BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 47


__ADS_3

🍁MICHELLE🍁


🍁🍁🍁🍁🍁


Selamat membaca .....


Italy .....


Sudah beberapa waktu ini Michelle tinggal di Italia. Hasrat berbisnisnya mengikuti para anggota Keluarga Adjieran


Smith yang lainnya.


Namun Michelle tak memiliki hasrat untuk membuka sebuah butik seperti Ara atau ingin membuka kafe seperti


Fania yang masih dalam tahap perencanaan itu, yang pasti tidak mungkin terlaksana dengan support dari keluarganya untuk usaha yang akan dirintis Fania.


Michelle lebih berhasrat untuk membangun sebuah Perusahaan seperti Dad dan dua kakak laki – lakinya. Jadilah


ia belajar dengan giat dan gigih selepas ia menyelesaikan kuliahnya, dan Perusahaan Andrew di Italia inilah yang dipilih Michelle untuk belajar langsung dari Andrew dan juga Jeff yang selalu mendampingi Andrew dalam setiap bisnis yang ia punya, terlepas dari bisnis Jeff sendiri.


“Buongiorno, Signorina Michelle (Selamat pagi, Nona Michelle).” Seorang wanita cantik berwajah latin - inggris menyapa Michelle di ruangannya.


“Buongiorno, Beatrice (Selamat pagi, Beatrice).”


Michelle membalas sapaan Beatrice yang merupakan orang kepercayaan Andrew di Perusahaannya yang berada di Negara Italia ini.


“You want me to speak Italiano or English? (Anda mau aku berbicara dengan Bahasa Italia atau Inggris?).” Tanya Beatrice setengah menggoda Michelle.


“English, please. My tongue feel so tired if I speak Italiano (Inggris aja, tolong ya. Lidahku terasa pegal kalau aku


berbicara dengan Bahasa Italia).”


“Okay, okay. Just as your wish, Senorita (Oke, oke sesuai perintah anda, Nona muda).” Beatrice terkekeh. “You just like your brother. He doesn’t like to speak Italiano either (Kamu persis seperti kakak kamu yang ga suka menggunakan Bahasa Italia juga).” Ucap Beatrice.


Michelle menaikkan alisnya. “And I don’t get it why he open a Company here? (Dan aku masih ga paham kenapa dia membuka Perusahaan disini?).” Sahut Michelle dan Beatrice terkekeh lagi.


“Well, don’t know what he have been thinking, but he a great Bussinessman ( Yah, entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi tetap saja dia seorang Bisnisman yang hebat).”


Michelle manggut – manggut, mengiyakan ucapan Beatrice. “So, what schedule for today? (Jadi, ada jadwal apa hari ini?).”


Beatrice membuka buku catatan kecilnya.


“Ah, you have to meet our new mechanic (Ah, kamu harus bertemu dengan mekanik baru kita). “ Ucap Beatrice.


Michelle mengernyitkan dahinya. “Why should I meet a mechanic? (Kenapa aku harus bertemu dengan seorang mekanik?). Isn’t there a division to handle that? (Bukankah seharusnya ada divisi yang menangani itu?).”


“Well, let’s say, he’s not an usual mechanic (Yah, bisa dibilang kalau dia bukan mekanik biasa).”


“Plane mechanic, I know (Mekanik pesawat kan?. Iya aku tahu).” Sahut Michelle malas.


“Yes of course. Since this is an Exclusive Plane Company (Ya tentu saja. Karena ini memang Perusahaan Pesawat Eksklusif).”


“Hm, so? (Hm, jadi?). I have to interview him? (Apa aku harus mewawancarainya?).”


“So you have to meet him (Jadi kamu harus menemuinya). And no, you don’t need to interview him, because Andrew already accept him to join this company (Dan tidak, kamu tidak perlu mewawancarainya, karena Andrew sudah menerimanya untuk bergabung di Perusahaan ini).”


“Then why it’s so important for me to meet this mechanic. (Lalu kenapa penting untukku untuk bertemu mekanik ini?).”


“Not so important (Ga begitu penting sih). But you have to see his new design for our new product (Tapi kamu harus melihat rancangan terbarunya untuk produk kita yang terbaru juga).” Ucap Beatrice.


“You said he’s a mechanic, and why a mechanic design a jet plane? (Kamu bilang dia seorang mekanik, dan kenapa seorang mekanik mendesain pesawat jet?).” Sahut Michelle yang sedikit merasa heran.


“And I said he not an usual mechanic (Dan tadi aku bilang kalau dia bukan mekanik biasa).” Timpal Beatrice. “And because he said that he knows you personally (Dan karena dia bilang kalau dia mengenal

__ADS_1


kamu secara personal).”


