
Selamat membaca...
***
Nick memukul jatuh orang Chaisay yang tadi membuatnya berlutut dan merampas pistol ditangan orang itu dengan cepat, mengarahkan pada Andrew tanpa lagi menunggu untuk melepaskan tembakan.
DOR !. Satu peluru lolos dari senjata api yang ia rebut barusan.
“FANIA!!!.” Pekik Andrew, John termasuk Nick yang sontak membulatkan matanya saat peluru yang ia tujukan pada Andrew, mendarat tepat di tubuh Fania yang spontan memasang badannya, kala ia menyadari kalau Nick hendak menembak Donald Bebek tercintanya..
Beberapa tembakan juga terlepas ke arahnya saat ia sudah menarik pelatuk dari pistol yang ia rebut.
“STOP!.” John memerintahkan para pria yang menembaki Nick untuk berhenti. Matanya sudah memerah melihat Fania yang memasang badan untuk Andrew. “Don’t let that man die so fast! (Jangan biarkan pria itu mati dengan cepat!).” Ucap John setelah melihat Fania yang tertembak di lengan.
Chaisay memerintahkan orang – orangnya untuk segera membawa Nick yang sudah bersimbah darah, namun masih tampak hidup itu.
“Fania ....” Lirih Nick saat melihat Fania seketika ambruk dan sedang berada dalam dekapan suaminya, kala orang – orang Chaisay menyeretnya.
“Make sure he still alive when R arrives (Pastikan dia masih hidup hingga R datang).” Ucap John pada Chaisay dan laki – laki itu pun menyegerakan perintah John pada orang – orangnya. “Fania....” Kini John beralih pada Fania yang barusan tertembak itu.
“Heart, hang on Sweety (Sayang, bertahan ya).”Lirih Andrew yang matanya kini sudah basah melihat Fania nya yang kini ambruk dalam pelukannya meski istrinya itu masih sadar. Andrew langsung sigap memberikan pertolongan pertama dengan menekan luka tembak di lengan Fania.
Chaisay membantu dengan memberikan sepotong kain yang ia ambil dari seprei putih dari kain lapisan ranjang di kamar tersebut pada Andrew agar dapat menahan keluarnya darah dari lengan Fania, karena sepertinya peluru yang ditembakkan Nick menembus jaringan arteri brakialis di lengan istrinya Andrew Smith itu, melihat banyaknya darah yang mengalir cepat dari lengan Fania.
Andrew langsung menggendong Fania dan berlari cepat untuk segera mencari pertolongan medis untuk istrinya itu.
“The chopper is ready! (Helikopter udah siap!).” Chaisay membuka jalan bersama orang – orangnya agar Andrew segera membawa Fania dengan helikopter yang sebenarnya Nick sediakan untuk membawa pergi Fania.
“Stay with me, Heart ( Tetap bersamaku sayang ).” Suara Andrew masih terdengar lirih, melihat darah dari lengan Fania tak berhenti karena kain yang diikat untuk menahan lajunya pendarahan sudah mulai menembus kain tersebut.
“Fania, jaga diri lo tetap sadar oke?.” Ucap John yang sama panik dan khawatirnya dengan Andrew melihat darah Fania yang tampak tak berhenti dari lengan Fania, dan wajah si Kajol sudah mulai pucat.
“Heart, kamu dengar aku kan sayang?.” Ucap Andrew sambil membelai kepala dan wajah Fania dengan hatinya yang teramat khawatir dan takut, sembari menahan lengan Fania agar sedikit lebih tinggi dari jantung, yang bertujuan untuk memperlambat aliran darah. Berharap setidaknya bisa menghentikan pendarahan yang dialami
Fania hingga mereka sampai ke rumah sakit.
“Nald ....” Ucap Fania dengan suara yang amat pelan. “Ga apa – apa, udah ga sakit....”
__ADS_1
“Heart, don’t close your eyes! (Sayang, jangan tutup mata kamu!). Dengerin aku! Fokus sama suara aku!.” Pekik Andrew yang sudah semakin takut.
“Dingin, Nald....” Ucap Fania lagi.
John dengan spontan langsung membuka jaket yang kebetulan ia pakai malam itu dan menyelimuti Fania dengan hati – hati yang kepalanya berada diatas paha Andrew yang tidak bergerak banyak, karena laki – laki itu juga masih mencoba menekan luka dilengan Fania untuk mengurangi pendarahan.
“Heart, listen to me! (Sayang dengarkan aku!). Jangan tutup mata kamu, aku mohon.” Lirih Andrew lagi. “Fokus sama suara aku, oke?.”
“Fania, berusaha Sweety, lawan rasa kantuk lo oke?”. John ikut bicara berusaha agar Fania yang wajahnya kian memucat itu untuk tetap dalam kesadaran.
Peluru yang sepertinya terlihat hanya mengenai lengan Fania itu ternyata menembus jaringan vital yang bisa memicu pendarahan hebat dari korban tembakan.
Helikopter yang ditumpangi Andrew, John dan Fania sudah sampai di sebuah atap rumah sakit di Thailand yang merupakan salah satu rumah sakit yang terbaik di Asia Tenggara.
Namun Fania sepertinya sudah tak kuat lagi menahan matanya untuk terpejam. Wanita itu mengalami syok, sedikit terbatuk, merasakan udara yang mulai hilang dari paru – parunya. “Heart!.” Pekik Andrew. “Bertahan sayang, aku mohon ....” Mata Andrew semakin basah, melihat Fania yang sudah mulai nampak semakin lemah.
“I love you, Donald Bebek (Aku cinta kamu, Donald Bebek).” Ucap Fania dengan suara yang sudah hampir tak terdengar.
