BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 50


__ADS_3

Haiii ... para readernya BSS yang blaem – blaem. Maacih masih setia nungguin updatenya BSS yang kaga abis – abis ceritanya ini. Wkwkwkwk.


Maap update rada slow, karena satu dan lain hal.


Othor Cuma mau ucapin makasih dan semoga kalean selalu hepiii !!!!!


Selamat membaca, dan mungkin beberapa episode ke depan, BSS akan tamat.


So, sekali lagi selamat membaca part – part terakhir dari Bukan Sekedar Sahabat


*********************


🍁 THE BROKEN HEART COUPLE 🍁 Pasangan Patah Hati


Selamat membaca ....


“I want to be responsible to what I have done ( Aku ingin mempertanggung jawabkan apa yang telah aku lakukan ).”


Ucap Dewa. “I’ve ‘touched’ her. ( Aku sudah ‘menyentuhnya’ ).”


Bughhhh!


“D!.”


“Kak Andrew!.”


“Andrew!.”


Fania, Michelle dan yang lainnya memekik saat Andrew melayangkan tinjunya pada wajah Dewa dan pria yang baru saja bilang ingin menikahi Michelle karena sudah menyentuhnya itu terhuyung.


Reno dan John langsung sigap menahan Andrew yang nampak marah itu. Sementara Jeff dan Michelle memegang Dewa yang sempat terhuyung. “I’m okay. ( Aku ga apa – apa ).” Ucap Dewa pada Michelle yang sebulir air matanya sudah turun.


Dewa menegakkan lagi tubuhnya menghadap Andrew, terlihat tenang bahkan Dewa menyunggingkan senyumnya pada Andrew.


Andrew masih menatap Dewa dengan tajam. “How dare you!. ( Berani – beraninya lo! ).” Andrew mengangkat


telunjuknya pada Dewa. Sementara Fania masih mencoba menenangkan suaminya itu.


“Ndrew, lo silahkan pukul gue semau lo. Kalian semua pun boleh memukuli gue. Tapi keputusan gue ga akan


berubah. Gue ingin menikahi Michelle.” Ucap Dewa dengan lantang pada Andrew yang tak putus menatapnya tajam.


“Lo anggap apa gue selama ini, Wa?!. Sampai – sampai lo tega merusak Michelle yang sudah seperti adik lo


sendiri!. Lo anggap apa gue, hah?!.”


Hardik Andrew sambil meremas kasar kerah baju Dewa dengan kedua tangannya.


“D!.” Fania memegang tangan Andrew. “Lepas!.” Ucap Fania. “Please ..... ( Tolong .. ).” Ucapnya lagi sambil


mencoba membuat Andrew menjauhkan tangannya dari kerah baju Dewa. Dan Andrew menuruti Fania.  Menjauhkan tangannya dari Dewa.


“Kak Andrew...”


“Diam lo, Chel!.”


“Kak Andrew dengarkan aku dulu!.” Ucap Michelle setengah memekik sambil terisak. Air matanya sudah turun.


“Dengarkan aku dulu, Kak. Please....”


“D... duduk ya?.” Pinta Fania pada Andrew dengan lembut. Andrew pun menuruti Fania yang menggenggam


tangannya.


“Yang terjadi antara aku dan Kak Dewa di Italy, bukan sepenuhnya kesalahan Kak Dewa.” Ucap Michelle sambil


menatap Andrew, Reno dan orang tuanya. “Itu terjadi begitu saja, dan aku sadar akan hal itu. Kak Dewa tidak memaksa ataupun berbuat kasar padaku.” Sambungnya. “Jadi tolong, jangan berbuat kasar padanya.”


“Chel, duduk yuk.” Gantian Dewa membawa Michelle yang sudah terisak itu untuk duduk.


Michelle pun menurut. Ia kemudian duduk sambil menopangkan tangan diatas kedua pahanya sambil menutup wajah dan terdengar masih terisak.


Dewa mengusap – ngusap punggung Michelle disampingnya, lalu kembali menatap satu – satu anggota keluarga


Adjieran Smith, terutama pada Andrew, Reno, Dad dan Mom. “Aku tahu kalau aku sudah melakukan kesalahan besar. Bukan aku tak menghormati dan menghargai keluarga ini yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri.”


