
Selamat membaca...
Fania pada akhirnya mematikan telponnya. Dia tau pasti kalau saat ini Andrew pasti sedang marah karena dia berbohong. Pasti lebih marah setelah tau Fania mematikan ponselnya. Namun si Kajol yang kalau lagi ngambek
itu seketika jadi kepala batu memilih untuk tak perduli.
Bomat!. Begitu yang ada dalam pikiran Fania. Melanjutkan keinginannya untuk mencoba seluruh transportasi umum di London ditemani oleh Alex.
“Fania, Is your cell phone on? ( Fania, apa ponsel anda hidup? ).” Alex bertanya setelah ia sepertinya baru menerima panggilan melalui wireless ear phone yang terpasang di salah satu telinganya.
“Nope. I turned it off ( Engga. Gue matiin ).” Jawab Fania setelah mereka turun dari Bus Double Decker untuk berkeliling sebentar dan berencana untuk mencoba Tube, yakni kereta bawah tanah. “Why? ( Kenapa? ).”
“Mister Reno just called me and said that you must to go back home as soon as possible ( Tuan Reno baru saja menelponku dan mengatakan kalau anda harus kembali ke rumah secepatnya ).” Ucap Alex.
“Connect me with him ( Sambungkan gue sama dia ).”
Fania meminta Alex menghubungi Reno dari ponsel si Bodyguard wanita itu.
‘Yes Alex?.’ Suara Reno menyahut dari sebrang.
“Ini gue Kak.” Fania bersuara.
‘Little F, Ponsel lo kenapa ga bisa dihubungi, hem?.’
“Gue matiin. Kenapa emangnya?.”
‘Ga apa – apa. Gue Cuma mau kasih info, Andrew tadi kesini nanya soal lo. Marah tuh kayaknya dia,’
“Biarin aja. Sebodo amat.”
‘Udah lebih baik lo pulang sekarang. Gue suruh dia tunggu di rumah tadi. Gue bilang, gue yang bakal cari lo.’
“Belom selesai sih gue. Baru ngerasain naek Double Decker. Mau ngerasain naek Tube ini. Bosen naek mobil mewah melulu.”
‘Udah pulang dulu lebih baik. Selesaikan urusan lo sama si Donald Bebek dulu sana. Next time aja naik Tubenya. Nanti gue temani. Lagipula ini sudah sore. Lo udah pergi dari pagi, kan?.’
“Iya udah iya. Gue pulang sekarang.”
‘Take care.’
****
“R.” Andrew menyambangi Reno di ruangan pribadi kakak gantengnya Fania itu. Reno yang nampak sedang fokus pada komputernya langsung menoleh pada Andrew.
“Andrew. What is it? ( Andrew. Ada apaan? ).” Tanya Reno lalu kembali menatap komputernya lagi.
“Fania bilang sama lo pergi kemana dia hari ini?.”
“Bukannya dia di Kampus?.”
“She’s not there ( Dia ga disana ). Lo tau sesuatu?.” Andrew menatap tajam pada Reno. “Dia ga ada jadwal perkuliahan hari ini.”
“Dia istri lo. Seharusnya lo lebih tau.” Jawab Reno enteng tanpa menoleh.
Andrew tersenyum sinis. “Tapi dia adik kesayangan lo, kan?. Seharusnya lo tau dia kemana dan dimana.” Masih menatap Reno.
Reno meraih ponselnya.
“Kalau lo coba menghubungi dia, percuma. Ponselnya mati!.”
Andrew berbicara dengan ketus.
“Siapa tahu gue lebih beruntung dari lo.” Reno menghubungi nomor Fania di depan Andrew.
Tak tersambung. Sepertinya benar yang dibilang Andrew kalau Fania mematikan ponselnya.
“Ck. Adik lo satu itu kalau ngambek ada – ada aja kelakuannya!. Gue ini lagi meeting soal keuangan Perusahaan. Malah melakukan hal yang membuat gue khawatir setengah mati!.” Suara Andrew terdengar kesal.
Reno menghela nafasnya. ‘Mereka yang bertengkar. Gue yang repot.’ Batin Reno menggerutu.
