BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 205


__ADS_3

Selamat membaca ....


- - -


- - -


“Kita stay satu malam lagi disini, besok baru kembali ke London.” Ucap Andrew setelah dia, Fania beserta Keluarga Smith dan Cemara sudah berada di salah satu Hotel bintang lima di Thailand, setelah selama kurang lebih selama lima hari Fania dirawat di Rumah Sakit.


Dad dan Mom beserta Michelle sudah bertolak ke London lebih dulu karena Dad harus menghandel Perusahaan selama Andrew dan Reno belum aktif kembali.


Sementara Keluarga Cemara akan kembali besok ke Indonesia dengan diantar beberapa orang kepercayaan Dad Anthony.


“Ga mau balik ke Indo aja Fan? Biar bisa bareng sama Papa Herman, Mama Bela dan Prita besok.” Ucap Reno saat dirinya, Ara berikut Andrew dan Fania juga dua J dan Keluarga Cemara makan malam di restoran hotel tempat mereka menginap.


“Just like I said ( Seperti yang udah gue bilang juga ).” Sahut Andrew.


“Ke London aja. Ga apa – apa ya Pah, Mah?.” Ucap Fania. “Lagian kamu udah lama ninggalin urusan pekerjaan kamu, Nald.”


“Iya Fania benar Nak Endru, lebih baik kalian semua pulang ke London aja. Kasian pada ngorbanin kerjaan semua.” Ucap Papa Herman.


“Ga ada masalah dengan pekerjaan kami semua kok Pah.” Ucap Andrew meyakinkan Papa Herman. “Kalau memang Fania mau, Andrew pun ga masalah kalau harus ke Indonesia.”


“Ga apa – apa kita ke London aja.” Sahut Fania.


“Hello, everyone (Halo semuanya).” Nino datang saat keluarga besar itu sedang makan malam.


“Hai Nino.” Jawab semua minus keluarga cemara yang belum mengenal laki – laki tersebut.


“Um, Nino....” Fania coba berdiri namun segera di sergah Andrew dan Nino.


“Duduk aja.” Ucap Andrew. "Kamu belum pulih benar."


“Miss Fania, I’m glad you’re okay now (Nona Fania, saya senang anda baik – baik saja sekarang).” Ucap Nino sopan pada Fania.


“No, Nino. I’m the one who supposed to thank you (**Tidak Nino, aku yang seharusnya berterima kasih). I’m very sorry to what was happened to your brother (Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada kakak kamu**).” Ucap Fania yang merasa bersalah.


“No Miss Fania, it was not your fault. It was his duty to protect you (Tidak Nona Fania, itu bukan kesalahan anda. Sudah menjadi tugasnya untuk melindungi anda).” Ucap Nino sembari tersenyum.


“Please accept my condolences then (Terimalah ucapan belasungkawa dariku kalau begitu).” Fania mengulurkan tangannya pada Nino.


“Thank you Miss Fania (Terima kasih Nona Fania).” Ucap Nino yang menerima uluran tangan Fania.


“Please, have a seat Nino (Silahkan duduk Nino). But before let me introduce you to Fania’s family (Tapi sebelumnya gue perkenalkan pada keluarganya Fania).” Reno memperkenalkan Nino pada Keluarga Cemara.“ Papa Herman, Mama Bela, Prita. Ini Nino, salah satu orang kepercayaan Reno di London.”


“Hello, I'm Nino. Nice to meet you Sir, Ma’am, Miss ( Halo saya Nino. Senang berkenalan dengan anda Tuan, Nyonya, Nona).” Nino menyapa Keluarga Cemara dengan ramah begitupun sebaliknya.


“Mamah jawabnye begimane ini Kajol?.” Tanya Mama Bela polos karena Nino berbicara dengan Bahasa Inggris. “Cakep – cakep amat temen lo Jol. Bule semua.”


Yang lain tergelak, kecuali Nino karena kurang paham dengan ucapan Mama Bela yang logatnya Betawi banget itu.


“Jawab aje Nice to meet you too.” Celetuk Prita setengah terkekeh.


“Nah itu dah maksudnya. Yu tu.” Sahut Mama Bela yang lagi – lagi membuat semua orang tergelak. Sementara Nino hanya tersenyum simpul.


Mereka semua pun menikmati makan malam mereka dengan bercengkrama dan bersenda gurau, mencoba menghilangkan sejenak ingatan tentang insiden yang menimpa Fania hingga merasa sudah waktunya beristirahat.


**


London ...

__ADS_1


“Selamat datang, Fania. Gimana kabar kamu, Sayang?.” Mom Erna beserta Dad dan Michelle berikut beberapa Maid yang akan membawakan barang – barang majikannya yang sudah tiba kembali ke Kediaman Smith menyambut Fania dan rombongan, minus Nino yang masih tinggal di Thailand karena masih ada sesuatu hal yang harus ia urus.


