
Selamat membaca ...
Sekali lagi Author ingatkan, yang dibawah umur termasuk para jomblo harap minggir. Karena di Episode ini sangat – sangat mengandung unsur kedewasaan yang hakiki.
* Author nya udah mengingatkan loh ya *😜
* Untuk yang sudah cukup umur baca aja ga usah dibayangin\, apalagi di resapi. Karna author nya ga mau tanggung jawab kalo pada mupeng.* Wkwkwk.
**
“I want you. Now!. ( Aku menginginkanmu. Sekarang! ). Andrew menatap tubuh Fania yang terpampang indah dihadapannya. Menyusuri dari mulai wajah hingga ke perut dengan telunjuknya. Mata elangnya mulai sayu dan kilatan gairah pun sudah terlihat.
Sementara Fania menikmati setiap sentuhan saat telunjuk Andrew bergerak perlahan hingga keperutnya.
Dengan perlahan Andrew mendekatkan Fania padanya. Bibir mereka berdua kembali bertemu, saling mengecup pelan dan lembut. Manis, seperti mengalahkan semua rasa manis permen dimuka bumi. Rasanya tak ingin berhenti. Ciuman Andrew makin menuntut diiringi deru napasnya yang tertahan.
Ciuman itu membawanya menginginkan sesuatu yang lebih. Fania pun kurang lebih sama. Ada sesuatu dalam dirinya yang menuntut lebih dari sekedar saling menyentuh dan mencium.
‘Kenapa gue jadi mesum begini, sih?.’ Batin Fania saat Andrew semakin mendalamkan ciumannya. Bermain dengan lidahnya. Memagut dengan sangat menuntut. Tubuh Fania setengah menggelinjang saat tangan kokoh itu meraih dua benda yang masih terbungkus kain berenda warna merah itu. Mengusap, meremasnya pelan hingga
kedua tangan kokoh itu bergerak turun ke pinggang dan perlahan meremas dua bongkahan lain yang sering membuat Andrew gemas.
Perlahan tapi pasti. Tangan Andrew menjelajah di setiap bagian tubuh Fania termasuk bagian inti yang akan menjadi goa tempat anaconda milik Andrew bersarang untuk mencari kehangatan.
“N...Nald....” Fania bergidik nikmat. Mendesah pelan hampir tak terdengar. Namun Andrew tau, sama seperti dirinya Fania ingin sudah terbakar gairah yang sudah hampir sampai dikepala.
“Touch me. ( Sentuh aku ).” Ucap Andrew dengan suara yang berat dan serak. Menatap Fania sambil membimbing tangan mulus itu menyentuh setiap inci dirinya seperti yang ia lakukan pada tubuh Fania tadi.
Andrew mengerang pelan saat tangan Fania sampai di lapisan luar boxernya. Yang sudah terasa sesak dan mulai menyakitkan. Sungguh menyiksa namun Andrew tak ingin buru – buru. Ia ingin membuat moment ini begitu indah meski bukan kali pertama mereka melakukannya.
Fania menelan kasar salivanya, saat Andrew menahan tangannya saat sampai dilapisan luar boxernya. Sudah mengeras dan terasa berkedut meski baru menyentuh dari luar saja. Sepertinya sang anaconda sedang tumbuh dan membesar.
‘Alright, that’s it. ( Oke cukup ). Gue udah ga tahan.’ Batin Andrew menggeram. Meraih tengkuk Fania dan menciumnya kembali. “Masuk duluan, hem?.” Andrew mengkode agar Fania masuk duluan ke dalam bathtub yang bertabur mawar merah itu. Fania mengangguk pelan dengan wajahnya yang sudah merona.
__ADS_1
Dingin. Air dalam bathtub terasa dingin menyentuh kaki Fania. Namun ia tetap mencelupkan setengah badannya dalam bathtub, menunggu sang suami yang kini sudah berdiri sambil kembali menatapnya ikut bergabung. Fania langsung mengalihkan pandangan saat Andrew tampak akan melepaskan satu lembar pakaian yang tersisa ditubuhnya.
