BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 24


__ADS_3

♦DON’T CRY SNOWMAN♦ Jangan Menangis Snowman ♦ #1




Selamat membaca ..


‘You miss me so bad, huh?. (Segitunya yang kangen aku, ya?).’


‘Very My Snowman!. Mrs. Snowman is missing you like crazy now. (Banget Tuan Snowman! Nyonya Snowman ini sedang sangat merindukan kamu).’


‘Then this Mister Snowman, will be right here waiting for Mrs. Snowman to give her a deep kiss. (Kalau begitu Tuan


Snowman ini akan menunggu Nyonya Snowman untuk memberikan ciuman yang lama untuknya).’


‘Haha. Cant’ wait for that. (Aku sangat menantikannya kalo gitu).’


‘Ya sudah aku tunggu ya.’


‘Iya, I’m on my way ya .. (Aku udah dijalan ya ..). I love you, D.😘’


‘I love you more. Hati – hati.’


‘Iya. Don’t cry missing me loh. (Jangan nangis ngangenin aku loh).’


‘Kan kamu yang katanya sedang kangen berat.’


‘Oh iya ya, hehehe. Aku yang kangen deng.’


‘Aku juga kangen kok sama bumil yang seksi.’


‘Ya udah, bye D, until we meet again (Dah D, sampai saat kita bertemu lagi).’


‘See you soon (Ketemu secepatnya). Use that sentence (Gunakan kalimat itu).’


‘Iya, iya. Sensi amat Donald Bebek. Love you. Always.’


‘Kira – kira berapa lama lagi sampai?.’


“Sabar ya suamiku yang blaem – blaem ..” Fania menggumam sambil tersenyum setelah membaca pesan dari Andrew, yang tak ia urungkan untuk dibalas karena merasa kira – kira lima menit lagi sampai ke kantor pusat Perusahaan Smith. Hanya terhambat lampu merah sebentar.


Alex dan Ezra bersamanya. Keduanya duduk didepan, Ezra yang menyetir, dan Alex berada dikursi penumpang


sampingnya, sementara Fania dikursi penumpang belakang.


“Don’t take off your seatbelt now, Ma’am (Jangan lepas dulu, sabuk pengaman anda, Nyonya).” Alex menoleh pada


Fania yang nampak akan melepas sabuk pengamannya.


“Smith’s Company is just ahead, Alex (Perusahaan Smith udah didepan, Alex).” Sahut Fania.


“Please plug it again, Ma’am (Tolong pasang lagi, Nyonya).” Timpal Ezra. ‘What a habit (Kebiasaan).’ Batin Ezra berkata sambil setengah menggeleng dengan Fania yang ga betah pakai sabuk pengaman kalau duduk dibelakang.


“You guys just like your Boss (Kalian tuh mirip Boss kalian).” Celetuk Fania. “Chatty (Cerewet)! Too much (Berlebihan). It’s green (Udah hijau tuh).”


Ezra langsung memainkan persneling dan menginjak gas.


“Ah, by the way....


BRUAG!!!


***


Perusahaan Smith..


“Ndrew!. Let’s go, we have a meeting (Ayo, kita ada meeting).”


Jeff menerobos masuk ke ruangan pribadi Andrew.


Andrew yang sedang berdiri di dekat jendela, berbalik dan mengernyitkan dahinya.


“Meeting?. Meeting apaan?.” Tanya Andrew heran.


“Ck! Meeting bulanan lah!.” Jawab Jeff sambil mencebik.


“Haish! Gue lupa kalau itu meeting sekarang. Mana Fania mau datang lagi.” Sahut Andrew.


“Just tell Eve to accompany her when Fania come or bring her into meeting room (Bilang aja sama Eve buat nemenin kalo Fania datang, atau suruh bawa aja ke ruang meeting). Toh dia juga mau belajar soal bisnis kan?, suruh aja ikut meeting biar belajar sekalian. Jadi pas lulus dia udah ga kesulitan nanti.”


Andrew manggut – manggut, lalu memakai kembali jas kerjanya dan melangkah keluar dari ruang pribadinya bersama Jeff.


***


“Eve, if my wife come, you take her into main meeting room (Eve, kalau istri gue datang, bawa dia ke ruang meeting


utama).” Ucap Andrew saat sudah keluar dari ruangan dan berbicara pada sekertaris pribadinya itu. Eve mengangguk paham.


“Yes, Sir! (Ya, Tuan!).” Ucap Eve dengan hormat. “Mister Andrew! (Tuan Andrew!).”


“Hey, Ndrew?. Lo kenapa?!.”


Eve memekik kaget karena Andrew tiba – tiba limbung dan sedikit menghantam meja Eve, mencengkram pinggirannya sembari memegang dada. Jeff yang berjalan didepan Andrew pun spontan menoleh mendengar

__ADS_1


pekikan Eve, yang kemudian berusaha memegangi tubuh Andrew.


