BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 270


__ADS_3

Selamat membaca....


 


“Ini rumah kita, Heart.”


“Beneran, D?!.” Mata Fania berbinar bahagia.


“Do you like it? (Apa kamu suka?).”


Fania mengangguk antusias. “Sangat!.”


“Come (Ayo), aku ajak kamu berkeliling.”


Andrew menggandeng tangan Fania, menyusuri tiap ruangan di rumah yang Andrew beli untuk mereka.


“Dan ini kamar kita.” Ucap Andrew. “Please come in, Mrs. Andrew (Silahkan masuk, Nyonya Andrew).”


“Wow!.”


“Bagaimana menurut kamu dengan kamar kita ini?.”


“Aku bener – bener spechless, D.”


“Aku bahagia, kalau memang kamu menyukainya.” Ucap Andrew yang melihat binar rona bahagia di wajah Fania.


Fania langsung merengkuh pinggang Andrew.


“Tapi apa ini ga terlalu besar untuk kita, D?.”


“Menurut aku sih ga terlalu besar. Masih lebih besar mansion, kan?.”


“Ya iya kalo perbandingannya Mansion Dad sama Mom sih, memang rumah ini ga sebesar itu.” Ucap Fania. “Tapi kalau untuk kita berdua, bukannya ini terlalu besar?.”


Andrew tersenyum.


“Menurut aku ini cukup. Tapi semua terserah kamu, Heart.”


Fania teringat janjinya pada diri sendiri. Ga boleh egois pada Andrew. Lagipula Andrew sudah pasti menghabiskan banyak uang untuk membeli rumah ini, dan pastinya juga sudah menaruh harapan besar kalau ia akan  menyukainya.


“Aku suka, D. Makasih, ya?.”


 “Syukurlah kalau kamu menyukainya.” Andrew memeluk Fania erat. “Beneran suka kan? Bukan terpaksa suka?.”


“Ye, enggalah. Beneran aku suka banget. Jadi kita pindah kesini, atau kayak Kak Reno dan Kak Ara?. Kadang – kadang.”


Andrew tersenyum lagi. “Terserah kamu saja, Heart.” Ucapnya.


“Terserah aku terus?.”


“Lantas?.” Andrew masih merengkuh pinggang Fania.


“Pendapat kamu, juga perlu, D.”


“Apa yang bisa membuat kamu bahagia, pasti akan membuat aku bahagia.”


Fania tersenyum.


“Ya ga bisa begitu, D. Kadar kebahagiaan seseorang kan beda – beda.”


“Kadar kebahagiaan aku, ya kamu. Hanya kamu.”


Sahut Andrew dengan cepat yang membuat Fania menggeleng dengan tersenyum.


Fania mengalungkan kedua tangannya di leher Andrew lalu menyatukan dahi dan hidung mereka.


“Aku menemui Judith tadi pagi.”


Sontak wajah Andrew sedikit berubah. Agak pias, akibat terkejut dengan apa yang Fania katakan barusan. Ada panik dan khawatir yang terbersit dalam hatinya.


‘Oh, Tuhan.’


Fania mengembangkan senyumnya. Menatap Andrew yang paniknya bercampur heran.


‘Apa Judith sudah memberitahunya?. Tapi Little F terlihat biasa saja.’


“Hey.”


Fania menyentuh wajah Andrew yang nampak sedang memikirkan sesuatu itu.


“Aku kok ga tahu kalau hari ini kamu ada jadwal periksa dengan Judith?.”


Andrew sedikit tergugu.


“Emang ga ada.” Jawab Fania santai.


“Dan... kamu ketemu Judith, untuk?.” Tanya Andrew ragu – ragu. “Apa Judith yang menelpon kamu untuk datang?.”


Fania menggeleng.


“Aku yang menelpon dia semalam. Aku yang minta ketemu.”


“Apa kamu merasa sakit?. Kenapa ga bilang aku, hem?.”

__ADS_1


Andrew menyentuh dahi Fania dan memandanginya dengan wajah yang sedikit khawatir.


“Aku hanya ingin memastikan aja, D.”


“Apa yang ingin kamu pastikan?.”


“Kondisi aku.” Ucap Fania. “Rahim aku, tepatnya.”


Deg!.


“Heart ..” Andrew mengecup dahi Fania. “Maaf... aku ga bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya takut kamu akan terbebani.”


“Aku paham, D.” Fania tersenyum manis.


“Tolong jangan membuat diri kamu terbebani, hem?.”


