
Selamat membaca ...
- - -
All I ask, is .... / If this is my last night with you
Hold me like, I’m more than just a friend / Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do, what lovers do / It matters how this ends
‘Cause what if I never love again?
I don’t need your honesty / It’s already in your eyes
And I’m sure my eyes, they speak for me / No one knows, me like you do
And since you’re the only one that matters
Look don’t, get me wrong I know / There is no tomorrow
All I ask, is .... / If... this is my last night with you
Hold me like, I’m more than just a friend / Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do, what lovers do / It matters how this ends
‘Cause what if I never love again?
Lagu yang dinyanyikan Fania malam itu dengan dentingan keyboard yang dimainkan Yuza di J&L Resto ‘n Bar terdengar menggores hati. Membawa para pengunjung kafe yang mendengarnya auto baper. Seakan menggambarkan suasana hatinya malam ini yang gegana. Ah lagi – lagi Fania gelisah, galau, merana setelah mendengar seorang wanita menjawab di nomor ponselnya si Donald.
‘si Fania lagi patah hati kayaknya.’ Batin anggota band Fania yang kurang lebih sama karna melihat Fania yang meskipun bernyanyi santai sambil duduk diatas kursi bar dan standing microphone yang terletak didepannya, tapi ekspresi dan aura yang dikeluarkan sang vokalis seperti memang keluar dari hatinya.
“Ih gila, dapet banget ini si mbanya bawain itu lagu. Dalem .... “ Seperti itu kira – kira pendapat pengunjung kafe malam itu.
“Ya ampun Ka Fania. Kok gua baper sih ah. Nyampe banget sih feel nya?!.” Ucap orang yang request lagu. Gruppies nya The Boyz n Girls band kayaknya itu.
‘Ya Tuhan, Maria cinta yang hilang. Napa sih nyanyinya begitu amat lo?. Mau nangis jadinya gua kan denger lo nyanyi.’ Batin kak Rita yang juga baper. Si Manajer band tampak menghapus sedikit butiran air di ujung luar salah satu matanya dengan jari kelingking. Sementara tangan yang satu sibuk merekam Fania yang menyanyikan lagu tadi.
‘Ah, kenapalah segala ada yang request lagu ini saat hati gue begini.’ Batin Fania.
**
Flashback saat Fania menelpon Andrew tadi sore on
“‘Hello’. Suara seorang wanita menyapa.
Deg!. ‘Jadi bener?.’ Batin Fania mencelos saat mendengar suara seorang wanita yang menerima panggilan telponnya ke Andrew.
__ADS_1
“Hello?!.” Suara wanita yang seksi itu terdengar lagi karena belum mendengar jawaban Fania sepertinya.
“He – hello, can I talk with Andrew?.” Tanya Fania.
“Oh, He’s in the bathroom.” Jawab si wanita bersuara seksi.
‘Hah? Kamar mandi?.’ Batin Fania. Makin mencelos lah hatinya dengan berbagai macam hal dalam pikirannya. Mendengar seorang wanita yang sepertinya seksi dari suaranya, tambah lagi itu cewe bilang Andrew lagi di kamar mandi.
“What is it?.” Tanya wanita itu lagi.
“Um, nothing. Is he in hotel now?.” Fania balik bertanya.
“Yeah, we ’re in hotel.” Jawab si wanita dengan santai. “Is there anything else?.” Tanya wanita itu
“Oh, no Call him back later then.” Jawab Fania dan langsung memutuskan panggilannya.
Pupus sudah rasanya harapan Fania pada Donald. ‘Yang gue harap – harap, yang gue sayang – sayang, ternyata udah milik orang.’ Batin Fania dan matanya juga berkaca – kaca. ‘Mereka bahkan udah tidur bareng.’
Sakitnya tuh disini ya Fania?
Flashback saat Fania menelpon Andrew tadi sore off
**
“Dek, lo lagi patah hati?.” Tanya Vivi saat band mereka break untuk sesi pertama.
“Iya neng, lu sedih banget romannya.” Ucap Kiki yang ikut bertanya pada Fania.
“Bagi – bagi sedihnya Fan. Kita kan prend.” Sahut Samuel.
“Sedih gue belom turun honor.” Ucap Fania yang coba menutupi suasana hatinya.
“Boong lu tuh ketara Fan. Gue aja ngiringin lu pake keyboard kayak ngerasain hati lu tadi.” Kini Yuza ikut bertanya.
“Iye lu Fance, gue aja yang ga pernah patah hati, tadi pas denger lu nyanyi itu lagu sebelum break rasanya hati gue patah jadi dua.” Alan pun ikut – ikutan.
