
Selamat membaca..
Sepanjang jalan dari sejak Andrew dan Fania keluar dari restoran tempat mereka makan malam tadi, Andrew tak bicara sepatah kata pun selama perjalanan menuju Villa tempat mereka menginap.
Membuat Fania jadi serba salah karena Andrew juga membuang pandangannya ke arah jalan selama mobil yang mereka tumpangi melaju ke Villa mereka. ‘Aduh, gue bingung deh kalo dia udah begini.’ Batin Fania yang resah.
*
“Fania....” Nick menyebut nama Fania kala ia sudah kembali ke hotel tempatnya menginap. Merebahkan diri sambil menghela nafas dengan kasar dengan sebuah gelas berisikan minuman beralkohol ditangannya.
Gambaran wajah seorang Fania menari – nari di kepalanya. Wajah cantiknya, senyumnya.
“You know exactly how much I adore you, Sweetheart. ( Kau tau dengan pasti betapa aku memujamu, sayang ).” Nick tersenyum sinis, lalu menenggak minuman dalam gelas yang sedang ia pegang.
Laki – laki itu nampak frustasi setelah tau kalau Fania yang ia puja – puja itu ternyata sudah menikah. Ia meraih ponselnya, membuka galeri foto yang ternyata menyimpan beberapa foto Fania. Memandangi salah satu foto, sambil mengusap layar ponselnya lalu tersenyum sinis.
**
“Who is he? ( Siapa dia? ).” Tanya Andrew datar pada Fania tanpa menatap istrinya itu saat mereka sudah sampai di Villa dan kini sudah berada dikamar untuk mengganti baju sambil membuka satu persatu kancing kemejanya dan berjalan masuk ke walk in closet.
Fania menghela nafasnya pelan. Lalu mengikuti Andrew masuk ke dalam walk in closet.
“Nald ....” Fania memanggil lembut.
Andrew berhenti sebentar sambil setengah menoleh tanpa membalikkan badan.
“Apa kamu ga dengar pertanyaan aku tadi?. Should I repeat the question? ( Apa harus aku ulang pertanyaannya? ). “ Ucap Andrew dengan suaranya yang datar dan terdengar dingin di telinga Fania.
“Dia Cuma kenalan aku, oke?.” Ucap Fania yang mencoba santai menghadapi Andrew yang sepertinya sedang cemburu.
__ADS_1
“Kenalan? Heh?.” Andrew terkekeh sinis lalu membuka lemari pakaian, masih tak menoleh pada Fania. “Mantan maksud kamu?.”
“Nald, kan kamu tau selama ini aku ga pernah punya pacar sebelum kamu?. Udah berapa kali aku bilang, kan?.” Fania membela dirinya namun tetap berusaha untuk tenang. “Aku....”
“Kata kamu, kan?.” Andrew memotong ucapan Fania. “Sayangnya sampai detik ini aku tidak pernah mencari tau soal itu.”
“Ya ampun Nald, jadi maksudnya kamu ga percaya sama aku?.” Fania menggeser tubuh Andrew pelan agar menghadapnya.
“I didn’t say that ( Aku ga bilang begitu ).” Ucap Andrew lalu kembali beralih ke isi lemari pakaian.
“Nald. Dia itu Cuma kenalan aku. Bahkan teman pun bukan.” Ucap Fania lagi masih coba menguasai dirinya agar tak terbawa emosi.
“Kenalan?. Kenalan macam apa yang kamu biarkan memegang tangan kamu mesra, hem?. Lupa kalau kamu sudah punya suami?.” Andrew menghadap Fania dan memberikan tatapan yang seolah mendikte. “Bahkan dia mengabaikan perkataan dan kehadiran aku!.” Nada suara Andrew sedikit mulai naik.
“Ga usah pake emosi bisa?.” Ucap Fania sambil memandang Andrew, menyabarkan dirinya karena Andrew yang setengah berteriak.
