
Selamat membaca....
“Fania, Sayang....”
Mom menghampiri Fania yang sedang membuat sesuatu di dapur. “Ya Mom?.” Fania menoleh dan menyahut, saat mendengar Mom datang dan menegurnya.
“What are you making? (Sedang buat apa?).”
“Ini si Donald Bebek minta dibuatin udang saos mentega buat makan siang nanti.”
“Kamu mau bawakan ke kantor?.”
“Iya Mom.”
“Kakak kamu jangan lupa dibawain juga.”
“Iya Mom, ini Fania buat banyak kok. Nanti Kak Ara juga mampir ke Perusahaan, pasti Kak Jeff juga ikut makan sama Kak Nino. Sama buat orang disini deh.”
Mom tersenyum sumringah. “Beruntungnya Andrew dan Reno, punya istri kamu dan Ara. Cantik, baik, bisa masak lagi. Apalagi menantu Mom yang ini nih.” Mom mencubit gemas pipi Fania. “Banyak plusnya.”
Fania tersenyum. “Andrew ga seberuntung itu, Mom.” Fania berbicara pelan, namun sedikit terdengar lirih ditelinga Mom. Membuat mertuanya itu sedikit heran.
“Fania, hey. Ada apa?. Kenapa bicara begitu?.” Tanya Mom yang menyadari raut wajah Fania yang sedikit murung sambil tengah mencuci udang yang akan ia olah.
“Mom ... Apa Mom tau kondisi Fania yang sebenarnya?.”
“Maksud.... kamu?.” Mom terdengar sedikit gugup. Fania tau itu.
“Mom tau, kalau Fania akan sulut hamil ke depannya? ....” ucap Fania yang menatap pada Mom lekat – lekat. “Mom tau, kan?.”
Fania sudah bisa menebak dari gelagat mertuanya itu.
“Andrew sudah menjelaskan semuanya pada kamu?.”
Fania menggeleng.
"Lalu kamu dengar dari siapa?."
“Fania mendengar obrolannya Andrew dan Kak Reno semalam.”
“Apa kamu dan Andrew sudah membicarakannya?.” Tanya Mom pada Fania dan menantunya itu menggeleng lagi.
“Andrew ga tau kalau Fania sudah mencuri dengar pembicaraannya dengan Kak Ren, Mom.”
Mom tersenyum, memegang bahu Fania lalu membelai kepala menantu yang disayanginya seperti ia menyayangi Ara juga.
“Sweety, kamu ga perlu sedih. Kamu bukannya ga bisa hamil lagi, Sayang.”
“Tapi sulit hamil, Mom. Beda tipis ...” Fania tertunduk. “Apa kata orang yang mengenal Keluarga Smith, kalau ....”
Mom langsung menyela ucapan Fania. “Kami tak pernah memperdulikan kata orang, Fania. Kami lebih mementingkan keharmonisan keluarga ini. Itu yang membuat Keluarga Smith kuat hingga hari ini. Family bound ( Ikatan keluarga ) lebih penting dari yang lainnya.”
Fania terdiam.
“Dan Andrew mencintai kamu. Sangat. Dan kami semua pun begitu.”
Mom membawa Fania dalam pelukannya. “Jangan kamu jadikan ini beban, Sweety. Andrew bahkan lebih memilih untuk tidak punya anak, seandainya nanti kehamilan kamu yang berikutnya beresiko dengan keselamatan kamu. So, jangan dipikirkan lagi, oke?.”
“Iya Mom.” Fania tersenyum. “Makasih ya, Mom.”
Mom menggeleng juga sembari tersenyum.
“Jangan berterima kasih. Kamu patut disayangi, seperti kita menyayangi dan melindungi satu sama lain, oke?.”
“Oke, Mom.” Fania pun mengangguk dan tersenyum.
***
“Ben.” Fania berbicara pada Ben saat ia sudah berada di mobil untuk membawakan Andrew makan siang.
“Yes, Ma’am?.”
“Take me to the Hospital first, before you take me to the Company ( Antar aku ke rumah sakit terlebih dahulu ya, sebelum kamu mengantarku ke Perusahaan ).”
“Yes, Mrs. Fania.”