******


Wajah Michelle diantara rasa terkejut dan bahagia. Ia ingin sekali tersenyum lebar dan berlari ke pelukan pria yang sudah ada di depannya saat ini. Namun yah, gengsinya masih meraja. Cinta, tapi tak mau mengiba, masih menutup diri, meski rindunya teramat sangat besar pada pria yang sedang tersenyum padanya saat ini. Cinta dalam hatinya


Michelle. Ryan, sang dosen pengganti di kampusnya saat ia masih kuliah dulu.


“Ciao, come stai Signorina Michelle? (Halo, apa kabarmu Nona Michelle?).” Pria bernama Ryan, sang dosen tampan pemilik hati Michelle yang ia simpan rapat – rapat tanpa diketahui Ryan.


“What a surprise to meet my ex – lecturer? Mister Ryan? (Kejutan sekali bisa bertemu dengan mantan dosenku?. Bapak Ryan?).” Ucap Michelle. ‘Damned, he’s hotter now (Sialan, dia makin seksi sekarang).’


“Saya pikir saya sedang berada di Italia saat ini?.” Ucap Ryan karena Michelle menjawab sapaannya dengan Bahasa Inggris. Michelle terkekeh.


“Dan aku merasa kalau aku sedang berada di Indonesia.” Sahut Michelle lalu mereka berdua sama – sama terkekeh.


“Lama ya kita ga ketemu, Chel?.” Ucap Ryan ramah dengan senyumnya.


“Yah lumayan.” Sahut Michelle. ‘Lumayan lama aku menahan rindu.’ Batin Michelle sambil menampakkan juga senyumnya.


“Aku ga sangka bisa bertemu kamu disini.” Ucap Ryan lagi.


“Memang kamu ga tau kalau ini perusahaan kakak aku?.” Sahut Michelle.


“Aku tau. Hanya ga menyangka kalau kamu yang in – charge disini.”


“Baru beberapa bulan dan hanya sementara mungkin. Aku hitungannya belajar disini. Memang Kak Andrew ga cerita?.”


“Waktu kami ketemu beberapa bulan lalu saat dikenalkan oleh Mister Luke, kami langsung berbicara soal bisnis dan pekerjaan. Kakak kamu itu ga suka berbasa – basi.”


“Yah Kak Andrew memang begitu kalau urusan bisnis sih.”


Ryan manggut – manggut dan keduanya terlibat obrolan nostalgia.


“Baiklah Nona muda Michelle, aku ga mau mengganggu kamu lebih lama. Dan pekerjaan aku juga sedang menunggu. Jadi aku rasa aku permisi dulu. Senang ketemu kamu lagi, Chel.”


“Ya?.”


“Apa sore ini ada waktu?.” Ucap Michelle setengah ragu.


“Hmmm sepertinya ada kalau untuk Bos aku yang cantik sih.”


“Baru sadar aku cantik memang?.” Ucap Michelle. ‘Garing ih gue.’ Batin Michelle bermonolog lagi.


“Sudah dari dulu sih.” Sahut Ryan. “Selain judes.”


Michelle terkekeh.


“Okay, jam lima nanti, untuk secangkir kopi?.”


“Okay. Aku tahu tempat yang bagus.” Ucap Ryan.


“See you at five then (Sampai ketemu jam lima nanti kalau begitu).”


“Oke.”



**“Pinggirin itu gengsi Chel. Kalo engga lo bakal tersiksa sendiri. Kalo emang lo cinta sama dia, ya lo bilang lah.”


“Kan gue bilang apa?, akhirnya lo tersiksa sendiri kan?. Keburu pergi orangnya. Kasih tak sampai.”


Ucapan Fania terngiang di pikiran Michelle. Ia menyesal tak mengikuti saran kakak iparnya itu dulu untuk mengungkapkan perasaannya pada Ryan saat laki – laki seumur dengan Reno itu menjadi dosen pengganti di kelasnya Michelle.

__ADS_1


Hingga akhirnya Michelle menjadi lebih akrab dengan Ryan saat laki – laki itu menjadi dosen pembimbingnya juga. Cinta ada karena sering bersama. Begitu yang Michelle rasa. Namun gengsinya menahan dia untuk mengungkapkan cintanya pada Ryan terlebih dahulu.


“ Well, Nona Michelle yang terhormat, saatnya menyampingkan gengsi dan ikuti apa yang Kak Fania bilang.” Ia bergumam sendiri di ruang pribadinya. “I love you Ryan. Kali ini aku akan meraih bahagia aku dengan kamu. ” Hati Michelle berbunga – bunga.


