
Selamat membaca ..
Selepas jam bubaran Sholat Jum’at, Reno dan Ara baru datang ke rumah Andrew. Reno mungkin bukan umat yang taat – taat amat, tapi dia dan Ara setidaknya masih rajin beribadah daripada Andrew yang udah jarang bahkan hampir ga pernah lagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Reno, Ara dan keluarga Andrew hanya sekedar suka mengingatkan, tapi pilihan tetap pada Andrew. Toh mereka pikir Andrew sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang harus diingatkan setiap saat.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Reno dan Ara saat Bi Cici menyambut mereka.
“Tuan Reno, Nyonya Ara. Mari masuk.” Ucap Bi Cici sopan dan menyilahkan Reno serta Ara, meskipun mereka sendiri udah sering selonong boy aja kalau di rumah Andrew. “Tuan Reno sama Nyonya Ara sudah makan?.” Tanya Bi Cici.
“Belum Bi, ini mau numpang makan.” Ucap Ara. “Eh iya Bi, Andrew sama Fania semalam bertengkar?.” Tanya Ara kini.
‘Iya, Nyonya Ara, Tuan Muda Andrew dan Nona Fania memang sedikit bertengkar sejak mereka tiba. Bibi dan beberapa ART sampai kaget karena denger suaranya Nona Fania yang lumayan kenceng. Makanya Bibi buru – buru dateng menghampiri mereka. Baru ini Bibi denger ada yang marah – marah ngomong sampai sekenceng itu sama Tuan Andrew.” Jelas Bi Cici.
‘Adiknya siapa itu coba? Kakak bangga padamu Dik Fania, kalo lo sampai memaki maki si Andrew.’ Batin Reno girang denger cerita Bi Cici soal Fania yang marahin Andrew.
“Oh ya Bi?. Terus?.” Ara penasaran.
“Terus Bibi ga tau lagi Nyonya, soalnya Tuan Muda minta ditinggalkan dengan Nona Fania. Bibi mana berani bantah.” Ucap Bi Cici lagi.
“Mereka sudah turun atau belum keluar kamar sama sekali?.” Tanya Reno.
“Sudah Tuan, tadi selepas sarapan mereka sempet duduk duduk di ruang keluarga sambil bercanda. Lega rasanya hati Bibi.” Ucap Bi Cici sambil mengelus dadanya.
Ara dan Reno hanya tersenyum.
“Terus sekarang mereka ada dimana?.” Tanya Reno lagi
“Diatas Tuan, di kamar Tuan Muda.” Jawab Bi Cici.
‘Awas aja kalo sampai modusin si Fania di kamarnya.’ Batin Reno.
“Hayo, mikir yang engga – engga pasti nih my Honey Bunny.” Tuding Ara menggoda Reno.
“Honey Bunny. Orang cool begini dibilang Bunny.” Protes Reno dan Ara terkekeh.
“Lagian kamunya sih, suka negative thinking.” Ucap Ara.
“Ngapain juga si Andrew ajak Fania siang – siang di kamar. Ini rumah kan luas, banyak ruangannya. Perpustakaan juga ada, swimming pool ada, kenapa harus kekamar?.” Ucap Reno setengah ngomel. “Panggil Bi, 1 menit. Suruh Andrew bawa Fania turun.”
“itu Tuan Reno, kayaknya sedikit lama mereka diatas.” Ucap Bi Cici dan Reno mengernyitkan dahinya.
“Andrew yang bilang?.” Tanya Ara. ‘Wah bisa ngamuk ini kakaknya Fania.’
“Bukan Nyonya, tadi waktu bibi mau tanya soal makan siang ke Tuan Muda di kamarnya.” Jawab Bi Cici. “Tuan Muda lagi belajar sholat lagi.”
“Apa?!.” Ucap Ara dan Reno berbarengan yang kaget karna si Andrew dalam tahap Insaf.
“Iya, Bibi lihat tadi Nona Fania duduk dekat Tuan Andrew sambil mendengarkan Tuan Andrew baca bacaan sholat.” Ucap Bi Cici lagi.
“Yakin Bi Cici kalau si Andrew lagi sholat?. Jangan – jangan lagi latihan pidato.” Ih Kakak ganteng mah julit
banget. Membuat Ara terkekeh geli mendengarnya.
“Ya Allah Tuan Reno, yakin Bibi itu Tuan Muda lagi belajar sholat lagi.” Sahut Bi Cici.
“Iya siapa tau aja.” Sahut Reno juga.
“Masa orang pidato baca surah Al Fatehah sama An Naas sih Tuan.” ucap Bi Cici
Reno dan Ara jadi tertawa mendengar ucapan Bi Cici.
__ADS_1
**
“Kak Ara! Kak Reno!.” Panggil Fania saat menuruni tangga setelah berlari saat melihat sepasang kakak angkat kesayangan.
“Hey, jangan lari – lari gitu kenapa sih. Jatuh , tau rasa.” Omel Reno pada Fania. Yang diomelin malah cengengesan memeluk dirinya dan Ara bergantian.
“Andrew mana Sweety?.” Tanya Ara yang belum melihat Andrew.
“Bentar lagi juga turun.” Jawab Fania dan tak lama Andrew pun muncul, menuruni anak tangga dengan gaya cool nya.
“Hm wangi wangi syurga.” Ucap Ara.
“Apa sih Nyonya Reno.” Sahut Andrew mendengar ucapan Ara.
Ara menatap Andrew dengan setengah meledek. “Terang banget mukanya yang habis sholat.”
“Aish.” Ucap Andrew lalu duduk di sofa.
