BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 30


__ADS_3

♣ NOT OVER YET ♣ Belum Usai ♣


Selamat membaca.....


“Lo sudah selidiki soal kecelakaan Fania?.” Tanya Andrew pada Reno, kala ia bersama kakak angkatnya Fania beserta dua J dan Dewa pergi untuk sekedar minum kopi di sebuah coffee shop yang masih berada dalam lingkungan Rumah Sakit tempat Fania dirawat.


“Sudah.” Jawab Reno. “Murni kecelakaan, ga ada indikasi kesengajaan.” Sambung Reno.


“Udah lo pastikan kalau itu murni kecelakaan?.” Andrew masih kurang puas, rasanya kalau ingat Fania sempat pergi dan nyawa anaknya juga terancam, dan ia kehilangan seseorang yang bekerja padanya, dirinya seketika merasa geram.


Reno, dua J dan Dewa paham perasaan Andrew. Reno pun kurang lebih sama. Merasa tidak terima atas kecelakaan yang menimpa Fania bersama Ezra dan Alex. Namun ia sudah benar  - benar memastikan kalau kecelakaan Fania bukanlah berasal dari niat buruk seseorang.


“Sudah gue pastikan, memang murni kecelakaan.” Sahut Reno. “Dari kelalaian.”


Andrew menatap Reno. “Kelalaian?.” Pandangannya menyelidik.


“Gara – gara ponsel pasti.” Celetuk Dewa.


Reno manggut – manggut. “Yah begitulah.”


“Ezra ga mungkin se ceroboh itu. Fania bilang....”


“Bukan Ezra, tapi pengendara mobil itu yang sibuk dengan ponselnya. Yang kaget melihat lampu merah, tapi bukannya menginjak rem dia menginjak pedal gas karena panik.” Reno memotong kalimat Andrew.


“Sialan!.” Andrew mengumpat kesal dan geram. “Gara – gara orang ceroboh, gue hampir kehilangan Fania dan bayi kami.” Tangan Andrew mengepal menahan geram. “Gue minta data – data orang sialan itu. Laki – laki atau perempuan?.” Ucap Andrew seraya bertanya dengan tatapan yang Reno, dua J dan Dewa paham.


“Udahlah Ndrew. Proses hukum buat dia juga akan berjalan kok.” Ucap Jeff.


“Gue minta data – data orang itu R. Siapapun dia. Atau gue yang cari tahu sendiri.” Ucap Andrew yang masih nampak kesal.


“Lo mau apa, Ndrew?. Itu orang udah ditahan juga kan?. Toh hukum disini juga jelas itu orang kena beberapa pasal. Fania dan bayi kalian juga selamat, kan?.” Sahut Dewa.


Andrew menatapnya tajam. “Lo ga akan paham perasaan gue saat datang dan melihat wanita yang paling gue cintai sudah ga bernafas dan tertutup kain putih. Apa lo tahu hati gue saat itu? Rasa bagai langit runtuh diatas kepala gue. Dan itu karena a fuckin’ man ( orang sialan ) yang bermain ponsel saat mengemudi.”


Dewa menghela nafasnya. Andrew ini memang pendendam untuk hal – hal yang sensitif untuknya. Tak puas kalau belum membalas sendiri dengan tangannya. Lebih – lebih soal Fania, wanita yang paling dicintai Andrew dunia dan akherat.


Reno dan dua J juga memilih diam. Tak guna menyela atau menyergah tiap ucapan si Donald Bebek, kalau laki – laki itu sudah emosi. Dan untuk saat ini, Diam. Adalah hal yang tepat untuk dilakukan oleh mereka yang sedang bersama Andrew.

__ADS_1


**


“D, kamu beneran yakin mau memindahkan Andrea kesini?.” Ucap Fania saat dirinya dan Andrew sudah tinggal berdua di ruang inap Fania.


Andrew mengangguk. “Aku sudah bicara pada Judith. Besok Andrea akan ditempatkan disini bersama kita.”


“Apa ga repot, D?. Di ruang bayi kan ada perawat yang standby pasti. Kalau disini nanti gimana?. Kalau Andrea ga dalam inkubator sih mungkin bisa mudah aja digendong kalau dia nangis.”


“Ga usah dipikirkan soal itu. Nanti minta perawat yang khusus standby menjaga Andrea disini.”