Andrew masih memegangi dadanya, seperti ada yang tiba – tiba menghantam jantungnya, nafasnya setengah


tersengal. “I’m okay (Gue baik – baik aja).” Ucap Andrew setelah dirasa ia sudah bisa menguasai dirinya dan kembali berdiri tegak.


“Are you sure? (Yakin lo?).” Ucap Jeff karena sepertinya wajah Andrew sedikit pias. “Kalau lo merasa kurang sehat, lo istirahat aja sana. Biar lo gue yang wakilkan, nanti gue bilang sama R.


Andrew mengangkat satu tangannya. “It’s okay (Ga apa – apa).”


“Ya udah ayo.”


**


“Lo yakin ga lagi kurang sehat, Ndrew?.”


‘Ada apa?.’ Andrew memegang lagi dadanya.


Nampak meraba – raba sakunya sendiri.


“Jeff call Eve to bring my cell phone (Jeff telpon Eve untuk bawakan ponsel gue). Gue tinggalkan diatas meja kerja.


And where’s R? (Dan mana R?).” Ucap Andrew yang tidak melihat Reno di ruang meeting, bahkan Nino pun tak nampak.


“They will be here soon, Mister Andrew (Mereka akan segera ada disini, Tuan Andrew).” Ucap Kelly yang merupakan sekertaris pribadi Reno. “They on the way from our company at Birmingham (Mereka sedang dijalan dari Perusahaan kita yang ada di Birmingham).”


Andrew hanya menjawab dengan anggukan pada Kelly dan langsung duduk di kursinya dalam ruang meeting. “Jeff, call Eve to bring my cell phone (Jeff, telpon Eve untuk bawakan ponsel gue).”


“Oke.”


“Dan setelah itu gue pinjam ponsel lo untuk menghubungi Fania.”


Triingggg.. Ponsel Jeff berdering saat laki – laki itu akan menghubungi Eve.


“Wait, Nino’s calling (Tunggu, Nino menelpon).” Ucap Jeff. “Nino, where are you and R?. Me and Andrew.... (Nino, lo sama R dimana? Gue sama Andrew ....).”


“......”


“Where are they now? (Dimana mereka sekarang?). And how she..? (Dan bagaimana dengan dia...?).” Jeff terpaku ditempatnya. Mendengarkan dengan seksama apa yang diberitahukan Nino padanya.


“.....”


Wajah Jeff berubah tegang, nampak mulai memucat. Tenggorokannya terasa tercekat sekarang. Ada rasa yang juga menghantam hatinya saat ini.


‘Bagaimana gue harus katakan ini pada Andrew ....’ Batin Jeff berkata lirih dengan matanya yang berkaca – kaca


menatap Andrew dengan pandangan yang sulit diartikan. Jeff menelan salivanya. Jika ia tak mengatakan secepatnya pada Andrew apa yang diberitahukan Nino tadi padanya, Andrew akan menggila. Namun rasanya lehernya tercekik sekarang, sulit untuk mengatakan ada sesuatu yang sangat buruk sudah terjadi.


Pada Fania ..


“Ndrew ....” Jeff menguatkan dirinya sendiri untuk berbicara. Suara Jeff terdengar lirih dan sedikit parau. Sementara orang – orang yang berada disekitarnya, terpaku juga ditempat mereka masing – masing, sambil bertanya – tanya dalam hati mereka tentang ada berita apa yang membuat wajah Tuan Jeff berubah drastis menjadi pias.


“Kenapa Jeff?.” Tanya Andrew yang mulai merasa ada gelagat yang beres pada Jeff yang meraih bahunya.


“We need to go to hospital.. (Kita harus ke rumah sakit ..).”



**Frognal


“Ara?. Kamu kenapa, Nak?.” Tanya Mama Anye yang melihat Ara nampak melamun didapur.


“Hati aku tiba – tiba gelisah, Ma.” Jawab Ara.


“Mungkin kamu terlalu lelah seperti Reno, Nak.” Ucap Mama Anye dan Ara menghela nafasnya panjang. kemudian mengangguk.


“Hey, baby, why you’re crying? (Hey, Sayang, kenapa kamu menangis?).” Tanya Ara pada Varen yang mata dan pipinya nampak basah. “Is he fall? (Apa dia terjatuh?).” Tanya Ara pada Lita, bersamaan dengan telpon rumahnya yang berdering.


“No, Ma’am. I also don’t know why he suddenly crying (Tidak Nyonya. Aku juga tidak tahu kenapa ia tiba - tiba menangis).” Ucap Lita yang nampak bingung.


“I miss Mamma, Mom, hiks (Aku kangen Mamma, Mom), hiks.” Varen terisak.


