
♦TAKE ME! BUT NOT MY BABY....♦Ambil Aku! Jangan Bayi ku♦
*
Selamat membaca ...
“Mama....”
“Sayang?....”
“Mama....”
“Sayang?....”
***
“Sayang....” Fania terbangun dan secara reflek mengusap perutnya dengan senyuman yang terbersit dibibirnya, setelah bermimpi ada suara anak kecil yang memanggilnya mama. Hanya sebuah suara, namun Fania bahagia, meski sedikit merasa aneh, karena anak kecil yang memanggilnya ‘mama’ itu tidak nampak sampai Fania keburu bangun. “D, bangun calon papa. Subuh dulu.”
“Morning, Heart (Pagi Sayang).” Sapaan Andrew setiap kali ia bangun dari tidurnya dipagi hari, dengan suara khas bangun tidurnya yang terdengar seksi ditelinga Fania. Morning Heart, Hey Heart, Nitey Nite Heart. Sapaan yang sudah akrab ditelinga Fania disetiap waktunya.
“Morning my D, my beloved hubby (Pagi D ku, suamiku tercinta).” Sama halnya dengan Fania yang selalu tersenyum setiap kali Andrew menyapa mesra saat laki – laki itu membuka mata, begitupun Andrew yang mungkin lebih – lebih merasa bahagia, setiap kali Fania berlaku mesra padanya.
“Heaven (Surga).” Ucap Andrew yang menemukan wajah cantik Fania yang tersenyum padanya saat ini. Anugrah dari Tuhan yang selalu disyukuri oleh Andrew. Fania, wanita yang berarti segalanya untuk seorang Andrew.
Fania menarik lagi sudut bibirnya. Mengecup sekilas kening Andrew, namun lembut dan penuh cinta. Balasan dari Andrew sudah pasti kecupan dibibir Fania. “Jamaah yuk.” Ajak Fania dan Andrew pun mengangguk.
“Mau berdua saja atau mau bersama dengan yang lain di ruang ibadah?.”
“Bareng aja sama yang lain.”
“Okay.”
****
“Halo my Little prince.. anak capa cih nih meni hensom pisan.” Sapa Fania pada ponakan mungilnya itu saat ia sudah sampai di butiknya Ara.
Fania langsung menghujani wajah tampan nan imut itu dengan ciuman yang bertubi – tubi, dan Varen nampak tidak terganggu dengan kebiasaan tantenya itu, anak itu bahkan selalu terkekeh geli setiap mendapatkan hujan ciuman dari Fania diwajahnya. Ara pun selalu tersenyum setiap kali melihat interaksi Fania dan pangeran kecilnya itu.
“Mamma, Ags! (Mama, hugs).”Ujar Varen yang pengucapannya yang kadang cadel dan kadang lancar itu dan terkadang juga sedikit sulit dipahami oleh orang – orang disekitarnya. Tapi Fania selalu paham dengan apa yang dimaksudkan Varen dalam ucapannya.
Entah kenapa juga Varen memanggil Fania dengan sebutan Mama, padahal selama ini Fania dibahasakan dengan sebutan Aunty padanya.
“You want a hug? (Kamu mau dipeluk ya?).”
“Yap, Ags! (Iya, peluk).” Ucap Varen yang sudah membuka tangannya untuk memeluk Fania.
“Ululu ....” Fania yang gemas itu langsung memeluk Varen dan membawanya keatas pangkuan.
“Hati – hati Sweety.” Ucap Ara yang melihat Fania memangku Varen.
“Santai Kak Ara.” Sahut Fania.
“Baby! (Bayi!).” Varen menunjuk perut Fania yang buncit itu. "Baby inside your tummy (Bayi didalam perutmu)."
“Smart Prince. You know there’s a baby inside? (Pangeran yang pintar. Apa kamu tau kalau ada bayi didalam sini?).” Ucap Fania dan Varen mengangguk sambil tersenyum.
