
Selamat membaca...
**
“Biar ini jadi urusan gue juga. Sekalipun Andrew mengiyakan untuk balapan dengan lo, tetap ga akan gue ijinkan.” Reno berbicara meraih bahu Fania, memandang Andrew. ”Let me, represent her. (Biar gue yang wakili dia).”
“Okay, deal kalau begitu.” Andrew menyahut cepat.
“Oke?.” Babang Reno tersenyum pada si ade kesayangannya.
Fania tampak berpikir sebentar. “Okelah kalo gitu, Kak. Tapi janji lo ya, kapan – kapan gue boleh ngerasain balapan disini.” Reno dan Andrew pun mengiyakan.
Dua J tersenyum lebar. Sepertinya dua bule KW itu taruhan, karena nampak udah cengengesan sendiri. “Who’s you’re on to, Nino?. (Lo pegang siapa, Nino?).” Tanya John pada tangan kirinya Reno itu, karena John adalah tangan kanannya Reno. “Are you join to this bet, Alex?. (Apa lo mau ikut taruhan, Alex?).” Mereka juga mengajak Alex.
Alex menggeleng. “No, Sir. I’m pass (Engga Tuan).” Sahut Alex sopan.
Reno, Andrew dan Fania menoleh pada mereka yang nampak sibuk bertaruh.
“Draw! (Seri!).” Timpal Nino.
“He's the one who will lose!. (Dia yang bakalan kalah!).” Sahut Reno dan Andrew bersamaan.
Nino menggeleng. “I bet for a draw. (Gue bertaruh kalian seri).” Ucapnya yakin.
“And if one of us win?. What you got then?. (Kalau salah satu dari kita menang? Apa taruhan lo?).”
Reno menantang Nino, yang kalau diluar pekerjaan, sebutan sebagai teman pun berlaku padanya. Seperti halnya dua J, Nino pun sudah dianggap menjadi bagian dari Keluarga Smith.
“Anything the winner ask. (Apapun yang menang minta).”
Nino berkata dengan pede. Fania baru itu melihat wajah Nino yang seringnya ia lihat serius, saat ini sedikit berbeda.
‘Bisa tengil juga mukanya ini manusia satu.’ Batin Fania.
“Okay, Deal! (Oke, setuju!).” Sahut Reno dan Andrew.
“And if I win? You guys are draw? (Dan kalo gue menang? Lo berdua seri?).”
“You say it (Ngomong).” Sahut Reno dan Andrew lagi.
Nino tersenyum smirk. “You guys will let me choose on of your collection in your personal garage. (Lo berdua akan membiarkan gue memilih salah satu dari koleksi kalian di garasi pribadi kalian).”
“You sure had a ball. (Punya nyali juga lo)." Ucap Reno.
"Of course. (Tentu saja)." Nino masih dengan muka tengil nya.
"Fine, deal. (Okelah, setuju).” Ucap Reno mengiyakan permintaan Nino dengan wajah menyebalkannya itu. “Andrew?.”
“Deal!.” Sahut Andrew dan Nino melebarkan senyumnya.
“Shall we?. (Ayo kita mulai?).” Ucap Reno pada Andrew.
“Okay! Let’s race then!. (Oke, ayo kita balapan kalo begitu!).”
“Gue gimana?.” Tanya Fania saat Andrew dan Reno mulai berjalan ke mobil dan akan ambil posisi.
“Lo sama gue dan Jeff. Oke, Kajol?.” Sahut John, yang langsung merangkul Fania.
“Gue yang bawa mobil ya?!.” Ucap Fania cengar – cengir.
__ADS_1
“HELL NO! (GA BOLEH!).” Andrew, Reno dan dua J kompak berteriak.
Fania hanya memutar bola matanya malas.
“Nino, you and Alex better stay at our Mansion tonight. (Nino, lo sama Alex sebaiknya menginap di Kediaman Smith malam ini).” Ucap Andrew pada Nino dan Alex yang ia tau kalau dua orang itu juga pasti sudah lelah.
Keduanya pun mengangguk.
“See you guys at home. (Kita ketemu di rumah).” Ucap Reno kemudian masuk ke mobilnya dan Andrew ke mobil Nino.
Kelima orang lainnya, masing – masing masuk ke mobil yang akan mereka tumpangi. Sementara mereka yang malam itu berada di Southend pun bergegas berkumpul saat melihat dua mobil yang masing – masing ada Reno dan Andrew di belakang kemudi.
“Sudah siap menghadapi dinginnya malam – malam lo ke depan, Donald Bebek?.” Ledek Reno pada Andrew sebelum mereka memulai balapan.