Dewa berbicara dengan tenang dan matanya juga menunjukkan ketulusan.


“Yang Michelle katakan benar, itu semua terjadi begitu saja.” Dewa melanjutkan ucapannya. “Aku mungkin yang lebih bersalah, karena tidak bisa menahan diriku sendiri. Dan aku menyesal untuk itu.”


Dewa berdiri dan menghampiri Dad, karena Mom kini sudah berada disamping Michelle.


“Dad, kau tahu aku dengan baik. Jika aku bisa memutar waktu, aku pun tidak mau sampai merusak Michelle. Dad


tahu seberapa aku menyayanginya. Dan aku benar – benar menyesali apa yang sudah aku lakukan padanya.” Ucap Dewa pada Dad. “Aku ingin mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan.”


Ucap Dewa lagi dengan wajah serius namun tenang pada Dad.


“Jadi Dad, Mom, Andrew, R. Dan kalian semua. Terutama Dad tentunya. Tolong ijinkan aku untuk menikahi


Michelle.”


Dewa memandangi Dad dan yang lainnya satu per satu.


Dad tersenyum pada Dewa dan menepuk nepuk pelan bahu laki – laki yang Gentle itu.

__ADS_1


“I’m so proud of you Dewa, regardless of mistake you made. ( Aku sangat bangga padamu Dewa, terlepas dari


kesalahan yang kamu buat ). You already mean a son for me, you know that. And if that what you want, marry my daughter. You got my permission. ( Kamu sudah seperti anak laki – lakiku sendiri dan kamu tahu itu. Dan jika memang itu yang kamu mau, menikahi putriku. Maka kamu mendapatkan ijin ku ).”


“But I refuse!. ( Tapi aku menolak! ).”


Michelle berdiri sambil menatap pada Dewa dan Dad.


Membuat semua orang terkejut dengan ucapan Dewa.


“Michelle! Dewa ingin bertanggung jawab pada kamu.” Mom ikut berdiri. “Seharusnya kamu bahagia, Chel!.”


“Tapi aku tidak mencintai Kak Dewa dan diapun sama.” Ucap Michelle. “Iya kan, Kak?.”


“Kita bisa mencobanya, Chel.”


“No!. ( Tidak! ).” Sergah Michelle. “Meskipun bisa aku tidak ingin menikah. Tidak sekarang, Kak. Aku sudah mengatakan ini pada Kak Dewa, kan?.”


“Chel, gue rasa tindakan Kak Dewa sudah benar.”


Fania buka suara, karena Andrew tidak mengatakan apa – apa.


Michelle menghela nafasnya lalu menatap Fania. “Benar untuk siapa, Kak?. Benar untuk siapa?!.”


Dewa berdiri dan mendekati Michelle. “Chel...”


“Aku ga siap untuk menikah sekarang.”


“Then when?!. ( Lalu kapan?! ).” Ucap Andrew dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. “Untill you get


pregnant?!, hem?!. ( Mau nunggu sampai lo hamil?!, hem?! ).” Ucapnya lagi dengan sinis pada Michelle.


“Apa yang sudah aku lakukan dengan Kak Dewa pada malam itu, ga akan membuat aku hamil dalam waktu dekat!.”


“Michelle.” Reno bersuara, menatap Michelle dengan sedikit tajam.


“Maksud aku .... saat itu bukan masa subur aku, jadi aku ga mungkin hamil karena hubungan satu malamku dengan


Kak Dewa waktu itu.”


“Never say never, Chel. ( Jangan pernah bilang ga mungkin, Chel ).” Ucap Ara.


“What your sister in law was right, Michelle. Don’t talk like that. ( Apa yang kakak ipar kamu bilang itu


benar, Michelle. Jangan bicara seperti itu ).”


“No, Dad. I just don’t want to tight in a marriage. Not now!. ( Tidak Dad. Aku tidak ingin terikat dalam pernikahan. Tidak sekarang! ).” Michelle nampak sedikit frustasi. “You know I have a big dream to become success like all of you. Marriage will block my dream!. ( Dad tahu aku punya mimpi yang besar untuk menjadi sukses seperti kalian semua. Pernikahan akan menghalangi mimpiku itu! ).” Michelle kukuh dengan pendapatnya.


