
Selamat membaca....
Flashback saat F4 versi London di coffee shop on.
“By the Way, Ndrew. We’re stick on our plan right? (Rencana tetep kan?).” Tanya Jeff.
“Of course. (Tentu saja).” Sahut Andrew.
“Tapi Om Herman dan Tante Bela menolak.” Ucap Reno.
“That’s why Dad and Mom go there, right?. (Itulah kenapa Dad dan Mom pergi kesana, kan?).” Sahut Andrew. “Mudah – mudahan mereka bisa membujuk Papa Herman dan Mama Bela soal rumah yang mau gue berikan ke mereka.
“Ya hope so. ( Gue harap begitu ). Tapi mereka kayaknya ga mungkin mau terima rumah yang lo tawarkan. Mereka bukan orang – orang yang gila harta soalnya.” Tambah Reno.
“Ya, I Know ( gue tau ). Gue hanya mau memberikan tempat tinggal yang lebih layak buat mereka.” Ucap Andrew lagi, lalu menyesap kopinya.
“Terus jadinya lo sama Jeff kapan mau ke Indo susul Mom and Dad?.” Tanya John.
“Tomorrow morning. ( Besok pagi ).” Jawab Andrew. “Gue harus selesaikan semua secepatnya sebelum kalian bawa Fania ke Indo.”
“Sudah jelaskan maksud semua juga sama Papa Herman dan Mama Bela tentang tujuan utama lo?.”
Tanya Reno dan Andrew mengangguk.
“That’s why I have to go there by tomorrow. ( Itulah kenapa gue harus berangkat besok ).” Ucap Andrew. “Tinggal gue pikirkan alasan aja nanti buat alasan ke Fania.”
Reno manggut – manggut sambil menatap Andrew. “Well, everything are all set. Just stick to the plan ( Yah semua sepertinya sudah siap. Hanya tinggal menjalankan rencana aja ).”
“Hm. Gue rasa juga lo sama Ara sudah bisa tenang untuk fokus kasih gue ponakan.” Sahut Andrew. “Our Little F ( Little F kita ) ga akan kemana – mana lagi.”
“ Ga mungkin bisa kemana – mana kalo udah lo patenkan Ndrew. “ Celetuk Jeff.
Andrew terkekeh pelan. “Bahkan Dad memang sudah mempersiapkan dia buat gue.”
Flashback saat F4 versi London di coffee shop off.
***
“Kok ada disini?. Emang ini rumah si....” Kalimat Fania berhenti saat matanya menangkap sosok seseorang yang sedang berdiri tegak dengan senyuman yang dua hari ini di rindukan Fania. Menatap lurus padanya, menunggu Fania nya. ‘Loh, kok, dia ....?.’
“Ayo Kak, masuk. Udah ditungguin dari tadi.” Ajak Papa Herman yang membuat Fania mengalihkan pandangannya dari seseorang yang sedang berdiri menatap penuh harap padanya.
“Eh, tunggu – tunggu.” Fania menarik tangan kedua orang tuanya. “Priwitan sini.” Menyuruh Prita untuk ikut bergabung juga.
“Apa sih Jol?.” Tanya Mama Bela.
“Kok Papa, Mama, Prita juga ada disini?. Ini rumah siapa si?.” Fania bertanya balik.
“Karena sekarang mereka akan tinggal disini, Heart.” Andrew yang sedari tadi berdiri menatap Fania saat gadis pujaannya itu muncul ke dalam rumah.
Fania memandang Andrew sedikit sinis. “Gue ga nanya sama lo.”
“Kakak, jangan ga sopan sama Nak Endru.” Protes Papa Herman yang melihat sikap dan mendengar ucapan Fania ke Andrew. Membuat Fania kembali menoleh pada sang Papa.
“Ya udah ini rumah siapa?.” Fania kembali bertanya.