“Sudah sangat sangat baik, Mom.” Fania memeluk ibu mertua yang amat menyayanginya itu. Kemudian memeluk Dad dan Michelle juga.


“Kalian semua langsung makan dulu baru istirahat ya. Pasti kalian lapar kan?.” Ucap Mom Erna yang langsung menuntun rombongan anak – anaknya ke ruang makan.


Menikmati makan siang dengan menghilangkan kebiasaan untuk tidak mengobrol saat makan. Karena sesi makan diselingi obrolan dan candaan dan setelah itu masing – masing beristirahat di kamar mereka.


“Home sweet home (Rumahku istanaku).” Ucap Andrew saat membuka pintu kamarnya dan Fania. “Selamat datang kembali, Heart.”


“Selamat datang kembali juga, Donald Bebek.” Ucap Fania yang langsung merengkuh pinggang Andrew.


Andrew tersenyum lalu mencium kening Fania. “Langsung ganti baju ya.”


“Aku cuci muka sekalian bersih bersih badan dulu deh.” Ucap Fania.


Syut!.


Andrew menggendong Fania seketika.


“Ih apaan sih.” Ucap Fania kala Andrew tiba – tiba menggendongnya ke dalam walk in closet. “Yang luka tangan aku lah, bukan kaki.”


“Tuan Putri, duduk sini ya.” Andrew mendudukkan Fania diatas sofa dalam walk in closet mereka. Lalu bergegas mengambil pakaian ganti untuk Fania dan dirinya.


“Nald, udah ah. Aku bisa sendiri kok.” Ucap Fania yang tidak lagi ingin melihat Andrew repot mengurusinya.


Andrew tersenyum. “Kewajiban aku sayang. Tunggu disini. Don’t move (Jangan bergerak).” Ia melangkah keluar walk in closet dengan langkah yang panjang. Tak lama kembali dengan sebuah wadah berisi air hangat beserta handuk kecil.


“Nald, aku udah ga apa – apa Kok. Udah bisa ngapa – ngapain sendiri juga. Aku bersih – bersih sendiri aja ya di kamar mandi.” Ucap Fania pada Andrew yang kini sudah duduk di sebelahnya.


“Luka kamu masih belum boleh kena air.” Ucap Andrew sambil membuka satu persatu kancing kemeja Fania. Andrew ingin membantu membersihkan tubuh dan wajah Fania seperti halnya yang selama ini ia lakukan saat Fania masih di Rumah Sakit.


“No need to thank me, Heart. (Ga perlu berterima kasih ke aku, Sayang).” Ucap Andrew tulus dengan senyumannya. “Seandainya aku yang ada diposisi kamu juga, pasti kamu akan melakukan hal yang sama, mengurusi aku.”


Fania tersenyum. Terenyuh dengan kata – kata Andrew.


“Untuk sementara kamu pakai sport ba dulu aja ya sampai tangan kamu sudah bisa bergerak normal lagi nanti.” Andrew menelan salivanya saat sudah sukses melepaskan pakaian bagian atas Fania seluruhnya. ‘Yang sabar Donald Bebek.’* Batinnya menguatkan seperti saat dirinya membersihkan Fania di Rumah Sakit.


“Maaf ya, udah lama ga kasih kamu susu murni, meskipun belum keluar juga susunya.” Goda Fania yang paham kalau suaminya itu menahan gejolak kelaki – lakiannya sekuat tenaga.


Andrew tergelak mendengar ucapan Fania. “Aku rela tahan sampai kapan juga keinginan aku untuk menyentuh kamu, daripada harus kehilangan kamu, Heart.” Ia pun mulai membasuh tubuh bagian atas Fania dengan hati – hati. Takut korslet jiwa mesumnya yang lagi lurus kalo liat Fania dalam keadaan tanpa penutup begini.


Lagi – lagi Fania terenyuh. Merasa beruntung memiliki Andrew sebagai suaminya, laki – laki yang mencintainya dengan sangat.


Cup!.


Fania mengecup kening Andrew yang sedang membersihkan tubuhnya. Spontan sedikit memajukan dirinya hingga membuat dua squishy nya bergoyang perlahan.


‘Berat sekali cobaan yang Engkau berikan Tuhan.’ Batin Andrew.


****


Keluarga Smith sedang berkumpul di ruang santai keluarga. Minus Dad, Reno dan Andrew yang sedang berbicara pribadi di ruang kerjanya Dad.


“Gimana luka lo Jol?.” Tanya Jeff pada Fania.


“Tiga hari lagi udah bisa lepas perban Kak.” Jawab Fania.


Mom dan Ara sedang menyiapkan beberapa dessert di dapur bersama Maid. Dua wanita itu sedang sibuk membuat Brownies coklat kesukaan Fania.

__ADS_1


“Kak...!.” Fania celingak – celinguk, membuat dua J dan Michelle setengah bingung. “Ada yang mau gue tanyain.” Tanyanya pada dua J saat merasa situasi dah aman untuk bertanya.


