
Selamat membaca...
“Where is he?!. (Dimana dia?!).” Tanya Reno pada Chaisay saat dirinya dan Nino tiba disuatu pelabuhan dan berada disuatu ruangan yang bagian luarnya dikelilingi oleh kontainer besi. Aura menyeramkan amat sangat nampak di wajahnya. Laki – laki yang memang biasanya terlihat berwajah datar dan kadang dingin itu tak menunjukkan sisi keramahannya lagi saat ini.
Saat ini amarahnya sudah memuncak, hatinya sakit atas apa yang terjadi pada Little F kesayangannya.
Chaisay membawa Reno dan Nino ke suatu ruangan lain yang nampak remang, hanya sedikit penerangan di ruangan tersebut. “He just woke up an hour ago. (Dia baru saja sadar satu jam yang lalu).”
Reno menatap tajam ke dalam sebuah ruangan kecil dari balik kaca yang tak tembus pandang dan kedap suara. Memperhatikan dengan seksama dan geram pada pria yang sedang terbaring setengah tak berdaya diatas sebuah tempat tidur beroda dengan kedua tangan dan kaki terikat.
“John said that I have to keep him alive untill you come. (John bilang untuk membuatnya tetap hidup sampai lo dateng).” Ucap Chaisay pada Reno dengan sedikit ragu.
Chaisay juga mengenal Reno karena kakak ganteng Fania itu adalah juga kakak angkatnya Andrew Smith. Salah satu anggota Keluarga Smith yang ia hormati juga.
Bagi Chaisay meski Reno tampak dingin dan datar, namun sebenarnya Reno dapat menjadi teman yang baik, namun juga dapat menjadi musuh yang amat sangat menakutkan bagi siapapun yang berani mengusiknya dan keluarganya.
Wajah menakutkan Reno dengan aura membunuhnya pun tampak saat ini. Menatap tajam hampir tak berkedip pada pria yang sedang terbaring dibalik kaca tersebut.
“Nick Alister!.” Reno bergumam dengan nada bicara yang dingin sambil menatap pria yang sepertinya sudah sadar namun masih setengah linglung itu. Setelah Chaisay menyuruh beberapa orang yang memiliki keahlian untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Nick, agar pria itu tetap hidup sampai Reno datang sesuai yang diperintahkan John sebelumnya.
Nino dan Chaisay saling tatap, entah apa yang ada di otak seorang Reno Alexander saat ini dan entah apa yang akan laki – laki itu lakukan selanjutnya pada pria bernama Nick Alister itu.
Nino sedikit sudah bisa menerka kemungkinan besar hal yang akan Bosnya lakukan itu pada Nick saat pria penyebab Fania tertembak itu saat pria itu sudah benar – benar sadar. Nino sudah pernah melihat wajah Reno yang seperti ini pada seorang pria yang pernah hampir melecehkan istrinya.
Pria itu akan dibiarkan hidup, hingga merasa kematian adalah hal yang tampak dinantikan.
“What about that woman?! ( Bagaimana dengan wanita itu?! ).” Tanya Reno lagi pada Chaisay.
“Andrew said to keep her alive. He hasn’t finish with her ( Andrew bilang untuk membiarkannya hidup. Dia belum selesai dengan wanita itu ).” Jawab Chaisay. “I put her in the different place (Gue taro dia tempat yang berbeda).”
Drrt. Drrt.
Ponsel Nino bergetar dan pria itu sedikit menjauh dari Reno dan Chaisay untuk menerima panggilan.
“Okay. I will ask him, then. ( Baiklah. Aku akan menanyakannya ).” Nino berbicara singkat di telpon lalu kembali mendekat pada Reno. “Sorry, Sir. They want to prepare the funeral. They asked, if you want to come? ( Maaf Tuan, mereka akan mulai menyiapkan pemakaman. Mereka bertanya apa anda akan datang? ).”
“I’ll comeback soon. (Aku akan kembali secepatnya).” Ucap Reno pada Chaisay, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut diikuti oleh Nino.
Flash back saat John dan Andrew di rumah sakit on**
“Fania get shot. Come through to the hospital. (Fania tertembak. Datang langsung ke rumah sakit).” John menghubungi Nino tepat saat Fania sedang ditangani di ruang unit gawat darurat.
