BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 259


__ADS_3

Selamat membaca ...


- - -


- - -


- - -


“Kamu butuh apa, hem?”


“Aku mau pergi dari kehidupan kalian ....”


“Kenapa?.” Suara Reno terdengar di telinga Fania, berikut sosok si kakak ganteng  yang sudah mendekat dan duduk disisi lain Fania yang sedang terbaring, bersebrangan dengan Andrew.


Fania menoleh pada Reno yang kini sudah ada didekatnya.


Mom yang merasa dan menerka kalau Reno dan Andrew maupun Fania yang sepertinya sedang memiliki suatu masalah, memilih untuk meninggalkan mereka bertiga untuk memberikan privacy bagi ketiganya.


“Mom dan Michelle keluar dulu ya.” Ucap Mom yang langsung menggandeng tangan Michelle untuk menggeret putri bungsunya itu ikut keluar bersamanya.


Reno dan Andrew mengangguk.


“Makasih Mom, maaf Fania merepotkan.” Fania berujar pada Mom.


“Mom tidak merasa direpotkan, Sayang.” Sahut Mom lalu ia berjalan keluar.


“Lo benci sama gue?.” Reno berbicara lagi pada Fania setelah Mom dan Michelle meninggalkan mereka bertiga.


Fania menggeleng.


“Udah ga cinta sama Donald Bebek lo?.”


Fania tersenyum tipis. “Cinta ..... sangat ....”


“So, kenapa mau pergi dari kehidupan gue dan Andrew?.”


Fania terdiam. Andrew pun juga belum bersuara. Hanya terus membelai lembut kepala Fania.


“Berikan gue dan Andrew alasan, kenapa lo mau pergi?.” Ucap Reno dengan lembut pada Fania.


Fania masih terdiam. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Kalimat itu terlontar begitu saja.


Apa ia membenci kakak gantengnya?. Tidak!


Apa ia tak mencintai Andrew lagi?. Tidak!


Lalu apa?.


Kecewa mungkin?.


Mungkin saja rasa kecewa dan ketakutan akan ketidaktulusan Reno dan Andrew membuat kalimat ingin pergi dari kehidupan dua laki – laki yang ia sayangi dan cintai itu terlontar begitu saja.


Meski sebenarnya Fania tak ingin.


“Mungkin memang ga seharusnya gue ada disini....”


“Kata siapa?.”


Ucap Reno lagi dan Fania terdiam sejenak.


“Heart, how long we’ve been know each other?. ( Sayang, berapa lama kita saling kenal? ). Kita bertiga.” Andrew bersuara. “Nine years ( sembilan tahun ) kurang lebih. Almost ten, I guess. ( Hampir sepuluh, aku rasa ).”


Fania mendengarkannya, Reno pun sama. Hanya Reno tak membuang matanya dari Fania yang kini sedang menatap pada Andrew.


“Dan selama tiga tahun kita bertiga hampir selalu bersama, bukan?. Meski setelahnya selama enam tahun kita berpisah. Tapi selama enam tahun itu, apa kami berdua pernah melupakan kamu?. Apa pernah kami putus harapan dan berhenti mencari kamu?.”


Andrew masih berbicara dan Fania masih mendengarkannya dengan seksama.


Sambil memperhatikan wajah Andrew yang nampak teduh dengan suara beratnya yang kini terdengar lembut. Menelusuri manik mata Andrew, mencari sendiri jawaban atas keraguannya dimata elang milik laki – laki yang sangat ia cintai itu.


“Apa saat R ketemu kamu lagi dia bersikap seolah tak mengenal kamu?.”


Andrew berucap seraya bertanya.


Fania menjawab dengan menggeleng lagi.

__ADS_1


“R yang menghampiri kamu, bukan?. Bersama Ara yang menggali informasi tentang kamu dan kehidupan kamu. Ara, R yang mengenali kamu lebih dulu. Bukan kamu.”


Fania masih mendengarkan setiap kalimat Andrew, tak menyela hanya diam menatap. Begitupun Reno yang masih juga duduk dan mendengarkan Andrew berbicara.


“Kamu tahu kenapa?. Karena R menyayangi kamu. Sangat. Sejak dulu, dan aku tahu itu. Aku sudah tahu sejak aku sering melihat R memilih untuk menghabiskan waktunya menemani kamu bermain dan melakukan segala hal yang kamu suka.”


Andrew tersenyum pada Fania, menarik tubuhnya untuk duduk diatas ranjang sekarang.


“Dia bahkan ga sempat cari pacar karena sibuk jagain kamu. Apa seniat itu kalau R hanya ingin memanfaatkan kamu?.”


Ucap Andrew lagi sambil tersenyum dan melirik Reno di sebelahnya dan Reno setengah terkekeh mendengarnya. Fania sedikit tersenyum.


“Dan aku?. Kalau kamu berpikir aku hanya memanfaatkan kamu. Apa kamu pikir aku mau repot – repot mengukir nama kamu disini?.” Andrew menunjuk dadanya. Dimana ada tato bertuliskan Fania disana yang kini tertutup oleh kemejanya.