__ADS_1
***
Fania datang ke Rumah Sakit terlebih dahulu untuk menemui Judith sebelum pergi ke Perusahaan Smith. Bertemu si Dokter Kandungan yang cantik itu untuk meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi dia yang sebenarnya.
Kurang lebih Fania juga mendapat penjelasan yang sama dengan yang Judith beritahukan pada Reno, Ara serta Andrew.
Setidaknya Fania merasa lega, karena memang ia masih punya kesempatan untuk bisa hamil dan melahirkan seorang bayi untuk Andrew dan melengkapi rumah tangga mereka.
‘There is a hope, Fania. Don’t you worry (Masih ada harapan, Fania. Kamu jangan khawatir). Just let me know if you and Andrew already make a plan (Beritahu saja aku, jika kamu dan Andrew sudah memiliki rencana).’
Fania tersenyum mengingat ucapan Judith tadi.
“Masih ada harapan, Alhamdulillah.” Gumam Fania saat Ben sudah melajukan mobil dari Rumah Sakit menuju Perusahaan Smith. Ia juga teringat akan ucapan Mom soal Andrew yang begitu mencintainya.
Berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak akan egois untuk masalah kehamilannya nanti. Menyerahkan segala keputusan pada Andrew untuk hal tersebut, dan pada yang Maha Kuasa tentunya.
****
“Cie ... Kajol, jadi wanita kaya lo sekarang.” Jeff menggoda Fania saat dia sudah menandatangani berkas – berkas kelegalan nya sebagai adik angkat resminya Reno yang dilimpahkan beberapa aset oleh kakak gantengnya itu.
“Lo mau kerja ama gue, Kak?. Berapa lo digaji Andrew?, gue tambahin deh.” Ucap Fania dengan ekspresi kocak sambil memainkan alisnya.
Andrew, Reno, Ara serta Uncle Keenan yang juga sedang bersama Fania terkekeh geli melihat Fania.
“Not interested (Ga tertarik).” Sahut Jeff. “Pantangan dalam gue, adalah diperintah sama perempuan. Kecuali, Mom.” Ucap Jeff lagi dan mereka pun terkekeh bersama.
Setelahnya mereka makan bersama dengan lauk yang dibawa Fania, dan beberapa tambahan makanan yang sudah dipesan Ara.
“Thanks ya, Little F.” Ucap Reno pada si adik angkat kesayangannya itu.
“Sama – sama Kak.”
****
“If me and and Fania haven't come at the dinner time you guys don't need to wait for us.(Kalau gue sama Fania belom datang saat makan malam, kalian ga perlu menunggu kami).”
Andrew sudah membukakan pintu mobilnya untuk Fania, saat mereka sudah menyelesaikan segala urusan mereka dan hendak pulang.
“Sama gue juga R. Ga Ikut dinner ya gue.” Celetuk Jeff. Reno dan Ara hanya mengangguk.
“Kita mau kemana sih emang?.” Tanya Fania saat dia sudah masuk mobil dan Andrew sudah akan melajukan mobil pribadinya itu.
Fania mencebik.
“Mulai deh kebiasaan, rahasia – rahasian.”
Andrew hanya terkekeh sambil melajukan mobilnya.
“Heart.”
“Hem....”
Andrew membangunkan Fania yang terlelap sepanjang perjalanan menuju tempat Andrew membawanya.
“Sudah sampai.”
Ucap Andrew sambil membantu melepaskan seatbelt Fania.
Fania mengerjap – ngerjap kan matanya. “Yuk.” Andrew sudah membukakan pintu untuk Fania yang tampak masih mengumpulkan nyawanya itu.
“Ini rumah siapa, D?.”
Fania yang sudah turun, sedikit heran karena Andrew membawanya ke sebuah rumah yang terbilang lumayan mewah dari luar. Andrew hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Fania.
“Bentar – bentar.” Fania menghentikan langkahnya.
Andrew sedikit mengernyitkan dahinya.
“Kenapa?.”
“Bentar ih, aku kan baru bangun tidur, D. Kamu ajak aku ketemu siapa ini?. Aku mau ngaca dulu. Malu entar kalo penampilan aku acak - acakan.”
Andrew malah terkekeh geli. “Kenapa harus ngaca?.”