Meski ragu, namun ia harus tetap menginformasikan pada Kakak angkatnya Fania tersebut mengenai kondisi adik kesayangannya itu saat ini melalui Nino.
Selesai dengan Nino, John kembali menekan nomor di ponselnya. “Jeff.” John menarik nafas sebentar. “Fania get shot... Fly over here as soon as possible. Tell Ara and others but not Keluarga Cemara. ( Fania tertembak.. Terbang kesini secepatnya. Beritahu Ara dan yang lain namun jangan Keluarga Cemara ).” Ucap John pada Jeff ditelpon, yang shock mendengar kabar dari John tersebut.
John menyandarkan kepalanya di tembok, berharap Fania mampu bertahan dan selamat.
Flash back saat John dan Andrew di rumah sakit off
__ADS_1
**
London.... Flashback on
Dad Anthony, Mom Erna, Ara dan Jeff serta Michelle sedang berkumpul di Kediaman utama Keluarga Smith, menunggu informasi terbaru tentang penculikan Fania.
Mereka menunggu dengan cemas dan gusar tentang kabar terbaru setelah beberapa jam Fania diculik oleh pria yang bernama Nick Alister.
Drrt.. Drrt..
Ponsel Dad Anthony berdering, pria setengah baya itu langsung melihat ponsel dan menerima panggilan. Beberapa menit berbicara di telpon lalu memutuskan panggilan.
Keempat anggota keluarga yang lain menatapnya, berharap panggilan yang masuk ke ponsel Dad itu adalah informasi terbaru soal Fania.
“How is it Dad? Any information about Fania? ( Bagaimana Dad? Ada kabar terbaru soal Fania? ).” Ara yang bertanya.
“No Dear, this is from My Man at Zurich. I want to make some reckoning with Yuri Alister. ( Bukan sayang, ini dari orangku di Zurich. Aku ingin membuat perhitungan dengan Yuri Alister ).” Jawab Dad pada Ara.
“Kenapa mereka belum menghubungi kita dari Thai?.” Ucap Ara cemas.
“Info terakhir mereka sudah setengah jalan untuk menyelamatkan Fania, Ra. Kita tunggu aja.” Ucap Jeff pada Ara.
“Iya Kak Ara, kita harus sabar. Kak Andrew pasti sedang berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan Kak Fania dari laki – laki gila itu.” Michelle mencoba menenangkan Ara yang sudah sangat gelisah.
“Mom, Ara, Michelle. Better you all take a rest ( Mom, Ara, Michelle, lebih baik kalian beristirahat ).” Dad menyarankan ketiga wanita berbeda usia itu untuk istirahat, melihat kekhawatiran yang sangat tampak di wajah mereka.
“No, I can’t take a rest if we don’t have the latest info about Fania ( Tidak, aku tidak bisa beristirahat kalau kita belum mendapat informasi terbaru tentang Fania ).” Ucap Mom yang menolak saran Dad.
Setelah beberapa lama menunggu dalam kegelisahan, ponsel Jeff yang memang sedang dipegang oleh laki – laki itu berdering.
“John.” Ucap Jeff saat melihat id si pemanggil dan langsung menerima panggilan masuk dari John itu.
Dad, Mom, Ara dan Michelle langsung mendekati Jeff.
“John! Thank’s God! You guys are succeed right? ( John! Terima kasih Tuhan. Kalian berhasil kan? ). Jeff berharap ia mendengar kabar baik dari John. “John?....” Panggil Jeff karena John tak langsung menjawab pertanyaannya.
Hanya helaan nafas John yang terdengar menyiratkan suatu penyesalan.
“What is it John? ( Ada apa John? ).” Tanya Jeff yang raut wajahnya seketika tegang. “What..? ....” Ucap Jeff lirih. Memandang pada Dad, Mom, Ara serta Michelle dengan raut wajah sedih setelah mendengar berita dari John melalui ponselnya.
“Kenapa Jeff?. Ada apa?.” Ara menyadari raut wajah Jeff yang seketika berubah. “Jeff!.” Pekik Ara karena pria itu tak langsung menjawab. “Apa yang terjadi..?.”
“Fania ....” Jeff menggantung kata – katanya.
