
♦TWO BLACK DRAKES♦ Dua Naga Hitam ♦
***
Selamat membaca..
♣
“Do not just standing you Moron! Knock them Out! (Jangan Cuma berdiri bodoh! Hajar mereka!).”
Edric berteriak frustasi kepada para pengawalnya.
“You guys gave been warned (Kalian sudah kuperingatkan).” Ucap Edric sambil menyeringai pada Andrew dan Reno.
Lagi – lagi duo R ‘n D ini terkekeh sinis dan nampak terkesan biasa saja, bahkan tak mengambil ancang – ancang untuk melawan pada para bodyguard Edric yang sudah dalam posisi mereka. Bahkan nampaknya pun mereka juga memiliki senjata dibalik jas mereka seperti pengawal pada umumnya.
“Sir, with all do my respect. Please, better both of you get out from here (Tuan – tuan, dengan segala hormat. Saya mohon, lebih baik anda berdua segera keluar dari sini).” Ucap salah seorang pengawal yang nampak seperti pemimpin dari para bodyguard itu. “We don’t want to be rude (Kami tidak ingin berlaku kasar).” Ucapnya lagi karena ia memang tahu dari Keluarga mana dua Tuan Muda yang sedang bersama Bosnya itu, namun bodyguard yang sedang berbicara ini sudah mengangkat pistolnya, dan kini sedang mengarahkannya pada Andrew dan Reno.
Namun Andrew dan Reno hanya melihatnya sambil menyeringai sinis dan tetap bergeming ditempat mereka dengan raut wajah datar dan biasa, kek ga ada takut – takutnya.
“Last warn, Sir (Peringatan terakhir, Tuan).” Bodyguard itu nampak sudah mengokang senjatanya. Andrew dan Reno mulai berjalan tanpa bersuara.
Srak!.
Hanya sekali gerakan tangan sekejap mata, Andrew sudah membawa bodyguard itu dalam cekalannya sekaligus merebut pistol si bodyguard itu dan melemparkannya pada Reno, sebelum Andrew memiting tangannya kebelakang dan kini tangan kanannya mencengkram dengan kuat rahang dan leher bodyguard yang tadi berbicara.
Sementara bodyguard yang tersisa masih dalam mode waspada dengan pistol mereka, namun ragu untuk menarik pelatuknya karena Andrew menyandera pimpinan mereka.
“If I move your neck into this side.. (Kalau gue menggoyangkan leher lo ke sisi ini...).” Andrew berbisik sambil menggoyangkan pelan kepala bodyguard yang ada dalam cengkraman nya itu. “The result is only two, lame or die. Which one do you want? (Pilihannya hanya dua, lumpuh atau mati. Lo mau pilih yang mana?).” Andrew menyeringai.
Dor.. Dor..
“Don’t try (Jangan coba – coba).”
Reno melepaskan tembakan dengan tiba – tiba. Kedua tangannya sudah memegang pistol menunjuk pasti ke dua arah yang berbeda, selurusan rentangan tangannya.
“Okay, okay!.” Nampak suara Edric terdengar frustasi karena Reno melepaskan tembakan dekat dikakinya. Laki – laki itu sudah mengangkat kedua tangannya.
“Sialan lo R, buat gue kaget!.” Andrew melirik sebal pada Reno yang mengendikkan bahunya, karena melepaskan tembakan secara tiba – tiba.
“Dia bergerak.” Ucap Reno santai, dengan memasang wajah innocent.
“So, answer me, which one ..... (Jadi, jawab gue, mau yang ..).” Andrew kembali berbicara pada bodyguard yang masih dalam cengkraman nya.
Namun Edric keburu bersuara lagi sebelum Andrew sempat meneruskan kalimatnya. “Shoot them! What are you guys waiting for?! Shoot them! (Tembak mereka! Kalian tunggu apa lagi?! Tembak mereka!).” Andrew mendengus.
“Ck! Bisa ga gue selesaikan kalimat gue dulu?. Moron! (B*go!).” Lagi – lagi Andrew berdecak sebal.
“Shoot them! (Tembak mereka!).”
Edric kembali berteriak, memerintah pada bodyguardnya. Ia sendiri tak bisa berbuat apa – apa, karena satu pistol sedang mengarah padanya. Dan meski berjarak, namun ia tahu, jika Reno Smith menembak dengan serius, akan ada lubang di tubuh atau bahkan dikepalanya.
Tidak, Edric masih ingin hidup, dan harapannya adalah para bodyguardnya, yang kini sudah mengarahkan pistol pada Andrew dan Reno namun masih belum bertindak. Yang sebenarnya juga para bodyguardnya itu sedang dilema, apakah mereka harus menuruti perintah Tuan mereka untuk menembak, namun dua Tuan Muda ini pun,
mereka tau bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Simalakama, antara kehilangan pekerjaan atau mendapat hukuman dari orang yang memperkerjakan mereka, atau akan diburu jika mereka menggores dua Tuan Muda yang sedang ‘bertamu’ ini.
