
Selamat membaca ..
“Kak Fania!.”
Suara Michelle membuat Fania dan Andrew yang hendak masuk mobil menoleh kearah dalam rumah.
“Kenapa Chel?.”
“Ikut bareng kalian ya aku.”
“Lo mau ke kampus?. Bukannya lo ga ada jadwal hari ini harusnya?.”
Ucap Fania seraya bertanya pada adik iparnya itu. Sementara Andrew tak berkomentar.
“Iya harusnya. Tapi gara – gara dosen baru tuh yang ngeselin ganti jadwal tiba – tiba.” Ucap Michelle sambil memasang wajah sebal.
“Ya sudah, nanti aja ngobrolnya dimobil. I have a meeting in an hour (Aku ada meeting sejam lagi).”
“Ya udah ayo.”
Andrew mempersilahkan Fania untuk masuk mobil duluan dikursi penumpang belakang, baru kemudian Michelle. Sementara dia dan Jeff duduk di depan, dengan Jeff yang mengemudi.
“Full speed ya Kak Jeff ( Ngebut ya Kak Jeff ).”
Pinta Michelle pada Jeff dan dijawab dengan cebikan oleh si bule gila.
“Makanya jangan lambat jadi orang.”
“Bukan aku yang lambat, tapi informasinya telat. Mendadak!.” Protes Michelle yang dibilang lambat oleh Jeff. “Cepat sih Kak. Kalau engga Kak Fania aja yang kemudikan ini mobil.”
“Nah iya bener. Pinter lo Chel kadang – kadang. Sepuluh menit sampe deh dijamin.” Sahut Fania yang kemudian terkekeh.
Andrew dan Jeff hanya geleng – geleng.
***
Michelle Adjieran Smith. Putri bungsu salah satu keluarga yang cukup mempunyai nama besar dan berpengaruh di London. Cantik sejak lahir. Tajir?. Ga usah ditanya. Salah satu most wanted girl di kampus maupun di London itu
sendiri. Tak sedikit laki – laki yang mencoba mendekatinya, namun selalu berakhir dengan kekecewaan karena Michelle tak menanggapi mereka.
“Emang dosen lo ganti gitu Chel?.” Tanya Fania pada Michelle saat mereka berdua sudah sampai di kampus.
“Iya, Kak.”
“Emang yang sebelumnya?.”
“Cuti melahirkan.”
Fania manggut – manggut dan ber OH ria. “Ya udah sih. Jangan merenggut aja. Nikmatin aja, siapa tau dosen barunya ganteng. Terus dari mata turun ke dompet deh.” Ucapnya kemudian tergelak.
“Ih that’s way impossible! Beside every lecturer is boring you know, Kak? ( itu ga mungkin! Lagian setiap dosen rata – rata pasti membosankan tau, Kak? ).”
“It’s not good to talk like that about people who already teach you ( Ga baik berbicara begitu tentang orang – orang yang sudah mengajarimu ).” Suara seorang pria membuat dua wanita cantik itu menoleh kebelakang.
‘Uwew.’ Batin si Kajol sedikit ter pesonah.
“Excuse me? ( Maaf? ).” Namun wajah Michelle menunjukkan ketidak sukaan pada pria yang dirasa ikut nimbrung pembicaraannya dan Fania barusan.
“I said, It’s not good to talk like that about people who already teach you ( Saya bilang, ga baik berbicara begitu tentang orang – orang yang sudah mengajarimu ).”
Pria itu mengulang ucapannya.
“And you know?. It’s also not polite to coll other people conversation without being asked ( Dan apa kamu tahu?. Ga sopan ikut nimbrung pembicaraan orang lain kalo ga ditanya ).” Si judes sedikit mengeluarkan tanduknya. “Udah sih , Chel.” Fania yang merasa tak enak dengan kejudesan adik iparnya itu. “Sorry.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Are you a new kids on the block? ( Apa kamu anak baru? ).” Tanya Michelle sinis.
“I guess so. I am new here. ( Aku rasa begitu. Aku memang baru disini. ).” Jawab si pria santai.
