).” Ucap Andrew. “How’s Ezra?. Can I see him? (Gimana Ezra?. Apa gue bisa melihatnya?).”
“Ah ya, Ezra already pass his crisis moment. Just waiting untill he wake up from the anasthetic (Ah iya, Ezra sudah melewati masa krisisnya. Sekarang tinggal menunggu dia bangun karena obat biusnya).” Sahut Nino dan wajah Andrew menjadi sumringah karenanya.
“What a good news, another goodness for today (Berita yang bagus, satu lagi hal yang bagus dihari ini).” Ucap Andrew yang memang nampak senang saat ini. Dan ucapannya diangguki oleh keempat laki – laki lain yang bersamanya.
“You guys, want to see Ezra? (Kalian jadi mau lihat Ezra?).” Ucap Nino pada Andrew dan para sekutunya itu. Mereka pun mengangguk kemudian berjalan ke ruangan tempat Ezra dirawat. Meski bukan jam besuk, tapi siapa yang berani melarang pemilik saham terbesar Rumah Sakit tersebut.
***
“Assalamu’alaikum.” Reno beserta rombongan sudah kembali ke ruang rawat Fania. Semua yang sedang ada disana menjawab salam mereka.
Menyambangi para orang tua, kemudian mendekat pada Fania.
“Babe, Varen ga kesini?.” Tanya Reno pada bidadari surga pribadinya itu.
“On the way dia sama Mama.” Jawab Ara.
“Hey, Heart. Maaf ya aku tinggal sebentar.”
“Iya. Lagian kalau besok baru balik lagi kesini juga ga apa – apa, D.”
“I can’t leave you quite long, Heart? (Aku ga bisa ninggalin kamu lama – lama, Sayang?).”
“Gimana tadi main PUBGnya?.”
Fania bertanya dengan polosnya. Menciptakan senyuman lebar diwajah lima laki – laki yang baru datang itu.
“Siapa yang menang?.”
“Kita lah!.”
Lima laki – laki itu menjawab serentak.
“Kompak Bener.” Fania setengah terkekeh.
**
“Oh iya Heart, Andrea baru besok bisa dipindah kesini. Hari ini masih belum siap Judith bilang. Jadi besok Andrea akan bersama kita. Tapi kamu jangan khawatir ya, ga akan ada yang berani menukar bayi kita. karena aku sudah memasang CCTV tambahan.” Ucap Andrew.
‘Perasaan yang khawatir dia bukannya?.’ Batin Fania.
“Dan aku juga sudah menempatkan banyak orang disekitar ruangan Andrea, kalau perlu aku larang mereka untuk berkedip.”
‘Amit dah.’
“Oh iya, Heart. Nanti kamu akan dibawa untuk cek kepala dan leher kamu. Owen tadi bicara ke aku.”
Fania mengangguk.
“Apa kamu masih merasakan sakit di kepala kamu?.”
“Masih D.”
“I wish I can take that pain, Heart (Aku harap aku bisa menghilangkan sakit itu, Sayang).” Andrew nampak sendu. “Dengan senang hati aku menggantikan tempat dan sakit kamu sekarang ini kalau bisa.”
Fania tersenyum, membelai lembut wajah Andrew yang terlihat amat bersungguh - sungguh dengan ucapannya itu.
“I will be okay as soon as possible, D. Trust me (Aku akan sembuh secepatnya, D. Percaya deh).” Ucap Fania.
Andrew tersenyum. “Iya aku percaya kamu kuat.”
“Kan kamu yang nguatin aku. Andrea juga. Suara kalian yang aku dengar waktu aku udah setengah jalan.”
__ADS_1
“Sudah ya, jangan bahas soal ‘kepergian’ kamu lagi. Aku masih takut, Heart.” Ucap Andrew.
Fania menggangguk.
“Ah iya, nanti kamu akan melakukan pemeriksaan kepala dan leher kamu kata Owen.”
Fania mengangguk lagi. “Kamu nemenin aku, ga?.”
“Of course, Sweetheart (Tentu saja, Sayang). Nobody can get in my way to be with you (Ga ada yang bisa menghalangi aku untuk bersama kamu).”
***
“Emang si Endru itu mantu soleh. Nurut kan omongan mamah suruh mindahin aje anaknya kesini.” Ucap Mama bela yang sumringah karena cucunya sudah dipindahkan ke kamar Fania, meski belum bisa dikeluarkan dari inkubator.