“Ck!.” Andrew berdecak. “Kasih info kalau lo ada kabar soal Fania!. Gue mau cari dia.”
Reno hanya terdiam memandangi si Donald Bebek yang nampak kesal setengah mati campur khawatir.
__ADS_1
“Lo langsung ke rumah aja. Siapa tahu dia langsung pulang. Biar gue suruh orang – orang gue yang cari dia.”
Andrew terdiam. Nampak berpikir.
“Okelah. Gue balik ke rumah dulu kalau begitu.”
**
“Assalamu’alaikum.”
Fania tiba di Kediaman Keluarga Smith saat hari sudah melewati senja. Hampir waktu makan malam.
Langsung masuk menuju ruang keluarga karena ia mendengar suara orang – orang yang sedang mengobrol disana.
“Wa’alaikumsalam.” Seluruh keluarga yang sedang berkumpul langsung menatapnya. Kak Reno dan Jeff juga sepertinya baru tiba karena mereka masih menggunakan setelan kerja mereka. Namun Andrew tidak terlihat.
“Ya Tuhan, Fania. Kamu dari mana saja sih?.” Mom Erna langsung menghampirinya dengan wajah khawatir dan sedikit panik.
Fania menunjukkan barisan giginya. “ Jalan – jalan Mom.”
“Sweety, Sweety kamu tuh bikin orang khawatir aja.” Ucap Ara sambil menggeleng.
“Iya. Maaf. Lagi suntuk soalnya. Tuan muda plontos bikin kesel abisnya.”
Dad dan Mom juga ikut menggeleng saja. Termasuk juga Reno, Jeff dan Michelle.
“Better meet your husband now ( Mendingan lo temuin suami lo sana ). Dia udah nunggu lo dari tadi. Selesaikan urusan kalian.”
Reno menyuruh Fania agar segera naik ke kamarnya. Mengingat sebelum Fania datang, Andrew sudah bolak balik mengecek keberadaan Fania yang katanya sudah di jalan. Sesuai info dari Reno yang didapat dari orang – orangnya yang sudah menemukan Fania.
Padahal yah memang itu hanya alibi Reno saja agar Andrew tak curiga atas kelakuan Fania yang menghindari Andrew seharian itu.
Fania mengangguk. Mengiyakan ucapan Reno.
“Iya.” Sahut Fania. “Dad, Mom. Fania ke kamar dulu ya. Yuk semua.”
“Jol .. Jol. Lo tuh udah bikin si Andrew sangat kesal. Asal lo tau.” Ucapan Jeff membuat Fania menatap malas pada si bule gila itu. Sekaligus bikin si Kajol sedikit gugup dan ngeri.
**
Fania mencoba bersikap biasa, namun dia tidak bersuara. Hanya menatap Andrew sekilas lalu langsung melenggang menuju walk in closet.
“Darimana kamu?!.”
Andrew bertanya dengan suara datar namun bernada tajam. Sambil matanya tak lepas dari Fania. masih dalam duduknya.
“Jalan – jalan.”
Fania menjawab santai tanpa menoleh.
“Begitu sikap kamu sama suami kamu?, hem?!.” Andrew berkata lagi, namun Fania tampak mengabaikan. “FANIA!.”
Fania terkejut hingga mengendikkan bahunya karena suara Andrew yang terdengar membentaknya.
Sukses membuat Fania menghentikan langkah dan berbalik menghadap Andrew.
“Ga usah pake teriak bisa?.” Fania memandang Andrew dengan kesal karena merasa dibentak. Namun ia masih mencoba bersikap biasa, meski sedikit tak terima.
“Apa kamu menghargai aku sebagai suami kamu?!.” Andrew berdiri namun tak melangkah. Menatap tajam pada Fania dengan suara yang juga terdengar tajam meski tak lagi dengan bentakan, namun nampak sedang menahan amarah.
“Kamu ga usah berlebihan Nald. Aku Cuma jalan – jalan ngilangin suntuk.” Fania menanggapi ucapan Andrew.
“Aku, berlebihan kamu bilang?!. KAMU YANG BERLEBIHAN!.”
Andrew kembali meninggikan suaranya dengan bentakan juga. Membuat Fania kini merasa tak senang, tak terima.
