BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 278


__ADS_3

Selamat membaca..


🎉🎉🎉🎉


“Woy pasangan mesum!.”


Celetuk John saat ia melihat Fania dan Andrew yang sudah duduk di ruang makan pagi itu.


Semua mata yang sudah berada di ruang makan pun menoleh padanya.


‘Ish dasar bule lemes!.’


Batin Fania menggerutu sembari melirik sedikit pada John yang baru bergabung dengan bibirnya yang ia kerucutkan. Karena sebal plus masih malu akibat terciduk lagi menuju ena – ena dengan Andrew di ruang billiard.


Sementara si Donald Bebek mesum itu hanya cengengesan macam ga punya dosa. “Iri bilang Bos!.” Ucap Andrew dengan entengnya. “Makanya lo cepat – cepat nikah!. Biar ga merusak moment intim suami istri.” Tambah Andrew lagi yang sukses mendapatkan pelototan dari Fania, namun Andrew malah makin terkekeh geli.


“Elo aja berdua yang gila emang!. Kayak ga ada tempat lain aja buat begituan!.” Ucap John dengan sewotnya. “Elo lagi Kajol, udah tau suami lo nih suka hilang akhlak, mau – mau an aja diajak begituan disembarang tempat.”


“Dih apaan sih lo Kak!.”


Fania mencebik. Namun tak memanjangkan. Tengsin.


“Apaan ... apaan..” Timpal John.


Sewot bener si John romannya.


“Such a Hypocrite!. (Ah, munafik lo!). Seperti ga pernah melakukan apa yang sama gue Fania lakukan. You are a Casanova, just like him. (Elo kan Petualang Cinta, sama seperti dia).” Ucap Andrew sambil menunjuk pada Jeff.


“Loh kenapa bawa – bawa gue?!.” Protes Jeff yang heran plus belum terlalu paham perdebatan Andrew dan John. Hanya sesuatu yang berbau adegan dewasa, kalau dia ga salah dengar.


“Eh Donald Bebek mesum!. Lo kalo mau ajak si Kajol mesra – mesraan menuju kemesuman liat – liat tempat. Kalau di rumah pribadi lo terserah deh. Mau main di dapur juga. Kalau perlu, kalian diatas stoves ( kompor) sekalian!.”


Fania hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan unfaedah antara Andrew dan John. Sementara Andrew masih saja terkekeh. Dia sih merasa terhibur dengan kesewotan John. Sisanya masih bingung plus puyeng.


“Kalian ini sebenarnya meributkan apa sih?!.”


Reno yang sudah mulai merasa terganggu dengan perdebatan Andrew dan John itu pun akhirnya angkat suara.


“Nih si botak kelakuan! Ga mikir apa dirumah ini banyak orang. Ngajakin adik lo main di meja billiard! Sakit emang nih si Donald Bebek kelakuan. Untung si Varen masih kecil!.”


Ara sedikit terhenyak.


“Kenapa bawa – bawa Varen coba?.”


“Ya untung si Varen still a baby (masih bayi). Coba kalau dia udah bisa jalan, terus nyasar ke ruang billiard, nah itu om sama tantenya yang ga ada akhlak lagi main bola dua diatas meja billiard. Bisa – bisa ternoda mata anak lo, Ra.”


‘Astaga Kak John ish! Pengen gue lakban mulutnya beneran deh ini dia!.’ Fania kembali menggerutu dalam hati, mendengar cerocosan John yang ga kelar – kelar. “Kak ih, udah sih! Pagi – pagi udah ngomel kek emak – emak komplek lo!.”


Andrew tergelak geli, sementara wajah Fania sudah merona merah bak kepiting rebus. Aibnya dan Andrew semalam sedang dibeberkan oleh si bule koplak. Untung saja Dad dan Mom sedang ada keperluan di luar pagi ini, kalau engga rasa malu Fania bisa bertambah parah.


Mereka yang mendengar kalimat terakhir John akhirnya pun paham. Ara, Reno, berikut Jeff dan Michelle pun akhirnya tergelak juga.


“Beneran itu Little F yang dibilang John?.”


Reno bertanya disela gelakannya.


Fania tak menjawab. Tapi diamnya Fania adalah jawaban bagi empat orang yang tidak tahu menahu soal kejadian di ruang billiard semalam. Yang paham pada akhirnya.


Ekspresi wajah Fania sudah cukup menjelaskan keakuratan ucapan John tersebut.


Lagi – lagi semuanya tertawa terbahak – bahak. Membuat ruang makan seketika terdengar ricuh dengan gelakan. Terkecuali Fania yang wajahnya sudah merah padam dan Andrew yang memang merasa masa bodoh dengan ejekan keluarganya itu.


‘Ancuuur udah harga diri gue ini sih.’

__ADS_1


Batin Fania sudah menjerit pasrah.


“Kalau gue yang memergoki mereka semalam, udah gue rekam sekalian!.” Ledek Jeff sambil masih tergelak.


“Ternyata oh ternyata kamu Fania, ckckckc. Diam - diam, nakal!.” Ara juga masih tergelak. Reno sampai menyeka sudut matanya saking puas tergelak sampai keluar air mata.


‘Astaga, oh Tuhan. Kenapa aku punya para kakak yang abnormal?. Apa ga ada pembahasan lain pagi – pagi begini?.’


Batin Michelle merasa risih sendiri dengan hal yang dibahas oleh para kakak lelaki dan kakak ipar perempuannya itu.


Bukan hal tabu memang pembicaraan yang mengenai hal yang berbau dewasa, Michelle juga paham ga polos – polos amat. Tapi tetap ia aja risih mendengarnya.


Jangankan suami, pacar aja ga punya dia.


“Udah deh ah!.”


