
Selamat membaca ...
“Hon. ( Sayang ).” Ara membuka pembicaraan saat dirinya dan Reno sudah bersiap untuk tidur.
“Hem?.” Sahut Reno sambil memeluk mesra sang istri tercinta dalam dekapannya.
“Fania minta pulang ke Indo.” Ucap Ara. “Tapi aku rasa dia belum bicarakan soal ini ke Andrew.”
Reno sedikit menghela nafas. “We’ll see about it, then. ( Nanti kita lihat ). Tunggu besok, bagaimana. Pasti malam ini mereka berdua bicara.” Ucap Reno. “Lebih baik kita tidur sekarang. Aku lelah dan pasti kamu juga.”
**
“Aku mau pulang....” Fania memeluk Andrew dan menyembunyikan wajahnya diantara bahu bidang dan ceruk leher
Andrew. “Aku rasanya jadi beban buat kamu. Kak Reno dan kalian semua.” Ucap Fania lirih masih bergelayut, memeluk Andrew. Matanya mulai berkaca – kaca. “Kita mungkin ga seharusnya bersama sampai ke tahap ini. Mungkin ikatan yang dulu sebagai teman, sahabat dan kakak, itu lebih baik.”
“Kamu mau mutusin aku?.” Tanya Andrew tak bergerak. Sambil merasakan dadanya yang bergemuruh mendengar ucapan Fania. “Jawab. Jangan bertele – tele.”
Andrew langsung bertanya, setelah mendengar semua yang Fania ucapkan sambil memeluknya. Ada sakit di relung hatinya saat dia merasakan gerakan kepala Fania seperti anggukan.
“Perasaan aku ga akan berubah Nald.” Fania mengendurkan pelukannya. Berkata lirih.
Namun Fania terkejut saat Andrew berdiri sambil menopang kan tubuhnya diatas kedua tangan kekarnya sebelum Fania sempat melepaskan pelukannya.
“Home, Huh?. ( Pulang, ya? ). Ucap Andrew sambil berjalan seraya menggendong tubuh ramping Fania. “Your home is with me. ( Rumahmu adalah bersamaku ). “
“Nald?.” Fania memanggil pelan, namun Andrew tak menoleh hanya tetap berjalan. Hingga berhenti saat laki – laki itu merebahkan tubuh Fania di atas ranjangnya. Mengurung tubuh Fania dengan kedua tangan yang ia letakkan di sisi kiri dan kanan gadis itu serta memberi jarak antara tubuhnya dan tubuh Fania sambil menatap tajam ke dalam manik mata Fania.
Dada Fania berdebar kencang, sepertinya ia merasakan dada Andrew pun berdebar dalam tempo yang sedikit cepat karna tangan Fania memang tepat berada di dada Andrew yang tertutup kemejanya.
“Your home is with me, Fania. ( Rumahmu adalah bersamaku, Fania ). Ucap Andrew dengan penekanan dan suaranya sedikit berat. “Ga akan aku lepas, meski kamu mau melepas. Ingat?.”
Andrew merapatkan bibirnya pada bibir Fania, meraih satu tangan Fania yang ia lingkarkan di belakang lehernya. Ciuman Andrew semakin menuntut hingga Fania merasakan pasokan udaranya mulai menipis. Terlebih kini tubuh Andrew tak lagi berjarak. Laki – laki plontos itu sudah berada tepat diatas tubuh Fania sambil terus mencium gadis itu dengan lembut, namun seperti tak akan berhenti.
“N – Nald ... .” Fania mencoba berbicara namun Andrew tak berhenti. “N-Nald, aku susah nafas.” Akhirnya mendorong tubuh Andrew dan sukses membuat laki – laki itu menghentikan ciumannya yang terasa sedikit menuntut.
Andrew menatap Fania dalam, membelai wajah cantik Fania dengan satu tangannya. Tersenyum tipis. “You’re mine. ( Kamu milikku ).” Bisiknya ditelinga Fania, membuat Fania meremang kala nafas Andrew begitu terasa menyentuh kulit lehernya dan dadanya semakin berdebar saat bibir Andrew mulai menyusuri setiap inci leher Fania dengan kecupan lembut hingga ke garis rahang gadis itu.
