BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 201


__ADS_3

Selamat membaca ...


 


“It’s been more than twenty four hours Mario. (Ini sudah lebih dari dua puluh empat jam Mario).” Ucap Andrew pada dokter kenalan baiknya dan Reno itu. “Why she’s not waking up?. (Kenapa dia masih belum bangun?).


“Be patience, Andrew. (Sabar Andrew).” Mario menepuk pundak Andrew, saat sudah berada di ruang gawat darurat tempat Fania ditangani. “Twenty four hours in a minimum time. (Dua puluh empat jam adalah waktu minimum).”


“She’ll survive, right?. (Dia akan bertahan, kan?).” Ucap Andrew sambil membelai kepala Fania yang masih belum sadar dan belum melewati masa kritisnya.


Mario hanya tersenyum tipis. “We should pray for that. (Kita harus berdoa untuk itu). I won’t go anywhere until she become stabil. (Gue ga akan kemana mana sampai kondisinya stabil).” Dokter itu menepuk nepuk kembali bahu Andrew.


Andrew mengusap wajahnya. Memegang erat sambil sesekali menciumi tangan Fania nya.


“You better take a rest Andrew. (Lo sebaiknya istirahat Andrew).” Ucap Mario, mengingat Andrew yang sepertinya belum tidur itu.


“No, I want to be the first one She’ll see, when her eyes are open. (Tidak, gue mau jadi orang pertama yang dia lihat saat matanya terbuka).” Ucap Andrew pelan kembali mengecup tangan Fania perlahan.


“There will be nurses who will check your wife condition every fifteen minutes. (Akan ada perawat yang akan mengecek kondisi istri lo setiap lima belas menit).” Ucap Mario. “I’ll be at my office. You also can take a rest at there if you want.(Gue ada di ruangan. Lo juga bisa istirahat disana kalo lo mau).”


“Thank you, Mario. Thanks a lot. (Makasih Mario. Makasih banyak).” Ucap Andrew pada temannya yang sudah berusaha keras menyelamatkan Fania.


“Don’t mention it. (Ga usah bilang begitu). We’re friend, right?. See you later than. (Kita kan teman. Nanti gue balik lagi).” Ucap Mario dan Andrew menjawab dengan anggukan.


***


“Heart, sudah seharian kamu tidur. Ga ingin bangunkah?.” Andrew berkata lirih. “Maaf... aku lalai menjadi suami yang baik untuk kamu....” Satu bulir air matanya menetes. “Bangun ya, supaya kita bisa pulang. Kamu mau pulang kemana? Ke London atau Ke rumah keluarga cemara?, hem?. Mereka mau datang Heart, ga mau sambut


Keluarga Cemarakah?....” Suara Andrew sedikit tercekat. “Bangun ya, kita sambut mereka sama – sama. Wake up .. I miss you to hold me. (Bangun ..... aku kangen dipeluk kamu).”


“Ndrew.” Reno menyentuh bahu Andrew yang sedang tertunduk, bertopang pada satu tangan dibawah kepalanya yang bersandar di dekat tangan Fania yang ia genggam.


Andrew mengangkat kepalanya dan menoleh pada Reno, sembari menghapus beberapa bulir air matanya yang jatuh ke pipi.


“Papa Herman, Mama Bela dan Prita sudah sampai.” Ucap Reno pelan.  Andrew mengangguk. “She’ll be okay. (Dia akan baik – baik saja).” Ucap Reno sambil menatap Fania dengan tersenyum sambil membelai kepala adik kesayangannya itu. “Jangan tidur lama – lama, nanti lo gendut. Bangun, habis itu kita makan durian sepuasnya. Biarin aja si Donald Bebek muntah – muntah.”

__ADS_1


Andrew tersenyum tipis melihat Reno yang mengajak Fania bicara meski tanpa ada respon dari Fania yang masih belum melewati masa krisisnya akibat kehilangan banyak darah, dan meski Mario sudah mengeluarkan peluru yang sempat bersarang di lengannya.


“Gue temuin Keluarga Cemara dulu.” Ucap Andrew yang bergegas keluar dari ruangan tersebut. Reno mengangguk.


**


“Nak Endru.” Ucap Papa Fania yang matanya nampak merah saat melihat Andrew keluar dari ruangan tempat Fania dirawat.


“Pah.” Andrew menghampiri papa mertuanya itu sambil mencium tangan dengan takdzim lalu memeluk Papa Herman dengan perasaan bersalah. “Maafkan Andrew Pah.”


“Ini musibah, Nak.” Ucap Papa Herman lirih. "Bukan salah kamu ...."


“Mah.” Andrew kemudian menghampiri Mama Bela yang berlinang air mata. Menyalim dan memeluk Mama mertuanya itu. “Maafin Andrew ya Ma .. Andrew lalai menjaga Fania.”