“No wonder if you don’t know who am I dan have a gut to meddle in my business ( Ga heran kalau kamu ga tau siapa aku dan berani mencampuri urusanku ).”
__ADS_1
‘Ya elah si Michelle judes amat. Jodoh tau rasa.’ Batin Fania bermonolog. “Udeh si Chel mendingan lo masuk kelas sana. Bentar lagi kelas lo mulai kan?. Better you get in before your new lecturer comes ( Mendingan lo masuk sebelum dosen baru lo dateng ).”
“Dia duluan yang rese!.” Ucap Michelle ketus sambil memandangi pria didepannya dengan sinis.
“She was right. Better you get in to the class now ( Dia benar. Sebaiknya kamu masuk kelas sekarang ).” Ucap si pria. “Cause I will start to give some subject to you and all of your friends ( Karena saya akan mulai memberikan materi perkuliahan padamu dan teman – temanmu ).”
Fania membulatkan matanya. ‘Nah loh.’
Michelle terdiam sejenak. Seperti sedang menelaah kata – kata pria yang sedang diajaknya debat barusan.
“Wait, you – you mean, you are .... ( Tunggu, kamu – maksud kamu, kamu adalah... ).”
“I’m replacing Mrs. Sarah to teach in this class ( Saya yang menggantikan Ibu Sarah untuk mengajar di kelas ini ).”
Michelle menelan salivanya. ‘Oh shit.’
**
“Jol!.”
Dua J kompak memanggil Fania, saat mereka semua sudah berkumpul di Mansion keluarga Smith.
Fania yang tadinya ingin mengunjungi Varen di kamar Reno dan Ara spontan menoleh.
Ia pun menghampiri anak kembar yang tak sedarah itu.
“Anak kembar kompak bener.” Sahut Fania setelah mendekat pada dua J juga Reno dan Andrew yang sedang berada di halaman belakang.
“Lo janji kemarin mau ngajarin free style trick lo.”
“Ya elah, gue kira apaan.”
“Ya elo sih kalau disuruh ngajarin nanti, besok, nanti, besok terus.”
Ucap dua J yang sedang mencecar si Kajol. Andrew dan Reno hanya memperhatikan tiga orang yang sedang debat unfaedah itu.
“Ye dulu – dulu pada kemana emang?.” Celetuk Fania.
“Mana kita tahu elo ini si Gumdrop a.k.a Nona Manis from Indonesia which is one of the pool Goddesses ( yang mana adalah salah satu dewinya billiard? ).”
“Mana gue ngeh dulu ada meja billiard disono. Lagian ini rumah kebangetan gede. Ampe sekarang aja gue belom lulus ngiderin ini rumah.” Cerocos si Kajol dan keempat F se versi London itu terkekeh geli.
“Ya udah cepetan ayo.” John segera menggeret Fania ke ruang main billiard. Dan si Kajol hanya pasrah.
“Johhhnn.. jangan sampai istri gue tergores!.”
Teriak Andrew melihat si bule koplak yang sedang menggeret istrinya.
“Ga usah didengerin bahasa bekasi nya apa, Jol?.”
“Antepin!.”
“Nah iya, an – te – pin aja itu si Donald Bebek.”
Dan dua bule gila dan koplak plus satu cewe gesrek itu tergelak bersama sambil berjalan menuju ruang main billiard.
***
“Tuh kan bule ga ada akhlak emang, abis maen bukan pada rapihin ini tempat.” Gerutu Fania yang sudah selesai mengajari dua J trick billiardnya. “Susah kalo dari orok udah di pegang emba, berat banget tangan timbang buang kaleng minuman doangan.” Si Kajol masih menggerutu namun tangannya tetap membereskan ruangan yang sedikit berantakan itu.
Andrew menyambanginya. “Heart.” Fania yang sedang membuang sampah pada tempatnya itu spontan menoleh mendengar suara Andrew.
“Udah selesai ngobrol sama Kak Reno?.”
“Sudah.”
“Ngobrolin apa sih, kayaknya kalian serius banget?.”
“Hanya soal pekerjaan.” Andrew mengukung Fania di sisi meja billiard.