Fania menarik nafas, mencoba tetap tenang meski sekarang dirinya sudah merasa tak karuan. Terlebih lagi debaran didadanya. Sekali lagi mencoba menyadarkan Andrew dengan mengelus pelan punggung belakang laki – laki itu. “Nald....”
Andrew menghentikan c*mbuannya di leher Fania, menatap dengan sorot mata yang dalam pada gadis itu meski nafasnya sedikit tak teratur.
__ADS_1
“Jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku.” Ucap Andrew penuh penekanan dengan suara yang mulai terdengar berat dan serak.
“A-ak... .” Fania tak sempat melanjutkan karna bibir Andrew sukses membungkam nya. Lebih menuntut dan tangannya mulai bermain di sekitar punggung Fania.
Membuat Fania merasakan gelenyar aneh yang tidak pernah ia rasa sebelumnya. Makin terbuai saat bibir Andrew kembali menyusuri lehernya. Tanpa sadar tangannya mengelus lembut punggung dan tengkuk Andrew.
Salah. Salah karena terbuai, karena sentuhan tangan Fania membuat Andrew semakin membuat alam sadarnya buram. Menarik turun resleting gaun Fania, meski sempat ditahan oleh Fania.
Namun emosi yang menguasai Andrew karena Fania nya menyinggung soal perpisahan serta rasa cintanya yang berlebihan bercampur dengan ego, mengalahkan akal sehatnya.
‘Persetan dengan dosa.’ Batin Andrew yang sudah dikuasai oleh sesuatu yang kasat mata. Dia hanya ingin Fania mau bagaimanapun caranya.
Mata Andrew mulai berkabut, saat sukses meloloskan gaun Fania dari tubuh ramping yang terkukung di bawahnya. Menyisakan sepasang pakaian dalam yang membuat Andrew menelan kasar salivanya. Fania sudah pasrah saat Andrew sudah melempar gaunnya ke sembarang arah.
Menatap Andrew dengan segala macam rasa yang campur aduk. Sedih, gugup, takut, malu .... Namun tak pelak tubuhnya seperti menikmati setiap sentuhan bibir dan tangan Andrew. Seperti ada sesuatu yang menyetrum sarafnya, karena ini adalah pengalaman pertama bagi Fania.
Hatinya mencelos kala memikirkan akan ada sesuatu yang hilang malam ini sebelum dia terikat ikatan sah. Namun Fania pasrah, antara rela atau tidak rela kalau malam ini apa yang selama ini dia jaga sudah dipastikan akan ditembus oleh laki – laki perkasa yang sedang membuka satu persatu pakaian di hadapannya.
Roti sobek yang terpampang kini di depan Fania terlihat begitu menakjubkan. Betapa ia ingin menyentuh perut kotak – kota Donald. ‘Ah, gue pasti udah gila.’ Batin Fania yang sekuat tenaga menahan tangannya untuk tidak menyentuh roti sobek yang bukan merk sari roti itu.
Mata Andrew sudah benar – benar hampir tertutup gairah saat ia mulai melucuti pakaiannya sendiri sambil memandangi Fania yang hanya memakai dua potong pakaian ditubuhnya, terbaring pasrah sambil juga memandanginya. Andrew tak henti – henti menelan salivanya melihat pemandangan indah yang membuat sesuatu dibawah sana yang masih terhalang celana terasa begitu sesak.
Tak sabar ingin menjadikan wanita yang dicintainya itu menjadi miliknya sepenuhnya. Andrew sudah tak mampu menahannya lagi. Antara cinta dan nafsu. Entahlah. Apapun kalau setan sudah bicara.
Fania seketika bangkit saat melihat goresan namanya di dada sebelah kiri Andrew. Lupa, kalau dirinya hampir tak
berbusana.
“Nald ini?.” Bertanya pelan, menatap Andrew tanpa sadar menyentuh dada bidang Andrew dimana ada nama Fania tertulis disana. Membelai lembut goresan tinta permanen itu dengan tangan halusnya.
“Sekarang kamu tau posisi kamu. Dalam hati dan hidup aku.” Andrew meraih tangan Fania dan kembali melingkarkan kedua tangan gadis itu ke belakang lehernya. Meraih tengkuk Fania, mengecupi wajah Fania dengan lembut dan kembali merebahkan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Mencumbu kembali dan meninggalkan beberapa jejak hangat yang menandakan kepemilikannya. Perlahan tapi pasti karena sentuhan Fania tadi di dada
bidangnya benar – benar sudah menerbangkan akal sehatnya.
