
Selamat membaca ...
Setelah malam Barbekyuan yang sedikit dibumbui ketegangan dan kesedihan serta haru itu, akhirnya Andrew dan Reno mengalahkan pekerjaannya, termasuk Ara, hanya untuk menyenangkan Fania.
Semata – mata untuk menyenangkan hati Fania dan meyakinkan Little F mereka itu kalau Andrew dan Reno ga akan ninggalin gadis itu lagi dan akan selalu ada didekatnya.
Tiga hari sudah Fania menginap di rumah Andrew. Dan selama itu juga Fania ijin dari kantor, yang tentu saja ga masalah karna kakak gantengnya Fania adalah pemilik perusahaan tempat gadis itu bekerja. Dan Fania juga ijin pada kak Rita untuk tidak ikut manggung di hari selasa dan kamis minggu ini.
Andrew pun menunjuk Jeff seorang untuk berangkat ke Italy untuk mengurus permasalahan yang terjadi di Perusahaan Andrew di sana dengan dia yang tetap mengawasi dari Indonesia. Jeff bisa mengerti hal tersebut, karena dia paham Andrew yang berat untuk meninggalkan Fania, terlebih lagi saat malam Barbekyuan itu Fania mengeluarkan semua keluh kesahnya pada Andrew dan Reno.
Sementara John mengurus segala hal yang berurusan dengan Pekerjaan Reno. Untungnya Reno punya asisten sekaligus orang kepercayaan lain di London. Jadi John hanya repot dengan pekerjaan di Indonesia.
Tiga hari ini Fania bahagia, karena Reno, Andrew termasuk Ara selalu ada di sekelilingnya. Bahkan udah hang out bareng buat sekedar jalan ke Mal, shopping atau nonton.
Tapi bukan Fania kalau meski dia merasa sangat – sangat bahagia tiga hari ini, dia pun merasa bersalah karena ia tau kalau dia egois dengan ucapannya saat malam barbekyu.
Fania hanya mengeluarkan unek – unek nya. Apa yang dia rasa, apa yang dia pikir. Tapi dalam tiga hari ini Fania pun sudah mengambil keputusan untuk bicara dengan dua Guardian Angel dan satu ibu peri.
“Kak, Nald, gue mau ngomong.” Ucap Fania kala mereka ber empat sedang berada di ruang tamu rumah Andrew selepas makan siang.
Reno dan Andrew saling tatap karena wajah Fania terlihat serius.
“What is it?.” Tanya Andrew
“Soal apa yang gue bilang waktu itu ....” Ucap Fania sambil memandangi Andrew dan Reno bergantian juga Ara. Mereka bertiga tidak menyela. Menunggu Fania melanjutkan kata – katanya.
“Gue minta maaf ya? Gue egois banget.” Fania bicara dengan menundukkan kepalanya. Merasa bersalah.
Reno yang duduk disebelah Ara, mendekati Fania dan duduk di sanggahan sofa panjang di tempat Fania dan Andrew duduk.
“Kenapa harus minta maaf sih?.” Ucap Reno yang seperti biasa membelai rambut Fania.
“Kenapa tiba – tiba ngomong begini?.” Andrew ikut bicara.
“Ga apa – apa.” Ucap Fania mengangkat wajahnya dan mencoba menunjukkan senyum agar kedua laki – laki yang ia sayangi itu tidak merasa khawatir.
“Ga perlu merasa bersalah. Itu bukan keegoisan. Itu luapan perasaan lo Fan. Gue ngerti. Andrew, Ara, semuanya
ngerti.” Ucap Reno lembut.
“Udahlah Fan, jangan mikir yang engga – engga. Gue paling ga suka liat muka sedih lo itu.” Andrew menambahkan.
Fania tersenyum. “Iya, makasih banyak. Tapi gue sadar kalo gue itu egois namanya nahan kalian disini. Padahal kalian kan juga punya urusan lain.”
“Don’t start it, F.” Andrew terlihat tidak suka karna berpikir kalau Fania pasti menganggap dirinya ga penting untuk Reno dan Andrew.
“Bukan gitu. Dengerin dulu kek gue ngomong sampe selesai.” Protes Fania namun dengan suara yang manja. Membuat Ara tersenyum lalu ikut mendekatkan dirinya di samping Reno.
