
Selamat membaca ...
London...
“Heart.” Panggil Andrew pada Fania kala mereka sedang menikmati waktu selepas makan malam di balkon kamar mereka sambil keduanya menyesap rokok sambil mengobrol.
“Hem?.” Sahut Fania seraya menoleh setelah mengecek ponselnya.
“Sini.” Ucap Andrew sambil menepuk pahanya. Salah satu hal yang sudah menjadi hobinya untuk memangku istrinya itu. Fania mengikuti arahan Andrew dan langsung duduk diatas paha suaminya.
“Kenapa?.” Tanya Fania sambil memandang Andrew.
“Mau bulan madu dimana?.” Andrew balik bertanya sambil mengecup Fania sekilas.
“Ga harus kan?.” Jawab Fania dengan pertanyaan. “Buat acara Pernikahan sudah menghabiskan terlalu banyak uang. Ya kamu, Dad sama Mom pasti. Kak Reno sama Kak Ara juga.”
“Ya terus kenapa. Lebih banyak uang aku pribadi juga kok. Mereka hanya ingin berpartisipasi ga mungkin aku tolak.” Ucap Andrew. “Lagipula uang aku masih cukup untuk Honey Moon ( Bulan Madu ). Masih banyak. Don’t you worry ( Kamu jangan khawatir).”
“Sombongnya suami aku ni.” Ucap Fania sambil meraup wajah Andrew dengan gemas.
“Dari lahir.” Sahut Andrew dan membuat Fania terkekeh. “I’m serious, okay?. ( Aku serius oke? ). Kamu mau bulan madu kemana?.”
“Kamu emang udah ga sibuk?. Nanti pekerjaan kamu terbengkalai, Nald.” Jawab Fania. “Kan Perusahaan disini juga Perusahaan Keluarga Smith, bukan Perusahaan kamu pribadi. Banyak pula itu.”
“Ga usah khawatir soal Perusahaan dan pekerjaan aku. Lupa, suami kamu ini Bos, hem?.” Ucap Andrew yang sudah menghabiskan sisa rokok dan menyisakan puntung yang sudah dimatikan dalam asbak.
“Bos kan justru besar tanggung jawabnya.” Ucap Fania yang juga sudah mematikan rokoknya.
“I have a lot of people to handle everything, my love. ( Aku punya banyak orang yang bisa mengerjakan semuanya, sayangku ).” Menghirup aroma tubuh Fania yang sangat Andrew sukai.
“Emang kenapa sih kalo kita ga bulan madu?. Sama aja kan, disini juga aku dianiaya juga.” Sahut Fania dan Andrew terkekeh.
“Tapi suka kan?.” Goda Andrew. “Buktinya semalam agresif banget.”
__ADS_1
“Dih?.” Ucap Fania dengan wajah yang setengah malu – malu dan membuat Andrew lagi – lagi terkekeh.
“Ya udah tentukan mau bulan madu kemana?. Biar aku minta Jeff untuk menyiapkan semuanya.” Ucap Andrew meneruskan pembahasan tentang bulan madu mereka. “Masa aku ga ajak istri aku yang cantik ini bulan madu sih?.”
“Serius, aku sih. Ga penting – penting amat buat aku.” Sahut Fania.
“Pentinglah.” Sahut Andrew. “Lagipula nanti itu kalau aku ga bawa kamu bulan madu. Kakak kamu itu tuh akan habis sindir aku.”
“Masa sih?. Kak Reno itu baik tau.” Ucap Fania setengah terkekeh.
“Sama kamu iya, baik. Tapi kalau sampai aku ga ajak kamu bulan madu, habis aku pasti disindir dia.” Timpal Andrew. “R itu spicy ( pedas ) mulutnya.”
Fania tersenyum. “Ya udah terserah kamu aja. Asal jangan terlalu berlebihan. Dan ga mengganggu pekerjaan kamu.”
“Kamu maunya kemana, sayang....?.” Tanya Andrew lagi dan Fania tampak berpikir.
“Thailand gimana?. Kayaknya seru.” Jawab Fania.
“Oke!.” Sahut Andrew cepat. “Besok akan mulai dipersiapkan kalau begitu.” Lalu langsung mengangkat tubuh ramping Fania.
“Mikir apa, hem?.” Goda Andrew. Dijawab dengan ayunan pelan tangan Fania pada wajahnya.
“Mikir kamu lah siapa lagi yang doyan mesumin aku.” Ucap Fania hingga Andrew sampai pada ranjang mereka. “Dah ah aku mau tidur.” Fania menggeser badannya sedikit naik agar bebas dari kungkungan Andrew.
“Tidurlah kalau bisa.” Andrew tersenyum smirk sambil membuka kaosnya dan lebih menghimpit kedua kaki Fania dibawahnya.
**
Andrew dan Fania kini sudah berada di Thailand yang merupakan oasisnya Asia Tenggara, untuk menikmati masa bulan madu mereka. Serentetan jadwal tempat yang akan mereka kunjungi di negara itu pun sudah dikantongi.
