
Selamat membaca ..
*
Andrew berlari cepat menuju gerbang rumahnya. Dua security yang berjaga melihat Tuan Mudanya berlari seperti itu langsung beranjak dari pos penjagaan untuk menghampiri Andrew.
“Tuan Muda.” Ucap salah satu security yang namanya Nino.
“Mana Fania?. Kenapa dibiarkan pergi?!.” Sahut Andrew yang bergegas keluar dari pintu kecil gerbang.
“Tu-tuan ... .” Panggil security satu lagi yang bernama Atha.
Andrew sudah melangkah keluar gerbang lalu menoleh ke kanan dan ke kiri berharap Fania mungkin masih berjalan dan sudah pasti ia akan mengejar si Little F itu.
Kedua security yang melihat Andrew tampak saling bertatapan, namun mereka ragu untuk menginterupsi Tuan Muda mereka yang terlihat putus asa itu.
“Ah Shit!.” Ucap Andrew yang lagi – lagi mengumpat sambil memijat leher belakangnya, karna sejauh mata laki – laki plontos itu memandang, jangankan Fania, seorang pun tidak terlihat berjalan dijalanan komplek elite tersebut.
Andrew berbalik dan melihat dua security itu sedang berdiri dengan wajah yang tampak bingung, namun Andrew tidak memperhatikan karna sepertinya emosinya kini berganti pada dua security yang bisa – bisanya membiarkan Fania nya pergi tengah malam begini.
“Tu .. Tuan Muda.” Ucap Nino.
“Kalian berdua. Sudah bosan kerja disini?!.” Hardik Andrew pada Nino dan Atha. “Bisa – bisanya kalian biarkan Fania pergi!.”
“I-itu Tuan.” Atha coba berbicara namun Andrew tak menggubris.
“Open the gate.” Ucap Andrew sambil meraba kantongnya untuk mencari kunci mobil John dan melangkah masuk melalui gerbang kecil yang ia lalui tadi. “Apa kalian tuli? Saya bilang buka gerbangnya!.” Hardik Andrew sekali lagi karna melihat si dua security masih bergeming tanpa ada satupun yang berlari ke pos untuk membukakan gerbang dari tombol otomatis dalam pos mereka.
“Tuan Muda.. Nona Fania....” Nino coba kembali berbicara pada Andrew tidak lagi menatap sinis dirinya dan Atha, karena si Donald sudah hendak berjalan menuju mobil John yang tadi dia parkir sembarangan.
Andrew berlari menuju ke tempat di mana mobil John berada.
**
Fania sudah beranjak dari kursi penumpang tempat tadi dia duduk selama perjalanan dan saat Andrew meninggalkannya sendirian dalam mobil. Merasa badannya sedikit pegal karna terlalu lama duduk dan bingung
antara harus pulang atau tetap stay disitu.
Meraih sling bagnya lalu memasang headset ditelinganya lalu menyetel musik secara acak dengan volume yang lumayan besar dari ponselnya.
Bersandar pada bagian belakang mobil John yang tadi dikendarai Andrew sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
“Sbt dulu lah, baru balik deh mendingan.” Gumam Fania sambil membuka resleting tas dan mengeluarkan sekotak rokok menthol beserta korek api gas miliknya.
Fania kembali menghela nafas dalam duduknya yang kini pindah posisi di kursi penumpang belakang sambil memegang sebatang rokok yang sudah mau habis di sela jari tangan kanannya dengan kaki kanannya yang menjuntai ke bawah dan membiarkan pintu mobil terbuka lebar.
Menyesap rokok tersebut sekali lagi lalu membuangnya dan menginjak rokok tersebut untuk mematikan sebatang rokok yang sudah selesai dia hisap dan hanya tinggal puntung nya saja.
Fania mematikan musik diponsel lalu mencopot headset dari telinga dan memasukkan kedua benda tersebut ke dalam sling bagnya.
“Oke, time to go Fania.” Ucapnya pada diri sendiri lalu keluar dari mobil dengan kaki kanannya dahulu yang memang sudah ia biarkan menjuntai di luar mobil.
Menggeser tubuhnya sedikit lalu berdiri.
Brug!.
“I’m sorry .. very sorry.” Tiba – tiba saja tubuh Fania dipeluk dengan agak kencang dari belakang. Merasakan sepasang tangan kekar yang merengkuhnya, seperti enggan melepaskan dan ucapan lirih dari suara seseorang yang sangat ia kenal.
Fania sejenak terkejut, namun tak lama sebuah senyum muncul diwajahnya. Tangannya hendak meraih sepasang tangan yang tengah memeluknya dari belakang itu. Namun sepasang tangan kekar itu pun langsung membalikkan tubuh Fania sambil memegang kedua bahunya.