“I won’t listen to what your Boss said if I were you (Aku tidak akan mendengarkan apa yang Bos mu katakan, kalau aku adalah kalian).” Sebuah suara dari arah pintu terdengar bersamaan dengan sosoknya. Seorang pria yang berpenampilan elegan dengan jas mahal yang nampak seperti seorang bangsawan.
Dua J tak lama muncul dibelakangnya. Berjalan santai dengan seringai sinis diwajah mereka.
“Mister Alfred (Tuan Alfred).” Para pengawal itu menyebutkan nama.
“Put your guns down (Turunkan senjata kalian).”
Pria yang dipanggil Tuan Alfred itu memberi perintah pada para bodyguard Edric dan mereka mematuhi pria itu.
“You might kill him if you holding him like that for one more minute, Mister Andrew (Kamu bisa membunuhnya jika kamu memegangi dia seperti itu sekitar satu menit lagi, Tuan Andrew).” Ucap Alfred.
“Ck. Your stinky perfume makes me want to throw up! (Ck. Parfum lo yang bau membuat gue mau muntah).” Andrew berdecak sambil melepaskan bodyguard yang tadi dalam cekalannya, yang wajahnya kini memerah karena Andrew mencekal dengan kuat.
‘Just close (Hampir saja).’ Batin si bodyguard sambil terbatuk, berusaha juga mencari udara untuk sampai ke paru – parunya. Beberapa dari bodyguard yang lain nampak membantunya.
Pria bernama Alfred itu mengangguk ramah pada Andrew dan Reno. “You guys don’t ever mess up with this Two Black Drakes (Kalian jangan macam – macam dengan Dua Naga Hitam), if you want to live ever after with your family and want to have a long life in a peace (kalau kalian ingin hidup tenang bersama keluarga kalian dan mau hidup lebih lama dalam damai).”
Ucapan Alfred membuat para bodyguard itu membelalakkan mata mereka, termasuk Edric.
‘T-two Black Drakes? ... them ..??!! (D-dua Naga Hitam?.. itu mereka ...??!!).’ Para bodyguard itu bergidik ngeri.
‘W-what?! (A-Apa?!).’ Edric ikut merinding, setelah mendengar ucapan Alfred.
**The Two Black Drakes
Tak pernah sengaja mengusik orang lain dalam bisnis apapun yang orang itu jalani, karena The Two Drakes punya ‘Kerajaan’ mereka sendiri.
Berita yang tersebar tentang mereka hanya dua orang kakak beradik yang punya ikatan diantara dua dunia. Yang jelas bukan dunia gaib. Dua dunia, putih dan hitam, atas dan bawah.
Mengapa bisa disegani, karena mereka berbaur dengan segala kalangan. Tak memilah – milih untuk berteman dengan siapapun dan akan dengan senang hati membantu semua orang yang tulus menolong mereka, terlepas
mereka berasal dari dunia yang mana.
Hanya satu peraturan, jangan pernah mengusik keluarga kedua kakak beradik ini. Dua Naga Hitam yang lebih banyak tidur ini, akan segera terbangun dan menyemburkan api.
Dihormati dan disegani dalam Bisnis yang mereka jalani dalam kehidupan normal mereka seperti pengusaha kaya pada umumnya, disegani bahkan enggan untuk sekedar sedikit mengusik, setelah tahu akhir dari orang – orang yang pernah berurusan dengan mereka berdua. Orang – orang dari dunia bawah yang hitam dan pekat dan kini menghormati mereka sebagaimana mana orang – orang itu menghormati sang Ayah. Anthony Adjieran Smith.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa yang tepat untuk Andrew dan Reno karena mengikuti jejak sang Ayah, meski Reno bukan anak kandung keluarga Adjieran Smith. Bahkan duo ini lebih kuat dari sang Ayah. Of course, mereka berdua kan?. Satu Naga saja sudah berbahaya, bagaimana kalau dua?.
Baik Dad, maupun dua putra terkuatnya ini tak pernah mau ikut campur urusan orang lain atau pun bisnis orang lain. Terserah jalan mana yang mereka mau ambil, hanya jangan pernah bermain curang, atau bahkan mencobanya. Pada mereka, pada keluarga Adjieran Smith.
Mungkin Dad Anthony pernah berkecimpung di dunia hitam, namun itu dulu, sebelum dia bertemu dan jatuh cinta pada Mom Erna. Dunia hitam dia tinggalkan, namun tetap ada ikatan. Segelap apapun dunia itu, masih ada teman yang masih layak untuk disebut keluarga.
Menurun pada dua Putranya ini. Andrew dan Reno. Meski tak memiliki bisnis hitam dan ilegal, namun mereka punya ikatan kuat juga dengan dunia ini.