“Mrs. Ara.. (Nyonya Ara..).” Nina menghampiri Ara. “Mister Nino was called, he said Mister R told you to go to the hospital right away.. (Tuan Nino yang telfon, dia bilang kalau Tuan Reno menyuruh anda untuk ke rumah sakit sekarang juga ..)." Ia bicara sedikit terbata. "Something happened to Mrs. Fania ... (Sesuatu telah terjadi pada Nyonya Fania ...).”


**


“Dimana dia?!.” Andrew mengguncang bahu Reno yang terduduk tanpa ekspresi di bangku dekat ruang gawat darurat. “DIMANA FANIA, R?!!!!.” Sekali lagi Andrew mengguncang tubuh Reno melalui bahunya, mengguncangnya dengan keras. Namun Reno bergeming, tatapannya pun kosong. Hanya wajahnya yang sembab dan air matanya tak putus mengalir.


“Sir .. (Tuan ..).”


Nino meraih bahu Andrew pelan.


“WHERE IS SHE?! WHERE’S MY WIFE, NINO?!!!! (DIMANA DIA?! DIMANA ISTRI GUE, NINO?!!!!).” Andrew meraih kerah kemeja Nino dengan kasar. "WHERE’S MY WIFE?!!! (DIMANA ISTRI GUE?!!!)."


“Sir .. Mrs. Fania ... (Tuan .. Nyonya Fania ...).”


“Ndrew....” Jeff memegang tangan Andrew agar melepaskan cengkraman nya pada kerah kemeja Nino.


“What happened to her...? Where is she now...? (Apa yang terjadi padanya ..? Dimana dia sekarang...?).” Suara Andrew sudah parau, terlebih lagi dengan kondisi Reno yang ia lihat. Mematung tak bergerak, memandang kosong.


Jantung Andrew sudah tak karuan, dan badannya mendadak panas. Entah apa, namun sudah dipastikan sesuatu yang buruk sudah menimpa Fanianya. Tak mungkin Reno berekspresi seperti sekarang, jika Fania baik – baik saja.


*

__ADS_1


“Ndrew ....”*


“Kenapa Jeff?.”


“We need to go to hospital.. (Kita harus ke rumah sakit ..).”


“What happened? (Apa yang terjadi?).”


“Fania .... kecelakaan.”


**


“Andrew ...” Owen nampak keluar dari ruang gawat darurat. Ekspresinya membuat nafas Andrew mulai sesak. Reno yang kemudian tersadar dengan Owen, langsung bergerak dari tempatnya.


“She’s okay, right? (Dia baik – baik saja, kan?).”


Owen menatap Andrew dengan pandangan yang sulit diartikan, meraih punggung Andrew dan mengajaknya masuk ke ruang gawat darurat tersebut, diikuti Reno dibelakang mereka, yang masih merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Sudah tahu apa yang terjadi pada Fania, tepat sebelum Andrew datang ke rumah sakit.


**


Jantung Andrew seperti sudah tak lagi ada ditempatnya, seluruh tubuhnya gemetar, sama seperti Reno. Air matanya tak lagi terbendung, tubuhnya terasa limbung, namun ia mencoba mendekati tubuh yang terbaring didepannya saat ini.


Jeff menutup wajahnya menahan dirinya sendiri agar tidak terisak, karena rasanya kaki Jeff pun sudah seperti jelly.


“I’m sorry... Andrew ... (Maafkan aku.... Andrew...).” Ucap Owen lirih, karena tenggorokannya pun ikut tercekat.


Langkah Andrew semakin dekat, badannya kian panas seperti terbakar sesuatu yang melebihi api neraka. Tubuhnya limbung namun ia tahan sekuat tenaga agar tak ambruk, seiring rasa takutnya yang kian menyiksa, melihat sosok yang terbaring beserta kain putih yang menutupinya.



Don't cry, snowman, not in front of me


**Jangan menangis, Snowman, jangan didepanku


Who'll catch your tears if you can't catch me, darling


Siapa yang akan menyeka air matamu, jika kau tak bisa memegangku, Sayang


If you can't catch me, darling


Jika kau tak bisa, memegangku, Sayang


Cause I’m Mrs. Snow, ’till death will be freezing


Karena aku nyonya salju, sampai mati kan membeku


Yeah, you are my home, my home for all seasons


Ya, kaulah rumahku, rumahku untuk semua musim


So come on let’s go


Jadi ayo pergi 


Let’s go below zero


Berada dibawah nol derajat 


And hide from the sun


Dan bersembunyi dari mentari


I love you forever


Aku mencintaimu selamanya


And we’ll have some fun


Dan kita kan mendapatkan kebahagiaan


Please don’t cry no tears now


Ayo jangan nangis, tak ada air mata sekarang


....................


My snowman and me


Manusia salju ku dan aku


Baby


Sayang


....................


Don’t Cry, Snowman


Jangan menangis manusia salju


***


To be continue ..

__ADS_1


Kisah Ini Belum Usai...


Don't cry ya Readers


__ADS_2