BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 175


__ADS_3

Selamat membaca..


****


’09.00 PM.’ Waktu menunjukkan sudah jam sembilan malam saat Andrew membuka matanya melirik jam digital yang ada disalah satu nakas samping ranjang pengantinnya.


Setelah acara mandi sore yang bersambung menjadi mandi keringat, hingga membawa dirinya dan Fania terlelap karena kelelahan tak hanya karna pertempuran mereka tadi sore namun juga bercampur dengan lelah dari acara akad nikah mereka sejak pagi hari.


Ia tersenyum menemukan Fania yang masih meringkuk lelap dalam pelukannya. Masih sama – sama tak berbusana bahkan lampu kamar pun masih temaram.


Menggeser tubuh Fania dengan sangat perlahan karena takut membangunkan sang ratu hatinya yang terlihat sangat lelah itu.


Andrew pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar tubuhnya lebih segar baru berencana akan membangunkan Fania.


Tersenyum sendiri saat memandangi bagian atas tubuhnya terutama bagian dada yang tercetak beberapa kissmark yang dibuat Fania tadi. “Ah sial.” Umpat Andrew dalam gumaman nya. Anaconda nya sedikit bereaksi mengingat kejadian sore pengantinnya.


Karena ingat jam sudah menunjukkan telah lewat jam makan malam. Tapi sepertinya tidak ada yang membangunkan mereka untuk mengingatkan. Atau mungkin karena terlalu lelah jadi tidak dengar suara ketukan atau panggilan lewat interkom ke kamarnya.


Entahlah. Sepertinya sekarang ia harus membangunkan Fania untuk mengajaknya makan malam.


Andrew menyalakan lampu kamar saat selesai berpakaian. Menghampiri Fania yang masih nampak pulas dalam tidurnya yang kini sudah tengkurap dengan rambut yang terurai sedikit acak kesamping.


Ah seketika Andrew menjadi ‘lapar’, melihat punggung mulus dan polos Fania yang terekspos karena selimut yang tersingkap hingga ke pinggulnya. Menemaramkan lagi lampu kamar melalui sebuah remote. Menghampiri Fania karena ada yang sedikit berdesir kembali seperti sore tadi dalam dirinya. Seolah lupa mau mengajak Fania makan


malam.


**


“Chel, bangunin itu kakak kamu yang mesum. Kasian adik gue belum makan.” Reno menyuruh Michelle untuk kembali mengetuk pintu kamar Andrew atau sekalian memanggil lewat interkom yang terhubung dari luar.


Karena Andrew dan Fania tidak muncul saat mereka makan malam dan tetap tak nampak hingga Keluarga Smith menyelesaikan makan malamnya dan sekarang sedang berkumpul untuk bercengkrama sambil menikmati dessert di ruang makan. Dengan beberapa macam kue yang sedikit agak banyak beserta satu buah kue tart besar.


“Ih Kak Reno aja ah. Pasti belum bangun itu mereka. Tadi aja aku sama Bi Cici udah ketok ketok sampe lecet tangan aku nih.” Gerutu Michelle.


“Ish. Jangan ngelawan sama yang tua an.” Protes Reno. “Sana bangunin lagi. Kasian itu Fania kan Ulang tahun juga hari ini. Masa kita ga ikut rayain?. Belum makan juga kan tuh pasti adik gue. Kelaparan Pasti.” Nah mulai ngomel deh ini Kakak gantengnya Fania yang merasa adiknya sedang dianiaya dengan enak oleh Andrew.


Sementara Ara, Dad, Mom beserta dua J hanya terkekeh saja melihat dan mendengar omelan Reno yang secara tidak langsung ditujukan pada Andrew.


“Biarin si Hon. Mungkin memang mereka ketiduran karena terlalu lelah.” Sahut Ara.


“Iya Ren, lagi pula Andrew memang kurang tidur juga kan?.” Timpal Mom Erna.


“You guys just let them. ( Udah kalian jangan ganggu mereka ).” Dad ikut menimpali.


“I want to celebrate Fania’s Birthday after six years I’ve been missed that. ( Aku hanya ingin merayakan ulang tahun Fania setelah enam tahun melewatkan nya).” Ucap Reno.

__ADS_1


“John!.” Jeff seperti mengkode John dengan kepalanya.