“Jangan gitu dong Kak Ara, mumpung dia lagi lurus itu.” Ucap Fania sambil terkekeh diikuti Ara. Sementara Reno hanya tersenyum tipis.
“Kiamat sudah dekat.” Ucap Reno.
“Whatever R.” Sahut Andrew terhadap cibiran Andrew. “Little F, sini.” Panggil Andrew pada Fania agar duduk di
dekatnya. Dan gadis itu pun menurut.
“So? Masalah kalian udah selesai?.” Tanya Ara.
“Udah Kak.” Jawab Fania sementara Andrew diam saja.
“Lalu?.” Tanya Ara lagi
“Lalu lalang.” Sahut Fania.
“Ih, orang tanya bener.” Cebik Ara pada Fania.
“Lo jangan sampe nyakitin Fania.” Ucap Reno dengan tatapan tajam pada Andrew.
“Gue pun akan sakit kalau sampai gue sakitin dia.” Jawab Andrew yang balik menatap Reno dengan tajam. Membuat Fania dan Ara sedikit ngeri melihat mereka berdua.
“Honey, Andrew, stop it , you guys?!.” Ucap Ara menengahi Andrew dan suaminya yang sedikit dilingkupi aura tegang, terdengar dari nada bicara dan tatapan mereka satu sama lain.
“Cuma memastikan.” Ucap Reno masih sedikit sinis. Membuat Andrew tersenyum dengan sinis juga sambil geleng – geleng.
“Nald, Kak Ren, apaan sih kalian nih ish.” Ucap Fania pada Andrew dan Reno.
Tiba – tiba dua J datang juga ke rumah Andrew siang itu.
“Hemm, anak kembar dateng.” Celetuk Fania.
“Wow keluarga bahagia sedang kumpul.” Ucap John saat tiba. Sementara Jeff menyalami keempat orang yang sudah ada disitu lebih dahulu.
“Pasti mau makan gratis.” Sindir Andrew.
“Paham banget My Boss.” Sahut Jeff.
“Nanti lagi disiapin.” Ucap Andrew.
“Oke Boss.” Sahut Jeff lagi.
“Handphone kamu mana?.” Tanya Andrew pada Fania.
“Diatas kayaknya. Kenapa emang?.” Jawab Fania lalu bertanya balik.
“Engga, aku... .” Ucapan Andrew terjeda karena John menyela.
__ADS_1
“Wait, wait.” Ucap John. “Coba ulang Drew, lo bilang apa barusan?. Aku? Kamu?. Sejak kapan lu sopan?.”
“Tau Ndrew, Biar dibilang cute sama Fania?.” Sindir Jeff.
“Iri bilang Bos.” Sahut Andrew yang belakangan suka denger si John ngomong kalimat tersebut padanya.
“Jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa tiba – tiba ngomong pake aku kamu ke Fania?. Lo berdua
jangan – jangan... .” John menerka – nerka. Membuat Jeff juga ikut penasaran.
Sementara Ara, Reno, Fania hanya memperhatikan dua bule kw yang lagi rusuh kepoin Andrew.
“Jangan bilang lu udah nembak si Fania, Drew?.” Tanya Jeff antusias.
“Tanya langsung lah sama Sweetheart gue.” Ucap Andrew santai.
“Damned, Sweetheart lagi. Jadi bener nih?. Si Andrew nembak lo Fan?.” Tanya John pada Fania.
“Kepo sekali anda – anda ini.” Ledek Fania.
“Serius ini gue nanya.” Ucap Jeff ga sabar. “Nih Bos gue yang Botak sok Cool ini udah nembak lu?.”
“Ciri – ciri orang mau mati cepat, berani – beraninya bilang gue sok cool.” Ucap Andrew.
“Emang kenyataannya begitu.” Sahut John dan dibalas lirikan tak senang dari Andrew.
“Jadi Fix nih udah jadian lo Fan ama dia nih?.” Ucap Jeff pada Fania lalu menunjuk Andrew.
“Lo terima dia jadinya?.” Tanya John ga sabar pengen denger jawaban Fania.
“Gimana ya... .” Fania menggantung kata – katanya. Membuat Andrew menarik lengan Fania agar gadis itu lebih dekat dengannya.
“Gimana apanya maksud kamu?. Jangan bilang kamu Cuma main – main aja terima aku ya.” Selidik Andrew sambil menatap Fania.
Fania menatap balik Andrew. “Sorry Nald.” Fania memasang wajah memelas.
“Fan? Jangan gini.” Andrew nampak gundah
“Hem.” Fania berdehem. “Dengerin ya Nald... .”
BUKAN KUMENOLAKMU..Ah si Fania malah nyanyi
UNTUK MENCINTAIKU... Dangdut pula
“Fan?.” Andrew masih gagal paham sementara yang lain udah mesem – mesem
TETAPI LIHAT DULU, SIAPAKAH DIRIKU
KARNA ENGKAU DAN AKU SUNGGUH JAUH BERBEDA
KAU ORANG KAYA, AKUUU ORANG TAK PUNYA .....
“Buahahahaha.” Ara, Reno dan dua J tertawa ngakak liat ekspresi Andrew yang lagi di nyanyiin dangdut sama Fania.
“Serius amat mukanya Bang.” Goda Fania sambil menoel dagu Andrew.
“Waaaaah. Ngeselin banget adiknya Reno Alexander.” Ucap Andrew seolah tak terima.
*
To be continue ...*
__ADS_1
** Maapkeun Emaknya Queen yang cuma bisa update 1 episode aja yah. **