
Selamat membaca .....
“Kita ini mau kemana sih Kak?.” Tanya Fania
pada kedua kakaknya saat mereka sudah berada di dalam mobil Reno.
Hari itu Reno sengaja menyetir sendiri
mobilnya bersama dua wanita yang ia cintai dan sayangi sepenuh hati.
“Udah ikut aja.” Jawab Reno sambil fokus
menyetir.
“Iya bawel banget Demi Moore KW.” Ucap Ara
sambil terkekeh.
“Ah Kak Ara jangan gitu dong.
Kan rambut gue udah panjang sekarang.”
Ucap Fania sambil mencebik di kursi penumpang belakang.
Reno yang melirik lewat spion tengah hanya tersenyum saja.
“Iya, iya Kajol.” Ucap Ara yang menirukan
panggilan mamanya Fania.
“Yah ketularan Syahrini.” Sahut Fania dan
akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.
“Little F.” Panggil Reno dan Fania
langsung memajukan badannya.
“Apa Kak?.” Tanya Fania.
“Kuliah lagi ya?!.” Reno menjawab dengan
kalimat antara pertanyaan atau bujukan.
“Kok tiba – tiba nyuruh gue kuliah?
Malu ya punya adek Cuma lulusan SMA
plus ijasah komputer?.” Ucap Fania datar.
“Tuh, belum apa – apa udah
negative thinking aja. Jangan suka spekulasi sendiri.
Mending bener.” Sahut Reno.
“Ya abis tiba –tiba nanya begitu.”
Ucap Fania lagi.
“Bukannya lo dulu pernah bilang
kalau pengen kuliah? Katanya pengen jadi dokter?.”
Ucap Reno
“Dih emang gue Susan.” Sahut Fania
yang di sambut tawa Reno dan Ara.
“Emang nih adek kesayangannya Reno, ada aja celetukan nya.”
Ucap Ara.
“Lagian kapan tau gue bilang pengen jadi
dokter. Cita – cita gue ga setinggi itu. Lo kan tau Kak kondisi keluarga gue
dulu. Dah gitu pas gue hilang kontak sama lo juga kebetulan Papa kena PHK. Boro
– boro mikir kuliah Kak, bisa makan setiap hari aja udah syukur.” Cerita Fania
tanpa ada maksud apa – apa, tapi Reno sedih mendengarnya.
“Maaf ya.” Ucap Reno
seraya menoleh pada Fania dan mengelus kepalanya,
karna saat itu kebetulan lampu lalu lintas sedang merah.
Tak lama saat lampu sudah berganti hijau, Reno kembali fokus menyetir.
“Santai Kak, gue ga ada maksud lah.”
Ucap Fania. “Lagian udah ga kepikiran sekarang mah.
Kalo dulu iya. Berhubung udah kerja sama nyanyi
juga, jadi lupa tuh sama keinginan buat kuliah.”
“Kalo gue sekarang minta lo buat kuliah, gimana?
Mau?.” Pertanyaan Reno mengagetkan Fania.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil berpikir
dengan pandangannya ke arah jalanan dari balik kaca mobil Reno.
“Gue pikir – pikir dulu ya Kak?!.”Fania
__ADS_1
tampak seperti meminta persetujuan Reno, karena dia saat ini
sepertinya belum bisa menjawab dengan pasti.
“Lagian orang kuliah pengen dapet gelar, terus bisa kerja di
kantor yang keren supaya punya gaji gede. Nah gue udah kerja di tempat yang
keren plus baru naek gaji pula. Tambah lagi dapet tujuh puluh juta sebulan,
kan? Udah enak banget hidup gue biar bukan sarjana. Hehehehe.”
“Kalo gue mengharuskan lo untuk kuliah?!.”
Kali ini ucapan Reno terdengar seperti perintah di telinga Fania.
Nah kalau Kak Reno sudah begini
Fania makin bingung deh jawabnya.
“Yah Kak, diktator amat.” Sahut Fania.
Sementara Ara hanya menjadi pendengar saja, belum ingin menyela pembicaraan
Kakak Ade itu.
“Kuliah Ya?! Oke?!.”
Lagi – lagi permintaan Reno terdengar seperti paksaan.
“Kasih gue waktu buat mikir kek, Kak.” Ucap Fania
sambil mencebik karena dia mulai sebal kalau Reno udah seperti itu, soalnya
Fania pasti susah buat nolak.
“Kalo nolak, gue pecat.” Ucap Reno
“Tuh kan, Kak Reno mah ngancem deh ujung – ujungnya.”
Sahut Fania. “Please Kak, jangan gitu kek.” Fania memohon.
Reno terdiam tidak menjawab permohonan Fania.
