BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 15


__ADS_3

♦ANAK BEBEK ♦


*


Selamat membaca...*


 


“Loh D. Kok ga bilang mau jemput?.”


“Memang harus ijin kalau mau jemput istri sendiri?.”


Fania terkejut saat melihat Andrew sudah berdiri dengan gagahnya di depan kelas Fania saat saru mata kuliahnya sudah selesai dan ia keluar dari kelas bersama Shita dan Jeannie yang menyapa Andrew kemudian meninggalkan dua sejoli itu.


Andrew, meskipun banyak yang sudah mengenal ataupun tahu tentang laki – laki itu dan statusnya juga, tetap saja selalu menjadi pusat perhatian para ciwi – ciwi yang merupakan mahasiswa ditempat Fania menuntut ilmu itu.


Meski mungkin tahu kalau Fania adalah istri Andrew, tetap saja banyak mahasiswi yang melirik Andrew dengan mata mereka sambil tersenyum dengan amat sangat manis dengan pandangan yang menggoda.


Berharap sepasang mata dibalik kaca mata hitam yang digunakan Andrew, melirik ke arah mereka dan membuat laki – laki plontos bertubuh tegap sempurna itu mempunyai keinginan untuk khilap. Tapi para mahasiswi ngarep itu boleh berharap. Namun pada kenyataannya pakai atau tidak pakai kacamata, sepasang mata elang milik Andrew itu hanya menatap istrinya seorang.


‘Ck. Gini nih kalo punya laki kegantengan.’


Fania mencebik dalam hatinya setiap kali Andrew datang menjemputnya. Risih dengan para mahasiswi yang mencoba menggoda Andrew lewat tatapan mereka.


“Kenapa, hem?.”


“Ga apa – apa.” Sahut Fania atas pertanyaan Andrew. “Kamu kok ga bilang mau jemput?.”


“As I said (Seperti yang aku bilang tadi), memang harus ijin dulu kalau mau jemput istri sendiri?.”


“Ya bukan gitu. Aku masih ada kelas sih.”


“Don’t worry about that (Jangan khawatir soal itu). Aku sudah mintakan ijin untuk kamu, Heart.”


“Tuh kan kebiasaan suka seenaknya.” Cebik Fania.


“I’m Andrew Smith ( Aku kan Andrew Smith ).” Ucap Andrew sambil tersenyum jahil. “Ya sudah yuk.”


“Mau kemana sih emangnya, mendadak gini?.”


“You’ll know (Kamu akan tahu nanti).”


***


“Airport? (Bandara?).”


“Heeeeemmmm ....”


“Kita mau kemana emang?.”


Andrew hanya tersenyum sambil menggandeng Fania naik ke dalam pesawat pribadi mereka.


“Ih, si Donald Bebek nih. Kamu mau ajak aku kemana?.”


Andrew masih tidak menjawab, hanya senyam – senyum aja.


“D.. serius ini ah aku nanya. Malah senyam senyum aja sok ganteng.”


“Memang aku ganteng!.”


Fania mengerucutkan bibirnya. ‘Emang iya sih. Seksi pula. Ah jadi pengen ...’


“Pasti sedang memikirkan hal mesum.”


Ucap Andrew sambil cengengesan yang sadar kalau Fania baru saja menelisik dirinya dari ujung kepala  (berhubung si Donald Bebek ga punya rambut) sampai ujung sepatunya.


“Dih!.” Sahut Fania. “Suka bener!. Wkwkwk.”


“Dasar!.”


“D, seriusan ini kita mau kemana?.”


“You will know it later, my lovely wife. Just enjoy the trip (Kamu akan tahu nanti, istriku sayang. Nikmati saja perjalanannya).”


“Kita mau ke luar negeri?.”


“Hem.”


“Passport sama Visa aku?.”


“Ada sama aku.”


“Lah pakaian aku?. Baju segala underwear?. Segala skin care aku?.”


Fania masih sibuk nyerocos dengan pertanyaannya.


“Skin care dan peralatan pribadi lainnya juga sudah aku siapkan. Kalau pakaian, gampang. Ga perlu sering – sering pakai baju nanti disana.”


“Ish!.”


Andrew terkekeh.

__ADS_1


“I’ll take you for our second Honey Moon, my love (Kita akan bulan madu kedua, sayangku).”


***


“Wake up, sleepy head (Bangun tukang tidur).”


Suara bisikan Andrew ditelinga Fania, serta kecupan dipipinya mengusik tidur Fania. Si Kajol yang biasa baterai tubuhnya diatas seratus persen itu saat ini sedang tak ter-charge penuh sepertinya.


“Eeennngg udah sampe?.” Ucap Fania sambil mengulet manjah. Andrew tersenyum dibuatnya.


“Jangan suka mancing – mancing.”


“Mancing apaan sih?.”


“Itu yang barusan.”


“Apaan, orang ngulet dibilang mancing. Gaje!. Lagian jauh banget ini bulan madu, perasaan ga sampe – sampe.”


