
**** Maap Up sedikit telat ****
Emak nyiapin dua episode soalnya ini. Lumayan bikin otak rada curly alias keriting😃
*
Selamat membaca ...
“How is she, Judith? (Bagaimana keadaannya, Judith).” Tanya Andrew cepat pada Judith saat Dokter cantik itu keluar dari ruangan tempat Fania berada, sambil Andrew menengok pada pintu ruangan tersebut.
Khawatir, takut sebenarnya Andrew saat ini. Sama halnya dengan Reno dan juga Ara.
Judith tersenyum tipis namun juga menghela nafasnya dan terdengar sedikit berat. “Fania’s womb is weak and the bleeding that she had, is the baby (Kandungan Fania lemah dan pendarahan yang dialaminya, adalah bayinya).”
Detik itu juga wajah Andrew langsung berubah kelabu. Ia memejamkan mata sambil menarik panjang nafasnya dengan berat.
“So she .... (Jadi dia.....).” Suara parau Andrew tak melanjutkan ucapannya.
“She had a misscarriage (Dia mengalami keguguran). I’m very sorry to tell you this, Andrew (Aku sangat menyesal memberitahu ini padamu, Andrew).”
Andrew tak menjawab, hanya berdiri saja termangu sejenak. Ara meneteskan air mata mendengar ucapan Judith. Dan Reno merasakan ada sesuatu yang tercekat dikerongkongan nya.
“Is she already know about this? (Apa dia sudah tahu soal ini?).” Andrew bertanya dengan lirih.
Judith mengangguk. “She already realized when it comes out before she got here (Dia sudah menyadari saat merasakannya keluar sebelum sampai kesini).”
Andrew menghela nafasnya lagi.
“How is she? (Bagaimana keadaannya?).” Tanya Reno dengan suaranya yang juga selirih Andrew.
“She’s fine. Nothing’s left inside. But I will still give her some medicine to make sure that her womb is clean (Dia baik – baik saja. Tidak ada yang tertinggal didalam. Tapi aku akan tetap memberi obat untuk memastikan rahimnya bersih).”
Judith menjelaskan. Memandang pada Andrew dan Reno serta Ara bergantian.
“You better go inside, Andrew (Lebih baik kamu segera kedalam, Andrew), She needs you (Dia membutuhkanmu). She looks calm, but I know she’s shaken up (Dia nampak tenang, but aku tahu dia terguncang).” Tambah Judith lagi.
“Thanks Judith (Terima kasih Judith).” Ucap Andrew pelan pada Dokter cantik itu.
“You are welcome, Andrew (Sama – sama Andrew). There’s something I want to talk with you also, according to your wife condition. But maybe later. You better meet and accompany her for now (Ada sesuatu yang ingin juga aku bicarakan dengan kamu, berhubungan dengan kondisi istri kamu. Tapi mungkin nanti. Sekarang kamu lebih baik menemui dan menemaninya).”
Ucapan Judith membuat tiga orang yang sedang mengkhawatirkan Fania, saling tatap dan merasa tak tenang.
“Something serious ..... Judith? (Ada hal yang serius .... Judith?).”
Judith tersenyum dan menepuk pelan bahu Andrew yang bertanya dengan sedikit gugup dan nampak takut. “Not really (Ga terlalu). Just something that I have to tell (Hanya sesuatu yang ingin aku katakan). It isn’t something really serious, but you have to know it. Actually Fania needs to know also. But, I think is not the right time to tell her. I’ll talk to you later (Bukan sesuatu yang serius, tapi kamu harus tahu. Sebenarnya Fania juga perlu untuk tahu. Tapi, aku pikir ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan padanya. Aku akan bicara padamu nanti).”
Andrew menghela lagi nafasnya. Memperhatikan dan mendengarkan ucapan Judith dengan seksama. Begitu juga dengan Reno dan Ara. Menelaah setiap kata yang keluar dari mulut Judith.
“What is it ..? (Ada apa..?).” Andrew rasanya sudah cukup khawatir, namun ucapan Judith yang panjang lebar sungguh membuatnya tak tenang. “She’s okay, right? (Dia baik – baik saja, kan?).”
“She’s okay, Andrew. No need to be panic and scared. Just meet her now, okay? (Dia baik – baik saja, Andrew. Tidak perlu panik dan takut. Temui dia terlebih dahulu, oke?).” Judith berkata dengan tenang pada Andrew.
“Lo temani Fania. Biar gue yang bicara dengan Judith.” Ucap Reno pada Andrew.
__ADS_1
“Okay. Thanks, R.” Andrew mengangguk dan langsung masuk ke ruangan tempat Fania berada.
“You can talk to me and Ara, Judith. About something that you have said about my sister’s condition (Kamu bisa bicara padaku dan Ara, Judith. Sesuatu yang kamu katakan tadi mengenai kondisi adikku).”
“Okay. Let’s talk in my office (Baiklah. Mari bicara di kantorku).”
***
“D....”
Fania berkata pelan saat melihat Andrew masuk ke ruangan tempatnya berada sekarang. Ia menghapus air matanya sendiri.
Andrew langsung memeluk erat tubuh Fania yang terduduk sambil bersandar di tempat tidur pasien dan wajahnya terlihat pucat itu.
Menciumi pucuk kepala Fania, menyembunyikan sedihnya, karena tau Fanianya pasti jauh merasa lebih sedih.
“Maafin aku D, aku ceroboh ...”