“Jangan bicara begitu, Nak Endru.” Ucap Mama Bela sedikit tersenyum meski hatinya teramat sedih. “Ini udah takdir. Yang penting kita terus berdoa supaya Fania cepat sadar.”


“Kak Andrew.” Prita menghampiri Kakak iparnya itu dan Andrew juga memeluknya. “Kakak gimana kondisinya?.” Adik Fania itu sudah bercucuran air mata.


“Doakan Kak Fania bisa melewati masa krisisnya ya?.” Ucap Andrew pada Prita dengan matanya yang berkaca – kaca. Harapannya sama dengan harapan semua orang, ingin Fania cepat sadar dan pulih.


“Tentu Pah, tapi satu – satu ya. Karena Fania belum bisa dipindahkan ke ruang rawat.” Jawab Andrew yang kemudian mengajak Papa Herman terlebih dahulu untuk melihat Fania di ruangan khusus itu.


Yang kemudian mengajak Mama Bela lalu Prita bergantian setelah Papa Herman selesai melihat kondisi putrinya. Kajol kesayangan mereka.


Kemudian berkumpul kembali di dekat ruangan Fania dirawat, bersama juga dengan Keluarga Smith yang lain saat dua orang perawat datang untuk mengecek Fania.


“Papa, Mama, Prita lebih baik istirahat dulu di hotel ya?. Kalian pasti lelah.” Ucap Andrew.


“Iya Andrew benar. Biar diantar sama John dan Jeff.” Tambah Reno dan dijawab anggukan oleh dua J.


“Kalian berdua juga sebaiknya istirahat deh.” Ucap Ara. “Biar aku yang disini, gantian.”


“No Ara. (Engga Ara). Gue ga akan kemana – mana.” Sahut Andrew. “Kalau Fania bangun dia pasti cari gue.” Ucap Andrew lirih. “I wanna be there when she open her eyes. (Gue ingin ada saat dia membuka matanya).


Tak ada lagi yang bisa berkata setelah mendengar Andrew berucap barusan dengan matanya yang mulai berkaca – kaca masih dengan wajah penuh penyesalan dan menggambarkan sedihnya.

__ADS_1


Mereka semua terdiam sejenak, hingga tiba – tiba melihat Mario berlari dengan tergesa menuju ruangan Fania.


Andrew, Reno dan yang lainnya langsung berubah panik. Andrew tak sempat menghadang Mario untuk bertanya, karena Dokter itu langsung melesat masuk ke dalam ruangan tempat Fania berada.


“WHAT HAPPEN?!. (APA YANG TERJADI?!).” Tanya Andrew dengan keras dan mencoba menerobos masuk, namun seorang perawat pria menghadangnya.


“Please wait here, Sir. (Tolong tunggu disini Pak).”Pinta sang perawat pria tersebut pada Andrew yang wajahnya terlihat khawatir. Lalu ia segera masuk ke dalam ruangan tersebut bersama perawat lainnya yang membawa beberapa barang diatas tray dan mengunci ruangan tersebut agar Dokter bisa fokus melakukan tugasnya.


“WHAT HAPPEN, GOD DAMNED?!.(APA TERJADI, SIALAN?!).” Andrew mengumpat kencang karena gusar dan takut yang tadi melihat Mario berlari ke dalam ruangan Fania dengan wajah panik. Terlebih lagi dia dilarang masuk.


“Calm down, Son. (Tenang Nak).” Dad mencoba menenangkan Andrew. Ia juga sama khawatirnya dengan Andrew dan anggota keluarga yang lain, namun Dad coba bersikap tenang.


Andrew berdiri gelisah di depan pintu ruangan tempat Fania berada, bersama Reno disampingnya yang juga tampak takut dan gelisah seperti halnya Andrew. Hati mereka sudah berdebar tak karuan sembari memanjatkan doa, begitupun keluarga mereka.


“WHAT TAKE HIM SO LONG?!. (KENAPA DIA LAMA SEKALI?!).” Andrew tak sabar akibat frustasi karena Mario dan para perawat tak kunjung keluar.


“Sabar Andrew, sabar.” Mom Erna merengkuh pinggang anaknya itu sembari mengusap usap punggung Andrew, meski ia kini sudah berlinang air mata seperti para wanita yang lainnya. Sementara Ara sendiri berada disisi Reno yang bergeming tak bicara hanya memandangi terus ruangan tempat Fania berada. Dan Keluarga Cemara terus berdoa dalam hati mereka.


“What happened Mario?!. (Apa yang sudah terjadi, Mario?).” Tanya Andrew segera saat melihat Mario keluar dari ruangan Fania. “She’s okay right?. (Dia baik – baik saja, Kan?).”


“You better go inside ... (Lebih baik lo masuk ke dalam).” Ucap Mario pelan.


**


Sakit


Panas


Sesak, seperti tak ada udara


Dingin... sangat dingin ...


Gelap...


***

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2