BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 37


__ADS_3

💗 FAMILY AND LOVES 💗 Keluarga dan Cinta 💗


 


**********************************************************


Selamat membaca..


**********************


Weekend siang ini si bule koplak mengumpulkan anggota keluarganya untuk menyampaikan sesuatu hal yang dia bilang penting.


Mumpung lagi ada semua, dan mumpung dia belum kembali ke Jakarta untuk kembali mengurusi bisnis disana sekalian mengantar Keluarga Cemara kembali ke alamnya.


“Kita semua sudah berkumpul, John. Bilang apa yang mau lo kasih tahu sekarang.”


Andrew buka suara, mewakili semua anggota keluarga yang sedang berkumpul saat ini.


“Well, bulan depan aku berharap, sangat. Kalau Dad, Mom dan kalian semua, termasuk Keluarga Cemara jika berkenan. Ikut aku ke Singapura.”


“Wuih, mau ngajak liburan lo, Kak?.”


“Bisa diatur, Jol.” Sahut John. “Tapi bukan itu poin pentingnya.”


John menghela nafasnya, lalu terbit seutas senyum yang nampak bahagia diwajah tampannya itu.


“Aku ingin melamar, Aila. Secara resmi pada keluarganya.”


‘Wow.’


Semua orang membatin takjub. Pada akhirnya si bule koplak sudah menentukan pilihannya dan nampak amat sangat yakin dengan keputusannya. Namun ada satu hati yang nampaknya sedikit merasa perih, mendengar John akan melamar seorang wanita.


“Finally..... ( Akhirnya..... ).”


“So, jadi tolong kosongkan jadwal kalian, oke guys?.....”


“Wani piro kak John.”


John terkekeh atas celetukan Fania.


“Tinggal bilang Jol, apa perlu gue kasih lo buku cek dan lo tulis sendiri nominalnya?.”


“Shaum – bong amat yang mau kawin!.”


“Udah kali kalo kawin sama itu cewe sih! Nikah yang belum.” Celetuk Reno.


“Hey, bapak Reno yang terhormat. Aila itu cewe baik – baik oke?.” Sahut John.


“Ya, ya, ya.” Reno menjawab malas pada si bule koplak.


John cengengesan sumringah. Aura bahagianya nampak terpancar sudah. Baru mau melamar aja si bule koplak udah keliatan bahagia banget. Dan seluruh anggota keluarganya pun nampak ikut bahagia, kalau pada akhirnya si


bule koplak itu pada akhirnya menemukan Pelabuhan hatinya.


“Jadi bulan depan sudah fix, John?.” Tanya Ara.


“Yap.”

__ADS_1


“Pastinya kapan tanggal berapa. Gue juga harus cek schedule dari sekarang.” Timpal Jeff.


“Nanti gue infoin lagi. ASAP ( Secepatnya ).” Sahut John.


“Tapi lo udah beneran mantep ini Kak, milih si Aila buat jadi istri lo?.” Celetuk Fania.


“Seribu persen yakin mantap!.” Sahut John lagi dengan yakinnya.


“Lo ga maksa dia kan buat nikah sama lo?. Secara kalian nih kan hobi itu memaksakan kehendak.” Ucap Fania yang melirik pada Andrew dan kakak gantengnya. Yang dilirik senyam senyum aja. “Ini si Donald Bebek, Kak Reno ama itu tuh si bule gila atu, kan demen maksa. Termasuk elo juga.”


“Kecuali aku ya Naomy?.” Celetuk Dewa.


Andrew memandang malas padanya. “Masa bodoh!.” Dewa terkekeh.


“Iya betul kecuali Kak Dewa. Suka mengalah itu dia. Baik hati dan tidak sombong.” Timpal Fania, kemudian terkekeh.


“Nah kan?.”


Andrew makin sebal memandang Dewa, lalu melirik sebal juga pada Fania. “Ada suaminya disamping, malah memuji laki – laki lain.”


“Ca elah, gitu aja cemburu si Poppaa!.” Celetuk Fania yang kemudian bergelayut manja pada Andrew setelah menoel dagu suami bucinnya itu.


Dan Andrew menempelkan hidungnya dan hidung Fania dengan manja sembari tersenyum.


‘Sok mesra banget ini bebek dua. Sabar John nanti kalo si Aila udah jadi istri lo, lo bisa pamer kemesraan biar pada  iri.’ Batin John bermonolog sambil ngayal.