“Lo terlalu naif, Michelle!.” Andrew berdiri dan mengarahkan telunjuknya pada Michelle.


“Aku ga perduli Kak Andrew!. Aku ga ingin menikah dalam waktu dekat. Titik!.” Michelle langsung beranjak pergi


“Michelle!.” Mom memanggil putri bungsunya yang tengah berlari itu. Hendak menyusulnya juga.


“Mom.” Fania mendekati Mom. “Biar Fania yang berbicara dengan Michelle ya?.”


“Ya sudah.” Mom mengangguk. “Mom minta tolong ya Fania.”


“Iya Mom.” Sahut Fania dan ia langsung menyusul Michelle ke kamarnya.


**********


“Chel...” Fania membuka pintu kamar Michelle yang tak terkunci itu. “Boleh gue masuk?.”


“Masuk aja, Kak....”


“Chel..”


“Kalau Kak Fania juga mau memaksa aku untuk menikah dengan Kak Dewa, Kak Fania hanya buang waktu.”


“Jangan Suud’zon.” Fania tersenyum. “Gue ga berniat memaksa lo. Dan gue rasa semua orang yang ada dibawah juga ga ingin memaksa lo. Mereka dan gue, hanya ingin yang terbaik buat lo.”


“Aku sendiri yang tahu apa yang terbaik buat diri aku, Kak.”


“Yah, mungkin lo benar soal itu. Dan memang hak lo untuk menentukan jalan hidup lo sendiri.” Ucap Fania. “Tapi,


ada baiknya juga kalau lo mendengarkan pendapat orang lain.”


Michelle terdiam.


“Dan lo beruntung, Chel. Diantara sekian banyak keluarga di dunia ini, keluarga kita ini punya ikatan yang kuat. Kita


saling perduli, saling support, saling membutuhkan satu sama lain. Saling sayang ....” Ucap Fania. “Bukannya kami mau memaksa lo untuk mengikuti keinginan semua orang yang bertentangan dengan keinginan lo sendiri.”


Fania meraih tangan Michelle.


“Gue tahu lo punya cita – cita yang ingin lo gapai. Gue paham ketakutan lo, kalau andainya pernikahan akan membuat lo berhenti ditengah jalan. Gue pun sama.”


Michelle kini menatap Fania yang sedang berbicara padanya.


“Gue pernah ada diposisi lo, saat kakak lo itu ngajak gue nikah cepet. Gue juga takut, kalau gerak gue terbatas. Tapi lo liat, gue baik – baik aja, kan?. Gue bahagia. Meskipun kakak lo emang kadang – kadang suka ngeselin kalau dia mulai melarang. Ga Cuma Andrew, Kak Reno juga sama. Suka parno berlebihan.” Ucap Fania lagi dan Michelle terkekeh. “Tapi gue paham, itu semua karena mereka teramat sayang sama gue.”


“Gue tahu Kak, mereka semua, Kak Fania. Sayang sama gue. Tapi gue punya mimpi Kak. Gue ingin berkarir. Dan gue takut kalau dengan menikah, gue harus mengubur cita – cita gue itu. Gue ga mau.”


Fania mengacak – acak rambut Michelle.

__ADS_1


“Lo lupa yang ngelamar lo itu siapa?. Kak – Dewa!. Bukan cowok – cowok biasa. Sama seperti kakak - kakak lo yang lain.”


“So?. ( Lalu? ).”


“So, lo ga perlu khawatir kalau dia akan melarang lo ini itu, apalagi kerja, ngejar karir seperti yang lo takutkan. Kak Dewa itu open mind, dan dia laki – laki tersabar yang pernah gue kenal. Dan jangan lupa, dia bergaul sama siapa?. Sama kakak kakak lo. Jadi gue rasa Kak Dewa ga akan berdiri menghalangi lo untuk menggapai cita – cita lo saat kalian sudah menikah.”


“Naomy benar, Chel.”


Dewa sudah berdiri dipintu kamar Michelle yang terbuka tanpa Fania dan Michelle sadari.


“Kak Dewa.”


“Boleh aku masuk?.”


“Udah masuk bukannya?.”


“Mendekat maksudnya.”


Dewa terkekeh dan Fania berdiri dari tempatnya. “Ya udah, gue tinggal ya.”


Michelle mengangguk. "Makasih ya Kak Fania."