“Fania .. Sweety, maaf.” Ucap Andrew lirih pada Fania sambil menempelkan dahinya pada dahi Fania.
Laki – laki itu tadi langsung berlari saat setelah dia menghardik kedua security yang bekerja di rumahnya dan hendak menuju mobil John, namun ia melihat siluet seseorang yang ia khawatirkan keluar dari kursi penumpang belakang.
“Forgive me, hem?.” Ucap Andrew sambil menatap Fania dan membereskan sedikit anak rambut Fania. “Aku benar – benar minta maaf, Sweetheart.”
Fania hanya tersenyum sambil juga menatap Andrew.
“Aku pikir kamu pergi. Jangan pernah tiba – tiba pergi ya?. Hem?.” Ucap Andrew lagi yang kini menatap Fania dengan khawatir sambil merengkuh lembut wajah Fania dengan kedua tangannya. “I love you Little F, I do. Maaf udah bentak kamu ya?.”
Fania kembali tersenyum dan mengangguk lalu memeluk Andrew.
“I’m so sorry Fania, so sorry.” Ucap Andrew yang masih meminta maaf.
“It’s okay. Gue juga minta maaf.” Jawab Fania atas permintaan maaf Andrew seraya melepaskan pelukannya.
“Ya udah masuk yuk, nanti kamu sakit terlalu lama diluar.” Ucap Andrew dan dijawab dengan anggukan oleh Fania.
“Mobil Kak John belum ditutup dan kunci mobilnya juga masih ada di dalem.” Ucap Fania saat sudah setengah berjalan menuju ke dalam rumah Andrew.
“Biar aja mobil John ini.” Sahut Andrew tak peduli pada mobil si bule KW sahabatnya itu.
“Jangan gitu.” Ucap Fania sambil meninju pelan perut Andrew. “Ya udah aku tutup dulu pintu mobilnya sekalian ambil kunci, nanti malah repot kalo lupa kuncinya masih nyantol gitu.” Fania hendak berbalik lagi ke mobil John.
__ADS_1
“Let me. Kamu masuk duluan ya.” Ucap Andrew lalu menuju mobil John untuk menutup pintu mobil dan mengambil kunci yang masih tergantung.
“Tuan Muda, biar saya yang parkirkan mobilnya.” Tiba – tiba Nino sudah ada di belakang Andrew.
“Oh, okay.” Sahut Andrew yang sudah mencabut kunci lalu memberikannya pada Nino. “Kunci nanti diletakkan di tempat biasa aja.” Ucap Andrew pada si security muda itu namun badannya tegap seperti bodyguard.
“Baik Tuan Muda.” ucap Nino sopan.
“Maaf Tuan tadi kami tidak sempat bilang ke Tuan Muda soal Nona Fania yang masih ada dimobil, karena Tuan keburu lari keluar.” Kini Atha yang sudah menghampiri Nino dan Andrew ikut bicara.
“It’s okay. Saya yang minta maaf kalau tadi sempat membentak kalian berdua.” Ucap Andrew.
“Sama – sama Tuan.” Ucap Nino dan Atha pada Andrew.
“Oke, saya tinggal ke dalam dulu ya. Dan satu lagi, jangan biarkan Fania keluar dari rumah ini tanpa saya, atau tanpa ijin saya.” Ucap Andrew lalu berlalu dari Nino dan Atha.
“Baik Tuan, selamat istirahat.” Ucap Nino dan Atha lagi yang belum bergerak karna menunggu Andrew menjauh.
Andrew kembali menghampiri Fania yang ia kira sudah masuk kedalam rumah, tapi ternyata si Little F masih berdiri ditempatnya tadi.
“Kok masih disini?. Aku bilang masuk duluan, kan?.” Ucap Andrew sambil mengelus kepala Fania.
“Nunggu kamu.” Ucap Fania sambil tersenyum. Membuat Andrew juga tersenyum dan menghentikan langkahnya.
“Ulang coba.” Ucap Andrew.
“Apanya?.” Tanya Fania.
“Yang tadi kamu bilang.” Jawab Andrew.
“Apa?. Nunggu kamu?.” Tanya Fania balik.
“Thank you ya.” Ucap Andrew sumringah. “Mulai sekarang biasakan bicara seperti itu. No more gue – elo antara kita, hem?.”
“Okay.” Sahut Fania dan Andrew masih dengan senyuman di wajahnya yang seperti sudah mengukir kelegaan.
“Ya udah, yuk masuk.” Ajak Andrew pada Fania dan gadis itu pun mengangguk dengan tersenyum.
**
To be continue ...
__ADS_1