Fania mencebik. “Ya ntar muka aku kusut. Ketemu temen kamu. Malu – maluin kamu sendiri juga, kan?. Apalagi kalo ternyata temen kamu cewe, cakep, seksi pula. Jatoh harga jual aku.”
Andrew makin terkekeh geli.
__ADS_1
“Enak aja kalau bicara. Siapa yang mau jual kamu coba?. Sembarangan.”
“Ya bukan gitu maksud aku, takut kalah saing aja, kalo temen kamu itu ternyata cakep.”
“Ga ada yang bisa menyaingi kamu. One and only (satu – satunya).”
Coba cek novel – novel lain dah. 😜
“Kita mau ketemu siapa sih?. Bilang kek, kalau mau ajak aku ketemu orang. Kan aku pake baju yang bagusan dikit.”
“Kamu nih. Masih suka minder aja.”
“Siapa yang minder sih?. Aku jaga image kamu tau, ga?.” Cerocos Fania lagi.
Gantian Andrew yang mencebik. “Sudah, ayo.”
“Tunggu ih, lipstick aku masih ada ga?. Matte sih ini, tapi siapa tau udah pudar.”
Cup!.
“Masih ada.” Ucap Andrew yang barusan langsung mencium bibir Fania saking gumush si Kajol ngomong melulu.
Fania terkekeh. “Dasar Donald Bebek. Nyosor aje.”
Andrew ikutan terkekeh dan menggenggam lagi tangan Fania. “Yuk ah.”
“Bagus banget ih rumahnya.” Ucap Fania mengedarkan pandangannya sebentar. “Ini kok kayak, daerah rumahnya Kak Reno sama Kak Ara yang di Frognal, D?.”
“Memang.”
“Nanti kita langsung ke rumah Kak Ara sama Kak Reno aja habis dari sini kalo gitu.”
“R sama Ara kan masih menginap di mansion, Heart.” Sahut Andrew.
“Oh iya, ya. Jadi ini kita mau ketemu siapa, ngomong – ngomong?.”
Andrew sudah kembali menggandeng Fania. Pintu rumah pun sudah tampak ada yang membukakan. Tampak dua orang pelayan terlihat berdiri dan menyapa Andrew dan Fania dengan sopan dan hormat.
Andrew hanya mengangguk dan Fania melemparkan senyumnya.
“Welcome, Sir, Ma’am (Selamat datang Tuan, Nyonya).” Ucap kedua pelayan itu bersamaan.
“Come (Ayo).”
Andrew menggandeng lagi Fania dan membawanya berjalan masuk.
‘Wow!.’
Batin Fania terpukau oleh bagian tengah rumah yang lumayan luas dengan tangga modern yang dirancang dengan minimalis dan estetis dengan warna dominan putih.
Andrew membawa Fania untuk menaiki tangga tersebut.
“Eh, D, main naik – naik aja. Ga sopan banget.”
Andrew hanya tersenyum sambil terus membawa Fania ke lantai atas.
‘Ini yang punya rumah mana sih?.’ Batin Fania bertanya – tanya melihat Andrew yang selonong boy aja masuk rumah orang.
“Kenapa?.” Tanya Andrew santai pada Fania yang nampak bingung dan risih.
“Ini yang punya rumah mana?. Kita main masuk aja ke rumah orang. Ga sopan tau.”
Andrew tersenyum lagi, lalu menunjuk ke satu arah dibelakang Fania.
Fania pun spontan menoleh ke arah belakangnya, kemana telunjuk Andrew sedang mengarah. “Mana?.”
“Itu.”
“Mana sih?.” Fania bingung karena tak ada siapa – siapa, kecuali cerminan dirinya dan Andrew saja pada sebuah kaca besar.
“Lihat baik – baik.” Andrew memposisikan dirinya dan Fania didepan kaca tersebut. “Mister. and Mrs. Andrew Adjieran Smith.” Andrew nampak tersenyum di pantulan kaca tersebut.
Fania pun sontak membulatkan matanya, lalu berbalik menghadap Andrew.
“Jadi maksud kamu, ini... ini....” Terkejut hingga terbata.
“Ini rumah kita, Heart.”
__ADS_1
***
To be continue ...