
Selamat membaca .....
- - -
- - -
- - -
“Jeff! Take Fania out from here!. ( Jeff bawa Fania keluar dari sini! ).” Andrew yang geram mendengar Cindy yang terus menghina Fania menyuruh Jeff untuk membawa istrinya itu keluar dari ruangan tersebut sekarang.
Jeff mengangguk. “Ayo Jol.”
“Nald, please ... jangan gini.” Fania tak mengikuti Jeff yang mengajaknya pergi dari situ. “Udah Nald.”
“JEFF!.” Andrew berkata amat kencang hingga membuat Fania mengendikkan bahunya.
“Fania, please. Ikut gue.” Pinta Jeff pada Fania. Namun wanita itu bergeming. Matanya sudah berkaca – kaca.
Bukan takut karena bentakan Andrew barusan. Namun ia takut Andrew bertindak diluar batas pada Cindy.
“Both of you, moved from there!. ( Kalian berdua menyingkir dari sana! ).” Perintah Andrew pada dua orang yang ada di samping Cindy.
Kedua laki – laki itu mengangguk patuh dan segera menyingkir, namun tak jauh.
Andrew sudah melangkah maju dan Cindy bergerak mundur. “I said for the last time\, Jeff. Take Fania out from here!. ( ***Untuk yang terakhir gue bilang\, Jeff. Bawa Fania pergi dari sini! )***.” Andrew menoleh pada Jeff\, nampak mata dan wajahnya yang memerah karena menahan emosi.
“Fania, ayolah. Dengerin yang Andrew bilang. Please.” Jeff mengiba agar Fania menurut kali ini. Memahami kalau Andrew tidak ingin Fania melihat sisi kejam laki – laki itu.
Fania menggeleng. “Aku ga mau pergi dari sini. Engga tanpa kamu!.” Ia mencoba menahan Andrew agar tak melakukan sesuatu pada Cindy, yang sudah dipastikan buruk. “Aku mohon Nald, cukup ....”
“I can’t. I am sorry. ( Aku ga bisa. Aku minta maaf ).” Andrew setengah menoleh pada Fania. “Not before I make sure she will never do you no harm by myself. ( Tidak sebelum aku pastikan sendiri kalau dia tidak akan pernah lagi membahayakan kamu ).”
“Nald....” Ucap Fania lirih.
“Just go with Jeff. I won’t be long. ( Pergilah dengan Jeff. Aku takkan lama ).” Ucap Andrew datar kembali memandangi Cindy yang sudah sangat ketakutan pada Andrew yang seperti akan mengeksekusinya.
“Nald..... please. Jangan gini....” Fania memeluk Andrew sekali lagi mencoba menahan. Mulai terisak, tak mau melihat Donaldnya menjadi orang lain yang tak punya hati, meski pada orang yang sudah berbuat jahat padanya.
“Heart, aku mohon. Pergi dengan Jeff, Tunggu aku diatas.” Andrew menghela nafasnya. Fania menggeleng, masih melingkarkan tangannya di pinggang belakang Andrew. Erat.
__ADS_1
Menyembunyikan wajahnya yang mulai basah karena air mata.
“Jangan begini, aku mohon.... Ini bukan Donaldnya Fania....” Wanita itu berkata lirih. “Donald aku ga seperti ini ....”
Andrew terdiam. Tak lama terdengar dia menghembuskan nafas dengan kasar.
“Kita pulang sekarang.” Dia memeluk Fania yang erat memeluknya. Membuat hati Fania sedikit lega karena Andrew sepertinya tak akan melanjutkan untuk memberikan pelajaran pada wanita bernama Cindy itu lagi. “Come. ( Ayo ).”
Andrew membawa Fania berjalan pergi. Fania nampak lega, begitupun Cindy. Merasa terbebas dari kemarahan Andrew. Menyisakan sakit dan kecewa yang teramat sangat, karena jauh di lubuk hatinya dia memang benar – benar mencintai seorang Andrew Smith hingga tak rela orang lain memiliki laki – laki itu.
Memikirkan segala cara untuk mendapatkan Andrew Smith kembali sejak ia dipermalukan di Perusahaan Smith kala itu dan bahkan dipaksa untuk meninggalkan London. Hingga akhirnya ia bertemu Nick yang terobsesi pada Fania dan mulai menjalankan rencana jahat mereka untuk memisahkan Andrew dan Fania.
Namun untung tak dapat diraih Cindy. Andrew Smith mencintai wanita bernama Fania yang kini sudah resmi dinikahi oleh laki – laki itu. Terlalu mencintai, sampai Andrew tega menyiksa dan menghancurkannya seperti ini.
Andrew menghentikan langkahnya. Fania kembali merasa takut. Takut Andrew berubah pikiran dan kembali untuk menyiksa Cindy. “Nald?.” Ucap Fania pelan.
“Let her go. (Lepaskan dia).” Ucap Andrew. “Take her go, I mean. ( Bawa dia pergi maksudku ).” Andrew meralat ucapannya. “Clean up everything here! ( Bersihkan semua yang ada disini! ). Very clean!. ( Sangat bersih! ).”
Andrew menatap Jeff penuh arti.
