
♣ ADA APA DENGAN PRITA ♣
****
Selamat membaca ....
“Eh Priwitan.”
Fania menegur adiknya yang sejak siang seolah jadi pendiam itu.
“Sakit gigi lo?.”
“Ck. Apaan sih Kajol, iseng banget.” Sahut Prita sebal pada kakaknya yang asal menepuk pipinya itu. Untung ga sakit gigi beneran. Coba kalo iya, rasanya pengen jambak itu si kakak yang iseng banget. ‘Lagi sakit ati gue Kak.’ Batin Prita.
“Abis gue perhatiin lo diem aja. Udah packing belom lo?.” Ucap Fania pada adiknya itu.
“Udeh.”
“Kangen pacar ya. Prita?.” Celetuk John.
“Prita ga punya pacar, Kak.” Sahut Prita cepat.
“Percaya gue sih. Orang sama judesnya kayak si Michelle.” Timpal Fania.
“Sekolah aja dulu. Prita. Masih kecil ga usah mikirin pacaran. Jalan kamu masih panjang.” Ucap John.
“Bener tuh. Kakak kamu aja baru punya pacar umur 20.” Timpal Jeff.
“Langsung dinikahin tapi. Lagian Prita ini udah gede, oke? Bentar lagi lulus SMA.” Protes si Priwitan dan para kakak yang sedang kumpul bersamanya terkekeh. Kalo para orang tua sih, ya main sama cucunya sambil nunggu rasa kantuk datang.
“Iya, iya.”
“Lo lagi kenapa sih?. Lagi dapet lo Priwitan? Sewot amat perasaan gue perhatiin lo.” Celetuk Fania pada adiknya yang ia rasa – rasa saat ini sedikit ketus kalo ngomong.
“Perasaan kak Fania aja itu sih.” Sahut Prita.
“Ngomong – ngomong kamu sudah pikirkan soal kuliah, Prita?.” Andrew mengubah topik. Malas mendengar kalo itu kakak ade adu bacot. “Kuliah disini aja kenapa?. Bahasa Inggris kamu kan sudah bagus juga.”
“Prita belom mikirin soal kuliah Kak Andrew, nanti aja deh ah. Bosen sekolah melulu. Bete, Pelajaran lagi – pelajaran lagi.” Jawab Prita pada Andrew.
“Ya sudah terserah kamu itu sih. Kalau memang mau kuliah tinggal bilang mau dimana.” Ucap Andrew lagi.
“Iya Kak.”
“Bagus mana Jol?.” John menunjukkan beberapa print out desain cincin pertunangan bermata indah pada Fania.
“Bagus semua. Lebih bagus lagi kalo lo beliin gue atu.” Ucap Fania sambil melihat – lihat desain yang ditunjukkan John.
“Kalau kamu mau nanti aku pesankan spesial langsung sama Lorraine, ga akan ada yang punya.” Donald Bebek pongah.
“Iya, Poppa, ngarti dah duit kebanyakan.” Sahut Fania lalu mengoper gambar pada Ara dan Michelle. “Lo mau liat Prita?.”
“Menurut adek Prita bagus mana buat calon kakak ipar kamu, hem?.”
__ADS_1
John menyodorkan gambar pada Prita.
“Cincinnya sih bagus semua. Tergantung yang make.” Sahut Prita. ‘Apalagi kalo gue yang pake.’ Batinnya.
“Lebih baik kamu tanya langsung sama yang bersangkutan, John. Selera Aila yang mana. Toh dia yang mau pakai, kan?.”
Ara menyarankan.
“Ya .... gue mau memberikan yang spesial aja untuk Aila. Meski simbolis, tapi gue mau itu cincin mempresentasikan perasaan gue kedia. Meski hanya sebagai pengikat sementara sebelum pesan cincin pernikahan nanti.”
“Ca elah, bule koplak sok beut romantis lo.” Celetuk Fania dan John terkekeh.
“Kenapa sih Kak John pengen buru – buru nikahin dia?. Kan kenal juga belom lama, pacaran juga belom lama. Belom tau dia banget.” Prita ikut nyeletuk.
“Wah, lupa dia. Nah itu si Kajol pacaran berapa lama coba langsung nikah mereka. Pdkt aja kurang dari sebulan itu si Donald Bebek sama kakak kamu.” Sahut John. “Bahagia kan tuh mereka sampe sekarang?.” Tambahnya.
“Tapi kan Kak Andrew sama Kak Fania udah kenal lama. Sepuluh tahun. Udah paham sifat masing – masing. Udah saling sayang juga sebelum pacaran. Nah Kak John kenal aja baru beberapa bulan sama itu cewe.” Prita berargumen.
“Aila. Prita sayang. Biasakan mulai dari sekarang. Panggil Aila seperti kamu memanggil Kak Fania dan Kak Ara, termasuk itu tuk Kak Michelle. Oke anak manis?. Dia akan menjadi kakak ipar kamu loh.” Ucap John pada Prita.
“Dia belom jadi bagian dari keluarga ini, kan?.”
John spontan langsung menoleh pada Prita dengan tatapan yang sedikit terkejut, begitupun para kakak yang lainnya. Ucapan dan nada suara Prita terdengar sedikit ketus, sedikit menggambarkan ada ketidaksukaan Prita
pada kekasih John yang namanya Aila itu.
‘Si Priwitan nape sewot amat sama si Aila, sih?. Perasaan itu cewek emang lurus - lurus aje.’
“Kok kamu ngomongnya begitu sih Prita?.” John kembali bersikap biasa.