“GA USAH NGEBENTAK BISA?!.”
Fania terpicu dengan meninggikan suaranya juga. Membentak balik Andrew.
Wajah Andrew nampak juga tak terima mendengar Fania membentaknya. Rahangnya kian mengeras. Namun juga berusaha keras untuk tak berlaku kasar pada Fania. Hanya saja Andrew sedang merasa kesal, sangat – sangat kesal pada kelakuan Fania hari ini.
“Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu sadar sudah membuat aku panik dan khawatir?!.” Andrew mulai mencecar masih dengan nada suara yang tinggi. “Maksud kamu apa, Hah?!. Menghindari aku, menutupi
__ADS_1
keberadaan kamu, bahkan mematikan ponsel kamu?! Hah?!.”
Fania belum menjawab.
“Maksud kamu Apa?! Mau kamu Apa?!.” Andrew kembali mencecar. “Hanya karena aku menolak berhubungan ** dengan kamu semalam?!. Kekanakan sekali!.”
“Apa kamu bilang?. Aku?. Kekanakan?.”
Fania balik bertanya sambil juga menatap Andrew dengan wajah tak terima.
“Iya! Kamu Kenak – kanakan! Childish!.” Andrew masih mendikte Fania. “Kamu pernah bilang aku egois kan?! Better you look yourself in the mirror now! ( Sebaiknya kamu ngaca sekarang! ). Lihat diri kamu! Sudah menikah,
tapi sifat kekanak – kanakan kamu terlalu berlebihan!.”
Fania menggeleng pelan. Kata – kata Andrew sedikit mencubit hatinya.
“Kamu tau?! Aku meninggalkan meeting penting Perusahaan hanya karena kelakuan norak kamu yang ngambek hanya karena aku menolak kamu semalam!.”
Andrew belum berhenti meluapkan kekesalannya pada Fania.
“Itu kan alasan kamu melakukan hal ini?!. Bisa kamu bersikap dewasa?! Jangan selalu bikin susah!.”
“Udah selesai?. Atau masih ada lagi yang mau kamu bilang?.” Mata Fania mulai berkaca – kaca. “Maaf, kalau aku kekanak – kanakan yang mengganggu pekerjaan kamu. Dan maaf kalau aku terlalu sering bikin kamu susah.”
Andrew menatap Fania masih dari tempatnya semula yang nampak sedang mengatur nafasnya saat ini sambil mendengar tiap ucapan Fania.
“Aku sadar dengan apa yang aku lakukan hari ini. Sorry, sudah menyusahkan anda sekali lagi Tuan Andrew Smith. Mulai hari ini ga usah repot mengurusi saya, supaya anda ga merasa SUSAH!.”
Fania melangkahkan kakinya menuju pintu kamar lebar – lebar.
**
BRAK !.
Suara pintu kamar yang dibanting mengagetkan sebagian orang yang berada di lantai bawah.
Mereka yang sedang menunggu Fania dan Andrew untuk makan malam bersama serentak melonjak kaget mendengar suara pintu yang terbanting.
Ara menatap Reno. “Apa ga sebaiknya kamu ke atas, Hon?.”
“Kita tunggu saja. Aku takut ini masalah pribadi mereka yang amat sangat sensitif.” Ucap Reno. “Salah, kalau kita ikut campur tanpa diminta.”
Ara pun mengangguk. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, yang juga setuju dengan ucapan Reno.
“Ya sudah lebih baik kita makan malam saja sekarang.” Mom menyarankan.
“Mom was right ( Mom benar ). Lebih baik kita semua makan duluan. Nanti setelah makan akan coba Reno cek keadaan mereka, kalau mereka memang belum terlihat.”
**
🎶🎶
Hanya namamu di hatiku / Jiwa dan raga takkan berdusta
Namun terkadang cinta / Terusik benci se-sa-at
.......
Suara hati seorang kekasih / Bagai nyanyian surgawi
Takkan berdusta / Walau ketamakan merajai
Diri yang penuh emosi / Jauh di dasar hatiku
Tetap 'ku mau Kau sebagai kasihku
🎶🎶
**
To be continue ...
Terima kasih para pembaca yang masih setia. Loph u pull. 💗
__ADS_1