
Selamat membaca ..
*
“Sudah lo selesaikan masalah lo sama Cindy?.” Tanya Reno pada Andrew yang sedang menunggu dua wanita pemilik hati mereka bersiap untuk ke rumah Mom dan Dad.
“Sudah selesai sebelum gue nembak adik lo.” Jawab Andrew sambil menyesap rokoknya.
“Jangan sampai dia berani sentuh Fania.” Ancam Reno.
“Hem, sebelum lo, gue yang akan bertindak kalau dia berani macam – macam sama Little F.” Jawab Andrew lagi. “Harusnya lo tau, karena lo paham dari dulu siapa yang gue tunggu.”
“Bertahan dua tahun sama Cindy?.” Tanya Reno datar.
“Just in case.” (Buat jaga – jaga ). Sahut Andrew cepat. “Kalo sampai umur tiga puluh si Fania belum ketemu and Dad also Mom paksa gue nikah. Cindy is the last choice. (Cindy adalah pilihan terakhir).
“Cih. Bastard.” (Dasar Bajingan). Reno mengumpat ditanggapi hanya dengan kekehan kecil oleh Andrew. “Jangan pernah lo sia –siakan Little F.”
“Dia takdir yang gue tunggu. Ga ada yang lain lagi. Karena Fania satu – satunya yang membuat gue bahagia lewat cara yang orang lain ga bisa.”
“Kapan lo mau nikahin dia?.” Tanya Reno.
“As soon As Possible.” (Secepatnya). Jawab Andrew yakin.
**
Seminggu telah berlalu, tak ada tanda – tanda gangguan dari Cindy sejauh ini dalam hubungan Andrew dan Fania.
Mulai besok Andrew sudah kembali ke rutinitasnya di Perusahaan yang sudah lama ia tinggalkan, meski sebenarnya juga ia tetap memantau dari rumah selama menemani Fania.
“Sweety, sini.” Panggil Andrew pada Fania saat dia duduk di sofa kamar mereka saat Fania selesai mengganti bajunya dengan setelan kaos dan celana. Fania pun segera menghampiri si kekasih hati.
__ADS_1
“Kenapa?.” Tanya Fania yang sudah ga malu – malu lagi untuk memeluk Andrew duluan. Bahagia lah si Donald pastinya.
“Besok aku sudah harus kembali kerja.” Ucap Andrew sambil membelai kepala Fania.
“Hum.” Fania hanya menjawab dengan hum – man nya.
“Kenapa?.” Andrew setengah terkekeh. “Takut kangen?.”
Fania mengangguk. Andrew menangkup wajah Fania.
“Aku usahakan pulang secepatnya. Atau nanti kita makan siang bareng kalau memang schedule aku ga padat, hem?.” Ucap Andrew menghibur si ratu hatinya. “Sekalian kita lihat – lihat kampus yang sudah aku sama R pilihkan untuk kamu.”
Fania mengangguk lagi tanpa berucap dengan mimik wajah yang membuat hati Andrew tak enak. Tambah lagi gadis itu beringsut dan menempatkan kepalanya di paha Andrew tapi tetap diam, hanya helaan nafas pelan yang samar terdengar.
Andrew mengangkat kepala Fania dengan hati – hati, bersimpuh di lantai depan sofa dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Fania yang tampak muram.
“Kenapa, hem?.” Tanya Andrew khawatir. Melihat Fania yang tampaknya kurang rela kalau dia harus ditinggal karena dirinya harus kembali bekerja di Perusahaan, malah jadi berat ninggalin nya biar sebentar juga.
“Aku masih canggung Nald, disini.” Jawab Fania pelan tanpa menatap Andrew.
Michelle saja yang susah untuk suka sama orang, terang – terangan memuji kamu. Apalagi, hem?.” Andrew mencoba menghibur.
“Ga taulah. Aku mau tidur.” Ucap Fania pelan lalu beranjak dari sofa menuju tempat tidur. Membuat Andrew menatapnya iba, sekaligus bingung seperti menghadapi istri yang sedang merajuk. Uhuy.
“Kamu marah?.” Andrew buru – buru merengkuh Fania sebelum gadis itu mencapai ranjang pada akhirnya.
Rasa ga tenang karena sikap Fania yang sepertinya ga rela ditinggal kerja. Tapi gadis itu menggeleng tanpa suara.
“Ya udah kita ngobrol sambil tiduran ya?.” Andrew membawa Fania naik ke ranjang, lalu membuat wajah muram gadis itu menghadap padanya.
“Takut bosan, biasanya ada kamu yang nemenin aku.” Fania mulai bersuara.
‘Aduh, Sweety. Jangan begini dong. Aku merasa bersalah nanti, kalau kamu sedih begini.’ Batin Andrew.
“Ragu juga untuk kuliah disini. Takut ga mampu. Malu – maluin kamu sama Kak Reno nanti.” Ucap Fania pelan.
__ADS_1
“Kamu mampu, Sweety. Pasti mampu. Aku sama R hanya merekomendasikan beberapa kampus. Tapi tetap pilihan ada di kamu. Mau kuliah dimana, jurusan apa.” Ucap Andrew sambil membelai wajah Fania. “Ada aku, Ada R and Ara.”
Fania mengangguk pada akhirnya.
“Nanti kalau urusan kampus sudah selesai. Kita kunjungi keluarga cemara, gimana?.” Andrew tersenyum.
Wajah Fania berubah sumringah. “Beneran?.” Fania menangkup wajah Andrew dan laki – laki itu mengangguk seraya tersenyum.
“Kapan aku pernah bohong sama kamu, hem?”. Ucap Andrew.
“Pernah.” Sahut Fania tapi dengan wajah yang sudah biasa.
“Kapan?.” Andrew mengernyitkan dahinya. “Bohong soal?. Jangan bahas mantan ya, kamu sendiri sebelumnya ga pernah tanya soalnya.”
“Ish bukan mantan lah. Makhluk apa itu?.” Fania terkekeh, Andrew pun sama. “Boong nya kamu itu dulu pas mau pergi kesini, kan?. Katanya akan selalu ada buat aku gantiin Kak Reno. Tapi aku malah ditinggal. Diabaikan pula selama 6 tahun.” Ucap Fania sambil mengerucutkan bibirnya.
“Itu lagi. Kan udah aku bayar ini sekarang. Dendam amat sih, calon Nyonya Andrew.” Ucap Andrew gemas.
“Wanita itu mesin pengingat tau.” Sahut Fania.
“Iya, iya oke. Ingat yang manis manis aja kalau begitu mulai sekarang.” Ucap Andrew.
“Tapi bener ya, janji. Kalau nanti urusan kampus aku selesai terus kamu memang ada waktu luang. Anter aku nengok keluarga cemara loh ya.” Tambah Fania sambil mengarahkan telunjuknya pada Andrew.
“Janji, Sweety.” Sahut Andrew. “Janji juga kamu ya, jangan ungkit lagi yang bilang aku lupain kamu, abaikan kamu.” Gantian Andrew yang mengarahkan telunjuknya pada Fania.
“Janji.” Ucap Fania yang tanpa diduga menggigit ujung telunjuk Andrew. Fania hanya gemas. Tapi Andrew merasakan ada yang berkedut tapi bukan mata. Karna apa yang dilakukan Fania barusan membuat gadis itu tampak sensual dimata Andrew.
‘Oh Tuhan boleh khilaf ga si?.’ Batin Andrew.
**
To be continue..
- UP Dua Episode ini Author ya\, demi Reader setianya Author - Like\, Komen dan Vote Jika Berkenan. - Loph Loph💗💗
__ADS_1