
đ THING HAPPENED WAS HAPPENED đ Sudah Terlanjur đ
******************
Selamat membaca....
Rumah Utama Keluarga Smith, Jakarta, Indonesia.
âAku tahu siapa yang bisa cari Michelle di Italy.â Jawab Fania. âNih, dia juga lagi di Italy.â Fania menunjukkan layar di ponselnya pada Andrew.
âAre you sure that heâs still in Italy?. (Apa kamu yakin dia masih di Italy?).â Andrew meraih ponsel Fania.
âKayaknya sih.â Sahut Fania. âCoba aku telpon deh.â
âAku aja yang telpon si Dewa.â Sambar Andrew cepat.
âIya, iya. Cemburu ga kelar â kelar.â
Fania cekikikan.
âD, aku turun duluan ya?.â
âYa, nanti aku menyusul.â
***
âPagi semua. â Fania menyapa para anggota keluarga yang sudah duduk di ruang makan.
âPagi Jol.â
âPagi Fania.â
Balasan sapaan dari para anggota keluarga mereka.
âAndrew mana?.â Tanya Reno.
âAda diatas. Nanti nyusul. Lagi ngurusin soal Michelle dulu.â
Semua orang memandang pada Fania sambil mengernyitkan dahi mereka.
âMichelle?.â Tanya Ara.
Fania mengangguk.
âAda apa dengan Michelle?.â Tanya Dad.
âLoh Dad sama yang lain belum tahu memang?.â Jawab Fania.
âAda apa Fania?. Michelle kenapa?.â Tanya Mom yang langsung mendekati Fania.
âKata Andrew, si Michelle ga dateng ke kantor dan ga ada di apartemennya sejak dua hari yang lalu.â
***
Andrew sampai di lantai bawah saat suasana mulai sedikit panik karena Fania menginformasikan kalau si Michelle menghilang.
âAndrew, what happened with Michelle?. (Apa yang terjadi dengan Michelle?).â
Dad bertanya dengan khawatir sambil menghampiri Andrew bersama Mom.
âShe was not came into office since yesterday, unable to contact her cell phone, and sheâs not in her apartment. (Dia ga datang ke kantor sejak kemarin, ga bisa dihubungi, dan dia tidak ada di apartemennya).â
âHave you called August?. (Kamu sudah menghubungi August?).â
âSudah, Dad.â
Dad manggut â manggut.
âKok tumben dia begini?.â Mom masih nampak khawatir.
âKamu udah hubungi Dewa, D?.â
âAh iya. Gue baru mau bilang. Si Dewa kan lagi ada acara ketemu sama Chef di Italy.â Ucap Reno.
âSudah gue coba hubungi. Tapi ponselnya mati.â
âTitik GPS Michelle?.â Tanya John.
âGue sedang tunggu kabar dari August.â
âIs there any ... (Apa ada....).â
Jeff tak sempat meneruskan kalimatnya karena ada suara salam dari dua orang yang berbeda. Mereka yang berada di ruang makan spontan menoleh, termasuk para ART yang sedang menyiapkan sarapan untuk para majikannya itu.
***
âAssalamuâalaikum.â
Seorang pria dan wanita mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah dan langsung menyambangi orang â orang yang berada di ruang makan.
Sontak mereka yang berada di ruang makan pun terkejut dengan kedatangan dua orang tersebut.
âNah itu yang dicari muncul.â
âYa ampun Michelle ... Mom hampir kena serangan jantung gara â gara kamu.â Mom langsung menghampiri putrinya itu.
Michelle meraih tangan Mom juga Dad yang ikut menghampirinya untuk salim kepada kedua orang tuanya yang terlihat khawatir. âSorry Mom, Dad.â
âYou guys are together from Italy?. (Kalian datang berdua dari Italia?).â Tanya Dad.
âIya Dad, Mom. Aku ketemu Michelle di sana. Kebetulan aku ada perlu disini dan Michelle mau ikut.â
âThanks a lot, Dewa. (Terima kasih banyak Dewa).â Ucap Dad.
âNever mind, Dad. (Ga masalah, Dad).â
âGue telfon ponsel lo ga aktif.â
Andrew berucap pada Dewa.