Fania ingin menyudahi pembahasan tentang aib dirinya dan Andrew semalam.


“Hey Michelle Smith. Pagi – pagi sudah melamun!.”


Andrew melirik pada Michelle yang tampak sedang bengong itu.


“Siapa yang melamun juga?.”


Michelle membela diri.


“Paling – paling dia lagi mikirin dosen cowok barunya!.”


Dan semua mata kini beralih pada Michelle akibat celetukan si Kajol barusan.


Sementara Michelle spontan langsung menatap Fania dengan wajahnya yang terperangah.


****


“Oh iya, By the way John (Ngomong – ngomong John), how’s your new business?. Already started? (Gimana soal bisnis baru lo itu? Udah mulai berjalan?).”


“On going, kayak ini Novel.” (Author nitip nimbrung. Wkwkwkwkwk).


“Lo jadi mau bawa si Kelly nanti?. Atau Diana?.”


“Kelly aja.” Sahut John. “And I’ll handle works at Indo from here for a while, R. (Dan gue akan menangani pekerjaan di Indo dari sini untuk sementara waktu, R). For about one or two weeks ahead, then I’m going back to Indo. (Sekitar satu atau dua minggu lagi, baru gue balik ke Indo).”


“Terserah bagaimana lo mengaturnya, John.” Ucap Reno. “Yang jelas yang utama jangan sampai lo abaikan. Jangan sampai gue hancurkan bisnis baru lo yang mulai berjalan itu.” Tambahnya.


‘Ck. Hobi banget mengancam orang kakaknya si Kajol.’ Gerutu John dalam hatinya. “Ok Boss!.”


“Why you’re not switching John with Nino for a while?. (Kenapa ga lo tukar aja si John sama Nino untuk sementara waktu?).” Andrew menyarankan.


“Ya nanti gue bicara dengan Nino.”


Dan mereka semua kemudian melanjutkan sarapannya hingga selesai.


***


“Mister John. I need to check some of paper first. I’ll catch you up later for your meeting?. It won’t be long. (Tuan John. Aku harus mengecek beberapa berkas terlebih dahulu. Bisa saya menyusul aja ya ke pertemuan anda?. Ga lama kok ini).”


Kelly berbicara pada John saat si bule koplak itu keluar dari ruangan Reno.


“Don’t be long, Kelly. (Jangan lama – lama, Kelly).” Ucap John pada sekertarisnya Reno itu.


“Ay yay Captain!.” Kelly ,memasang wajah konyol sambil memposisikan tangannya seperti memberi hormat pada John.


‘Ketularan gesreknya si Kajol itu dia.’

__ADS_1


John menggeleng pelan melihat kelakuan sekertarisnya Reno itu, sambil melenggang pergi.


“By the way Mister John, which restaurant?. (Ngomong – ngomong Tuan John. Di restoran mana?).”


“Rump ‘n Ribs!.” Ucap John setengah teriak pada Kelly sebelum ia memasuki lift.


“Okay!.”


***


John sudah menapakkan kakinya di sebuah restoran steak yang menyediakan daging halal di London. Salah satu restoran favoritnya Keluarga Smith, karena satu - satunya Restoran Steak yang menyediakan daging sapi Aberdeen Angus yang terjamin kehalalannya.


Ada temu janji dengan rekan bisnisnya yang baru. Sekalian mau tebar pesona sama si adik perempuan rekan kerjanya yang mampu mengusik hati si bule koplak sejak pertama ia melihatnya.


“Hello. I already arrive, Axel. (Gue udah sampe, Axel).” John menerima telpon dan menyapa dengan formal saat ponselnya berdering, sebelum ia masuk lebih dalam di restoran tersebut.


“....”


“I see. No problem. (Oh gitu. Ga masalah).”


“.......”


“Alright, thank you. (Baiklah, terima kasih).” John memutuskan panggilannya. Tampak senyum mengembang diwajahnya. ‘Ga masalah sama sekali. Malah bagus gue bisa berduaan sama asik lo nanti.’


John memantapkan langkahnya kedalam restoran dengan mesam – mesem sendiri.


“Kalau tahu si Axel mengutus si Aila seorang. Si Kelly ga usah gue suruh ikut.” Gumamnya.


***


“D, kita jadi makan siang bareng sama Kak Reno and Kak Ara?.”


“Jadi.”


Fania manggut – manggut sambil duduk di kursi sebrang meja kerja Andrew, sementara Andrew sendiri nampak bersiap – siap.


‘Ck. Ganteng banget laki gue. Gemeshhh.’


Batin Fania bermonolog sambil  menggigit bibir bawahnya saat memperhatikan gerak – gerik Andrew yang sedang memakai kembali jas kerjanya itu.


Andrew yang merasa diperhatikan oleh Fania yang ia lihat menggigit bibir bawahnya itu setengah terkekeh.


“Kenapa?. Baru sadar suami kamu ini tampan?.”


“Dih. Pede!.”


“Mau coba?.”


“Coba apa?.”


Fania yang tak paham maksud Andrew yang kini sudah mencondongkan wajahnya didepan wajah Fania, sambil menyeringai jahil.


“Main dimeja kerja?.”


Fania langsung membulatkan matanya dan segera berdiri untuk menghindari serangan dari suami yang otak mesumnya kurang lebih hampir mencakup seratus persen kalo udah berduaan.


Andrew hanya tergelak melihat Fania yang sudah berjalan cepat, buru – buru kabur darinya.


“Kapan – kapan kita coba ya?!.”


“Ogggaaahhhh!.”


***

__ADS_1


To be continue ...


Maapkeun author satu episode dulu yah. Ga ngejar episode berikutnya masih setengah di buat soalnya. Udah hampir 24 jem.


__ADS_2