“Mau nanya apa?.” Tanya John. Michelle yang duduk disamping Fania ikut mendengarkan sembari mendekatkan lagi tubuhnya pada kakak iparnya itu.


“Tapi janji jangan cerita sama sama Kak Reno atau ke si Donald gue nanyain ini ya.” Fania memperingatkan dua J dan Michelle. Mereka bertiga mengangguk. “Si Nick sama Cindy dimasukin ke penjara?.” Tanya Fania berbisik.


Dua J tersenyum smirk. “Ngapain lo tanya soal mereka?.” Tanya Jeff malas.


“Pengen tau aja gue Kak. Gimana nasibnya dua orang itu.” Ucap Fania polos.


“Yah lo mending lupain aja kalau mereka pernah ada di dunia ini.” Celetuk John.


“Iya Kak Fania. Don’t bother yourself thinking about them ( Ga usah repot mikirin mereka ).” Timpal Michelle yang geram kalo ingat kedua orang gila menurutnya itu.


“Bukan gitu Chel, terlepas dari kejadian gue si Nick itu kan udah menghilangkan nyawa orang.” Fania kembali celingak celinguk. “Paling engga dia dapat hukuman yang setimpal untuk itu. Biar Kak Nino, Kak Reno sama Andrew juga tenang kan?.”


“Mereka udah mendapatkan ganjaran yang setimpal!.” Ucap John. “Bahkan untuk seumur hidup mereka.”


“Mereka dipenjarakan dimana?. Di Thai atau disini?.” Tanya Fania kepo.


“Tanya sama Kakak atau suami lo kalo soal itu.” Jawab Jeff setengah terkekeh.


“Ish Kak Jeff, yang ada gue dipelototin sama diomelin bakalan sama mereka.” Fania mencebik.


“Nah tuh paham.” Celetuk John. “Itu artinya dua orang itu adalah hal yang amat terlarang untuk lo bahas lagi!.”


“Iya gue Cuma penasaran aja Kak.” Ucap Fania lesu. “Kalo sama si Nick si gue bodo amat deh. Emang dia gila dari dulu juga. Tapi kalo si Cindy gue agak kasian juga.”


“Sama aja gilanya sama laki – laki yang namanya Nick itu. Crazy of Love!. (Gila karna cinta!).” Timpal Michelle. “Sayangnya mereka menempuh jalan yang salah. Tambah lagi ketemu sama Kak Andrew dan Kak Reno.”


“You are definitely right Miss Michelle. (Kamu sangat benar, Nona Michelle).” Celetuk John.


“Sayang aja si Cindy itu perempuan, kalau engga sudah dicincang habis sama Kak Andrew.” Tambah Michelle lagi. “Biar kadang galak dan kejam Kak Andrew itu ga akan memukul wanita.” Ucap Michelle lagi. ‘Tapi kalau soal Kak Fania, pasti berbeda urusannya. Ga dipukul Kak Andrew sih, tapi pasti ga akan dilepaskan begitu saja.’ Batin Michelle bergidik ngeri.


“Iya Chel, kamu mungkin benar. Kakak kamu itu ga mukul perempuan. Tapi mematahkan tangannya!.” Fania teringat saat Andrew mematahkan tangan Cindy dihadapannya karena perempuan itu menampar pipi Fania.


Michelle membulatkan matanya dengan wajah penuh keterkejutan. “Masa sih Kak Fania?!.” Bulu kuduknya sedikit meremang ngeri. “Kak Andrew? Mematahkan tangannya Cindy?!.”


“Ssstt!.” Fania mengingatkan Michelle untuk menurunkan nada suaranya. Kembali ia celingak celinguk. ‘Masih aman’.


“Wow!. Kejam sekali kakak aku itu.” Ucap Michelle namun kini wajahnya biasa dengan setengah menggeleng.


“Waktu itu kayak bukan dia ....” Ucap Fania teringat wajah Andrew kala itu.


“Make yourself get usual, Sweety ( Buat diri lo terbiasa, Sayang ).” Timpal John.


“Yes, Kajol, buat diri lo terbiasa, karena sudah menjadi wanitanya Andrew!.” Jeff menimpali perkataan John. “Dan karena lo adik dari seorang Reno Alexander Smith!. Dua orang yang ga akan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik keluarga kita, apalagi sampai membahayakan nyawa.”


Kata – kata Jeff membuat Fania sedikit ngeri. “Yah sudahlah. Yang penting dua orang itu sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Semoga mereka diadili dan mendapat hukuman sesuai kejahatan mereka.”


“Pasti itu Kak Fania,” Celetuk Michelle.


Fania tersenyum tipis. “Jadi di Pengadilan mana mereka akan diadili?.”


“Pengadilannya Reno Alexander dan Andrew Smith!.” Ucap dua J bersamaan.


***


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2