Andrew dan Fania merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya saat semua kain sudah tak lagi melekat, menciptakan sesuatu yang menyengat saat kulit polos mereka bersentuhan. Semakin terbuai, lupa dengan yang namanya dosa.
“Nald....!.” Fania merintih saat merasakan sesuatu memasuki dirinya. “Sa-kiit.” Sambil memeluk tubuh Andrew dengan sangat erat. Seperti tubuhnya terbelah dua, saat sesuatu yang terasa sesak itu terus memaksa masuk.
“I’m .. sorry .. (Ma .. ff ..).“ Andrew menatap wajah Fania yang terlihat menahan sakit sambil mengelus lembut wajah gadis yang sangat ia cintai hingga mampu membuatnya gila. Namun Andrew tak berniat mundur, karena
sensasi itu terasa luar biasa. Menciumi dengan lembut kembali wajah Fania nya. “I’ll do it very softly. (Aku akan melakukannya dengan sangat lembut).” Ucap Andrew dengan suara yang semakin berat dan mata elangnya yang mulai sayu.
Bentar, author ambil napas dulu. Wkwkwk ..😝
__ADS_1
Andrew tak langsung menggerakkan apa yang sudah tak sabar ingin ia gerakkan dibawah sana. Membiarkan dulu Fania nya menyesuaikan dirinya. Meski rasanya Andrew sudah hampir gila karena sesuatu yang sempit dibawah sana mencengkram begitu kuat dan hangat.
“Take a deep breathe, Heart. (Ambil nafas panjang sayang). Relax, hem (Tenang ya?).?” Ucap Andrew dan Fania
mengangguk pasrah. Menggigit bibir bawahnya saat Andrew mulai bergerak dengan sangat perlahan. Sakitnya masih terasa. Perih, panas...
Rasa sakit dan nikmat yang baru pertama kali Fania rasakan.
Tak lama pudar, karena cumbuan Andrew yang lembut dan intens perlahan membawa Fania terbang ke awang – awang. Sakitnya tertutup dengan nikmat. Gerakan yang perlahan itu semakin menaikkan temponya hingga Andrew dan Fania terbuai dengan yang namanya surga dunia. Dosa itu nikmat ternyata. Seperti itu yang kedua insan itu rasa saat ini.
Andrew mulai tak terkendali karna hentakan demi hentakan yang ia buat semakin cepat. Fania secara naluri mulai
coba mengimbangi. Nafasnya dan nafas Fania sudah tak beraturan. Desahan demi desahan terdengar bak alunan lagu yang indah menggema disudut kamar Andrew. Kamar yang sudah diklaim Andrew sebagai kamarnya dan kamar Fania tak perduli meski belum terikat dengan yang namanya pernikahan.
Rahang Andrew mengeras menatap Fania yang terlihat seksi dan menggoda sedang juga menatapnya sayu dengan wajah cantiknya yang merona, saat dirinya masih intens menghujam Fania dengan kenikmatan yang bahkan ia sendiri lebih merasakannya. Karena ini juga adalah pengalaman bercinta pertama Andrew.
Meski pernah berhubungan dengan beberapa wanita namun tidak sampai ada yang pernah berakhir di ranjang. Sekalipun dengan Cindy yang pernah dua tahun bersamanya.
Tubuh kekar nan atletis Andrew hasil latihan rutinnya, tak membohongi staminanya, ditambah lagi ia berbagi kenikmatan bersama gadis pujaannya. Fania nya. Seperti tak ingin berhenti. Namun Fania terlihat sudah meremas seprei di kedua tangannya, sedikit melengkungkan tubuhnya. Ada sesuatu dari tubuhnya yang sedang mendesak ingin keluar.
Andrew mempercepat hentakan nya. Fania memeluk erat dirinya. Dan sesuatu menyeruak keluar dari diri mereka masing –masing. Bersamaan, berpadu menjadi satu diujung hentakan terakhir Andrew. Tubuh keduanya mengejang merasakan seperti tulang – tulang dari tubuh mereka lepas dari tempatnya.
*
To be Continue ...*
Rasanya Author pengen mandi dulu ini.😝
Pesan Author bacanya jangan diresapi. Wkwk ..
Yang belum cukup umur, skip aja oke. Tunggu Episode berikutnya.😃😄
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1