“Kak Reno nya mana?.”
“Sudah kembali ke kamarnya.”
__ADS_1
“Oh.” Fania ber oh ria. “Ya udah yuk aku juga udah selesai disini.”
Andrew masih mengukung nya dengan seringai jahil diwajahnya.
“Aku belum.”
“Mau main billiard kamu?. Mau lawan aku?.”
Andrew mengangguk.
“Okeh, siapa takut?. Kalo aku menang, kabulin permintaan aku loh ya.”
Andrew mengangguk lagi.
“Ya udah. Mau main bola berapa?.”
“Bola dua.” Andrew menaikkan Fania ke atas meja billiard.
Fania sontak membulatkan matanya, baru ngeh maksud si Donald Bebek barusan. Sementara seringai jahil Andrew makin nyata di wajah mesumnya saat ini.
‘Donald Bebeekk yang kaga – kaga ajaa kelakuaann.’ Batin Fania yang protes dengan upayanya meronta agar lepas dari kukungan suami yang kadang suka ilang akhlak kalo soal ginian. “D, jangan gila deh.”
Tapi Andrew udah gercep dengan membungkam bibir Fania dengan bibirnya. Sementara satu tangannya sudah mulai bergerilya dan satu tangannya memegangi tangan Fania. Mengunci tubuh ramping istrinya.
Emang dasar si Kajol yang bisa disengat dikit sama Andrew akhirnya pasrah dengan perlakuan Andrew yang bibir dan tangannya sudah bergerilya ditubuh Fania. Meski rasanya hati Fania tak karuan saat ini. Antara ngeri ada yang memergoki mereka tapi udah terlanjur enak juga. Wkwkwkwk.
Keduanya pun akhirnya terbuai dengan permainan mereka sendiri.
“Astagaaaah Dragooonn!!!!.”
Pekikan suara dari seseorang yang amat dikenal Andrew dan Fania sontak mengagetkan keduanya.
“Pait! Pait! Pait!.” John balik kanan sambil menutup matanya. “Emang gila lo berdua!.” Teriaknya sambil berjalan menjauh dari tempat suting adegan dewasa itu.
“Donald Bebeekk!!.” Fania memukul – mukul dada Andrew karena terlalu malu dipergoki oleh John barusan. Sementara Andrew malah tergelak. ‘Untung baju gue belum dipretelin ama ini biangnya tuyul.’
“Heart!.” Andrew memanggil Fania yang sudah berhasil turun dari meja billiard. “Tanggung sayang!.” Teriaknya tanpa dosa sambil masih tergelak. Fania tak menoleh hanya terus berjalan sambil juga mengangkat tangan dengan
jari tengah yang ia acungkan pada Andrew.
‘Maluu.... malu.. gue sumpah! Gara – gara si botak mesuuum!.’ Batin Fania menggerutu. ‘Berasa terciduk satpol pp.’
Sementara si Donald Bebek itu masih tergelak dan berjalan menyusul Fania yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat ini.
*
To be continue ...*
**
Halo para readernya BSS seneng ga dikasih dua episode sama Author? Hehehe.
Author minta feedback dari kalian semua nih ya. Alias minta pendapat.
Rencana awal Author seeeehhh tadinya, mau buat sekuel dari ini Novel ‘Bukan Sekedar Sahabat’.
Kalo ditanya kenapa?. Satu aja sih jawaban Author, takut pada bosen, ntar mual – mual kalo episode kepanjangan.
Kalo ditanya lagi?. Author udah stuck sama ide cerita buat Novel ini?
Jawabannya, Engga!.
Author masih punya banyak stok cerita sebenernya mah untuk episode – episode berikutnya kalo lanjut.
*Bisa kalah Tersanjung yang punya season ampe 6.*Wkwk.
So Author minta pendapat boleh yaa..
· Bila Author tanya.. Reader maunya apa...? ( Pinjem lagunya Om Judika 😄)
Aku mau.....
Sok atuh jawab
__ADS_1
Ritual Jempol dulu Tapi jangan lupa. Wkwkwk.