“Iya ini udah sampai.” Andrew berdiri dari duduknya. “Yuk.”


***


“Kita ada dimana sih?.” Fania sedikit memicingkan matanya akibat sinar matahari yang menerpa saat sudah berada di pintu pesawat.


“Selamat datang di Pulau Asmara.”


“D..... ini kan....” Mata Fania membulat sempurna disertai dengan mimik sumringah pada wajahnya, melihat pemandangan yang terhampar dihadapannya.


“Welcome to Bora – Bora, Heart.” Ucap Andrew sambil menyunggingkan senyum yang lebar sebelum Fania menyelesaikan kalimatnya. “Your Dream Island (Pulau Impian kamu).”


“Donald Bebek!!!.” Fania berjingkrak kegirangan seraya loncat memeluk Andrew yang dengan senang hati menangkapnya.


Fania benar – benar tidak menyangka kalau Andrew membawanya ke Pulau impiannya. Sebuah pulau kecil disebelah selatan Samudra Pasifik, tepatnya di Kepulauan Tahiti yang juga terkenal dengan keindahan lautnya.


Pulau impian Fania yang amat sangat ingin ia datangi, namun mengingat biaya perjalanan serta menginap de el el yang kelewat mahal bagi Fania, keinginannya itu hanya dia simpan dalam hati saja. Lupa kali lakinya siapa. Wkwkwk.


“Kok kamu tau aku pengen banget kesini?. Perasaan aku ga pernah ngomong juga.”


“I’m Andrew Smith, Sweetheart ( Aku Andrew Smith, Sayang ). Hal tentang orang lain dapat dengan mudah aku tahu, apalagi keinginan kamu.”


“Wow emezing sekali Donald Bebeknya aku nih.” Ucap Fania sambil mencubit mesra kedua pipi Andrew sembari menggoyangkan kepalanya.


“Suaminya siapa?.”


“Akulah!.”


“Hadiah.” Andrew memonyongkan bibirnya. Fania tergelak geli


Satu kecupan mendarat di bimolinya alias bibir monyong lima sentinya Andrew, mendarat cantik dari bibir Fania yang gemas.


“Yuk.”


Andrew menggandeng mesra Fania untuk membawanya ke Penginapan, tempat mereka akan menikmati bulan madu keduanya.


“Gila banget ini sih. Sumpah!.” Fania tak henti – hentinya berdecak kagum saat mereka sudah sampai di sebuah Laguna super cantik berwarna hijau toska. Dengan penginapan yang tidak kalah mewah dan khas untuk mereka tempati selama beberapa hari ke depan.


Meski berada diarea pantai namun tempat menginap mereka terasa nyaman dan sejuk, karena atap penginapan dibuat dari daun palem, yang dibuat menyerupai rumah – rumah lokal masyarakat Polinesia, namun sudah dibuat lebih modern.


Bagian terbaiknya adalah, resort yang ditempati Fania dan Andrew untuk bulan madu kedua mereka itu terletak diatas laguna, yang memungkinkan para wisatawan yang menginap bisa langsung terjun ke laut dari balkon kamar mereka.


Dek dan perahu pribadi juga nampak sudah disiapkan disamping resort seandainya Fania dan Andrew ingin berkeliling menjelajah pulau.


Sungguh bak surga dunia. Bikin Author juga pengen kesana, apalah daya cukup ngayal aja. Wkwkwk


Indah. Amat sangat indah. Tapi ada satu pemandangan ganjil yang tertangkap mata Fania.


“Ini bukannya resort pribadi ya D?.” Tanya Fania yang melihat beberapa orang yang nampak berdiri tegap di sekitar resort. Memakai celana pendek dan kaos kerah serta sepatu kets lengkap dengan kacamata hitam.


“Iyap.”


“Itu mereka ngapain disitu?.” Tanya Fania heran.


“Memang tugas mereka sebagai pengawal pribadi.”


“Apa?.” Fania terhenyak dengan ucapan Andrew. “Masa bulan madu bawa pengawal?. Mana banyak banget lagi.”


“Hanya mencegah apa yang pernah terjadi di Thailand tidak sampai terulang lagi.”


“Nah kita ga bebas dong. Padahal udah ngebayangin pake bikini.”


Andrew terkekeh. “Jangan khawatir soal itu, Heart. Mereka tidak akan mengganggu, tidak akan melihat. Aku akan menyuruh mereka sedikit menjauh saat kita sedang butuh privasi.”


“Jadi boleh dong aku pakai bikini?.”


“Boleh. Lepas semua pun boleh.”


“Dasar omes!.”


Andrew terkekeh lagi dan membawa Fania dalam gendongannya menuju dalam resort.


“Tuh kan belum apa – apa.”

__ADS_1


“Hanya mengetes apa bangunan ini tahan goncangan.”


“Amit deh!.”


****


Menghabiskan lima hari di Pulau Bora – Bora, Andrew benar – benar membuat Fania menikmati bulan madu mereka. Dari menikmati Polynesian Show hingga snorkling dan berenang bareng ikan hiu. Fania dan Andrew amat sangat menikmati waktu bulan madu mereka di Pulau Asmara itu.