“Ya udah selesaikan deh omongan lo. Kita dengerin.” Ucap Reno.
“Gue udah mikirin tiga hari ini. Dan gue udah ambil keputusan. Kak Reno sama Kak Ara, kalo mau balik ke London, balik aja ga apa – apa. Gue ga mau urusan kalian juga ada yang terbengkalai karena kalian stuck disini. Oke?.” Ucap Fania. “Jangan interupsi dulu, gue belom selesai.”
Fania memberikan kode kalau ia masih mau melanjutkan omongannya.
__ADS_1
“Termasuk elo ya Nald, lo kalo mau ke Italy atau ke London ga apa – apa juga. Gue ga bakal marah, tersinggung atau sedih kalau kalian bertiga mau pergi. Seriusan. Gue udah paham sejak kalian putusin untuk stay di sini sejak malem Barbekyuan kita, gue udah paham kalau kalian itu sayangnya beneran sama gue.” Ucap Fania panjang lebar. “Jadi sekarang please gue mohon, jangan kalian stuck karna gue. Karna gue bisa sedih kalo begitu.
Oke?”. Kemudian Fania tersenyum.
Andrew menatap Fania dalam diam. Seperti ada keraguan dalam hati laki – laki plontos tersebut.
“Serius Nald, ga pa-pa. Nanti kalo urusan lo selesai lo dateng lagi kesini lah. Ajak gue kemana kek.” Ucap Fania yang menyadari kalau Andrew sedang menatapnya.
Andrew tidak langsung bicara, ia masih sedang melihat mata Fania dan mencari tau tentang apa yang barusan Fania ucapkan padanya dan Reno serta Ara.
“Ikut ke London kalo gitu.” Ucap Andrew.
“Mau aja sih gue. Tapi ngajuin cuti dulu lah. Lagian nanti gue ikut kalo udah kalian ga pada sibuk jadi bisa holidey.” Sahut Fania. “Ya kan Kak?.” Fania meminta dukungan Reno.
Reno nampak berpikir. Menoleh ke Ara sebentar seperti menanyakan sesuatu pada istrinya lewat tatapan.
“Yakin minta kita pergi habis itu ga akan ada drama lo bilang kita ini ga pernah care dan sayang sama lo, kayak waktu malem Barbekyuan?.” Ucap Reno.
“Yakin se yakin – yakinnya.” Sahut Fania semangat.
“Oke. Dengan satu syarat.” Ucap Reno lagi.
“Apa?.” Tanya Fania.
“Berhenti kerja karna lo harus lanjut kuliah meski sedikit terlambat.” Ucapan Reno mengagetkan Fania.
“Yah, kok jadi malah gitu sih Kak Ren?. Kak Ara tolongin dong, diem aja sih.” Fania merengek pada Ara karena ga rela kalo disuruh berhenti kerja sama Reno.
“Deal.” Sahut Andrew.
“Uang yang gue kasih nanti gue tambahin.” Ucap Reno.
“Ya ga gitu juga kali Kak.” Fania protes dengan ucapan Reno.
“Berapa lo kasih dia sebulan R?.” Tanya Andrew
“Tujuh puluh juta.” Jawab Reno.
“Make it one hundred and fifty. Sisanya dari gue. Kalo masih kurang bilang.”. Ucap Andrew lagi.
“Deal.” Sahut Reno.
“Ih ni orang berdua kompak banget kalo udah mojokin gue.” Protes Fania lagi. “Ini lagi kak Reno maen dal dil dal dil aja.”
“Uang bulanan untuk mama papa kamu diluar itu.” Ucap Ara.
“Ih Kak Ara....” Ucap Fania tambah sebel karena Ara tidak mendukungnya.
Tiga orang itu terkekeh karena merasa berhasil menjebak dan memojokkan Fania.
“Oke Deal.” Sahut Andrew
“Tau ah.” Ucap Fania berlagak ngambek. “Gue simalakama banget sih. Kalo gue egois nge biarin kalian disini, gue merasa bersalah. Tapi permintaan kalian itu malah bikin gue serba salah.”
“Nurut makanya.” Ucap Reno, Ara dan Andrew kompak.
