
Selamat membaca ...
Andrew dan Fania sudah menyelesaikan sarapan mereka yang sedikit terlambat. Bi Cici yang tadi melihat kalau Andrew dan Fania sudah berinteraksi seperti biasa tanpa bertengkar lagi seperti semalam, merasa lega kembali.
“Nald.” Panggil Fania saat mereka berdua duduk di ruang keluarga.
“Hem?.” Jawab Andrew yang meletakkan ponselnya saat mendengar si Ratu hatinya saat ini memanggilnya. “Kenapa? Mau tidur lagi?.”
“Ish, kebluk amat kesannya gue.” Sahut Fania.
“Kebluk?.” Tanya Andrew yang kurang paham. Entah karena kelamaan tinggal di London atau memang kosakata Fania aja yang terdengar baru dan aneh di telinganya.
“Duh, orang bule ga paham kebluk.” Ucap Fania yang tanpa sadar mencubit pipi Andrew dengan gemas.
Membuat Andrew senyum – senyum ga jelas dan menahan tangan Fania dipipinya dan bikin gadis malah jadi kikuk.
Meskipun bahagia, tetap saja Fania belum terbiasa dengan perlakuan Andrew yang berubah manis menurut pandangan Fania. Gadis itu hendak menarik tangannya.
Tapi Andrew menggeser tangan Fania hingga telapak tangan si Little F menyentuh bibirnya. Lagi – lagi lidah Fania terasa kelu, lagi – lagi hatinya berdebar dengan perlakuan si Donald yang terlalu manis itu.
‘Ah diabetes ini mah gue lama-lama.’ Batin Fania.
“Tangan ini, jangan pernah menyentuh wajah pria lain.” Ucap Andrew sambil memandang Fania.
“Ih, emang kenapa coba?. Kalo aku megang mukanya si papah atau kak Reno, gimana?. Masa ga boleh.” Ucap Fania mencoba membuat pengalihan dari hatinya yang sedang berdebar – debar.
“Selalu aja membantah omongan.” Sahut Andrew tanpa melepaskan tangan Fania. “Ga bisa ya, kalau nurut sedikit, hem?.. Pacar?.” Ucap Andrew sambil tersenyum meledek pada Fania.
“Ck, apaan tau.” Decih Fania lalu menarik tangannya dari genggaman Andrew.
“Tambah cantik kalau malu – malu begini.” Ucap Andrew yang tanpa Fania sadari sudah berada lebih dekat dengan dirinya dan si Donald itu bicara sambil menggoda dengan jarak wajahnya tak jauh dari pipi Fania.
“Ih, gaje banget.” Ucap Fania seperti bergumam tapi tidak mau menoleh pada Andrew.
“Coba lihat sini, penasaran kalau pacarnya Donald malu – malu.” Ucap Andrew masih menggoda Fania, yang ekspresi gadis itu terlihat lucu dan menggemaskan untuknya.
“Nald, jangan mulai isengnya.” Protes Fania masih tak mau menoleh pada Andrew. Membuat si Donald tak sabar lalu meraih wajah Fania dengan kedua tangannya.
Cup! Satu kecupan dari Andrew mendarat di bibir Fania. Membuat Fania membulatkan matanya karna sadar kalau mereka sedang berada di ruang keluarga rumahnya Andrew.
“Nald, liat – liat tempat kek. Maen cium – cium aja.” Protes Fania sambil mendorong pelan tubuh Andrew. ‘Bikin gue salting kan.’ Batin Fania.
“Makanya punya bibir jangan kelewat seksi.” Sahut Andrew sambil terkekeh.
__ADS_1
“Emang udah begini dari sananya juga. Lo aja yang suka nyosor.” Sahut Fania ga mau kalah.
“Apa? Nyo – sor?.” Andrew bingung. “Bahasa apalagi itu, Fania?. Kosakata kamu banyak yang aneh.” Ucap Andrew sambil menggeleng pelan.
“Ya itu tadi, maen asal cium. Nyosor namanya. Kiss without permission. Nah itu namanya Nyosor Tuan Muda Andrew.” Sahut Fania.
“Oh, begitu.” Sahut Andrew juga. “Berarti kalau izin boleh dong ya?. Boleh lama cium nya?!.”
“Amit deh pagi – pagi udah ngomongin ciuman.” Fania mengambil bantal kursi dan memukul Andrew pelan. Laki – laki itu pun tertawa dan Fania mencebik kesal.
“By the way, aku mau tanya.” Ucap Andrew.
“Soal apa?.” Tanya Fania.