“Kan tadi Nak Endru udah jawab. Mulai sekarang kita semua tinggal disini. Tuh liat.” Sahut Mama Bela sambil menunjuk ke salah satu sudut dinding dan terlihat ada satu buah figura besar berisikan Foto Keluarga cemara. Papa Herman, Mama Bela, dirinya dan Prita dalam ukuran yang lumayan besar.
Fania memandangi Figura foto tersebut. Berjalan perlahan mendekati sudut dinding yang ada foto keluarga cemara.
__ADS_1
“Kredit atau Cash?.” Tanya Fania tanpa berbalik masih matanya tertuju pada figura foto.
“Kak.” Ucap Sang Papa.
“Karna kalau cash, Fania rasa uang yang Fania tabung titip ke mama belum cukup juga untuk beli rumah seperti ini dengan tunai.” Fania masih bicara dengan nada datar, kini sudah membalikkan badannya. “Hem?.”
“Heart.” Andrew coba berbicara pada Fania yang nampak dingin padanya.
“Kamu yang beliin rumah ini?.” Tanya Fania datar dengan wajah yang juga datar.
“Little F, kita duduk dulu yuk.” Reno coba membujuk Fania yang paham dari ucapan dan wajah datarnya Fania, tersimpan ada rasa yang membuat gadis itu kurang senang.
“Kamu tau?. Betapa besar mimpi aku untuk membelikan rumah bagi keluarga aku dengan uang hasil kerja keras aku sendiri?. Bukan dari belas kasihan orang lain.” Mata Fania sedikit mulai berair akibat tenggorokannya yang sedikit tercekat. Memandang pada Andrew.
“Fania, sayang.” Mama Bela menghampiri anaknya.
“Heart, listen to me ( Dengerin aku ).” Andrew mencoba melangkah maju.
“Kamu yang belikan rumah ini?. Yang kasih rumah ini?. Jawab !!.” Tanya Fania dengan suara yang sedikit meninggi sambil menatap Andrew.
“Kakak, liat Papa.” Papa Herman menangkup wajah putri sulungnya. “Kakak jangan begini. Papa paham mimpi Fania buat beliin rumah untuk kita. Tapi kakak tenang dulu. Jangan bicara begitu sama Nak Endru.”
“Tapi rumah ini dari dia kan?.” Mata Fania mulai berair.
“Ga sepenuhnya.” Andrew angkat bicara. “Aku memang menawarkan sebuah rumah untuk kalian. Tapi Papa Herman dan Mama Bela menolak. Mereka cerita soal mimpi kamu, keinginan kamu soal rumah yang ingin kamu belikan untuk keluarga kamu dari hasil keringat kamu sendiri.”
Mata Andrew seperti memancarkan ada sedih yang berasal dari hatinya.
“Maaf kalau aku lancang. Aku hanya ingin berbagi tanggung jawab dengan kamu.” Andrew menjeda kalimatnya. “Karena untuk aku, semua hal tentang kamu adalah tanggung jawab aku. Kalau aku salah aku minta maaf.” Andrew menjeda lagi. “Maaf tentang kelancangan aku. Aku Cuma menambahkan bukan sepenuhnya membelikan.”
“Andrew is right, My Dear. ( Andrew benar, sayang ).” Seorang pria paruh baya yang sudah dikenal Fania muncul dari ruangan sebelumnya. Diikuti seorang wanita yang juga sudah dikenal Fania. Dua orang yang selama kurang lebih hampir dua bulan sudah dekat dengannya.
“Andrew hanya ingin memberi kejutan sayang.” Mom Erna kini menangkup wajah Fania. Diikuti Ara dan Michelle di belakang mereka.
Fania menoleh pada Andrew yang di dekatnya tak hanya ada Reno tapi Jeff yang juga terlihat sudah berada didekatnya dan memegang bahu sahabatnya itu.