“No, Heart. Bukan salah kamu.”
Andrew menangkup wajah Fania yang sedikit sembab dan terlihat sedih itu.
“Bukan salah kamu.”
“Seharusnya aku dengerin omongan kamu, ya. Untuk tetap di rumah aja.” Fania tertunduk merasa bersalah tak menuruti kehendak Andrew yang menyuruhnya untuk tinggal di rumah saja. Meski rasanya hati Fania sakit dan sedih kehilangan bayinya, namun rasa bersalah pada Andrew terasa mencekat dihatinya saat ini.
Andrew tersenyum pada Fania. “As long as you are okay, it doesn’t matter for me, Heart (Selama kamu baik – baik saja, itu ga penting, Heart).”
Andrew menciumi wajah Fania. Lalu mendekap lagi Fania dengan erat. Yang matanya sudah lagi memproduksi air mata.
“Jangan sedih ya, jangan menangis lagi. Ini musibah, Heart.” Andrew menghapus air mata Fania. “Kita masih punya banyak kesempatan, okay?. Nanti kita bulan madu yang kedua, gimana?, hem?.” Mencoba menghibur, meski ia sendiri masih memikirkan soal apa yang dikatakan Judith mengenai kondisi Fania saat ini.
****
“Kapan aku boleh pulang, D?.” Fania sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dad, Mom dan Michelle pun sudah berada di Rumah Sakit setelah Andrew menelpon Dad soal apa yang terjadi pada Fania.
“Nanti aku tanya Judith, okay?.” Ucap Andrew sambil menyuapi Fania.
“Udah, D. Aku kenyang.”
“Habiskan, Heart. Mau segera keluar dari sini, kan?.”
“Iya Fania, yang banyak makannya. Masa udah kenyang?. Ini buburnya masih banyak, sayang?.”
Mom ikut nimbrung.
Fania terdiam, sejenak memandangi mama mertuanya itu.
“Fania minta maaf, Mom, Dad. Fania ga jadi kasih Mom sama Dad cucu.”
Mom membelai pelan kepala Fania yang kini tertunduk itu. Andrew memegang tangannya.
“Hey, Fania. Coba lihat Mom, sini.”
Mom mengangkat dagu Fania. Membuat menantunya yang ‘ajaib’ itu agar menatapnya.
__ADS_1
“Bukan salah kamu, sayang. Ini musibah. Belum rezeki kamu dan Andrew. Itu saja.” Ucap Mom dengan lembut. “Apa Mom dan Dad terlihat mempermasalahkannya?.”
Fania menggeleng pelan.
“Mom was right, My Dear. The most important is you are okay. And we feel blessed for that (Mom itu benar, sayang. Yang paling penting adalah kamu baik – baik saja. Dan kami bersyukur untuk itu).” Dad menambahkan.
“Mom bukan mertua yang jahat, kan?. Selain baik, Mom itu cantik dan tulus. Makanya Dad cinta mati sama Mom.”
Fania terkekeh, Andrew dan Michelle memutar bola matanya malas menanggapi. Sementara Dad tersenyum lebar dan memeluk wanita yang sudah hampir tiga puluh tahun menjadi teman hidupnya itu.
“Coba saja kalau berani jahat pada Fania ....”
Andrew berucap malas sambil melirik Mom nya itu.
“Nah tuh, Mom makanya ga mau jadi mertua yang jahat. Nih anaknya aja nih udah jahat. Tuh yang itu tuh judesnya minta ampun.”
Ucap Mom santai sambil menunjuk Andrew dan Michelle bergantian. Lagi – lagi Fania terkekeh.
“Kak Fania minta diajak second Honey Moon aja sama Kak Andrew.” Celetuk Michelle.
“I already told her like that. For your information I always on ahead (Gue udah bilang begitu kedia. Asal lo tau kalau gue selalu didepan).” Sahut Andrew pada Michelle sambil menunjuk kepalanya dengan telunjuk.
‘Dah kayak bang oci aje selalu didepan.’ Batin si Kajol bermonolog. Inget salah satu slogan motor yang dibintangi Valentino Rossi itu.
“Like I care (Bodo amat).” Timpal Michelle.
“Terima kasih ya Mom, Dad, Michelle, of course. Terima kasih untuk semuanya.”
“Thanks to you too, My Dear (Terima kasih untukmu juga sayang).” Ucap Dad menanggapi ucapan Fania.
“Terima kasih juga buat kamu, D.”
Fania mengusap pelan wajah Andrew yang langsung sumringah, saat tangan Fania membelai wajahnya lembut.
“I love you.”
Ucap Andrew yang langsung mengecup kening Fania.
“Mulai deh Kak Andrew sok pamer kemesraan.”
Michelle mulai sebal kalau Andrew sudah menunjukkan aura – aura kebucinannya pada Fania.
“Sudah pulang sana. Ganggu aja.”
Sahut Andrew cepat.
“D, apa sih. Kamu nih.” Fania setengah protes pada si Donald Bebek. “Oh iya, Kak Ara sama Kak Reno mana?.”
Fania setengah celingukan mencari Ara dan Reno yang belum ia lihat lagi setelah mereka sempat menjenguknya sebentar.
Andrew bersitatap sebentar dengan Dad tanpa terlihat Fania.
“They go back at home. Ara need some rest (Mereka kembali ke rumah. Ara butuh istirahat).” Sahut Andrew.
Fania manggut – manggut dan ber OH ria.
__ADS_1
****
To be continue...