Fania hanya geleng – geleng melihatnya.
“Eh iya si Endrunya mana?.”
Mama Bela celingak – celinguk nyariin mantunya.
Tak lama Andrew masuk ke dalam ruangan Fania.
“Sudah keluar hasil pemeriksaan kemarin, D?.” Tanya Fania pada Andrew yang sudah mendekati dirinya. Tersenyum sebentar mendekati Andrea yang sudah ada di kamar Fania, berikut perlengkapannya.
“Sudah.” Jawab Andrew.
“Apa ada yang serius?.”
Andrew terdiam sebentar.
“Kamu ... apa pernah kecelakaan juga sebelum ini?.”
“Kenapa Ndrew?. Ada masalah soal pemeriksaan Fania?.” Reno dan Ara menghampiri Andrew karena mendengar ucapannya yang berupa pertanyaan barusan.
“Owen bilang dia pernah mengalami gegar otak sebelumnya.”
Andrew memberikan pada Reno berkas yang diberikan Owen padanya.
“Mungkin karena benturan saat kecelakaan kemarin, Ndrew.” Ucap Reno sembari melihat berkas yang tadi diberikan Andrew.
“Gue udah bilang begitu, tapi Owen bilang Fania pernah mengalami juga sebelum ini.” Ucap Andrew. “Kamu pernah kecelakaan sebelum ini, Heart?.”
“Pernah sih.” Sahut Fania. ‘Sering malah.’
“Sering dia mah kecelakaan Ndru. Ga heran sebenernya.” Celetuk Mama Bela. “Segala macem udah pernah dia rasain kayaknya kecelakaan. Selebor!.”
"Ih apaan sih, orang ini kan Fania ditabrak. Bukan salah Fania lah!." Protes si Kajol.
"Iye emang, yang ini pengecualian. Yang sebelom - sebelomnya kan karena kamu susah dibilangan."
“Masa sih Ma?.” Andrew sedikit terkejut.
Mama Bela mengangguk.
“Iye bener Ndru. Tiap taun itu dia ada aja. Yang kepleset ke got lah, jatoh dari motor lah sok -sok an ngepot kayak si palentino rosi noh, sampe kecebur di kolem lele juga dia pernah.”
“Emang. Hobi banget bikin orang khawatir.”
‘Makanya rada gesrek itu si Kajol kayaknya gara – gara keseringan gegar otak. Geser juga jangan – jangan otaknya. Sama seperti suaminya. Cocok udah. Soulmate senget.’ Batin Jeff yang juga sedang ada disitu, sementara John sedang keluar entah kemana.
“Ga usah aneh Kak Andrew, Kak Reno. Kak Fania sih ada – ada aja musibahnya. Tambeng!.” Celetuk Prita. “Kesetrum belut listrik aja die juga pernah.”
Fania hanya menunjukkan rentetan giginya pada Andrew.
Yang lain geleng – geleng menatap tak percaya pada Fania.
“Heart... Heart ...” Andrew juga tak habis pikir pada istrinya.
Fania masih nyengir. “Haven’t try, haven’t know (Ya kalo ga coba ga tau kan?).”
“Mulai sekarang kamu harus lebih berhati – hati, Heart. Sudah jadi Mom sekarang.”
“Iya, D.”
“Selebor hilangin.” Celetuk Reno. “Ini si Donald Bebek botak kalo ga mati dia gila kalo lo kenapa – napa, tau ga?.”
“Iya, tau.”
“Benar yang dibilang R\, Heart.” Sahut Andrew. “ Karena aku tanpa kamu itu\, bagaikan p*yudara tanpa b*a. Terombang ambing ga karuan.” Ucap Andrew dengan santainya sementara Fania melongo mendengar perumpamaan sengklek suaminya itu. Dan yang lain terkekeh geli.
“Ga jauh – jauh otak lo, Ndrew.” Celetuk Jeff.
“Pas emang si Kajol jadi istri Soleha!.” Timpal Mama Bela. “Soeka lupa pake beha!.”
“Ambyaarrr ...”
****
To be continue ...
Info Give Away Akan Author selipkan di Episode berikutnya.
Makasih atas kesetiaan kalian sampai dengan episode ini.
Tenang, cerita ini masih berlanjut kok. Okeeee.
__ADS_1
Jempolnya manaaa