“Well, Dad and Mom akan selalu mendukung putra putri kami, kamu tahu itu kan, Son?.”


Dad bersuara dan berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia karena ada Papa Herman dan Mama Bela yang ga paham – paham Bahasa Inggris kalo udah lebih dari dua kata, kecuali No Smoking, nah itu Dilan ama Milea versi uzur paham dah.


“Thanks Dad ( Terima kasih Dad ).” Ucap John. “Oke ya, nanti aku info lagi rencana berikutnya.”


“Oke Mom.” Sahut John. “Bersiap – siap para adik – adik kecilku, Michelle dan Prita, kalian akan punya kakak ipar baru.” Ucap John pada dua gadis belia yang tidak ikut buka suara. “Jangan khawatir, dia sebaik Kakak Ara dan Kakak Kajol kalian. Udah keliatan kan waktu ketemu di rumah sakit waktu itu?.”


“Yah, we’ll see about it Kak ( Yah liat aja nanti, Kak ). Belum keliatan sifat aslinya, kan?.” Seperti biasa Michelle dengan kejutekannya kalau belum terlalu mengenal seseorang.


“Lo nih, pantes aja ga ada cowok yang berani deketin lo, Chel. Jadi cewek jangan judes – judes amat. Males itu cowok – cowok jadinya. Tajam banget lidah lo.” Celetuk John sebal pada Michelle yang emang judes banget itu. “Aila itu baik oke.”


“Emang aku aja yang ga kasih kesempatan untuk para cowo – cowo yang ga jelas!. Baik di luar belum tentu baik didalam. Mending seperti Kak Fania tuh, petakilan di luar tapi baik biar cerewet banget juga.” Michelle ga mau kalah argumen.


“Lo muji apa nyindir gue sih Chel?.” Celetuk Fania.


“Dua – duanya!.” Sahut Michelle yang membuat keluarganya terkekeh. “Lagian nih ya Kak John, gue ga ada maksud apa – apa ya, tapi dari yang gue lihat, itu cewek kayaknya ga jujur.”


“Ga jujur gimana?. Dia mengelola bisnis gue dan kakak sepupunya dengan baik kok. Gue kasih kartu buat belanja aja dia tolak. Unlimited loh. Ga mau dia, dibalikin lagi. Dan gue sudah menyelidiki juga latar belakangnya. Dan dia wanita baik – baik. Mantan pacarnya aja Cuma satu, sama mantan suami satu. Ke klub aja dia ga pernah.”


John menyerocos panjang lebar, adu argumen dengan Michelle soal wanita pilihannya.


Michelle berdecak. “Maksud aku tuh ga jujur soal perasaan dia ke Kak John. Bukan soal hidupnya. Iya kan Kak Fania?. Soalnya aku pernah membahas soal pacarnya Kak John itu loh sama Kak Fania, ya Kak?. Sama Kak Ara juga. Dan perasaan kita bertiga itu sama. Coba jelasin deh Kak Fania, Kak Ara sama ini Romeo yang sedang jatuh cinta.”


“Jadi maksud si Michelle itu Kak, gue , Michelle, Kak Ara ini punya pendapat yang sama soal cewe lo itu.” Fania bersuara. “Tapi lo jangan tersinggung, ini kan persepsi kita orang bertiga aja. Gue bertiga nih, ngerasa kalo dia tuh, si Aila ga, ga cinta sama lo. Well, bener yang lo bilang kalau dia itu wanita baik. Seengganya hati gue fine, fine aja sama dia.”


“Kami suka sama Aila, dia baik, tulus. Aku bisa lihat kok dia wanita seperti apa. Aku udah bicara sama R, Andrew, Fania soal dia. Dan kami ga punya rasa ga suka sama dia. Hanya aja, aku, Fania, Michelle bahkan Prita itu sempat


bahas soal Aila, dan bagaimana perasaaan nya ke kamu, John.”


Ibu peri berbicara panjang lebar juga.

__ADS_1


“You love her that much, but we didn’t see the same thing inside her eyes for you ( Kamu begitu mencintainya, tapi kami tidak melihat hal yang sama dimatanya pada kamu ).” Sambung Ara, sedikit menyakitkan untuk John.


Tapi John tetap menyimak, mendengarkan tak menginterupsi. Meski sebenarnya dia merasa sedikit tak terima dengan ucapan Michelle, Fania dan Ara. Tapi John menghormati ketiga wanita berbeda usia itu dan menghargai mereka layaknya kakak dan adik kandung sendiri, karena memang itulah Keluarga Smith bagi John. Orang – orang yang berada dalam lingkup keluarga yang sudah membesarkannya dengan sangat baik itu sangat ia hormati, hargai dan memang dirasa berarti untuk dirinya.