“As your command!. ( Sesuai perintah lo! ).” Jeff setengah menyeringai. Andrew membawa Fania keluar dari ruangan itu.
Fania menatap Andrew dengan tatapan yang nampak bingung. Entah apa maksud perkataan Andrew dan Jeff tadi.
Fania menutup matanya kala sayup sayup terdengar teriakan histeris yang dipastikan adalah suara Cindy. Menarik nafasnya pelan dengan hati yang tak karuan bercampur rasa takut dan ngeri. Entah apa perintah yang Andrew maksud pada Jeff tadi. 'Jangan sampai kamu minta Kak Jeff untuk menghilangkan nyawanya, Nald.'
Yang jelas Fania tetap berjalan disamping Andrew yang menggenggam erat tangannya. Ia ingin segera pergi meninggalkan kastil kecil tersebut. Ada rasa takut dalam hatinya pada sosok Donald bebeknya, sejak ia melihat bagaimana laki – laki itu memperlakukan Cindy, tanpa ada belas kasihan dimatanya.
Ada rongga kecewa juga, mengetahui kalau laki – laki yang dicintainya punya sisi kejam yang menakutkan. Fania kembali menghela nafasnya saat sudah berada di dalam mobil bersama Andrew.
“Lupakan apa yang sudah kamu lihat tadi.” Ucap Andrew datar pada Fania saat supir sudah melajukan mobil yang ia tumpangi bersama Fania. “Semua kekacauan yang berawal di Thai hingga hari ini, jangan pernah kamu ingat lagi, okay?!.”
Fania menoleh pada Andrew yang berbicara sambil menatap dalam padanya. Hanya pandangan mata, namun tampak seperti perintah yang tak boleh dibantah oleh Fania.
Ia menggangguk pelan sembari menatap Andrew. Lalu membuang pandangannya ke arah jalan yang mobil lalui. ‘Apa dia masih Donald yang sama....’ Batin Fania dan ia mencoba memejamkan matanya.
**
“Lagi mikirin apa, hem?.” Fania tersentak kaget kala sedang berdiri termangu di balkon kamarnya dan Andrew, saat merasakan dua tangan kokoh melingkar dipinggangnya. Dan nada suara Andrew yang sudah seperi biasa menyapa ditelinganya.
__ADS_1
“Nald, ngagetin aja.” Ucap Fania mencoba bersikap biasa meski suaranya terdengar datar.
Andrew tersenyum tipis, merasakan sikap Fania yang sedikit berbeda sejak sampai di rumah tadi. Istrinya itu lebih pendiam dari biasa dan wajahnya terlihat sedikit murung. Bahkan saat makan malam pun Fania tampak sering terlihat melamun.
“Jangan memikirkan hal yang ga penting.” Ucap Andrew mempererat pelukannya meletakkan dagunya dibahu Fania.
Fania tak menjawab. Entah kenapa ia sedang enggan menanggapi Andrew. Mengalihkan pandangannya pada langit malam.
Andrew melepaskan tangannya dari pinggang Fania. Berdiri sambil bersandar di tiang balkon, sambil menyalakan sebatang rokok.
“Benci sama aku?.” Andrew bertanya datar menatap lurus kearah dalam kamar yang terlihat dari balkon.
Fania menghela nafas lagi. Pelan. “Kamu seperti bukan Donald yang selama ini aku kenal....”
Andrew menoleh. “Then?. ( Lalu? ). Merasa menyesal sekarang menikah dengan aku?.” Tanya Andrew datar sambil memperhatikan Fania nya.
Fania tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. “Ga ada penyesalan sama sekali. Hanya saja....” menggantung kalimatnya. “Aku.... shocked mungkin.”
“Do you still love me?. ( Apa kamu masih mencintaiku? ).” Andrew mematikan rokoknya lalu menarik Fania ke hadapannya.
“Masih dan akan selalu.” Ucap Fania pelan sembari memandang mata Andrew. “Jangan begitu lagi ya, please?.”
“Kiss me. ( Cium aku ).” Pinta Andrew.
Fania menangkup wajah suaminya dan memberikan laki – laki itu ciuman lembut yang dalam. Lalu melepaskan bibirnya perlahan.
“I love you. ( Aku mencintaimu ).” Ucap Fania tanpa ragu.
“Sekarang aku percaya.” Andrew tersenyum. Senyuman hangat yang Fania sukai dari laki – laki itu. Bahkan memujanya. Setidaknya bisa menghapus sedikit bayangan dari Andrew yang lain, seperti saat di Kastil tadi.
"Wajah kamu yang seperti ini yang aku tau, yang aku kenal, yang aku cinta." Ucap Fania. " Wajah dengan senyuman hangat ini."
Andrew terus tersenyum. "Don't you worry. I didn't ask Jeff to kill her. ( Kamu jangan khawatir. Aku tidak meminta Jeff untuk membunuhnya )."
"Aku lelah, Nald." Ucap Fania menghindari pembicaraan yang mungkin bisa membuat trauma dan takutnya muncul seperti saat di Kastil tadi siang.
Andrew mengangguk. Membawa Fania untuk segera beristirahat.
**
__ADS_1
To be continue ..
Jangan bosen yah diingetin terus sama Author untuk selalu meninggalkan jejak. Like, Vote dan Komen.