Dewa tersenyum pada Fania. “Thanks Naomy.”


Fania mengangguk sambil tersenyum tulus. Lalu meninggalkan pasangan broken heart itu untuk bicara berdua.


***


“Chel, Kak Dewa minta maaf, kalau keputusan aku bertentangan dengan keputusan kamu.” Ucap Dewa pada Michelle kala mereka berbicara berdua dikamar Michelle. “Tapi ini untuk kebaikan kita, kebaikan kamu.” Dewa menggenggam tangan Michelle.


“Tapi kita ga saling cinta, Kak. Dan kalau Kak Dewa takut aku hamil, Kak Dewa ga perlu khawatir soal itu. Kan aku sudah bilang. Saat itu bukan masa subur aku.”


“Even so, Chel. ( Walaupun begitu, Chel ). Aku merasa tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatan aku.”


Ucap Dewa lembut.


“Tapi Kak ....”


“Aku ga akan membatasi ruang kamu, Chel. Jika itu yang kamu takutkan.” Sambar Dewa sebelum Michelle melanjutkan kalimatnya.


“Benar Kak Dewa akan membiarkan aku bekerja setelah menikah?.”


“Iya. Kamu bisa pegang ucapan aku, Chel.”


“Tapi kita ga punya perasaan satu sama lain Kak, apa bisa kita bertahan?. Aku ga mau jadi janda diusia muda.” Michelle dengan kekhawatirannya yang lain lagi.


Dewa terkekeh. “Siapa juga yang mau melepaskan istri secantik kamu, Chel.”


Michelle merona.


“Kalau soal cinta, aku rasa itu bisa muncul dengan sendirinya nanti. Kalau untuk aku bisa mencintai kamu juga


rasanya akan mudah. Ngegemesin gini.”


“Apa sih Kak Dewa ih!.”


“Tapi bener Chel, waktu ke London lagi yang pertama kali untuk menemui Naomy, lalu melihat kamu. Yah aku pernah sempat suka kamu sebagai seorang cewe. Bukan Michelle kecil yang suka manja sama aku. Soalnya Michelle yang udah gede cantik banget.”


“Ga usah sok meng-gombal deh Kak Dewa.” Sergah Michelle namun tak dapat dipungkiri kalau ia tersipu.


Dewa terkekeh. “Beneran. Cuma sayangnya judes. Dan kakaknya galak. Jadi aku mundur.”


“Bukannya karena Kak Dewa masih ada rasa sama Kak Fania?.”


“Aku udah menghilangkan perasaan aku pada Naomy, saat tahu kalau dia bahagia dengan kakak kamu.”


“Tapi sikap Kak Dewa ke Kak Fania ....”


“Hanya ingin bikin kesel kakak kamu yang over posesif itu.” Dewa terkekeh lagi. Kemudian ia dan Michelle terdiam


sejenak. “Chel, saat aku memutuskan untuk menikahi kamu, itu bukan asal keluar dari mulut aku. Tapi dari sini.” Dewa menunjuk dadanya.


Michelle menatap wajah Dewa lekat.


“Jadi, sekuat tenaga aku akan berusaha membuat kamu bahagia menjadi istri aku.”


Ucap Dewa tulus sambil menangkup wajah Michelle.


“Maaf, aku belum menyiapkan cincin untuk melamar kamu. Tapi dari lubuk hati aku yang paling dalam, Michelle Freya Adjieran Smith, maukah kamu menikah dengan aku?.”


Michelle terdiam sebentar namun menatap Dewa lekat – lekat.


“Iya Kak, aku mau ...”


Michelle mengangguk pelan namun pasti. Kata – kata Dewa benar – benar meluluhkan hatinya.


“Apa aku ga dengar?.” Dewa menggoda Michelle yang merona.


“Kak Dewa, ih!.”


Cup!. Dewa mendaratkan bibirnya di bibir Michelle. Tak lama, karena ada gangguan yang tiba – tiba datang.


Yak tak lain dan tak bukan adalah si Kajol yang memutuskan kembali lagi ke kamar Michelle karena ga sabar mau tau keputusan akhir Michelle dan Dewa soal pernikahan mereka.


“Uwew sobat ambyar, broken heart couple jadi kawin romannya!.”

__ADS_1


***


To be continue ...


__ADS_2