Fania tak menjawab, namun otak nya sedang bekerja, sepertinya berpikir keras sambil matanya tak luput memandangi Andrew yang sedang berbicara panjang lebar padanya saat ini. Tak menemukan hal lain selain ketulusan saat Andrew bercerita padanya saat ini.


Semua yang Andrew bilang terdengar masuk akal. Kak Reno dari dulu ga pernah terlihat punya pacar saat mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Kak Reno yang cerewet tapi selalu melindunginya dan membelanya bahkan dari Andrew sekalipun.


Tapi yang diucapkan oleh wanita yang katanya adik tirinya Reno itupun juga, kenapa pas dengan apa yang dilakukan oleh Reno hari ini. Wanita itu sebelumnya bilang, “Reno mengambil paksa aset yang seharusnya menjadi hak kami sebagai keturunan Alexander,.... melalui kamu!.”


Dan hari ini Fania disuruh menandatangani surat pengesahan dirinya sebagai adik Reno dan mendapat beberapa aset yang entah apa saja dari Reno.


‘Aku bingung, Ya Tuhan.’


Batin dan otak Fania kini sedang berkecamuk. Namun hatinya tetap merasa Reno adalah kak Reno. Si kakak ganteng yang baik dan amat menyayanginya meski tak punya hubungan darah. Sekali lagi ia merasakan kepalanya lumayan sakit.


“Little F.”


Reno kini bersuara. Sambil meraih dan menggenggam lembut satu tangan Fania yang berada disisinya.


Membelai lembut kepala Fania dengan satu tangan Reno yang lain, seperti yang sering ia lakukan.


“Gue ga melarang lo berpikir apapun tentang gue. Itu hak lo.” Ucap Reno. “Tapi kalau lo bilang perhatian gue, sayang gue ke elo itu hanya palsu, jujur gue terluka mendengarnya. Gue yakin Andrew pun sama terlukanya dengan gue.”


Sama seperti saat Andrew yang menatap intens pada Fania saat dia berbicara, saat ini pun Reno melakukan hal yang sama.


Semata – mata agar Fania menilai sendiri tiap ucapannya Reno pada adik angkat kesayangannya itu. Fania juga menatap Reno, sama seperti saat dia memperhatikan Andrew tadi.


“Akan gue ceritakan semuanya ke elo, akan gue jawab semua pertanyaan lo. Tapi nanti kalau kondisi lo sudah lebih baik. Saat ini gue Cuma mau bilang, percaya atau engga, sayang gue, perhatian gue, walau seperti yang lo bilang terlihat mustahil untuk ukuran orang yang ga sedarah, tapi gue pengecualian.”


Fania terdiam, sama seperti saat dia mencari jawaban diwajah dan manik mata Andrew, kini ia melakukannya pada Reno.


“Ceritanya panjang, Little F.” Ucap Reno lagi. “Gue ga merampas hak orang lain. Gue hanya menyelamatkan milik gue. Milik Bunda lebih tepatnya. Amanat Bunda, untuk lo.”


Wajah Fania terlihat bingung.


“Kalau niat gue adalah menggunakan seorang anak cewe yang gue angkat sebagai adik untuk sekedar menguasai harta, gue ga perlu repot – repot nunggu enam tahun.” Ucap Reno. “Kelamaan.” Andrew terkekeh bersamanya.


“Hon.” Ara muncul di kamar Andrew dan Fania. Reno dan si pemilik kamar pun menoleh. “Owen sudah datang.”


Ara datang bersama Owen yang akan memeriksa keadaan Fania. Reno dan Andrew pun mengangguk.


“Gue sedang berjuang, bukan merampas. Sedang mempertahankan apa yang seharusnya gue wajib pertahankan. Amanat Bunda.” Ucap Reno. “ Sekarang biar Owen memeriksa lo lebih dulu. Nanti kita bicara lagi, oke?.” Reno tersenyum sambil menepuk nepuk tangan Fania yang masih ia genggam. “


Fania mengangguk juga tersenyum walau tipis.


“Yang harus lo camkan baik – baik adalah, kalau sayang gue dan Andrew ke elo. Itu semua bukan dibuat – buat. Asli. Limited Edition bahkan.” Reno mengedipkan satu matanya pada Fania, lalu melepaskan tangan Fania dari genggamannya, kemudian sedikit menyingkir karena Owen akan memeriksa Fania.


Andrew berdiri dari duduknya, agar Owen sedikit lebih leluasa untuk memeriksa Fania.


“Hello, Fania.” Owen menyapa Fania yang masih terbaring.


“Hello, Doctor Owen.” Sahut Fania pelan.


“Excuse me, okay?. ( Permisi, ya? ).”


Owen pamit diri untuk memeriksa Fania dengan meletakkan stetoskop didada Fania. Melakukan pengecekan standar pada diri Fania yang nampak lemah dan pucat itu.


“Is she okay?. ( Apa dia baik – baik saja? ).” Tanya Andrew setelah Owen melakukan pemeriksaan pada Fania.