âKapan lo telpon gue?.â
__ADS_1
âBeberapa menit yang lalu.â
âOh, gue lupa balikin modenya.â
âya udah nanti aja kita ngobrolnya. Ayo sarapan dulu.â
âSini Wa. Kusut amat muka lo.â
John bersuara mengajak Dewa untuk duduk dikursi sampingnya.
âOk.â
âPa kabar lo?.â
âBaik.â
âLo berdua kok bisa dateng barengan?.â
Dewa dan Michelle saling tatap.
âSetelah ini sebaiknya kalian berdua istirahat dulu.â Ucap Mom.
âIya, Mom.â Sahut Dewa dan Michelle.
****
âIs there anything you want to tell me Michelle?. ( Apa ada sesuatu yang lo mau ceritakan ke gue Michelle? ).â Andrew buka suara saat mereka sudah berkumpul kembali di ruang santai dan Michelle serta Dewa juga sudah
bergabung bersama mereka, setelah beberapa jam beristirahat.
âSoal?.â Sahut Michelle yang terlihat menjawab setengah gugup sambil melirik Dewa.
âKedatangan lo yang mendadak kesini?. Ada masalah di Perusahaan?.â Tanya Andrew.
âPerusahaan baik â baik saja, Kak.â
âThen. ( Lalu? ).â Tanya Andrew lagi.
âAku hanya ingin datang kesini, karena kalian semua ada disini. Kangen.â Jawab Michelle.
âKenapa mendadak tanpa pemberitahuan?. Beatrice bilang lo juga ga datang ke kantor dan ga ada di Apartemen. Ada yang mau lo jelaskan soal itu?.â Andrew sedikit mencecar Michelle dengan pertanyaan. Dan Michelle terlihat sedikit gugup.
âMmm... ga ada, Kak Andrew.â Sahut Michelle. âMy personal thing. ( Sesuatu yang pribadi ). Gue bisa kan memilih ga menjawab?. Lagipula ga ada yang perlu dijelaskan gimana â gimana.â
âSepertinya ada.â Dewa bersuara.
âKak Dewa ....â
Michelle nampak berbisik dan menatap Dewa setengah melotot, yang kemudia menatap balik pada Michelle dengan wajah yang datar. Membuat anggota keluarga yang lain menatap mereka berdua dengan tanda tanya,
karena Dewa nampak sedang menimbang â nimbang untuk bicara.
âAda apa?.â Kini Reno ikut bersuara.
âGa ada apa â apa Kak R.â Michelle langsung menyahut.
âBicara Dewa.â Andrew menyambar dan langsung menatap pada Dewa.
âKak!.â Michelle meraih tangan Dewa dan ikut berdiri dengan spontan. âKita sudah bicarakan ini sebelumnya. Jangan macam â macam Kak Dewa!. Masa depan aku taruhannya!.â
Michelle berbicara berbisik pada Dewa sambil melotot pada laki â laki itu. Dan Michelle nampak sangat gelisah.
Dewa nampak menghembuskan nafasnya sembari tersenyum pada Michelle dan membuat gadis itu semakin gusar. âEngga Chel. Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan aku.â
âSebaiknya kalian mulai bicara.â Andrew berdiri dari duduknya dan wajahnya terlihat kurang senang. Fania menyadari perubahan raut wajah Andrew dan ia pun ikut berdiri. Ia mendengar ucapan Dewa pada Michelle
tentang sebuah tanggung jawab, dan Fania yakin Andrew dan yang lainnya juga mendengar, ditambah sikap aneh Michelle dan Dewa. âTalk!. ( Bicara! ).â Andrew nampak mulai gusar.
âD ...â Fania menyentuh dada Andrew. Paham kalau sang suami sudah punya pikirannya sendiri tentang maksud kalimat Dewa yang ia dengar.
âAndrew, calm down. ( Tenang ).â Dad ikut berdiri. âDewa, Michelle, kalian bisa bicara.â Dad menatap pada Michelle dan Dewa.
âTidak ada apa â apa, Dad.â Sahut Michelle.
âMichelle, diam!.â Andrew setengah menghardik Michelle dan gadis itu langsung diam serta tertunduk.
âNdrew, jangan begitu sama Michelle. Biar gue yang bicara.â Ucap Dewa sambil menatap Andrew dengan serius.
âThen start to talk. ( Dan mulailah bicara ).â
Andrew memberikan tatapan tajam pada  Dewa. Dewa menghela nafasnya.