Tak perlu repot sebenarnya, karena akan ada tour guide yang senantiasa menemani Andrew dan Fania. Serta beberapa orang yang kasat mata bagi Fania tapi tidak untuk Andrew karena mereka dibawa hanya untuk sekedar berjaga – jaga dengan sedikit berjarak, tentunya tak nampak dan tak diketahui oleh Fania.
“Wow.” Fania berdecak kagum kala dia dan Andrew sudah berada di pantai yang menjadi salah satu destinasi wisata di Thailand. Pantai yang didominasi pasir putih berkilau dengan pulau-pulau dari batuan kapurnya menjadikan kombinasi kemegahan alam yang tiada duanya.
Andrew sudah pasti memanjakan Fania, dari mulai Villa tempat mereka menginap disana dan membawa Fania mengunjungi destinasi wisata terbaik di sana. Agar membuat bulan madu mereka berkesan bagi keduanya.
__ADS_1
“No bikini okay? ( Jangan pakai bikini ya? ).” Ucap Andrew sambil seperti biasa memeluk Fania dari belakang sembari menikmati keindahan Rai lay Beach saat ini. Pantai yang memilik panorama yang indah dan menenangkan jiwa karena tidak terlalu ramai wisatawan.
Andrew tak pernah mengatur cara berpakaian Fania, karna baginya selama ini pakaian Fania bisa dibilang wajar. Meski kadang seksi tapi Andrew masih bisa bertoleransi dengan kenyamanan Fania, namun dengan catatan pakaian yang Fania gunakan tidak terlalu profokatif yang mengekspos tubuh.
“Ini pantai lah.” Celetuk Fania.
“Short pant still okay. Bikini No. Big No! ( Celana pendek masih okay. Tapi tidak bikini. Sangat tidak boleh! ) Titik!.” Ucap Andrew datar namun penuh penekanan. Tak rela tubuh Fania yang digilai nya menjadi asupan publik terlebih lagi para pria yang tak mungkin tak memandang istrinya nanti.
“Oke, oke.” Fania mengalah.
“Istri yang penurut.” Ucap Andrew tersenyum sambil mengacak rambut Fania. Lalu mengajaknya berkeliling menyusuri sisi pantai sambil bermain dengan riaknya air. Berlari, berkejaran dengan tawa bahagia yang tak lepas. Lalu kembali ke Villa mereka setelah puas bermain di pantai untuk beristirahat.
Keesokan malamnya Andrew dan Fania makan malam di salah satu restoran terbaik yang ada di negeri gajah putih tersebut. Salah satu restoran yang menyajikan makanan Thailand dengan penyajian yang sangat bagus, sambil dihibur oleh para penari yang menarikan tarian tradisional Thailand lengkap dengan pakaian adat mereka.
“Heart, aku ke toilet dulu ya.” Pamit Andrew pada Fania saat mereka berdua sudah duduk dalam restoran dan akan memesan menu.
Fania mengiyakan dengan tersenyum dan mengangguk.
Malam ini restoran pilihan Andrew yang memang sudah diatur sebelumnya sedikit ramai namun tidak penuh. Ada beberapa pasangan mesra seperti Andrew dan Fania, ataupun yang sedang makan malam bersama keluarga hingga beberapa orang yang nampak seperti pebisnis dengan setelan jas yang bertengger di tubuh mereka.
Fania yang duduk sendiri di area outdoor restoran malam itu karena Andrew sedang ke toilet lumayan menjadi perhatian para kaum adam yang berada di satu area dengannya.
Wajah cantik Fania tak bisa membuat para pria tak menoleh atau sekedar melirik. Yang kadang membuat Andrew merasa sedikit kesal pada para laki – laki yang memperhatikan istrinya itu.
Beberapa pebisnis muda yang nampaknya baru menyelesaikan pertemuan mereka terlihat memasuki area outdoor restoran tersebut untuk merilekskan diri mereka sepertinya setelah berkutat dengan meeting sambil menikmati hembusan angin malam dengan gemerlap lampu dan pemandangan indah ke arah Chao Praya.
Seperti para lelaki yang lainnya saat melihat Fania duduk sendiri disebuah meja sambil sesekali membenarkan rambutnya yang terkena hembusan angin, para pebisnis muda yang baru saja memasuki outdoor itu pun langsung memposisikan mata mereka pada seorang wanita cantik dengan rambut hitam bergelombang ber highlight coklat yang membuatnya terlihat seksi walau hanya dari wajahnya saja.
Fania sekilas menoleh pada pebisnis muda yang baru masuk itu, sebenarnya sekalian mengecek Andrew sambil mengedarkan pandangannya. Menunggu suaminya datang agar memesan makanan bersama.
Merasa sedikit diperhatikan dengan intens, Fania mengalihkan pandangan ke arah Sungai di sisi resto sambil menunggu Andrew. Ogah menatap ke arah depannya karena para pebisnis muda tadi kebetulan berada tak jauh dari mejanya.
“Fania?.” Sebuah suara berat, namun tak seseksi suara berat milik Andrew membuat Fania mengalihkan pandangan ke sumber suara.
*
__ADS_1
To be continue...*