“Alda kali ah.” Celetuk Kak Rita. Membuat yang lain terkekeh.
“Set dah seriusan. Kaga pada caya amat. Sedih gue denger si Fania nyanyi tadi kayak gitu.” Ucap Alan lagi.
“Iye Maria cinta yang hilang. Ga pernah gue liat lo kayak gini sebelumnya soalnya. Share lah. Kayak baru kenal aja ama kita – kita orang.” Ucap kak Rita coba menghibur Fania yang meski coba untuk tersenyum atau sekedar tertawa, tetap saja ada guratan sedih di wajah salah satu vokalis The Boyz ‘n Girls Band.
“Cerita lah dek.” Ucap Vivi sambil merangkul Fania.
“Iye Fan, laki – laki mana yang berani bikin vokalis kita yang cantik sejakarta raya ini sedih. Biar jadi urusan gue.” Ucap Samuel coba menghibur Fania.
“Nah betul itu apa yang dibilang si gondes.” Sahut Kiki.
__ADS_1
“Wa elah. Terima kasih teman – teman akyuh yang solid.. tapi beneran gue ga apa – apa. Cius.” Ucap Fania lalu mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
“Gitu kan rahasia – rahasiaan. Aku tidak mengerti Maria!.” Nah kumat dah si manajer salah satu korban Telenovela.
Mereka semua pun akhirnya tertawa. Sambil memulai makan yang merupakan komplimen mereka dari pihak resto.
“Nih liat ekspresi muka lo pas nyanyiin lagu tadi sebelum closing.” Kak Rita menyodorkan ponselnya pada Fania seraya menunjukkan video rekaman saat Fania menyanyikan lagu All I Ask itu.
Vivi yang duduk dekat Fania juga ikut menonton rekaman video saat Fania nyanyi tadi. “Tuh kan Dek, lu nyanyi dalem banget tau.”
‘Ku rela kau dengannya asalkan kau bahagia.’
***
Italy...
“Have you called Jeff, Beatrice?.” (Apa kamu sudah menelpon Jeff, Beatrice?) Tanya Andrew pada seorang wanita saat laki – laki plontos itu datang menghampiri sebuah meja direstoran dalam sebuah hotel mewah di Italia.
“Already, Sir. He’ll be here in five minutes.” (Sudah Tuan. Dia akan sampai 5 menit lagi) Ucap sang wanita yang bernama Beatrice itu.
“Okay. Let's go then. We better wait him outside the lobby.” (Okay. Ayo jalan. Sebaiknya kita menunggu di lobi luar). Ucap Andrew pada wanita tersebut. “I want to make everything done today, so I can go back to Indo earlier.” (Saya ingin semua selesai hari ini supaya bisa kembali ke Indonesia lebih cepat).
“Okay Sir.” (Baik Tuan). Jawab wanita itu pada Andrew.
“How about the agreement? (Bagaimana dengan berkas perjanjian?). Are all set, Beatrice?. Jeff and I will be going to another meeting after this one. (Jeff dan saya akan pergi ke pertemuan yang lain setelah ini). You can go back to office and prepare my flight for tomorrow.” Ucap Andrew pada Beatrice yang merupakan sekretaris dan orang kepercayaannya di Italia.
“As your Order, Mister Andrew.” (Seperti perintah anda, Tuan). Ucap Beatrice patuh pada Bos yang ia hormati itu.
“Okay. Let’s go then.” Ajak Andrew pada sang sekertaris.
“Your cell phone Sir.” (Ponsel anda, Tuan). Ucap Beatrice sambil menyerahkan ponsel Andrew yang dititipkan padanya.
Andrew pun mengambil kembali handphonenya. “Any call?.”
“Ya, Fannya (baca - Vanya) was called if I’m not mistaken.” (Iya kalau tidak salah tadi Fannya telpon). Jawab Beatrice
“Fannya? Why she called me? Jeff is her Bos.” Ucap Andrew
“I don’t know Sir, she just ask about where are we now.” (Saya juga tidak tau, Tuan. dia hanya menanyakan kita dimana). Jawab Beatrice dengan sabar.
“Hm...”. Andrew pun segera masuk ke dalam mobil saat supirnya dan Jeff sudah tiba di depan lobby hotel.
‘I’m sure it’s Vanya who was called, but her voice sounds different?.’ (Aku yakin itu tadi Vanya kan yang telpon? Tapi suaranya berbeda sih). Batin Beatrice yang merasa ragu tapi juga meyakinkan diri sendiri kalau yang menelpon nya tadi adalah Vanya yang merupakan sekertaris pribadinya Jeff di Italia.
***
To be continue ..
__ADS_1