“Kak Fania kenapa Kak Jeff?.” Tanya Michelle yang khawatir.
“What John said to you? ( Apa yang John bilang padamu? ).” Tanya Dad Anthony.
“Fania tertembak....” Jeff memandangi keempat anggota keluarga Smith dengan matanya yang sudah berkaca – kaca. “We .. need to go to Thailand as soon as possible. Because ... from what I’ve heard in John’s voice, Fania is not in a good condition ( Kita ... harus berangkat ke Thailand secepatnya. Karena ... dari suara John, sepertinya Fania dalam kondisi yang tidak bagus ).”
Mom dan Ara seketika lunglai selepas Jeff berbicara. Dad, Jeff serta Michelle dengan sigap langsung menenangkan kedua wanita yang syok mendengar kabar soal Fania. “Apa Keluarga Cemara sudah diberitahu?.” Tanya Ara dalam tangisnya. Jeff menggeleng.
“John bilang jangan dulu.” Sahut Jeff. “Lebih baik sekarang kita segera bergegas.”
__ADS_1
London.... Flashback off
***
Indonesia....
“Kenapa Mah?.” Tanya Papa Herman pada istrinya yang tampak gelisah dalam tidurnya.
“Ga tau nih Pah, perasaan Mamah dari tadi engga enak aja. Tapi ga atau ada apaan.” Jawab Mama Bela pada suaminya.
“Ya udah Papah ambilin minum dulu. Bawa Istighfar Mah.” Ucap Papa Herman yang bergegas keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur.
PRAANG!!
“Astagfirullah, kenapa Pah?.” Mama Bela tergesa keluar kamar karena mendengar sesuatu yang pecah dari luar kamarnya.
“Ini mah ..... Pigura foto si Kakak ga sengaja kesenggol.” Ucap Papa Herman sambil membereskan pecahan kaca dari pigura yang berisi foto Putri sulungnya itu. “Perasaan Papah kenapa tiba – tiba jadi ga enak juga ya Mah? ....”
***
Thailand...
“Andrew....” Ara langsung berlari menghampiri Andrew saat dia beserta Dad, Mom, Jeff dan Michelle sampai di Thailand. Saling memberi pelukan untuk menguatkan.
“My mistake, Ara... It’s all my mistakes.. ( Salah gue Ara ... Ini semua salah gue ....).” Ucap Andrew lirih pada Ara yang memeluknya.
“Semua akan baik – baik saja, hem?.” Ucap Ara mencoba menguatkan Andrew juga dirinya sendiri.
Dad dan Mom pun juga satu persatu memeluk Andrew yang nampak kacau itu. Yang bahkan belum mengganti bajunya yang masih membekas darah Fania disana.
Michelle pun memeluk Kakaknya yang terlihat kacau dan sedih itu. Termasuk Jeff yang matanya kembali berkaca – kaca melihat keadaan sahabat yang sudah menjadi saudaranya itu dalam keadaan yang tidak karuan. Dirinya juga tak mampu berkata – kata, hanya memeluk Andrew untuk menguatkan.
“I’m sorry Andrew for ask you this, but have you told Fania’s family? ( Maaf Andrew menanyakan ini padamu, tapi apa kamu sudah memberitahu keluarga Fania?).” Tanya Dad pada putra kandungnya itu.
“Not yet Dad, but I’ll tell them soon by myself ( Belum Dad, tapi aku sendiri yang akan segera memberitahu mereka ).” Jawab Andrew.
“Ndrew, gue tinggal dulu, sekalian siapkan baju ganti buat lo.” Ucap John pada Andrew yang kemudian mengangguk pelan.
“Where are you going John? ( Kamu mau kemana John? ).” Tanya Ara.
“I want to catch up R ( Gue mau susul Reno ).” Jawab John. “Nanti baju ganti lo gue suruh orang yang anter kesini.”
Andrew mengangguk. “Thanks John, Thanks a lot ( Makasih John, makasih banyak ).”
“Memang Reno dimana sekarang?.” Tanya Mom pada John.
“He’s helping to prepare a funeral ( Dia sedang membantu menyiapkan pemakaman ).”
***
To be continue...
Tinggalkan Jejak Jangan Lupa n Jika Berkenan silahkan Follow Author juga ya...
__ADS_1