“Tuh kan marah deh.” Ucap Fania
karena kakak gantengnya itu tidak berkata apa – apa lagi.
“Ya udah nanti lagi deh bahasnya.
Dimobil ga seru ngancem nya.”
Sahut Reno sambil tersenyum tipis dan tetap fokus menyetir.
“Oh iya Fan, dapet salam dari Donald Bebek.”
***
Ucap seorang pria blasteran yang perawakannya
kurang lebih seperti John.
“Alah lebay lo, bule kw.”
John sedang bersama pria tersebut
di depan sebuah rumah yang terletak
di salah satu kawasan elite Jakarta.
“Kayak lo sendiri bukan bule kw aja.
Nah aksen lo aja makin Indonesia.”
Ucap si Pria blasteran tersebut.
“Karna gue cinta Indonesia.” Sahut John.
“Lo bukan cinta Indonesia. But You loved
Indonesia women.” Si Pria tersebut menyahuti ucapan John.
“Emang gue elo yang penjahat wanita.” John ga mau kalah.
“Kalian nih berdua, kalo ketemu mirip Tom and Jerry.”
Seorang Pria berkepala plontos namun sangat mempesona itu bicara
pada dua orang bule kw yang sedang berdebat di sampingnya.
Tiga orang Pria yang sedang berdiri
di depan rumah mewah yang pagar tingginya di biarkan terbuka itu
adalah Jeff, John dan Andrew si pemilik rumah.
Sesuai dengan yang dikatakannya saat
di London, kalau dia akan tetap berangkat
ke Indonesia, tepatnya Jakarta. Saat tahu kalau Reno sudah menemukan Little F mereka.
“Mereka lama banget.” Ucap Jeff
menanyakan Ara dan Reno yang
sedang menjemput Fania dan
akan memberikan gadis itu kejutan
__ADS_1
dengan mempertemukannya dengan si Donald Bebek.
“Rumahnya Fania itu jauh, Man.” Timpal John.
Andrew menghisap rokoknya dan terdiam.
Dulu dia juga sempat mencari keberadaan Fania
di daerah tempat tinggalnya yang lama, namun
ternyata gadis itu dan keluarganya sudah lama pindah.
Sekarang hatinya gelisah sekaligus berdebar – debar
menunggu kedatangan Fania dan menantikan pertemuannya dengan si Demi Moore KW.
“John, call R. Ask where is he now.”
Ucap Andrew yang menyuruh John untuk menghubungi Reno
karena Andrew udah ga mulai ga sabar sepertinya.
“Okay.” Ucap John
yang langsung mencoba menghubungi Reno
karena ponselnya saat itu memang sedang ia pegang.
Pandangan Andrew tertuju
pada lapangan basket yang
ada di tengah – tengah komplek elite tersebut,
yang juga ada sebuah taman serta pujasera yang tidak terlalu luas disampingnya.
“ Sambil jalan lah ke sana John.”
Andrew menunjuk lapangan basket tersebut,
sementara John yang sepertinya sudah
tersambung dengan Reno menganggukkan kepalanya
dan Jeff mengikuti Andrew berjalan menuju lapangan
di samping laki – laki plontos tersebut.
Mereka bertiga berjalan pelan
menuju lapangan basket,
menyusuri jalanan khusus pejalan kaki
di sepanjang jalanan depan rumah – rumah mewah
yang berjejer di sebrang lapangan. Andrew dan Jeff berjalan
di depan John yang masih sibuk dengan ponselnya.
***
“Eh Kak, ini kan ....” Fania menoleh
ke kaca samping mobil Reno,
karena ia melihat samar – samar dari kejauhan,
lapangan basket yang punya kenangan dimasa lalu.
Fania ingat betul dengan lapangan basket tersebut
karena lapangan itu masih dalam area komplek perumahan elite
tempat Reno tinggal, meski berbeda
satu blok saja.
Reno dan Ara hanya tersenyum saja
melihat ekspresi Fania saat ini.
“ Kenapa?” Reno sengaja bertanya.
“Ini kan lapangan basket tempat
kita sering maen dulu ya Kak?.
Ini area perumahan lo juga kan?.
Kok waktu itu gue ga liat ini
lapangan sih?.” Cerocos Fania.
“Iya kalo ke rumah gue biasanya langsung
lewat jalan yang satunya lagi. Beda blok lah.” Sahut Reno.
“Oh pantes.” Ucap Fania.
“Eh Kak, berenti, berenti dulu
gue mau turun.” Ucap Fania
tiba – tiba dan Reno pun menginjak
rem mobil dengan cepat, saat mobilnya sudah berada
di dekat lapangan basket tersebut.
__ADS_1
*
To be continue..*