“Lihat sini, Heart. Biasakan mulai dari sekarang.” Goda Andrew yang puas melihat wajah malu – malu Fania nya. “Heart ....” Panggil Andrew karena Fania masih nampak kikuk untuk melihat kearahnya.
akhirnya dia menoleh saat Andrew memanggilnya lagi. Mukanya makin merona saat matanya menemukan sang suami sudah polos sepenuhnya. Menyeringai nakal, benar – benar menggodanya. ‘Ish si Donald. Vulgar banget. Pantes waktu itu rasanya penuh .’ Batin Fania.
Tak lama Andrew pun masuk kedalam bathtub. Menarik pelan Fania keatas pangkuannya. Membuat sang istri benar – benar dibuat kelimpungan setengah mati. Merasakan ada yang mengganjal di bagian bawahnya meski masih terhalang kain tipis berenda yang masih ia pakai. Terasa kokoh, sedikit bikin ngeri.
“Malu, Hem?.” Tanya Andrew seraya menggoda istrinya. Fania menggeleng namun mimik wajahnya tak bisa berbohong.
Andrew mengukung Fania, sengaja meniupkan nafas hangatnya tepat di wajah Fania yang merona.
“Gu-gup , ta-u....” Fania mengalihkan pandangannya begitu melihat senyuman mesum Andrew.
“Lihat aku.” Andrew memegang dagu Fania. “Karena ini?.” Andrew menggerakkan anaconda nya yang seperti sudah dikutuk jadi batu karna mengeras. Fania menggigit bibir bawahnya. Sensasi baru yang ia rasa dari gerakkan milik Andrew yang menyentuh miliknya di dalam air. “Karena ini, hem?.” Andrew bergerak lagi.
“I – iya. Ish.” Fania memukul dada bidang Andrew, dan laki – laki itu terkekeh.
Tak lama , karena Andrew kembali mencumbui Fania nya. Hingga tangannya berhasil melepaskan pengait dari penyangga berwarna merah di dada Fania dan melemparkannya ke sembarang arah.
Terpampang dengan jelas, indah dimata Andrew. Dua gundukan yang basah karena air di bathtub, seakan sedang menantangnya. Tak terlalu besar namun pas dalam genggaman. Sudah juga terlihat menegang menunggu sentuhan.
Kembali mencumbui Fania dan bibirnya, dagu hingga turun ke leher istrinya itu dengan sensual juga tangannya yang masih asik bermain di kedua gunung kembar yang sudah enggan ia lepaskan. Menggigit kecil, membuat nafas Fania tersengal. Meninggalkan beberapa kissmark, jejak kepemilikan Andrew atas tubuh Fania. termasuk di belahan dada Fania. Sambil masih meremas dua benda kenyal yang empuk dan menggemaskan itu.
Tak puas kalau hanya disentuh, diusap dan diremas. “Eumh.” Fania bergumam kala bibir Andrew sudah mengecupi salah satu bagian sensitifnya itu. Bergantian hingga menj*lati dan menyesap dengan lembut puncak bukit berwarna merah muda itu.
Fania menggelinjang. Merasa geli dengan apa yang bibir dan tangan Andrew lakukan didadanya. Sensasinya sungguh luar biasa bagi Fania. Sepertinya saat pertama tak seperti ini rasanya.
“Naaald....” Fania mendesah lirih kala Andrew terus bergantian memainkan dua benda kenyal kebanggaannya itu. Memainkan ujungnya dengan tangan pada bagian yang satu dan bibir Andrew bergerilya dibagian satunya. Menjilat, mengemut. Membuat Fania frustasi karna tubuhnya sudah benar – benar merespon perlakuan Andrew di dua benda kenyal miliknya itu.
Tak sadar menggoyangkan sedikit pinggulnya hingga menggesek sesuatu yang berada dibawahnya sambil tangannya erat memegang tengkuk dan kepala Andrew.
‘Damn it. ( Sial ).’ Andrew mengumpat dalam hatinya. Sudah cukup bermain dalam bathtub, ia beranjak lalu menggendong Fania untuk membawanya ke atas ranjang. Tak perduli tubuh mereka yang basah tanpa berpikir untuk mengeringkan.