“Suami mana yang ga emosi melihat laki – laki lain memandangi istrinya dengan mesra tepat, di depan matanya!.” Andrew menunjuk Fania dengan jarinya. “And then what? ( Lalu apa? ). Kamu sepertinya nyaman saat dia genggam tangan kamu. Heh, Kenalan kamu bilang?!. He even called you 'Babe'. ( Dia bahkan memanggilmu ' Sayang ). Heh, kenalan!”
“Aku udah minta maaf kan soal itu, Nald?.” Fania masih coba sabar meski Andrew sudah berjalan membelakanginya. “Please, jangan kekanak – kanakan kayak gini.”
“What did you say?! ( Apa barusan kamu bilang?! ). Aku? Kekanak – kanakan?!.” Andrew berbalik menghadap Fania, memandangnya dengan wajah yang tak enak. “Kalau kamu liat aku memegang tangan wanita lain? Hem?!.” Andrew langsung berbalik meninggalkan Fania kembali menuju kamar mandi.
“Nald!.” Panggil Fania.
“Sebelum kamu bilang aku kekanak – kanakan, harusnya kamu introspeksi diri dulu!.” Ucap Andrew dengan telunjuknya yang menuding Fania.
BRAK !!!.
Andrew membanting pintu kamar mandi, membuat Fania kaget hingga bahunya terangkat.
“TERSERAHLAH!.” Fania tak sanggup lagi menahan emosinya. Berteriak kesal dan sempat terdengar Andrew sebelum laki – laki mengguyur tubuhnya dibawah kucuran shower. “Jujur salah! Boong apa lagi!” Gumam Fania kesal dengan sikap Andrew barusan. “Terserahlah!.” Ia berjalan keluar kamar sambil meraih tas kecil yang tadi dia bawa saat makan malam.
__ADS_1
***
Andrew sudah menyelesaikan mandinya. Sengaja berlama – lama dengan niatan mengguyur badannya dengan air dingin dari kucuran shower untuk meredam cemburu dan emosi yang seketika menguasainya saat bicara dengan Fania hingga mereka sampai berdebat, bahkan Andrew sempat membentak Fania.
Ia sudah sekalian membawa pakaian ganti juga ke dalam kamar mandi. Sengaja karna kalau ingat tangan Fania yang tadi digenggam oleh laki – laki yang Andrew tidak kenal dan istrinya itu membiarkan.
“Shit! (Sial!).” Umpat Andrew saat berdiri di depan wastafel.
Andrew mengatur nafasnya sejenak, sambil memejamkan mata. Kemudian bergegas keluar dari kamar mandi. Dan berpikir untuk langsung tidur tanpa bicara lagi dengan Fania, daripada emosinya kembali terpancing.
Berpikir juga mungkin saja Fania sudah tidur, karena dirinya cukup lama menghabiskan waktu di dalam kamar mandi.
Andrew membuka pintu kamar mandi perlahan, karena berpikir kalau Fania sudah tertidur dan ia tidak mau membuat Fania terbangun kalau memang istrinya itu sudah terlelap. Nanti bakal ada adu argumen lagi.
Karena Fania itu tipikal orang yang suka membahas sampai tuntas, meski kadang terbawa emosi. Dan saat ini Andrew sedang sangat malas untuk menanggapi kalau Fania mulai mau membahas lagi.
Mata Andrew setengah mencari, karena tak melihat Fania diatas ranjang. Melirik ke balkon kamar sedikit namun istrinya itu pun tak nampak. Tak ada pantulan sosok Fania juga di pintu kaca penghubung kamar dan balkon.
Berpikir kalau Fania mungkin sedang berganti baju di dalam walk in closet, Andrew langsung beringsut ke atas ranjang. Merebahkan dirinya, mencoba memejamkan mata, dengan satu tangan menutupi kedua matanya.
Lima menit
Sepuluh menit
Lima belas menit
Tapi Fania juga tak nampak, Andrew juga tak mendengar apapun dari dalam walk in closet atau suara pintu yang terbuka, dan ranjangnya pun tak menunjukkan ada pergerakan lain selain dirinya.
*****
To be continue ....
__ADS_1