Benar – benar pantas disebut Pulau Asmara, karena suasana Pulau Bora – Bora yang memang romantis. Batu karang yang indah bentuknya, air yang jernih, pasir putih dan ikan warna – warni menghiasi indahnya bulan madu kedua sepasang sejoli ini, termasuk menjelajah Gunung Otemanu dan Gunung Pahia yang berada di tengah – tengah pulau tersebut.


Benar – benar menciptakan kenangan tersendiri bagi Fania dan Andrew untuk mereka bawa dalam hidup dan kisah asmara mereka.


***


London, seminggu kemudian ...


Fania baru saja keluar dari kamarnya, lalu melangkah turun sambil menunggu Andrew pulang dari kantor.


‘Ini  perasaan bau....’


Hidung Fania mengendus bau menyengat yang ia kenal aromanya saat sudah mencapai lantai bawah. Sedep sih kalo buat si Kajol, namun dia buru – buru berlari ke arah dapur.


“Theresa!. I smell a durian aroma? (Theresa, aku mencium aroma durian?).” Ucap Fania.


“Yes it is, Mrs. Fania (Memang benar Nyonya Fania). There (Itu).” Theresa menunjuk durian kupas yang terjejer dalam beberapa wadah. Bahkan masih ada yang utuh dengan kulit – kulitnya.


Fania sampai membuka mulutnya saking terkejut melihat banyaknya duren di dapur.


Ngiler sih Fania memang, tapi dia langsung ingat kalau Andrew membenci buah tersebut.


‘Bisa ngamuk si Donald Bebek ini nanti!.’ Batin Fania yang seketika langsung was –was. “Who bring this? (Ini siapa yang bawa?).”


“Mister R who bring all of this (Tuan Reno yang membawa semua ini).”


“Where is he? (Dimana dia?).”


“In the living room, Ma’am (Di ruang keluarga Nyonya).”


Fania hendak buru – buru melangkah mencari Reno di ruang keluarga seperti yang Theresa bilang. “By the way Theresa, clean this up. Or at least find the way so this Fruit smell not really smelly (Ngomong – ngomong Theresa,


rapiin ini. Seenggaknya cari cara supaya baunya ini buah ga terlalu tercium). Andrew will be so upset (Andrew bisa marah – marah nanti).”


***


“Kak Reno!.” Fania sudah menyambangi Reno yang berada di ruang keluarga bersama Dad, Mom juga Ara.


“Orang itu cium tangan dulu kek.” Sahut Reno datar.


“Oh iya.” Sahut Fania dan langsung meraih tangan Reno dan Ara untuk salim. Reno hanya geleng – geleng melihatnya. “Kak elo yang bawa duren itu semua dari Jakarta?.” Tanya Fania buru – buru.


Reno hanya mengangguk.


Fania mencebik. “Kenapa ga taro dirumah lo kek?. Bisa ngamuk itu si Donald Bebek nanti. Mana banyak banget lagi. Lagian kok bisa lolos itu duren di Bandara banyak begitu?.”


“Hello, I’m Reno Aditama Smith, okay?. Apa yang ga bisa?. Lagipula itu pesanan, adikku sayang.” Ucap Reno santai.


“Pesenan?.” Tanya Fania heran. “Lo jadi distributor duren di London sekarang?.”


Pertanyaan polos Fania membuat keempat orang yang ada di ruang keluarga tergelak.


“Dih malah ketawa. Gue serius ini. Kalo pesenan ngapain lo bawa sini, suka amat nyari ribut ama si Andrew sih!. Itu duren pesenan siapa emang?.”


“Aku.” Suara bariton yang amat dikenal Fania membuatnya menoleh.


“Kamu?.” Fania keheranan.


“Aku yang minta R bawakan itu durian.” Ucap Andrew yang datang bersama Jeff yang cengengesan.


“Loh?. Bukannya kamu benci banget sama duren?.”


“Tadinya. Tapi tiba – tiba ingin.”


“Aneh.”


“Ga aneh lah.” Celetuk Reno sambil juga cengengesan.


“Ya anehlah!. Jangan kata makan itu duren, nyium baunya aja udah marah – marah biasanya juga.” Ucap Fania dan Andrew mengendikkan bahunya. Ia sendiri juga heran kalau tiba – tiba dia ingin makan yang namanya durian.


Beruntung Reno yang memang sedang ada urusan di Jakarta dan berhubung itu buah juga sedang musimnya. Jadi Reno tak kesulitan menemukan buah tersebut saat Andrew meminta tolong untuk membawakan duren ke London.


“Ga perlu merasa aneh dan ga perlu heran.”


Ara bersuara sambil juga cengengesan seperti yang lainnya terkecuali Andrew dan Fania.


“Kenapa emang?.”


“Because, Anak Bebek is coming soon (Karena Anak Bebek sebentar lagi nongol).”


***


To be continue ...

__ADS_1


Jempolnya mana buat Anak Bebek?


__ADS_2