John pun sepertinya paham. Dan dua bule kw itu sudah menunjukkan muka tengil nya sambil berdiri dari duduknya berjalan ke halaman belakang rumah.


“Mau ngapain?.” Tanya Reno pada dua J yang sudah bergegas ke halaman belakang.


“Suruh ngecek kan?. Balkon kamar mereka kan keliatan juga dari halaman belakang. Tinggal lihat aja lampu udah on apa belum.” Sahut John sambil kemudian berjalan mengekori Jeff.


“Ikut ah.” Michelle ikut berdiri.


Reno akhirnya ikut berdiri. Rasanya dia ingin meneriaki Andrew dari halaman belakang. Ara yang terkekeh melihat suaminya yang uring – uringan karena adik kesayangannya itu masih disekap Andrew, pun turut mengekori.


Sementara Dad dan Mom hanya geleng – geleng saja melihat kelakuan anak – anaknya yang seperti ingin mengganggu Andrew dan Fania.


“Nyala tuh lampunya.” Celetuk Jeff saat dia sudah lebih dulu sampai ke halaman belakang dan melihat lampu kamar Andrew sudah menyala dari pantulan kaca pintu penghubung balkon dan kamar Andrew.


“Mati lagi tuh.” Timpal John yang kemudian tak lama datang setelah Jeff.


“Wah tanda – tanda ada pertempuran lagi ini si.” Jeff sudah menunjukkan muka tengil nya dan melirik pada John yang sepertinya paham rencana isi dalam otak si bule gila. John memanggil Michelle dan meminta si bontot itu mengambilkan sesuatu. Sepertinya Michelle dan Ara juga sudah paham apa yang akan dilakukan dua J selanjutnya.


Lain halnya dengan Reno yang seperti mengambil posisi menghadap ke arah balkon kamar Andrew yang nampak gelap itu dengan wajah kesalnya. “Ish. Ni orang. Gue mau ngerayain ulang tahun adik gue, malah disekap itu si Fania.” Gumamnya sambil bersiap untuk melakukan sesuatu.


**


Fania mulai terbangun karena merasa terganggu dengan sesuatu yang sedang bergerak perlahan di sekujur punggungnya. Seperti ada benda kenyal yang menyusuri punggungnya dengan perlahan. Mengganggu tidurnya, merasa tubuhnya meremang kala ia merasakan benda kenyal itu menyentuh pinggulnya.


“Nald?.” Sedikit terkejut karena Andrew kini sudah diatasnya. Tanpa atasan yang menutupi dada dan perut atletis nya. Tersenyum nakal padanya meski tubuh mereka sedikit berjarak.


“Nice view. ( Pemandangan indah ).” Ucap Andrew namun Fania masih belum paham.


“Apa sih? Muka kamu ngeselin kalo begitu tau ga.” Ucap Fania yang belum sadar maksud ucapan Andrew sambil tangannya melengoskan wajah Andrew dengan pelan kesamping.


Andrew mengkode Fania dengan matanya mengarah sedikit ke bawah. Fania mengikuti arah mata Andrew.


Oh astaga, selimut yang Fania pakai sudah melorot sampai perut sehingga mengekspos gunung kembarnya yang polos itu.


Spontan Fania menutup salah satu asetnya itu dengan kedua tangannya. ‘Jangan lagi ya ampun. Badan gue udah rentak ini rasanya.’ Batin Fania yang melihat Andrew sudah memberikan seringai yang tadi ia tunjukkan sebelum menyerang dirinya sore tadi.


Andrew meraih tangan Fania yang tadi menutup benda favoritnya itu. Mendapat penolakan dari sang istri yang sepertinya ogah untuk di ena – ena lagi.


“Nald. Apa sih ah.” Fania meronta berusaha membebaskan diri dari kungkungan suaminya yang nampak ‘lapar’.


Tak guna, karena sudah pasti tenaganya kalah jauh dengan tenaga si Donald yang sudah menunjukkan muka mesumnya itu, yang matanya mulai tertutup kabut gairah. Lagi!.


Dada Fania kembali berdebar, melihat wajah tampan dan macho suaminya yang didukung amat sangat oleh tubuh berotot nan atletis nya itu, yang kini berada diatasnya sambil menatap dirinya seperti singa yang tak sabar ingin mencabik mangsanya.