Fania masih tersenyum. Menyentuh wajah Andrew dan membelai lembut wajah dengan garis rahang tegas milik suaminya itu.


“Engga, D. I’m okay. Trust me. (Aku baik – baik saja. Percaya deh).”


Andrew menatap lekat – lekat manik mata Fania.


“Jangan berpikir yang bukan – bukan, hem?.”


“Aku percaya kamu, D.”


“Is it true? (Benar begitu?).” Andrew memastikan sambil tetap menelisik manik mata Fania.


“Benar.” Fania mengangguk. “Janji setia walau apapun yang terjadi antara kita?.”


“Janji, Heart.”


“Meski seandainya aku ga seberuntung Kak Ara untuk bisa hamil, dan kamu ga seberuntung Kak Reno untuk bisa menjadi seorang ayah?.”


“You might to kill me If I broken my promise to you (Kamu boleh membunuh aku kalau aku mengingkari janji aku ke kamu).”


“Aku ga sekejam itu, D.” Ucap Fania. “Hanya satu hal mungkin yang akan aku lakukan kalau kamu sampai tega bermain dibelakang aku.”


“And what is that? (Dan apa itu?).”


“Tuh.” Fania menunjuk dengan kepalanya, serta mengerucutkan bibirnya pada salah satu bagian tubuh Andrew yang hobi bersarang di guanya.


“This?  (Ini?).”


Andrew menunjuk kemana mata Fania mengarah, yang tertuju pada gajah kecil berbelalai panjang yang masih tertutup celana itu.


Fania mengangguk.


“Kenapa, mau kamu kebiri?.”


Fania menggeleng.


‘Katanya ga kejam.’ Batin Andrew bermonolog sambil juga ia tersenyum. Meski hatinya was – was. ‘Aku ga akan selingkuh, memikirkan pun engga sepertinya kalau dia sudah bicara begitu.’


“Aku ga main – main loh.” Ucap Fania masih dengan santainya, masih mengurai senyumnya.


‘Paham.’ Batin Andrew bermonolog lagi. “Iya, aku tau kamu serius kalau soal kenekatan.”


Fania terkekeh.


“Well, sebelum kamu menjadikan senjata aku gantungan kunci.” Andrew mengangkat tubuh Fania tanpa aba – aba. “Aku akan ‘mengunci’ kamu terlebih dahulu.”


Fania tergelak saat Andrew menggendongnya dan merebahkan dirinya diatas ranjang  dalam kamar, di rumah baru mereka.


Namun tak lama karena Andrew langsung mem*gut benda kenyal yang sudah menjadi candunya itu. Bergerak perlahan sampai ke ceruk leher istrinya itu.


Membuai Fania seperti biasa dengan tiap sentuhannya, membuat istrinya itu selalu bergetar meski sudah sering melakukannya.


Bola mata mereka beradu pandang, saling tersenyum, menyalurkan hasrat berikut cinta. Jantung yang selalu terpacu, akibat percikan gelora yang lama lama meledak nikmat, dari respon akan setiap sentuhan dan perlakuan pada masing – masing.


Keduanya kadang terpejam saling menerima nikmat atas panasnya sesi penyatuan di rumah baru, kamar baru dan ranjang baru. Hingga Andrew dan Fania sampai pada puncak pelepasan mereka.


*Saur Saur*


****


“Fresh (Segar) banget itu muka.”


Fania dan Andrew disambut Reno saat keduanya sudah kembali ke Mansion.


Andrew yang memang merasa kalau Reno itu sedang menyindir dirinya hanya menunjukkan wajah dengan ekspresi menyebalkan dimata Reno sambil memainkan alisnya. “Test ranjang baru, Kak Renooo.” Ledek Andrew.


“Cih!.” Reno berdecih sebal namun Andrew malah terkekeh geli.


“Eh, Kak Ren. Belum tidur?.” Fania menghampiri Reno dan mencium tangan Reno dengan takdzim. Ia dan Andrew pulang sedikit larut malam ini.


“Gue kira kalian menginap disana. Gimana suka sama rumah barunya, Little F?.” Ucap Reno seraya bertanya sambil mengacak – acak rambut Fania yang sedikit basah itu selepas adik angkat kesayangannya itu mencium punggung tangannya.


Fania mengangguk antusias. “Suka , Kak. Keren.”


“Syukurlah, kalo lo suka. Suami lo ini ribet banget waktu merenovasi itu rumah.”


“Hanya ingin memberikan yang terbaik untuk adik kesayangannya Tuan Reno Aditama Smith.”