The Two Black Drakes menjadi sebutan untuk Andrew dan Reno, setelah mereka membabat habis satu klan mafia yang pernah sekali mencoba mencelakai keluarganya. Masuk ke dalam kandang singa dengan strategi, termasuk nyali yang besar, disaat usia mereka sedang beranjak dewasa. Entah apa dan bagaimana, hingga kini pun klan itu tak pernah lagi ada, tak ada satupun lagi dari mereka yang pernah muncul ke permukaan.
Setelah itu, tak ada lagi orang yang berani mengusik mereka. Hanya penjahat baru, receh, naif atau memandang Andrew dan Reno sebelah mata. Hanya pebisnis muda yang kebetulan sukses atas nama Keluarga dan bayang – bayang sang Ayah. Begitu sih, tampak luarnya.
Tak tahu siapa Duo ini sebenarnya.
__ADS_1
Meski hanya segelintir orang saja yang tahu identitas asli The Two Black Drakes ini, namun sebutan mereka sudah cukup terkenal untuk satu peringatan. Jangan cari masalah dengan mereka, terlebih keluarganya dan orang – orang yang begitu berarti dan mereka cintai, jika ingin hidup dalam keselarasan hidup yang sudah demikian dijalani.
Kalau tidak ya, bersiap untuk menjalani hidup, dimana kematian adalah hal yang indah.
*****
“You guys don’t ever mess up with this Two Black Drakes (Kalian jangan macam – macam dengan Dua Naga Hitam), if you want to live ever after with your family and want to have a long life (kalau kalian ingin hidup tenang bersama keluarga kalian dan mau hidup lebih lama).”
Ucapan Alfred membuat para bodyguard itu membelalakkan mata mereka, termasuk Edric.
“You praise us too high, Alfred (Kamu terlalu memuji, Alfred).” Ucap Andrew. “Damned, his smell last in my trouser. My lovely Fania will not gonna like this smell (Sial, baunya membekas di kemeja gue. Fania gue tersayang ga akan suka bau ini).” Si Donald Bebek sibuk mengendus kemejanya sendiri, disaat beberapa orang sedang dalam posisi tegang.
‘Sempat – sempatnya dia mikirin si Fania bakal komplain ama bau parfum lagi begini juga. Haaahh ....’ Batin dua J kira – kira.
Reno hanya menggeleng melihat kelakuan Andrew.
‘We’re ready (Kami siap).’ Sebuah suara terdengar di alat yang terpasang di telinga Andrew dan Reno.
“Where? (Dimana?).” Reno yang bersuara dengan bertanya karena Andrew masih sibuk komplain soal bau si bodyguard yang ia cengkram tadi.
‘South tower of that house, behind (Menara selatan rumah itu, dibelakang).’
“Okay, we’re heading there (Okay, kami kesana).” Reno lagi yang menjawab. “Drew. Let’s go! (Drew ayo!).” Ajak Reno pada Andrew yang nampak masih ngedumel soal bau yang sudah menempel di bajunya.
“Change you perfume a***ole! Your perfume smells like a pig! (Ganti parfum lo sialan!. Bau parfum lo seperti bau babi!).” Si Donald Bebek masih ngedumel sembari memandang kesal pada si bodyguard yang nyawanya hampir hilang di tangan kekarnya itu.
Sementara dua J hanya cengengesan melihat kelakuan Andrew saat ini.
“Alfred, We leave your brother to you. We’ll take care of him after this (Alfred, kami tinggalkan adik lo sama lo. Kami akan mengurusnya setelah ini).” Ucap Reno pada Alfred yang mengangguk pelan padanya dan melirik Edric sekilas.
‘Siapin senjata kalian, dia ga sendirian. He has a preparation (Dia punya persiapan).’
Suara dari alat komunikasi ditelinga Andrew dan Reno terdengar lagi.
‘Bangsawan apa mafia sih mereka nih?.’ Suara itu terdengar lagi.
“Berapa orang?.” Tanya Reno lagi, Andrew diam sambil terus berjalan cepat sambil mengokang senjatanya.
‘Satu kompi. Kayaknya dia tau lo berdua bakal cari dia. Dipikir lo mau acak – acak bisnisnya kali. Selain dia tau si botak dendam sama dia.’
“Oh iya dia dibackup Pedro Gonzales.” Celetuk John yang sudah siap dengan senjata ditangannya berikut Jeff yang juga sudah siap sedia dengan senjatanya.
“Cih!.” Reno berdecih. “Ga jera juga itu orang!.” Ia menggerutu. “Apa orang kita cukup?.”
‘Lebih dari cukup untuk membuat banyak lubang di tubuh mereka.’
“Eldron punya gue, Wa!.” Ucap Andrew kencang pada Dewa yang sedari tadi bicara melalui alat komunikasi mereka. “Bajingan yang sudah membuat Fania gue celaka dengan fatal. Dia urusan gue!.”
‘Iya Donald Bebek!.’
“Kami hampir sampai.” Ucap Reno yang juga sudah mengokang senjatanya.
‘Hamba menunggu perintah.’Ucap Dewa pada Reno.
**
__ADS_1
To be continue..