“Of colse(course). I’m smart! (Tentu, aku pintar!).” Sahut Varen dengan nampak pongah. Membuat Fania dan Ara spontan terkekeh.
“Mirip bapaknya banget kalo udah keliatan sok begini dah ah!.” Celetuk Fania.
“Mamma, I don’t understand! (Mamma, aku tidak mengerti).” Ucap Varen mendengar ucapan Fania yang barusan.
“You don’t understand what I have said? (Kamu ga mengerti apa yang aku bilang barusan?).” Tanya Fania pada Varen yang masih duduk dipangkuannya itu. Sementara masih sedikit berjibaku dengan pekerjaannya yang sempat tertunda karena bermain dengan Varen sebelum Fania datang.
Varen menggeleng.
__ADS_1
“Nanti ye, Mamma ajarin bahasa betawi. Oke?.” Ucap Fania sambil terkekeh dengan menggoda Varen yang nampak lucu dengan wajahnya yang kebingungan.
Varen memandang Fania dengan wajah bingungnya yang menggemaskan. “Okay, Mamma!.” Namun ia menyahut oke ucapan Fania.
“Varen, can you move from mama’s lap? (Varen, bisa bergeser dari pangkuan mama?). She might be tired (Nanti dia lelah).” Ucap Ara.
“Okay Mommy!.” Sahut Varen yang beringsut dari pangkuan Fania. Dimata Fania itu Varen termasuk anak yang cerdas, mampu menelaah setiap kata – kata orang dewasa dan ia sudah berbicara dengan lancar meski kadang cadel.
“Biarin sih Kak.” Ucap Fania saat Ara menyuruh Varen turun dari pangkuan Fania dan kembali bermain dengan mainannya yang sudah disediakan dalam butik milik Mommy nya itu. Bahkan sudah ada ruangan khusus untuk Varen bermain di dalam butik Ara, lengkap dengan peralatan tidur jika Varen sudah merasa lelah.
“Andrew, masih belum mau cek jenis kelamin bayi kalian, Sweety?.” Tanya Ara yang sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kini sudah duduk di dekat Fania sambil memperhatikan Varen yang asik bermain ditemani dua orang karyawan Ara dibutik dan Lita yang akhirnya diambil Ara dari kediaman Smith untuk menjadi pengasuhnya Varen.
“Ya begitulah. Dia mau itu jadi kejutan katanya.”
“Sebelas dua belas dengan kakak kamu emang dia.” Ara dan Fania terkekeh.
“Eh iya Kak Ara, semalem gue mimpi tau Kak. Ada suara anak kecil yang manggil gue Mama. Tapi gue cari – cari ga keliatan. Gelap.” Ucap Fania. “Kira – kira itu artinya apa ya, Kak?.”
“Alah kamu nih, sudah lama tinggal di London, masih aja percaya hal begitu. Mimpi itu hanya bunga tidur.”
“Yah, kali ada artinya.”
“Kamu jangan terlalu berpikir berat Sweety. Jangan terlalu banyak prasangka. Nanti kamu was – was, yang ada stress sendiri, malah bahaya buat bayi dan diri kamu sendiri.” Ucap Ara. “Stress itu bisa memicu segala hal.”
“Iya sih.”
“Lagipula, mimpi itu kan kadang terjadi karena kita meresapi film, buku mungkin. Atau ada kejadian dalam hari yang kita jalani yang lumayan berkesan sampai bisa terbawa mimpi. Bisa jadi kamu lagi keingetan sama itu tuh anaknya
Reno Aditama yang manggil kamu ‘Mamma!’.”
Ara dan Fania sama – sama terkekeh lagi.
“Bisa jadi.”
“Pokoknya kamu harus jaga kondisi. Ga Cuma fisik, tapi hati dan pikiran juga. Mom happy, begitupun bayinya.”
“Oh iya, Sweety, ngomong – ngomong hasil tes kamu waktu itu sudah keluar?.” Tanya Ara.