__ADS_1


Ucapan Andrew sedikit menarik perhatian Fania. “Loh kok, Reno Aditama Smith?.”


Tanya Fania sambil memandang Andrew dan Reno bergantian.


“Memang itu nama kakak kamu sekarang. Memang kamu ga baca di berkas yang kamu tanda tangani saat di Perusahaan tadi?.”


Fania menggeleng. “Kak Reno ga pake nama Alexander lagi?.” Tanya Fania heran.


“Udah gue buang.”


“Kenapa, Kak?.” Fania penasaran.


“Ga apa – apa.” Sahut Reno dengan tersenyum.


“Tapi itu kan nama keluarga lo, Kak.”


“Bukan. Itu nama keluarga mantan suaminya Bunda.”


“Gue ga mau ikut campur masalah, keluarga lo sih Kak. Yang penting buat gue itu elo nya, Kak. Gue Cuma berdoa Kak Reno selalu bahagia, dengan Kak Ara dan kita semua yang ada disini.”


Ucap Fania dengan tulus pada kakak gantengnya itu.


“Iya, Kajol. Makasih buat doanya. Lo udah ga perlu pusing dengan mereka. Itu urusan gue. Yang penting amanat Bunda ke elo udah gue lakukan.”


Fania tersenyum lalu memeluk Reno. Andrew memperhatikan dengan tersenyum juga interaksi dua kakak beradik tak sedarah itu, yang sudah seperti saudara kandung beneran.


“Ya udah, Kak. Gue ke kamar dulu ya.”


Reno mengangkat jempolnya.


“Aku menyusul, Heart.” Ucap Andrew karena Reno sepertinya ingin bicara dengannya.


“Iya.” Sahut Fania sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti baju dan langsung tidur kayaknya, karena merasa badannya remuk redam gegara si Donald Bebek yang ngajakin nyoba ranjang baru.


**


“Lo udah bicara sama Little F?.”


Andrew mengangguk saat mereka sudah duduk di halaman belakang untuk mengobrol sambil menyesap batang nikotin.


“Dia dengar pembicaraan kita kemarin.”


Reno nampak sedikit terkejut, sedikit was – was.


“Lalu reaksi Little F?.”


Andrew menyesap satu tarikan batang nikotinnya. “Dia baik – baik saja dengan itu.”


“Lo yakin?. Gue khawatir dan takut dia merasa terbebani.”


“Jangan khawatir. Little F kita bisa menerimanya. Toh masih besar kemungkinan dia juga untuk hamil lagi.”


“Better you bring her to meet Judith (Lebih baik lo ajak dia ketemu Judith).”


“She’s already met Judith herself this morning (Dia sudah menemui Judith sendiri tadi pagi).”


Reno manggut – manggut.


“Ara jadi melahirkan di Indo, R?.”


“Jadi sepertinya.”


Gantian Andrew kini yang manggut – manggut. “And how about the Alexander? (Trus gimana itu keluarga Alexander?).”


Reno menyunggingkan senyum smirk.


“Sudah gue bereskan sebagaimana mestinya. Biar mereka merasakan rasanya mati segan, hidup tak mau.”


“Kakak sama adik sama kejamnya.”


Reno menoleh heran, tak paham maksud Andrew.


“Little F itu baik oke?. Mana ada kejam?. Kalau nekat iya, percaya.”


“Ck. Baik sih memang ia baik. Tapi kalau sudah mengancam, apalagi mengucapkan ancaman dengan senyum yang mengalahkan senyum para bidadari, Little F sama kejamnya dengan lo.”


Reno setengah terkekeh sambil menyesap rokoknya. “Kenapa lagi lo sampai diancam sama Little F?.”


“Ga kenapa - kenapa sih, hanya membahas soal janji setia, yang berujung dengan gantungan kunci.”


“I don’t understand, really (Sumpah gue ga paham).”


“Adik lo bilang, kalo gue macam – macam dia mau jadikan Junior gue gantungan kunci.”


Dan Reno pun tidak dapat menahan tawanya.


*


To be continue ...*


Maap yawgh, Cuma bisa up satu episode lagi. Ga keburu up kalo lebih soalnya. Terakhir Up sudah 21 jam yang lalu. Kalo maksain lebih dari satu nanti malah kelewat 24 jam. Turun entar popularitas emak. Wkwkwk


Doain aja otak Author nya selalu sinkron yah, kaga korslet. Biar nemuin jalur ending yang bagus dan ga nge gantung kek gantungan konci.

__ADS_1


Loph Loph


__ADS_2