“Kami ini bicara begini, karena kami sayang sama Kak John. Aku bisa melihat cinta di mata Mom untuk Dad. Kak Ara to Kak R. Kak Fania to Kak Andrew bahkan sejak saat mereka masih pacaran. But I didn’t see the same thing


in your girlfriend eyes to you ( Tapi aku ga melihat hal yang sama di mata cewek kakak untuk Kak John ).”


Michelle menyampaikan pendapatnya lagi.


John menatap Michelle sembari mencerna ucapan gadis muda itu. Masih belum bersuara.


“Michelle bener Kak, kita orang nih ngomong gini, karena kita sayang. Gue pribadi pengen elo bahagia , Kak Jeff, Kak Dewa, Michelle juga Prita kelak dapet orang – orang yang tulus mencintai kalian.” Fania menimpali. “Tapi tetep Kak, kita semua menghargai pilihan lo.”


“Fania benar John. Well, lo tau mereka bertiga nih ga mungkin berpendapat kalau tanpa sebab. Dan lo harus ingat, mereka bertiga ini nih bisa dibilang peka, kan?. Terlebih lagi mereka sama – sama wanita.”


“Tapi apapun keputusan lo kita tetap dukung. Jangan khawatir soal itu.” Ucap Kakak Ganteng menambahkan.


John manggut – manggut. Apa yang dikatakan Michelle, Ara dan Fania sepertinya lumayan mempengaruhi hatinya sekarang.


Tiga orang wanita tersebut ga mungkin membahas kalau ada sesuatu yang tidak dirasa janggal bagi mereka.


“Okay. Akan gue pikirkan ucapan kalian.” Ucap John sambil manggut – manggut. “Tapi gue benar – benar mencintai Aila. Dan gue berharap kalian akan mendukung gue apapun keputusan gue nanti.”


“Just like I said, John ( Seperti yang tadi gue bilang, John ). Kami semua akan selalu memberi dukungan dan menghargai apapun yang menjadi keputusan lo.” Sahut Reno. “Marriage is a serious thing to live ( Pernikahan


itu adalah sesuatu yang serius untuk dijalani ). Dan akan jauh lebih baik kalau Pernikahan itu memang atas dasar dari dua orang yang punya rasa yang sama.”


“I get it, R ( Iya gue ngerti, R ).” Ucap John. “Keluarga Cemara ada pendapat? Mama Anye?.” Tanya John pada Keluarga Fania yang belum bersuara seperti halnya Mama Anye.


“Yah Mamah sama Papah sih, ikut yang baik aja John. Yang penting kamu bisa bahagia dengan wanita pilihan kamu.” Ucap Mama Bela.


“Iya Mama setuju dengan itu. Kami pasti bahagia kalau kamu bahagia, John. Tapi akan lebih baik kalau wanita yang kamu pilih itu mencintai kamu sebesar kamu mencintai dia.” Mama Anye menambahkan.


“Makasih Ya Mama Bela, Mama Anye.” Ucap John sembari tersenyum. “Mom?.”


“Yah sama dengan Mama – mama itu. Yang penting kamu bahagia.” Sahut Mom.


“Papa Herman?.” Tanya John pada Papa nya Fania yang sedang bermain bersama dua cucunya itu.


“Idem.” Sahut Papa Herman yang membuat keseriusan yang sempat muncul jadi mencair karena timpalannya itu dan membuat yang lain terkekeh.


“Prita, tumben diem aja?. Kamu sakit?.” Tanya John pada adiknya Fania yang memang tidak terdengar suaranya dari tadi dan gadis yang biasanya petakilan itu nampak sedikit murung. Biasanya kan asal jeblak.


****


“Hari ini dia mengatakan akan melamar kekasihnya didepan seluruh keluarga dengan wajahnya yang terlihat begitu bahagia. Ingin aku ikut merasa bahagia seperti biasanya, tapi kenapa kali ini susah?.”


Suara hati dari seseorang yang memendam rasa berikut asa.


“Laki – laki itu, apa salah kalau aku mencintainya?.”


****


To be continue ...


Jangan lupa ritual Jempol dan Komen yang akan selalu Author baca.

__ADS_1


Salam Sayang


Emaknya Queen


__ADS_2