***


Michelle sudah berada bersama Ryan di sebuah kedai kopi yang menurut Ryan kopi yang disediakan disini adalah kopi – kopi dengan kualitas terbaik. Berikut suasana roof top yang sedikit terasa romantis.


“Kamu sudah lama berada di sini, Ryan?.”


“Sekitar tiga bulan.”


“I see (Oh begitu).”


Sejenak mereka saling diam.


“Gimana tempat pilihan aku, keren kan?.”


‘Masih kerenan kamu.’ Batin Michelle sambil menatap Ryan dengan tersenyum. “Ya aku suka. Aku belum sempat untuk sering jalan – jalan dan mengunjungi tempat – tempat asik disini. Belum banyak teman juga.”


“Well, saya bersedia menjadi guide ibu Bos kalau mau.” Ucap Ryan. “Aku baru benar – benar stay di sini selama tiga bulan. Tapi sudah sering bolak – balik, jadi aku tahu beberapa tempat yang menarik.” Sambungnya. “Aku ga keberatan kok menemani Bos cantik.”


Ryan tersenyum pada Michelle yang berada disampingnya. Yang sedang menahan debaran didadanya karena saat menoleh, wajah Ryan sudah berada sangat dekat dengan wajah Michelle saat ini.


“Ryan...” Michelle mengumpulkan segenap keberaniannya.


“Ya?.”


Cup!. Michelle menangkup wajah Ryan dan langsung mencium bibir pria itu dengan lembut. Menyalurkan cinta dan rindu yang selama ini Michelle simpan pada mantan dosennya itu.


“I love you, Ryan.”


“Chel ..” Ryan nampak sangat terkejut mendapat ciuman tiba – tiba dibibirnya dari Michelle. “Aku ..”


“Aku sudah lama mencintai kamu, Yan. Hanya aku ga punya keberanian untuk mengatakannya sejak dulu.” Michelle keburu menyambar sebelum Ryan meneruskan kata – katanya. “Aku menunggu kamu mengatakannya, kalau kamu punya rasa yang sama, tapi kamu malah balik ke Indonesia.”


Michelle masih menangkup wajah Ryan dan menempelkan dahinya pada dahi pria itu.


“Aku tahu kamu punya rasa yang sama seperti aku. Tapi kamu ga pernah mengatakannya. Aku ingin memulai hubungan, Yan. Aku rasanya udah ga sanggup menyimpan perasaan aku ke kamu ini lebih lama lagi. I Love you, Ryan.” Michelle ingin mencium Ryan sekali lagi. Berharap keterkejutan Ryan berganti menjadi balasan ciuman yang hangat.


“Chel, maaf.” Namun Ryan menghentikannya. Laki – laki itu melepaskan tangan Michelle dari wajahnya dengan perlahan.


“Jangan bilang kalau kamu mau menolak aku?.” Michelle menatap Ryan lekat – lekat. “Apa yang pernah tertunda dulu, mari kita mulai sekarang. Aku tahu, sejak dulu perhatian kamu ke aku, bentuk sayang dalam hati kamu untuk aku kan?.” Ucap Michelle dengan mata yang penuh pengharapan.


“Chel, aku memang sayang sama kamu. Tapi sayang aku hanya sebatas sayang seorang kakak pada adiknya. Ga lebih. Dan aku sudah menikah sekarang. Maaf, Chel ....”


***


To be continue ..


Noted (Mohon dibaca bae – bae ya reader othor yang blaem – blaem).


Sekali lagi kalo ada pertanyaan tentang kelanjutan kisahnya John vs si Priwitan sama kisahnya Babang Jeff, termasuk kisah cintanya Michelle nanti, cerita mereka akan muncul di sekuelnya BSS. Jadi harap bersabar yah. Sedang ditulis dan mudah – mudahan saat BSS ini selesai, Sekuelnya akan langsung di tayangkan. ( Ca elah ).


Mungkin pada tanya, Thor ceritanya kenapa lompat – lompat?. Balik lagi baca ke paragraf diatas, dan othor yang kurang Soleha ini juga udah pernah kasih noted di episode sebelumnya yah. Kelanjutannya semua kisah akan hadir di sekuelnya BSS.


Jadi sekali lagi mohon bersabar, meski othor tau reader pasti kaga sabar. Wkwkwkwk. Jadi nikmatin aja yah my


bebi bala – bala semua. Othor mau ngurutin dulu sepenggal kisah – kisahnya para peran pendamping di BSS.


Cukup jelas yah?.


Selamat membaca yawgh.

__ADS_1


Loph Loph


Emaknya Queen


__ADS_2