“Berarti semalam ciuman pertama kamu dong.” Ucap Andrew sambil tersenyum konyol sambil memainkan alisnya melihat pada Fania.
“Ish, Donald Bebeeek, ga usah dibahas bisa ga siihhh ....” Fania berdiri dengan mengambil bantal kursi yang tadi
dipangku Andrew berniat untuk memukul laki – laki itu karna tak henti – henti menggodanya.
Andrew tak menghindar malah tertawa terbahak – bahak dengan perlakuan Fania yang memukulnya bertubi – tubi dengan bantal kursi.
Bi Cici yang kebetulan lewat bersama seorang ART lainnya melihat momen tersebut.
Sementara Bi Cici hanya tersenyum. Lalu ia mengajak si ART tersebut untuk tidak mengganggu kebersamaan Fania dan Tuan mudanya. “Udah jangan suka gibah. Ke dapur sana.”
“Iya, iya. Orang saya seneng liat Tuan Andrew yang lagi bahagia juga. Malah dibilang gibah.” Protes si ART tersebut pada Bi Cici.
“Udah sana, siapkan cemilan buat Tuan Andrew dan Nona Fania.” Ucap Bi Cici. “Terus bilang sama Pak Anton untuk membersihkan kolam renang.”
‘Bukan Cuma kamu aja yang seneng liat Tuan Andrew seperti itu. Saya apalagi. Ah Ya Allah, mudahan Tuan Andrew sama Non Fania berjodoh.’ Batin Bi Cici sambil berlalu menjauhi pasangan yang lagi mulai kasmaran itu.
“Oke, oke, enough. Ampun.” Andrew menyerah pada Fania yang memukulinya dengan bantal kursi. “Sini.”
Fania duduk di samping Andrew dan laki – laki itu menoleh sambil mengaitkan sebelah rambut Fania di belakang kuping gadis itu.
“Aku bahagia, Fania.” Ucap Andrew tulus hingga Fania pun menoleh padanya.
“Lo pikir gue engga?.” Sahut Fania.
Andrew tersenyum lalu meraih bahu Fania dan menyandarkan kepala gadis itu didadanya.
“Thank you ya, untuk ciuman pertamanya.” Ucap Andrew lagi.
__ADS_1
“Jangan mulai lagi deh.” Sahut Fania.
“I’m serious okay. Aku bahagia karena ternyata kamu punya rasa yang sama. Jadi ga ada kemungkinan hubungan kita jadi renggang kalau seandainya kamu ga terima aku semalam. Bahagia aku juga bertambah, karna aku orang yang pertama merasakan manisnya bibir Fania.” Ucap Andrew sambil mengangkat dagu Fania.
“Lucky you then. Bibir gue jadi ga sealed lagi tapinya.” Ucap Fania asal.
Andrew terkekeh sambil mengacak rambut Fania. “Sealed buat pria lain. Buat aku jangan lah. Punya aku itu bibir
sekarang.” Ucap Andrew.
“Dih pede.” Sahut Fania.
“Baru tau?.” Sahut Andrew
“Ga sih dari dulu emang udah kepedean.” Ucap Fania sambil terkekeh.
“Dasar.” Ucap Andrew.
“Eh iya Nald.” Ucap Fania seperti ingin bertanya.
“Hemm?.” Jawab Andrew sambil melihat ponselnya.
“Jangan lupa loh ini hari Jum’at. Jangan lupa Sholat Jum’at.” Ucap Fania dan Andrew langsung menoleh padanya. “Kenapa ngeliatin gue gitu?. “
“Sorry Fania, aku udah jarang sholat.” Andrew bicara datar. “udah lama kayaknya aku ninggalin sholat.”
Andrew merebahkan dirinya di sandaran atas sofa. Fania memperhatikan gerak gerik Andrew.
“Lo pindah kepercayaan?.” Tanya Fania penasaran.
Andrew tersenyum, meraih tangan Fania dan meletakkan tangan halus itu di pahanya.
“Engga, I’m still in the same religion with you. But I’m a bad boy.” Ucap Andrew seperti kecewa pada dirinya.
“Dari dulu emang kan , bad boy nya sih. Ga aneh.” Sahut Fania membuat Andrew tersenyum.
“I’m so lucky to have you, Fania. Terima kasih sudah mengingatkan aku.” Ucap Andrew.
“You are very welcome.” Ucap Fania seraya tersenyum.
“Aku akan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Untuk kamu.” Ucap Andrew. ‘Hanya untuk kamu, Fania.’ Batin Andrew.
*
__ADS_1
To be continue....