Andrew setengah terkekeh. “In you dream. (dalam mimpi lo).”
“READY?” Niel sudah berdiri di antara kedua mobil yang sebentar lagi dilajukan oleh Reno dan Andrew. Menunjuk pada Reno yang kemudian menginjak gas menandakan ia sudah siap.
“STEADY?.” Tunjuk Niel pada Andrew, dan Andrew melakukan hal yang sama seperti Reno. “Well, you guys better inform me who’s gonna be the winner. (Kalian berdua jangan lupa informasikan ke gue siapa yang menang).”
Niel mengingatkan pada Andrew dan Reno, karena ia sudah diberitahu kalau Andrew dan Reno tidak akan kembali ke garis finish saat selesai balapan. Namun ia tetap mengadakan taruhan dengan sebagian orang yang ada di tempat itu sekarang.
Reno dan Andrew pun mengangguk.
Niel tersenyum lebar, kemudian ia mengangkat topinya.
“GO!!. (MULAI!).”
Suara decitan ban dari kedua mobil yang di kendarai Reno dan Andrew pun terdengar, sesaat setelah Niel bilang 'Mulai' sambil menjatuhkan topinya ke aspal.
“Wow!.” Fania yang berada di dalam mobil bersama dua J yang tepat berada di belakang Andrew dan Reno yang sedang saling menyalip itu terkesima melihat kelihaian dua pria yang ia sayangi itu. Satu si Kakak ganteng yang super protektif dan amat sangat memanjakannya itu, satu lagi si Donald Bebek sialan, kalo kata si Kajol ini malem. 😜
“Baru liat kan gimana jagonya abang sama suami lo kalo niat balapan?.” Celetuk Jeff yang berada di belakang kemudi. Fania manggut – manggut, sambil memperhatikan juga kebolehan Jeff dalam mengemudikan mobil dengan cepat, mencoba mengimbangi dua mobil yang sedang balapan itu.
Sementara mobil temannya Fania dikemudikan oleh Nino bersama Alex didalamnya, yang juga tampak lihai melesatkan mobil, tepat dibelakang mobil yang ditumpangi Fania dan dua J.
‘Wow mereka secepat dan sekeren itu ternyata.’ Batin Fania yang terus semakin takjub melihat Andrew dan Reno didepan mereka yang mengemudi dengan sangat cepat, nampak mampu memprediksikan arah dan kecepatan hanya dalam satu kedipan mata.
Andrew sedikit memimpin dari Reno yang nampak juga hampir menyusulnya.
“If Andrew win, you won’t be able get off from the bed before you get pregnant. I bet for it. (Kalo si Andrew menang, lo ga akan bisa bangun dari tempat tidur sampe lo hamil. Gue yakin). Haha ....”
Celetuk John lalu ia tergelak lepas.
“Rumah masih setengah jalan, oke?.” Sahut Fania yang sebenernya deg -deg an untuk segera tau siapa yang bakalan menang.
Jeff hanya tersenyum saja mendengar ucapan John. Namun tak berani bersuara, takut kena semprot si Kajol yang mulutnya sedang super julid malam ini.
Di depan mobil yang ditumpangi Fania beserta dua J, nampak Reno kini sudah menyamai posisi Andrew.
Dua laki – laki itu saling menoleh lalu tersenyum penuh arti. Lalu kembali fokus pada kemudi masing – masing. Saling menyalip, bergantian memimpin dijalanan. Saling unjuk kebolehan mereka dalam menyetir.
“It can’t be happen. (Ini ga mungkin terjadi).” Gumam Andrew dibelakang setirnya, karena Reno sudah sedikit jauh mendahuluinya saat sebentar lagi sampai di Kediaman mereka.
“Donald Bebek yang sebentar lagi akan menghabiskan malam – malamnya dalam kedinginan yang tak berujung.” Reno melirik sebentar spionnya melihat pada mobil yang dikemudikan Andrew dibelakangnya, sambil tersenyum penuh arti. Ia kembali melajukan mobilnya yang sebentar lagi sampai di Mansion mereka.
“Ah, Kak Jeff nih kan, kita jadi ga liat itu siapa itu yang menang!.” Fania mencebik pada Jeff, karena mobil yang dikendarai si bule gila itu tertinggal saat dibelokan menuju Kediaman mereka.
__ADS_1
“Jangan khawatir Jol, ada CCTV asal lo tau. Jadi nanti bisa lihat dari situ siapa yang menang. Santai.” Sahut Jeff.