“Katanya hari ini. Nanti Andrew sendiri yang mau ambil terus dia jemput gue disini.”
***
Perusahaan Smith
“Ndrew, sudah lo ambil hasil tes nya Fania?.” Tanya Reno yang menyambangi Andrew di ruang kerja pribadinya.
“Ya already (Ya sudah).” Jawab Andrew.
“Apa ada sesuatu yang kurang bagus?.” Tanya Reno lagi. “Sekalian ketemu Judith juga saat ambil hasil tes?.”
“Iya.” Sahut Andrew.
“So? (Lalu?).”
“sejauh ini semuanya bagus, baik Fania maupun bayi kami. Gue juga sudah meminta Judith menjelaskan secara detail hasil tesnya.”
“Nah lo kenapa masih keliatan khawatir?.”
“I just feel anxious, R. What Fania said to me that day, is really makes me can’t stop to feel worry about her (Gue hanya merasa gelisah, R. Apa yang Fania bilang waktu itu ke gue, benar – benar ga bisa membuat gue berhenti
mengkhawatirkan dia).” Ucap Andrew sedikit lirih.
Reno menghela nafasnya. “Mungkin itu hanya perkataan Fania sepintas lalu, Ndrew. Dia mungkin takut, secara dia punya gangguan riwayat medis, dan dia khawatir berlebihan. Toh Judith sudah memastikan kalau Fania baik – baik aja kan?.”
“Tapi kehamilan Fania tetap saja punya resiko, lebih dari wanita yang kondisi medisnya normal seperti Ara. Dan gue belum, No, gue ga siap dengan resiko itu. Kalau soal takut, Justru gue yang lebih takut. Paranoid about her safety (Parno tentang keselamatannya).”
“Kita kan sudah menempatkan Alex dan Ezra untuk menemani Fania dan menjaganya. Take a chill pill, Man (Santailah, Ndrew).”
“Masalahnya kadang kalau dia bicara tentang sesuatu hal yang ga enak, untuk gue itu seolah firasat dia yang tak sengaja terucap.”
__ADS_1
Reno dan Andrew sama – sama terdiam. Larut dalam pikiran mereka masing – masing.
“Dan kalau gue memang harus memilih, R. Lo tau persis siapa yang akan gue pilih. Tak perduli kalau nantinya dia akan membenci gue seumur hidupnya.”
***
“D, kita mau kemana?. Muka kamu tegang begitu sih?. ”
“Hospital (Rumah Sakit).”
“Untuk?.”
“Menyelamatkan kamu.”
“Menyelamatkan aku?. Maksudnya?.”
“Maaf, Heart.”
“D?. Aku ga ngerti.”
“Aku memilih kamu.”
“Apa?. Memilih aku? Memilih aku untuk apa?.”
“Ikhlaskan ya?.”
“D, aku ga paham, apa? Apa maksudnya?. Ikhlaskan apa?.”
“Bayi kita.”
“Bayi kita?. Kenapa aku harus ikhlaskan bayi kita?!. D? Jangan buat aku takut!.”
“Do it Judith (Lakukanlah Judith).”
“Mau apa, D?!. Judith?!.”
“Take the baby out and save my wife (Keluarkan bayinya dan selamatkan istriku).”
“Apa?!.”
“..”
“Engga jangan, D!.”
“...”
“D, aku mohoooon, jangan D....!!!. Jangan korbankan bayi kita! D!!!
....”
“....”
“Jangan ambil dia.. aku mohoon D .. aku mohon jangan..... D....”
“....”
“Judith!!!. Don’t! please .. (Judith!!! Jangan! aku mohon...). D !!!... please ...”
“Heart..”
“Take me! (Ambil aku!) Take me God, just take me! (Ambil aku Tuhan, ambil saja aku!).”
“Heart ....”
“Take Me! But Not My Baby! ... (Ambil Aku! Tapi Jangan Bayiku!).”
**
To be continue....
__ADS_1