“Little F, uang yang dipakai untuk beli rumah ini memang menggunakan uang tabungan lo selama ini yang lo titip ke Mama Bela. Sementara sisanya pun itu juga uang lo sebenarnya.” Reno angkat suara.
Fania mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?.” Ia kurang paham maksud kalimat terakhir Kakak Gantengnya.
“Aku sama Reno, sejak kami berdua punya penghasilan sendiri, menyisihkan sebagian untuk kamu. Bentuk janji kami berdua untuk mewujudkan semua mimpi kamu. Meski selama enam tahun ini kita pernah lose contact, tapi aku dan Reno tetap menyisihkan sedikit budget yang kami atas namakan sebagai tabungan kamu.” Jelas Andrew.
Ada rasa bersalah yang kini hinggap di relung hatinya pada Andrew. ‘Seperti itukah?.’ Ada rasa malu karena secara tidak langsung menuduh Donald nya itu.
“Maaf ya?.” Andrew membawa Fania dalam pelukannya. Terlalu besar cintanya pada seorang Fania. Hatinya menampik harga diri dan egonya sebagai laki –laki atas sikap Fania padanya yang kadang seenaknya, kalau gadis itu sudah merasa tidak puas atas perlakuan Andrew padanya.
Rasa bersalah dan malu yang sudah hinggap pada hati Fania atas Andrew, membuat ia sukar untuk berucap. Memilih membenamkan wajahnya di dada Andrew yang terbalut kemeja berlapis jas yang dikenakan Andrew saat ini.
Pada akhirnya Fania mengeratkan kedua tangannya melingkar di pinggang Andrew. “Maaf ... .”
Yang lain memilih untuk meninggalkan Andrew dan Fania di ruang tamu rumah baru keluarga cemara.
“Kita tunggu di dalam.” Ucap Reno sambil menepuk – nepuk bahu Andrew lalu menyusul yang lainnya.
****
“Hey, look at me ( Hey, lihat aku ).” Ucap Andrew lembut meraih dagu Fania agar gadis itu menatapnya yang sedikit menundukkan kepalanya. “Maaf ya?. Hem?.” Menatap Fania menunggu jawaban.
“Aku yang minta maaf, harusnya.” Fania berkata pelan. Beberapa tetes air mata sepertinya sudah jatuh ke pipinya. Karena pipi Fania nampak basah begitupun kemeja Andrew.
__ADS_1
Andrew tersenyum lalu mengecup dahi Fania. “Kamu ga alah apa – apa.” Andrew mengusap lengan Fania yang masih dalam rengkuhan nya, juga menghapus sisa air mata Fania dipipi dengan tangannya. “Yuk kita susul yang lain ke dalam.”
“Oh iya, kayaknya semua pada rapih banget hari ini, kita mau menghadiri acara kah?.” Tanya Fania sambil menetralkan suaranya. Andrew tersenyum.
“Yah bisa dibilang begitu. Yuk.” Andrew menggandeng tangan Fania untuk menemui mereka yang sedang menunggu dirinya dan Fania.
*****
“Nah akhirnya deh.” Celetuk Ara sembari tersenyum manis saat sudah melihat Andrew dan Fania sudah muncul bergabung bersama mereka di ruang keluarga rumah baru keluarga cemara.
Fania menghampiri Papa Herman dan Mama Bela karena tadi ga sempet salim saat dirinya tiba. Si Kajol juga menghampiri Dan Anthony dan Mom Erna yang tersenyum penuh arti padanya. Membelai kepala Fania saat gadis itu mencium punggung tangan mereka seperti halnya kedua orang tua Fania.
“Maafin gue ya Kak?.” Ucap Fania pada Reno.
“Ga perlu minta maaf, Little F. Gue paham.” Kakak ganteng Fania mana mungkin bisa marah sama ade – adean kesayangannya.
Fania tersenyum karna Reno bicara sambil mengelus kepala Fania seperti biasa.