Dalam satu tarikan kain terakhir yang membalut bagian inti Fania sudah ia lepaskan. Tetap perlahan dan lembut. Sejenak menggoda Fania dengan sentuhan dan kecupan pada kaki istrinya itu, yang kini wajahnya sudah amat sangat merona dan matanya juga sudah nampak sayu menunggu si Donald menuntaskan gairah mereka.
__ADS_1
“Sshhh ....” Terdengar desisan namun bukan desisan ular saat Andrew jari Andrew menyentuh bagian inti Fania.
“You’re so wet, heart. ( Kamu sudah sangat basah sayang ).” Bisik Andrew yang lagi lagi membuat wajah Fania makin merona disertai tubuhnya yang mulai bergerak tak karuan. Sudah pasrah dengan apapun yang Andrew lakukan pada tubuhnya.
- abis berendem di bath tub kan barusan\, jadi basah lah Nal - 😏
Geli, gemas, enak!. membuat Fania mencumbui Andrew seperti halnya suaminya mencumbuinya tadi. Mengecup, menggigit, membuat beberapa kissmark dileher dan dada Andrew hingga laki – laki itu sudah memposisikan dirinya untuk memasukkan anaconda nya ke dalam goa pribadinya untuk bersarang sejenak. Ah jangan sejenak, bersarang sedikit lama dan sekalian bertelur sepertinya.
Pemandangan indah yang sedang menatapnya sayu sudah mengobrak abrik jiwa kelakian Andrew. Fania melirik pada senjata milik Andrew yang sudah tampak sangat siap untuk mengebor habis tambang emas miliknya.
“Ah!.” Fania tersentak hingga sedikit memekik. Terasa sedikit perih saat milik Andrew semakin masuk kedalam. Jemarinya meremas lengan Andrew dengan kuat semakin kuat mencengkram saat milik Andrew sudah tenggelam sepenuhnya.
“Still hurt?. ( Masih sakit? ).” Tanya Andrew sedikit heran melihat ekspresi Fania. Tapi memang ia merasakan milik Fania masih terasa sempit. Makin membuatnya hampir gila karena tak sabar.
“Sedikit perih.” Jawab Fania. Lalu Andrew mengecupi wajah dan bibir Fania.
“Maaf.” Andrew mulai bergerak amat perlahan sambil mencumbui wajah dan bibir Fania sambil juga tangannya meremas kedua benda kenyal istrinya agar mengalihkan Fania dari perih yang ia rasa. Dan itu berhasil nampaknya.
Suara desahan sudah lolos dari mulut Fania. Andrew terus bergerak keluar masuk dengan ritme yang teratur. Goa tempat anaconda sedang bersarang itu masih dirasa sempit oleh Andrew, begitu mencengkram erat dan mengurut nikmat miliknya. Terlebih lagi kaki istrinya yang sudah melingkar secara otomatis di pinggangnya. Membuat cengkraman itu makin kuat.
Fania dan Andrew saling menatap intens, menampakkan wajah menikmati sore pengantin mereka.
Cepetan Ndrew, ntar keburu maghrib.
Tubuh Fania makin menegang, kala Andrew sudah menaikkan ritme permainannya dibawah sana. Ia mengusap punggung Andrew dan makin mendesah karena gerakan Andrew yang semakin cepat dan menuntut. Kedua kakinya yang melingkar di pinggang Andrew pun spontan makin erat.
Hingga akhirnya keduanya merasakan sesuatu yang akan meledak dari tubuh mereka masing – masing. Erangan eksotis dari sepasang pengantin baru menggema di kamar mereka saat keduanya sudah mencapai puncak dari kegiatan berpacu dalam melodi cinta, yang berpadu dengan gairah dan nafsu mereka itu.
***
To be continue ..
Ayo hush hush ! bubar ! bubar !.
Inget pesen author biasa aja baca nya jangan diresapi takutnya pada kering tenggorokan 😄
__ADS_1
Like, Vote sama Komen jangan lupa.
Happy Weekend 😍😍