__ADS_1
“Ish, para diktator kompak bener.” Sahut Fania.
“Resignation lo gue urus besok.” Ucap Reno lagi tanpa membuang waktu untuk terus memojokkan Fania sampai gadis itu menyerah dan mau untuk kuliah.
“Good idea.” Andrew menimpali.
“Kak Reno!.” Fania protes lagi dengan setengah teriak. Tapi Reno malah menunjukkan wajah yang menyebalkan untuk dilihat Fania.
Andrew nampak sedang mengetik pesan di ponselnya. Tak lama ponsel Reno berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.
“R, check my message.” Ucap Andrew pada Reno dan Reno pun langsung mengecek Chat yang Andrew kirim.
Fania yang menyadari kalau Reno dan Andrew bersekutu, langsung mencoba melihat pesan Andrew di ponsel Reno. Reno yang sigap langsung mengangkat ponselnya tinggi – tinggi dan Fania yang tingginya hanya mencapai bahu Reno itu tidak akan sampai.
Andrew dan Ara tertawa melihatnya.
“Tuh kan pasti ada apa-apa nih.” Fania berdiri sambil menoleh pada Andrew.
“Udah cepetan bales R.” Ucap Andrew dan Reno pun terlihat mengetik sesuatu.
“Kak, liat.” Fania mencoba lagi untuk melihat pesan yang dikirim Andrew pada Reno. Tapi Andrew mencekalnya. Kemudian gantian nada masuk pesan terdengar di ponsel Andrew.
Fania spontan ingin merampas ponsel Andrew, tapi tentu saja lagi – lagi ia gagal. Karena Andrew berdiri dan mengangkat ponselnya tinggi – tinggi. Tapi kali ini Fania tidak menyerah ia berusaha loncat – loncat untuk menggapai ponsel Andrew tersebut. Tapi Andrew mencekalnya. Satu tangan kekarnya sanggup untuk mengunci Fania dan tangan yang satunya seperti sibuk mengetikkan sesuatu.
“Done.” Ucap Andrew lalu melepaskan Fania dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana pendeknya.
“Apaan sih? Nyebelin banget nih si Donald sama Kak Reno. Ini lagi Ibu Peri diem aja mesem – mesem doangan.” Ucap Fania kesal karena tidak berhasil melihat isi pesan Reno dan Andrew yang tampak bersekutu itu.
“Cek coba.” Ucap Andrew pada Fania.
“Cek apaan?.” Tanya Fania karena ga paham maksud Andrew.
“Cek saldo. Udah gue kirim jatah bulanan yang tadi gue bilang.” Sahut Andrew santai.
“Apa?!.” Pekik Fania yang langsung menyambar ponselnya yang ia letakkan di meja ruang tamu. Kemudian langsung membuka layanan m-bankingnya.
Dan gadis itu pun benar – benar terkejut karena uang di rekeningnya bertambah seratus lima juta rupiah.
“Udah masuk kan?.” Ucap Andrew saat melihat ekspresi kaget Fania setelah mengecek saldo di m-bankingnya.
“Donald Bebek lo tuh apa – apaan sih ngirim duit segini banyak. Sombong amat.” Protes Fania.
“I don’t care. Duit dari gue udah masuk. Means, dah deal lo harus berhenti kerja!. Titik .” Ucap Andrew yang tidak ingin dibantah.
“Astagaaaaaa .... kalo ga kerja terus gue mau ngapain?.” Ucap Fania yang sudah lemas karena tau kalo dia udah terpojok. “Bodo ah, gue kirim balik nih duit lo.”
“Oh, berani kirim balik itu uang ke rekening gue, berarti lo ga menghargai gue. Itu tandanya semua kata – kata lo yang bilang gue sama R itu orang yang penting dalam hidup lo, it’s just a bullshit.” Nah mulai deh Andrew menunjukkan sifat arogansinya yang ga mau dibantah pada Fania.
Ketar – ketir lah hati Fania denger Andrew bicara begitu. Nadanya sih biasa, tapi penekanan dalam ucapannya itu luar biasa.
Fania kembali duduk dan mengusap kasar wajahnya. Geregetan tapi bingung mau gimana si Fania.
***
To be continue ...
__ADS_1