Andrew yang terprovokasi dengan celetukan asal Mama Bela itu langsung ambil ancang – ancang mode siaga setelah mendengar ucapan mama mertuanya itu yang bisa aja bayinya di tuker sama suster yang punya niat jahat. Hell No! Bagi Andrew.


“Kamu ga usah kepikiran banget sama omongannya si mamah, D. Dia kan suka asal aja itu, kebanyakan nonton sinetron.”


“Tapi ucapan mama ada benarnya.” Sahut Andrew. “Demi keselamatan Andrea. Aku ga mau berpikir dua kali kalau ada hal – hal yang mengganjal. Contohnya apa yang terjadi pada kamu.” Sambungnya. “Sikap aneh kamu, kata – kata kamu, yang ternyata sebuah firasat kan ternyata, dan aku ga peka saat itu.”


“D..”


“Dan aku ga ingin ada hal – hal buruk lagi terjadi pada kamu, atau Andrea. Lebih baik aku antisipasi dari awal.” Andrew memotong ucapan Fania. “Ah iya, kalau kamu mimpi aneh – aneh lagi, kasih tau aku.”


‘Ya Allah, segitunya si Donald Bebek.’


**


“Ga apa – apa.”


“D, ada apa? Jangan menyembunyikan sesuatu dari aku. Aku tau ada apa – apa.”


“Hanya sedikit masalah.” Sahut Andrew. “Jangan khawatir, hem?.”


“Ada apa?.” Fania menangkup wajah Andrew.


Andrew mendengus. “Aku kesal.”


“Kesal kenapa?.”


“Orang yang menabrak kamu dibebaskan dengan jaminan.” Rahang Andrew nampak mengeras. “Aku ga terima.” Ucapnya nampak geram.

__ADS_1


“Ya udah sih, D. Ga usah diperpanjang. Toh aku dan Andrea selamat kan?.”


“Lalu Ezra?. Dia masih kritis. Alex?. Dia kehilangan nyawanya. Dan laki – laki brengsek itu melenggang bebas sekarang. Aku ga akan tinggal diam, Heart.”


Fania menghela nafasnya pelan. Paham dengan marahnya Andrew yang ga terima. Paham betul tabiatnya Andrew. Sedih kalau ingat Alex yang sudah tiada, dan Ezra yang masih belum sadar hingga sekarang. Fatal memang, rasanya kesalahan orang yang menabrak mobil mereka. Tapi rasanya Fania ga ingin memperpanjang masalah.


“Nanti kamu ditemani Ara dulu ya, mungkin papa dan mama kamu juga Prita akan kesini menemani kamu. Mungkin Mom dan Michelle juga.”


“Kamu mau apa dan kemana, D?.”


“Aku mau buat perhitungan dengan orang yang menyebabkan kamu celaka.”


“D ....” Fania menangkup lagi wajah Andrew. “Udah ya?. Ga usah diperpanjang. Aku lebih nyaman ditemani kamu disini. Lebih tenang.” Mencoba meredam amarah suaminya. Jangan sampai melakukan hal – hal yang mengerikan seperti saat pada Cindy dulu, yang juga pernah menyebabkan Fania celaka.


Andrew menggeleng. “Aku ga bisa, Heart. Aku ga tenang kalau belum membuat perhitungan dengannya.”


“Kasian D, kalau dia hanya orang biasa. Mungkin dia punya keluarga. Kalau kamu menyusahkan dia, dan ternyata dia tulang punggung keluarganya, gimana?. Yang kasihan keluarganya.”


Andrew mendengus lagi. “Dia bukan orang biasa.” Ucap Andrew. ‘Orang biasa tidak akan melenggang dengan mudah begitu saja dari hukum dengan jaminan yang besar, atau siapa penjaminnya.’


“D, udah ya. Aku ga mau kamu terlibat masalah. Please?.” Fania mengiba.


Andrew menghela nafasnya dengan berat.


“Ya?.”


Pada akhirnya Andrew mengangguk. “Ya sudah.”


*


“I’ll go with you* ( Gue ikut dengan lo ).” Reno menghampiri Andrew, saat pria itu tampak keluar dari ruang rawat Fania.


“No need R. I can take care them by myself ( Ga perlu R. Gue bisa mengurus mereka dengan tangan gue sendiri ).” Ucap Andrew datar. “Lebih baik lo disini sama Little F. Kalau saat dia bangun gue belum kembali, bilang aja gue ke tempat Alex.”


“Ada Ara dan yang lainnya. Gue ikut dengan lo.”


**

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2