“Coba tadi gue yang nyetir!.” Cebik Fania lagi yang merasa tidak puas, kemudian turun dari mobil saat mereka sudah sampai halaman mansion.
Reno dan Andrew sudah nampak bersandar di mobil yang tadi mereka kendarai sambil menyesap batangan nikotin ditangan mereka, menunggu Fania, dua J, Nino berikut Alex datang.
“So?!. (Jadi?).” Fania sudah menghampiri Reno dan Andrew.
“Apanya yang So?.” Tanya Reno sedikit meledek Fania. Berlagak tak paham maksud pertanyaan si Kajol.
“The winner..(Yang menang siapa?).”
Andrew dan Reno hanya tersenyum, bikin Fania penasaran dan geregetan.
“Check by yourself. (Liat sendiri nih).” John memberikan ponselnya pada Fania, setelah mendapatkan sambungan langsung ke CCTV depan Kediaman mereka.
Fania menaikkan alisnya, saat sudah melihat siapa yang sampai duluan di depan Mansion.
“Terus ini jadinya gimana kalo begini?.”
Tanya Fania lalu memberikan ponsel John kembali yang kemudian dilihat oleh dua J serta Nino rekaman CCTV yang barusan Fania lihat.
Reno menaikkan alisnya memandang Fania, Andrew hanya tersenyum. “Mau kamu gimana?.” Andrew buka suara.
“Jadi taruhan lo dan Andrew dianggap batal lah!.” Celetuk John.
Fania menoleh pada John, lalu memandangi Reno dan Andrew bergantian.
Raut wajah kurang puas nampak jelas diwajah si Kajol saat ini. Seri! Benar – benar diluar prediksinya. Si kakak ganteng dan si Donald Bebek sama jago ternyata dalam melesatkan mobil sambil berpacu.
“Happy Nino?. (Seneng lo ya Nino?).” Celetuk Reno pada Nino yang dipastikan menang banyak malam ini karena prediksinya tepat. Reno dan Andrew sampai bersamaan di depan Mansion, meski Reno sempat memimpin dan sedikit lagi mencapai gerbang depan Mansion.
Namun Andrew melesat dengan sangat cepat, tepat berada disisi mobil Reno saat sedikit lagi sampai ke Mansion.
“Very! (Sangat!).” Celetuk sang pemenang, Nino. Yang akan dengan puas memilih salah satu mobil yang menjadi koleksi Reno dan Andrew. "I'll be right to your garage tomorrow, don't you guys worry. (Gue akan langsung ke garasi kalian besok, kalian ga perlu khawatir)." Tambahnya lagi dengan senyuman lebar nan tengil.
“Alex, you may take a rest now. (Alex lo boleh istirahat sekarang).” Ucap Fania pada Alex yang masih setia berada didekat mereka. “Theresa, could you please prepare a guest room for her?. (Theresa, bisa tolong siapkan satu kamar tamu untuknya?).”
Theresa, yang langsung terjaga bersama dengan beberapa pelayan saat mendengar suaran deruman mobil langsung sigap untuk menyambut para majikan mudanya.
Sebagai seorang kepala pelayan yang sudah lama bekerja pada Keluarga Smith, membuat ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk membuat dirinya selalu siap untuk melayani setiap anggota keluarga Smith.
“Yes Mrs. Fania. (Baik, Nyonya Fania). Of course. (Tentu saja).” Sahut Theresa dengan sopan lalu meminta Alex ikut bersamanya.
“Also prepare another room for Nino. (Juga siapkan satu kamar lagi untuk Nino).” Ucap Reno pada Theresa. Yang kemudian langsung dijawab dengan sopan juga oleh Theresa dan dua pelayan yang bersamanya.
“You can continue to rest after that. Don’t think about us. You work too hard. (Kamu bisa melanjutkan istirahatmu setelah itu. Jangan pikirkan tentang kami. Kau sudah bekerja terlalu keras).” Ucap Fania lagi pada Theresa yang dijawab dengan senyuman oleh wanita setengah baya itu.
“Lebih baik kita juga masuk.” Ajak Andrew pada semuanya.
Yang lainnya mengangguk dan langsung berjalan menuju ke dalam Mansion. Hanya Fania yang belum bergeming, karena nampak sedang berpikir dalam otaknya.
“Udah. Ayo masuk.” Ajak Reno pada Fania sambil merangkul bahu adik kesayangannya itu.
Andrew membiarkan Fania dan Reno berjalan duluan didepannya. Sedikit lega karena ga jadi pisah kamar.
***
To be continue .....
__ADS_1