__ADS_1


Gugup tapi pengen. Akh, seketika imin Fania mulai terasa goyah dengan pemandangan diatasnya itu. “Nald. Awas ah. Aku mau mandi ih.” Fania mencoba mengalihkan pandangannya sambil berusaha menggeser tubuh Andrew dari atasnya.


Bukan malah bergeser tapi Andrew malah menarik tangan Fania ke atas kepala istrinya itu dengan perlahan, agar tak menghalangi pemandangan dari dua gunung gundul itu.


“Nald, aku laper ini.” Fania merengek.


“Aku juga.” Andrew menyeringai nakal. “Lapar”. Dan Donald Bebek mesum itu mulai melancarkan aksinya. Menahan kedua tangan Fania dengan satu tangannya, sementara tangan yang satu mulai bermain di salah satu gunung gundul milik istrinya.


Tubuh Fania menggelinjang, tak tahan dengan sentuhan nakal sang suami yang bermain di salah satu gunungnya yang kini juga tak membiarkan gunung yang satunya menganggur , karena lidah dan bibir Andrew ikut menjelajah sambil hatinya bernyanyi, naik – naik ke puncak gunung..


Fania frustasi, ia merasa tubuhnya memang lelah, namun tak menyangkal kalau perlakuan Andrew pada kedua gunung gundul miliknya itu membuatnya menginginkan kembali hal yang lebih seperti sore tadi.


“Nald, please. Nanti lagi ya?.” Fania memohon namun tubuhnya menggeliat. Mulut sama badan ga kompak. ‘nafsu kaga ada akhlak emang.’ Batin Fania mengutuk dirinya sendiri yang menikmati apa yang sedang Andrew lakukan saat ini.


Andrew tau Fania cape, lapar. Pasti sih. Tapi rasanya saat ini ia tak mau peduli. ‘Siapa suruh punya badan terlalu seksi.’ Batin bertanduk Andrew mendominasi.


Fania meronta minta ia melepaskan kungkungannya. Namun tubuh bagian bawahnya tak sengaja tersentuh saat istrinya itu menggeliatkan badannya, berusaha melepaskan diri dari cengkraman nya. Makin membuat mata Andrew menjadi gelap.


Melepaskan tangan Fania, namun tak membebaskan tubuhnya. Andrew langsung menjelajah bibir yang menjadi candu baginya. Menuntut, sangat. Hampir tak memberi kesempatan Fania untuk bernafas.


“Sekali lagi ya?.” Bisik Andrew dengan nafasnya yang mulai berat. Membuka kaki Fania dari dalam selimut yang kini membalut tubuh keduanya. Mata Fania membulat karena merasakan sesuatu yang tadi tertutup celana pendek kini sepertinya sudah tak lagi bercelana sudah berada tepat di depan pintu goa nya.


Gercep banget emang kalo soal beginian si Donald.


“..............”


Andrew menghentikan aksinya. Seperti sedang memastikan sesuatu. Namun tak lama ia kembali untuk melanjutkan aksinya lagi.


“Nald. Kayak ada ribut – ribut diluar.” Ucap Fania yang menahan Andrew karena sepertinya ia mendengar suara ricuh diluar kamar.


“Lagi pada nonton TV mungkin.” Andrew kembali meremas gunung gundul Fania lagi. Tak rela menjeda apalagi berhenti.


“Nald. Ih. Coba cek dulu.” Fania merasa seperti mendengar keributan. “Dari halaman belakang kayaknya.”


“Ck. Just ignore. ( Abaikan saja ).” Gerutu Andrew yang berdecak sebal karena aktifitasnya diganggu hingga membuat Fania yang tadi fokus menggelinjang malah jadi gelisah karena mendengar sayup sayup keributan.


“Nald. Liatin dulu sana. Ga tenang aku nih.” Fania protes pada Andrew, karena dirinya memang penasaran dengan sayup sayup suara seperti keributan dari luar pintu balkon yang agak tebal itu.


DAGG!!!


Suara keras terdengar seperti menghantam pintu penghubung antara balkon dan kamar. Andrew dan Fania sama – sama terkejut.


***


To be continue ......

__ADS_1


Nanggung ni yeeee.😜


__ADS_2