“Emang dimana ga cocoknya?.” Sahut John. “Sok tahu kamu ah. Jangan ikut – ikutan Michelle tuh suka nyinyir sama orang, padahal ga tau orangnya gimana. Suka sentimen ga beralasan. Aila itu baik kalian hanya belum sangat mengenalnya. Nanti sebelum gue Truro dan sebelum kita balik ke Indo, Aila akan makan malam disini. Jadi tolong ya, behave ( Jaga sikap ).” Ucap John panjang lebar.
“Kak John jangan asal nilai orang baik sih. Belom juga kenal lama. Air tenang menghanyutkan.” Sahut Prita ga mau kalah.
“Maksud kamu apa Prita?.” Raut wajah John sedikit berubah. Nampak sedikit kurang senang atas ucapan Prita barusan.
‘Bau – bau pertikaian akan terjadi nih kayaknya.’ Batin Jeff sambil memandangi John dan Prita bergantian.
“Iya yang tenang itu menghanyutkan. Dikira cetek taunya dalem. Dikira baik taunya ancur.” Ucap Prita, membuat raut wajah John makin berubah.
Penonton mulai tegang.
“Kamu mau bilang Aila ga bener gitu?.” John sedikit nampak emosi, meski suaranya terdengar biasa, namun raut wajahnya seperti tak terima atas ucapan Prita yang seolah merendahkan Aila ditelinga John.
“Aduh, kenapa kalian jadi ribut, sih?.” Celetuk Michelle.
“Diem Chel, gue ga ngomong sama lo.” Sergah John pada Michelle. “Aila ada nyinggung kamu, Prita?.”
John memberikan tatapan yang sedikit tajam pada Prita.
Prita diam tak menjawab.
“Kamu jangan asal bicara, Prita. Aila ga seperti itu. Apa yang kamu lihat dia diluar ga jauh berbeda dengan apa yang didalam dirinya.” Ucap John lagi. “Kamu ga tahu dia, so please. Jangan asal bicara tentang Aila, karena gue ga suka.”
“John, biasa ajalah.” Dewa mencoba menengahi.
__ADS_1
“Iya Kak John, jangan diambil hati sih omongannya si Prita.” Fania ikut mencoba menengahi dua orang yang nampaknya mulai bersitegang ini. “Lo juga Prita, kenapa sih lo?. Udah deh.”
“Ya gue kan Cuma bilang pendapat gue aja. Emang itu cewek keliatan banget jaimnya. Kak John aja yang buta karna cinta.” Sahut Prita datar.
“Prita!.” Fania menajamkan ucapannya seraya mengkode pada adiknya yang kepala batu sama dengan dirinya kalau udah punya pendapat itu untuk berhenti ngomongin kekasihnya John, karena si bule koplak keliatan udah mulai kesal menuju marah.
“John, Prita, enough ( cukup ).” Ucap Andrew yang sudah berdiri disamping Fania dan menyuruh istrinya itu duduk dengan menyentuh lengannya.
“Engga Drew, ga bisa cukup.” Sahut John.
“John.” Reno ikut menyuruh John berhenti.
“R, Ndrew, seperti kalian yang ga bisa dengar kalau ada orang yang menjelek – jelekkan istri kalian, gue pun sama. Kalau Fania dan Ara begitu berarti buat kalian, begitupun Aila buat gue!.” John masih ingin berargumen. “Dan kamu dengar ya Prita. Cukup itu untuk kamu. Jangan pernah lagi menjelekkan Aila. Jangan karena kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, kamu bisa bicara seenaknya.”
John berkata sambil mengangkat telunjuknya pada Prita yang duduk berjarak dari dirinya.
Prita terdiam.
“You know nothing about my Aila ( Kamu ga tau apa – apa tentang Aila gue ).”
“Ya udah.” Sahut Prita. “Aku emang ga tau apa – apa soal cewek Kak John itu. Tapi yang aku tau cewek yang sok jaim itu biasanya munafik.”
“Prita!.”
John sedikit naik pitam.
“John, Stop!.” Reno sudah berdiri untuk memperingati. “Prita, sudah ya?.”
Prita terdiam.
“Prita, minta maaf sama Kak John.” Ucap Fania pada adiknya yang malam ini aneh se-aneh anehnya dimata Fania.
“Gue minta maaf buat apa Kak?. Pendapat gue hak gue lah.”
Prita bicara dengan ketus, namun nada suaranya terdengar sedikit lirih.
“Prita... sejak kapan lo jadi kurang ajar?.” Ucap Fania lagi. Menekankan kalimatnya.
“Denger ya Prita, kamu suka atau engga sama Aila, gue ga perduli. Seharusnya gue juga ga dengerin pendapat anak kecil kayak lo un ..”
“Gue Bukan Anak Kecil !.” Prita menyela ucapan John seraya berdiri dan pergi dari tempatnya berada sekarang. Suaranya yang meninggi membuat para orang tua seketika bergegas menghampiri para muda – mudi yang biasanya bercengkrama dengan banyak tertawa.
“Hey, kalian ada apa?.” Tanya Mom dengan wajah yang sedikit panik dan meraih lengan Prita.
Sementara para kakak yang melihat sikap Prita yang barusan itu juga lebih kaget. ‘Bocah ngapa yak?.’ Batin Fania.
“Prita, kenapa, Nak?.” Mama Bela juga mendekati anaknya yang ditahan Mom Erna.
“Prita ga apa – apa...” Ucapnya pelan, namun air matanya nampak mengembang. “Oh iya!.” Prita berbalik menghadap John. “Gue minta maaf karena udah ngomong jelek soal cewek lo yang Terbaik itu!. Puas lo?!.” Air mata Prita turun juga dan langsung berbalik lari menuju kamarnya.
‘Ya ampun, ada apa sama si Priwitan ini?.’
Fania mendadak pusing.
***
__ADS_1
To be continue ...