âDad, Mom.â Ucap Dewa. âAndrew, R.â
Terdiam sebentar, sambil memandangi bergantian keempat orang yang ia sebutkan barusan, yang juga sedang memandangi Dewa dengan intens.
âAku ingin menikahi Michelle.â
*
Flashback Italy*
âAncora! One more! Do you get it?!. ( Lagi! Ngerti ga sih lo?! ).â
âHey, Michelle?! .... What happened to you?. ( Lo kenapa? ).â
âDonât mind me ... ( Jangan perdulikan aku ..... ).â Air mata Michelle lolos ke pipinya.
âGa mungkin aku ga perduli, lihat kamu begini. Chel. Kamu ini kenapa?. Ayo aku antar kamu pulang.â
âAku bilang jangan perdulikan aku!.â
Michelle menepis tangan Dewa kala itu.
âFill up my glass!. ( Isi lagi gelasku! ).â Ucap Michelle kembali pada si Bartender.
Dewa menatap sang Bartender yang sedang juga menoleh padanya. Dan Dewa memberi kode untuk tak mengisi lagi gelas Michelle dengan gelengan kepalanya.
âFill up!. ( Isi lagi! ).â
âYou drunk, Michelle. ( Lo udah mabuk, Michelle ). Udah cukup, oke?. Ayo, aku antar kamu pulang.â
__ADS_1
âI donât want to go home!. ( Gue ga mau pulang! ).â
âQui. ( Ini ).â Dewa mengeluarkan beberapa lembar uang pada si Bartender dan langsung memapah Michelle dengan paksa dari Bar tersebut. Mau tidak mau Michelle yang sudah mulai terlihat mabuk itu pun tak bisa melawan Dewa dengan tenaganya.
âCould you please mind your own business, Kak Dewa?. ( Bisa ga sih lo urus, urusan lo sendiri, Kak Dewa? ).â
Michelle mulai mengoceh saat sudah berada di mobil Dewa. âWhat happened to you, Michelle?. (Kamu  ini kenapa, Michelle? ). Kenapa sampai sok â sok an mabuk segala sih?.â Dewa sudah melajukan mobilnya.
âAku sepertinya mau muntah.â
âCk!.â Dewa berdecak. âKalau gue antar di ke Apartemennya lumayan jauh.â Batin Dewa sedang menimbang â nimbang. âTahan dulu, Chel.â
Dewa membawa Michelle ke Hotel tempatnya menginap. Karena Michelle yang sudah mengeluh mau muntah terus itu, akhirnya Dewa buru â buru menggendong Michelle dengan tergesa dan langsung membawanya masuk kamar mandi setelah sampai di kamar suite miliknya.
âSi Andrew adiknya ada â ada aja kelakuan.â
Batin Dewa setengah menggerutu, namun ia tetap membantu Michelle tanpa merasa jijik saat gadis itu memuntahkan isi perutnya kedalam closet.
âNih.â
Dewa menyodorkan segelas susu dingin pada Michelle.
âThanks. ( Makasih ).â Ucap Michelle sambil menerima gelas yang berisi susu itu dari Dewa. Gadis itu meneguk perlahan.
âFeeling better?. ( Merasa lebih baik? ).â
Michelle mengangguk pelan.
âKamu kenapa?.â Tanya Dewa yang duduk disamping Michelle. âJangan bilang patah hati?.â Ucapnya lagi dan Michelle terdiam. Dewa langsung mendelik. âBeneran kamu lagi patah hati?.â
Michelle masih diam dan menunduk.
âAstaga, Chel, Chel. Kamu ngapain sampai kayak gini hanya karena cowok, Chel?. Konyol tau ga?!.â Ucap Dewa.
âKonyol Kak Dewa bilang?!. Lalu Kak Dewa waktu itu kecelakaan karena mabuk ga kesampaian dapat cintanya Kak Fania, apa itu ga lebih konyol?!.â
Dewa langsung terdiam.
âKak Dewa juga sudah pernah merasakan sakitnya mengetahui orang yang kita cinta sepenuh hati, tapi orang itu ga punya perasaan yang sama, iya kan?.â
Michelle mulai terisak. Dewa masih terdiam.