“Fania .... minta maaf ya? Semuanya?.” Gadis itu berdiri sambil menatap satu – satu orang yang bersamanya. Termasuk Andrew yang berdiri di sisinya. “Sama kamu terutama.”
“Makanya jangan gede ambek Jol.” Celetuk Jeff yang membuat lainnya tertawa. Termasuk yang lagi disindir sama si bule gila.
"Iya, untuk kali ini lo yang paling bener.” Sahut Fania dan sekali lagi membuat yang lainnya tertawa.
“Ehem.” Andrew tampak ingin berbicara. Membuat semua orang menoleh padanya.
Termasuk Fania yang menatap Andrew dengan tanda tanya. Karna pria plontos nan tampan itu berdiri tegak dengan gagahnya, nampak elegan dan jantan. Dengan raut wajah yang nampak serius.
“Papa Herman, Mama Bela.” Andrew membuka omongan yang nampak formal menatap yakin kepada kedua orang tua Fania. “Saya mohon maaf sebelumnya, Jika ada tindakan atau tindakan saya yang kurang berkenan pada Papa Herman dan Mama Bela.”
Deg!. Ada debaran yang berdentum kecil di hati Fania. Tampak Reno beserta yang lainnya terpaku menatap Andrew yang sedang berdiri dengan Gentle nya.
Andrew tersenyum dan menempatkan satu tangan didadanya, berbicara dengan gagahnya pada Papa Herman dan Mama Bela. “Hari ini, saya Andrew Adjieran Smith.” Menoleh pada Fania dan meraih satu tangan gadis itu. “Secara resmi, meminta Fania kepada Papa Herman dan Mama Bela, untuk menjadi Pendamping hidup saya.”
Fania menatap haru pada laki – laki yang kembali berbicara serius menatap kedua orang tuanya namun dengan wajah yang teduh dan penuh harap.
“Saya bukan laki – laki terbaik dan mungkin tidak bisa menjanjikan dunia untuk saya berikan pada Fania. Tapi saya bisa menjanjikan Dunia dan Hidup saya untuknya.” Andrew tersenyum pada Fania. “I Love You.”
Menatap haru, tetes air bahagia turun dari pelupuk mata Fania. Andrew menghapus air mata itu dengan tangannya. Lalu kembali lagi menatap Kedua orang tua Fania, menunggu jawaban mereka.
“Apa boleh, Pa, Ma?. Fania nya Keluarga Cemara diberikan tanggung jawabnya pada saya?.” Tanya Andrew sambil tersenyum.
Papa Herman berdiri melangkah maju mendekati Andrew. “Papa dan Mama tidak bisa mempercayakan orang lain lagi untuk menjaga Fania nya kami selain kamu Nak.” Membuat suasana lamaran Andrew menjadi haru biru.
“Terima kasih Pa.” Andrew memeluk sang calon Papa Mertua dengan sebulir air mata bahagia yang turun dari pelupuk matanya. Menghampiri Mama Bela dan mencium punggung tangan sang calon Mama Mertua. “Terima kasih Ma.”
Melangkah kembali, menghadapkan Fania dengannya.
“Naomy Stephania.” Andrew berlutut disatu kakinya. “Fania. My one and Only Fania. ( Satu – satunya Faniaku). Aku hanya bisa bilang, I Love You, More than other Man can loves you. (Aku mencintaimu, lebih dari Pria lain yang bisa mencintaimu).”
Ah, Fania terpaku, darahnya sepertinya berganti menjadi merah muda karena ia begitu merona akibat bahagia.
Andrew mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. Menatap Fania penuh harap dan cinta. “Would you marry me? (Maukah kamu menikah denganku?).
Fania Mengangguk tanpa ragu dan Andrew menyematkan sebuah cincin dijari manis Fania nya.
“Andai Aku Balon, Aku Akan Menjadi Keempat Balon yang Tidak Meletus, Agar Kau Pegang Erat – Erat.”
*****
__ADS_1
To be continue.....