“Her blood pressure is a little bit low. ( Tekanan darahnya rendah ).” Ucap Dokter Owen.


“Just it?. ( Hanya itu? ).” Tanya Andrew.


Dokter Owen mengangguk. “She seems exhausted and little bit stressed out. ( Nampaknya dia kelelahan, kurang istirahat dan sedikit stress ). Am I right?. ( Apa aku benar? ).”

__ADS_1


“You are right. ( Kau benar ).” Sahut Andrew.


Dokter Owen tersenyum pada Fania. “Take some more rest. Complete rest. Bed Rest ( Berisitirahat lah lebih banyak. Istirahat total ). That’s all you need for now. ( Itu yang kamu butuhkan sekarang ).”


Andrew tersenyum pada Fania.


“Is there any medicine that she has to take?. ( Apa ada obat yang harus dia minum? ).” Tanya Andrew pada Dokter Owen. “She said her head is in pain. ( Dia bilang kepalanya sakit ). her body is a little bit heartburn too. ( Badannya sedikit panas juga ).”


Dokter Owen tersenyum pada Andrew.


“I think I should called Judith to come. ( Sepertinya aku harus menelpon Judith untuk datang ).”


***


Reno dan Ara turun ke bawah saat Owen masuk dan memeriksa Fania. Menghampiri Dad dan Mom, Michelle, Jeff serta Uncle Keenan yang masih disana.


“How’s Fania?. ( Bagaimana keadaan Fania?).” Tanya Dad.


“Owen is checking her. ( Owen sedang memeriksanya ).” Jawab Reno.


“Kenapa Fania bisa sampai seperti itu Ren?.” Tanya Mom. “Kasihan dia, wajahnya pucat gitu. Sepertinya demam, karena tadi Mom sempat pegang keningnya, badannya panas.”


“Inggrid dan Irvin.” Jawab Reno datar dan dingin. “Mereka penyebabnya.”


“Well, sepertinya kamu kecolongan Ren.” Uncle Keenan bersuara.


“Mereka menemui Fania?.” Sahut Mom.


“Sepertinya begitu. Nino sedang mencari informasi.” Ucap Reno lagi dengan wajah yang menggambarkan kalau otaknya sedang memikirkan sesuatu.


“Entah apa yang mereka katakan sampai Fania tampak tertekan seperti itu.” Ucap Ara sambil menggeleng pelan.


“You don’t want to talk to your Dad?. ( Apa kamu tidak mau berbicara dengan ayahmu? ).” Ucap Dad seraya bertanya pada Reno.


Reno menggeleng. “Useless. Wasting time, and no need. ( Percuma, buang waktu dan ga perlu ). All I have to do is give him some lesson especially to that three brazen human. ( Yang akan aku lakukan adalah memberinya pelajaran, terutama pada tiga manusia kurang ajar itu ).”


Dad menghela nafasnya.


“How ever, he’s still your Dad, R. ( Bagaimanapun dia tetap ayah kamu, R ).” Ucap Dad lagi.


“Bunda’ s husband. ( Suaminya Bunda ).” Sahut Reno cepat. “I stopped consider he’s my Father since he made my mom suffer with his treachery. ( Aku berhenti menganggapnya ayah kandungku sejak ia membuat ibuku menderita dengan pengkhianatan nya ).” Nampak ada dendam di mata Reno.


Ara mengusap pelan punggung Reno.


“Shameless man, who gave my Mom’s holding to his mistress ( Laki – laki tidak tahu malu yang memberikan harta ibuku pada simpanannya ). Even that shameless woman and her cursed kids want to posses all ( Bahkan wanita tak tahu malu dan anak – anaknya yang terkutuk itu ingin menguasai semuanya ).” Wajah Reno menunjukkan kebencian yang teramat sangat. “Over my dead body!. ( langkahi dulu mayatku ).”


***


“Excuse me. ( Permisi ).” Theresa datang menghampiri ke ruang keluarga di mana mereka yang sedang menunggu Fania diperiksa Owen sedang berkumpul.


“What is it Theresa?. ( Ada apa Theresa? ).” Tanya Mom pada kepala asisten rumah tangga di Kediaman Smith itu.


“Doctor Judith is here, Ma’am. ( Ada dokter Judith, Nyonya ).” Jawab Theresa dengan sopan.


“Judith?.” Reno mengernyitkan dahinya.


“Please her to come in. ( Persilahkan dia masuk ).” Ucap Mom dan Theresa mengangguk.


“Kamu ada Janji dengan Judith, Babe?.” Tanya Reno pada Ara. Dan istrinya itu menggeleng.


****


To be continue....


·         Maapkeun update Cuma satu episode yah sayang – sayangnya emak semua. Emaknya Queen agak puyeng kek si Kajol akibat keujanan. 😄


Mudahan ga pada bosen yaaa


Bilang yak kalo udah bosen. Wkwkwkw ( mudahan sih jangan ).


Ga ada hal lain lagi selain terima kasih buat para reader yang masih setia.


Loph Loph selalu dari Author


💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2