âItu yang aku rasa, Kak. Aku sudah menyimpan perasaan ini ke dia selama bertahun â tahun. Aku tersiksa karna rindu, tapi terlalu gengsi untuk mengatakannya dulu. Dan sekarang?. Saat aku bertemu lagi dengan dia, aku sudah membuang gengsi aku jauh â jauh. Mengenyampingkan harga diri aku, untuk mengatakan perasaan aku ke dia, tapi ternyata.. dia sudah menikah.â
Michelle masih tertunduk, dan bahunya nampak bergetar.
Dewa mengambilkan tisu untuknya.
âDan Kak Dewa tau?. Dia bilang selama ini, semua perhatian dan sayangnya ke aku, hanya sebatas rasa seperti seorang kakak pada adiknya. Kakak tahu bagaimana rasanya?. Sakit Kak... aku jatuh cinta dan patah hati disaat yang bersamaan.â Michelle masih terisak, makin keras seperti menahan sesuatu didalam dadanya.
Dewa meraih bahu Michelle dan memeluknya.
âMenyedihkan bukan?....â
âKepala kamu, sakit?.â
Dewa bertanya pada Michelle saat gadis itu sudah berhenti menangis, namun masih terisak sambil memijat dahinya.
Michelle mengangguk.
âKamu istirahat aja dulu disini, besok aku antar kamu kembali ke apartemen kamu.â
âGa apa â apa Kak, aku pulang ke apartemen aja sekarang.â Michelle berdiri dari duduknya namun nampak sempoyongan. Dewa menangkap tubuh Michelle yang hampir terjatuh itu.
âJangan keras kepala. Kamu berbaring dulu.â Dewa memapah Michelle menuju ranjangnya. Membantu melepaskan stiletto yang dipakai gadis itu.
âKak ...â
âYa?.â
âMakasih ya.â Ucap Michelle tulus pada Dewa yang membantunya. Laki â laki itu duduk ditepi ranjang sambil tersenyum dan menatap Michelle.
âChel, aku tau perasaan kamu. Aku paham, karena aku juga sudah pernah merasakannya.â Ucap Dewa sambil membelai rambut Michelle. âTapi hidup harus terus berjalan. Dan coba lihat kamu. Kamu cantik, Chel. Sangat.â Dewa menyentuh pipi Michelle dengan punggung tangannya. âDia belum tentu pantas untuk kamu tangisi seperti ini.â
Ada gelenyar aneh dihati Michelle mendengar tiap ucapan Dewa barusan. Menatap wajah Dewa lekat karena laki â laki itu juga sedang menatapnya. Hingga entah siapa yang memulai, bibir mereka akhirnya saling berpagutan dan kedua insan itu terbawa suasana yang memabukkan keduanya.
âMaafkan aku, Chel.â Ucap Dewa memandang Michelle dengan rasa bersalah saat ia sadar kalau ia sudah merusak Michelle meski tanpa paksaan.
âBukan salah Kak Dewa.â Ucap Michelle yang menyembunyikan wajahnya didada polos Dewa.
âAku akan bertanggung jawab.â
Flashback off
**Rumah Utama Keluarga Smith, Jakarta, Indonesia.
âAku ingin menikahi Michelle.â Dewa berkata dengan yakin di hadapan seluruh keluarga.
âApa?!.â Mereka semua memekik dengan keterkejutannya.
âApa ada hal yang gue lewati diantara kalian, hem?.â
Andrew melangkah maju ke hadapan Dewa. Bertanya dengan tatapan tajamnya pada Dewa.
Namun Dewa nampak tak gentar saat melihat raut wajah Andrew yang ia yakin sudah bisa menebak apa yang terjadi, dan laki â laki itu tetap ingin memastikan sendiri dari mulut Dewa.
Ketegangan sudah nampak. Tak hanya pada Andrew yang sedang menatap Dewa dengan tajam, tapi juga seluruh anggota keluarga mereka, termasuk Michelle yang takut akan kemarahan Andrew.
âI want to be responsible to what I have done ( Aku ingin mempertanggung jawabkan apa yang telah aku lakukan ).â Ucap Dewa. âIâve âtouchedâ her. ( Aku sudah âmenyentuhnyaâ ).â
Bughhhh!
****
To be continue....
Jangan lupa dukungannya my bebi bala - bala semua.. Jempol dan komennya selalu ditungguin sama othor.
__ADS_1