“FANIA!.” John mau tidak mau menepuk nepuk kedua pipi Fania sedikit kencang. Menahan agar si Kajol kesayangan semua orang itu tak menutup matanya.
menggendong Fania dengan cepat saat helikopter sudah mendarat.
Fania tersenyum tipis, sebelum dirasa ia tak lagi mendengar suara saat matanya mulai gelap dan tak ada lagi nafas yang masuk ke dalam paru – parunya. Tak lama tangannya terkulai sesaat setelah menyentuh wajah Andrew sebentar. Matanya sudah terpejam, tak merespon saat Andrew dan John terus berteriak memanggil namanya.
Beberapa juru medis yang sudah menunggu kedatangan Helikopter yang ditumpangi Andrew, bersama John dan Fania yang terluka itu sudah tampak menunggu kedatangan mereka diatas atap rumah sakit yang tersedia Helipad itu dengan peralatan untuk segera membawa korban agar segera mendapat tindakan medis yang cepat.
“HEART!.” Andrew terus memanggil – manggil Fania dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
“FANIA!.” Termasuk juga John yang tak henti memanggil Fania dengan air mata yang juga sudah turun dipipinya. Tak menyangka situasi seperti ini akan terjadi pada si Kajol yang sering bikin orang tertawa itu.
Namun Fania sudah tak bergeming diatas stetcher (tandu dorong) yang dilajukan dengan cepat oleh beberapa juru medis beserta Andrew dan John.
Langkah Andrew dan John dihentikan oleh seorang Dokter Terbaik di Thailand yang merupakan kenalan mereka yang sudah dihubungi John sebelumnya, sesaat setelah mereka sudah sampai di Unit Gawat Darurat rumah sakit tersebut.
Andrew memaksa masuk, tak ingin meninggalkan Fania nya walau sedetik. Hatinya hancur seketika melihat kondisi terakhir Fania. “Let me in, please.. (Biarkan aku masuk, aku mohon ...).” Andrew mengiba. “She needs me.. (Dia membutuhkanku..).”
“I’ll do my best, Andrew! (Aku akan mengusahakan yang terbaik, Andrew).” Ucap sang Dokter Pria yang hanya berbeda beberapa tahun dari Andrew itu.
__ADS_1
“Save her, Mario! (Selamatkan dia Mario). Save her.. (Selamatkan dia..).” Andrew tak kuasa menahan tangisnya karena takut akan kemungkinan yang terburuk akan terjadi pada Fania nya. Mengingat sang belahan jiwa nya itu mengalami pendarahan hebat akibat peluru yang bersarang di lengannya hingga mengenai jaringan arteri brakialis yang menyebabkan pendarahan susah untuk dihentikan.
“Ndrew, biar Mario melakukan tugasnya.” John menguatkan Andrew dengan memegang bahu kanan Donaldnya Fania itu, yang nampak putus asa bersandar setengah lunglai di dinding luar Unit Gawat Darurat. “Think positive (Berpikir positif).” Tambah John, meski ia sendiri sama takutnya dengan Andrew.
Detik yang berlalu terasa lama bagi Andrew dan John yang menunggu Fania sedang diselamatkan di ruang gawat darurat itu. Tampak seseorang datang tergesa membawa beberapa kantong darah yang kemudian langsung masuk ke ruangan dimana Fania sedang ditangani.
Chaisay nampak sudah muncul menyusul Andrew dan John. Merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada istri orang yang amat ia hormati itu. Seorang teman yang sudah seperti saudara baginya.
“Forgive me, Andrew (Maafkan aku, Andrew).”Ucap Chaisay lirih yang sudah duduk disamping Andrew dengan memegang bahu laki – laki yang sedang tertunduk itu.
Namun Andrew tetap bergeming pada posisinya. Tak menjawab atau sekedar menoleh pada Chaisay.
Hatinya sudah dirundung sedih akan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada belahan jiwanya. Berdoa dalam diam dan air matanya tak bisa berhenti mengalir.
Sementara John terlihat sibuk dengan ponselnya.
Andrew seketika berdiri saat melihat pintu ruang gawat darurat itu terbuka dan Dokter yang bernama Mario itu muncul dari balik pintu. Menatap Andrew dengan tatapan iba. Mario membuka maskernya mencoba menghadapi Andrew yang menunggu kata – kata darinya.
John dan Chaisay sudah ikut mendekat pada Andrew dan Mario. “Don’t tell.. (Jangan bilang ...). Don’t tell me she doesn’t make it.. (Jangan bilang dia ga mampu bertahan ...).” Andrew berkata lirih karena melihat raut wajah Mario.
“I’m sorry Andrew, she’s losing a lot of blood. I did everything I can to save her.. (Maaf Andrew, dia kehilangan banyak darah. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya ...).” Ucap Mario memegang bahu Andrew.
John mengusap wajah putus asanya setelah mendengar ucapan Mario. Dan wajah penuh penyesalan pun juga nampak di wajah Chaisay. “Andrew!.” Pekik John, Chaisay dan Mario kala Andrew langsung lunglai diatas kedua lututnya yang tersentak diatas lantai.
“Don’t do this to me.. Heart.. (Jangan lakukan ini padaku .... Sayang ...).”
**
"We arrive soon (Kami secepatnya tiba)." Ucap Nino yang mendapat informasi dari alat komunikasi dalam helikopter yang ia dan Reno tumpangi menuju Thailand. Namun tiba - tiba ia terdiam membisu menatap lurus ke satu arah. "Okay."
"What is it Nino? (Ada apa Nino?)." Tanya Reno yang menyadari perubahan raut wajah salah satu orang kepercayaannya itu.
"Miss Fania.... Miss Fania had been shot, Sir. (Nona Fania .... Nona Fania tertembak Tuan)."
****
To be continue ...
__ADS_1