BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 67


__ADS_3

Selamat membaca ...


Karena asik cerita sambil nyerocos, Fania bener – bener tidak menyadari kehadiran Andrew yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Karena gadis itu sibuk bicara berhadapan dengan kakak gantengnya.


Andrew juga tidak langsung menyapa. Dia memilih untuk mendengarkan dahulu pembicaraan Fania dengan Reno,


karna Andrew lihat sepertinya Fania terlalu asyik bercerita.


“Trus, ya karna dia sebel ngeliat gue ga becus masukin bola ke dalem ring jadi dia suka gendong gue tuh biar sukses masukin bola ke ring. Ga tega katanya liat kurcaci ga bisa-bisa masukin bola. Kan lemes banget mulutnya itu orang. Donald Bebek namanya juga. Haha ....” Cerocos Fania lalu tertawa geli.


Andrew yang mendengarkan Fania bercerita sambil tertawa itu juga ikut tersenyum karena ternyata Fania sedang bercerita tentang dirinya pada Reno.


‘Masih inget ternyata lo, Fan.’ Batin Andrew.


“Awas nanti orangnya denger.” Ucap Reno yang sebenarnya mengejek Andrew.


“Bodo.” Sahut Fania. “Nah sekarang lo aja yang gendong gue buat masukin ini bola ke ring, gimana?. Senengin lah hati adikmu yang cantik ini.” Fania masih nyerocos pada Reno.


‘Cantik? Beneran cantik emangnya?.’ Batin Andrew yang penasaran Fania menyebut dirinya cantik. Padahal dulu boro – boro bisa dibilang cantik, mirip cewe aja engga. Tapi Andrew sayang kan.


“Ya udah coba.” Reno menyahuti ucapan Fania.


Untungnya cuaca di siang itu ga sepanas yang dibilang Jeff yang suka membesar – besarkan. Toh hari ini sepertinya ada tanda – tanda mau turun hujan karna langit sedikit mendung. Kalo panas banget kan bisa berubah itu warna kulit tiga orang yang lagi ada di lapangan.


“ Coba apaan, gendong?.” Ucap Fania pada Reno


“Coba aja dribble dulu sama shoot sekali.” Sahut Reno santai.


“Kalo tetep ga masuk gendong loh ya.” Ancam Fania pada Reno sambil cekikikan.


“Ya udah coba.” Ucap Reno yang menyuruh agar Fania melakukan dribble lalu mencoba menembakkan bola ke arah ring.


Fania pun menuruti Reno. Dengan gaya dribble amatiran, lalu sok – sok mengeker ring dengan gaya alay,


Fania lalu memposisikan tubuhnya untuk menembak bola ke dalam ring.


Andrew sedikit mundur saat Fania mau mendribble bola.

__ADS_1


Setelah Fania rasa sudah pas untuk melemparkan bola ke arah ring, gadis itu berjinjit dan bersiap untuk meloncat.


Saat Fania terlihat akan meloncat dan Syuuuuut....


Tubuh Fania yang ramping namun seksi itu terangkat dengan mudah ke udara dan sukses mendekatkan tangannya pada ring basket sehingga bola masuk dengan sempurna.


Fania tertawa geli saat memasukkan bola ke dalam ring, seraya girang sambil mengangkat kedua tangannya keatas dan masih berada dalam gendongan.


“Woohooo....” Teriak Fania kesenengan sambil kedua tangannya terangkat membuat ketiaknya yang mulus dan bersih terlihat karena ia memakai kaos ketat tanpa lengan. “Hahaha, Kak Reno seriusan gendongnya.” Ucap Fania.


Tapi saat Fania sedang kegirangan itu, ia melihat kakak gantengnya sedang berdiri di arah jam 12nya, saat dirinya masih terangkat diudara. Fania belum ngeh untuk melihat siapa yang memegang kuat kakinya dan mengangkatnya ke udara.


Fania sedang melihat ke arah Reno yang berdiri berdampingan dengan Ara, juga John dan seorang pria blasteran seperti John , namun sepertinya ia tidak kenal, tidak jauh dari dirinya yang sedang terangkat itu.


Reno berdiri sambil senyum – senyum dan mensedapkan kedua tangan di dadanya, juga Ara dan John yang senyum – senyum ga jelas.


‘Lah itu Kak Reno. Trus yang ngangkat gue siapa?.’ Barulah Fania sadar kemudian menoleh ke bawah arah kakinya yang sedang diangkat itu.


Mata Fania menemukan seorang Pria bertubuh atletis menggunakan topi seperti miliknya. Otak Fania masih loading....


Pria bertubuh atletis itu pun tersenyum pada Fania yang melihatnya dengan bingung. Masih dalam posisi Fania yang sedang dia angkat, seperti tidak merasa ada beban sama sekali.


“Loh....kok lo gendong gue?.” Tanya Fania sedikit terbata.


Pria itu menurunkannya perlahan, kemudian tersenyum lagi saat Fania sudah turun dari gendongannya dan menghadapkan wajah Fania dengan wajahnya.


“ Karna gue ga tega liat kurcaci ga bisa-bisa masukin bola.” Ucap Pria yang menggendong Fania barusan dengan menundukkan tubuhnya yang tinggi, sambil berkata dengan nada bicara yang lembut di tambah senyumannya yang menawan sambil merengkuh hangat bahu Fania.


Fania terkesima. Kata – kata itu ..... yang barusan Pria itu ucapkan, sangat tidak asing ditelinga Fania. Gadis itu sangat – sangat hafal, meski suara pria yang ternyata adalah Andrew, berbeda dengan suaranya yang dulu. Andrew yang ini, Donald yang ini memiliki suara khas pria dewasa. Lebih berat, lebih seksi.


Tapi Fania ga akan lupa, karna Cuma Donald lah yang selalu mengucapkan kata – kata tersebut padanya dulu. Disini, di lapangan basket dimana mereka berdiri sekarang.


Fania tidak percaya matanya ..... tidak percaya telinganya. Kebahagiaannya ada disini. Dihadapannya!.


Orang yang Fania harap – harap selama beberapa tahun terakhir, selain kak Reno nya.


Kaki Fania seakan lemas, jantungnya pun berdegup kencang. Fania mau bersuara tapi seperti ada yang tercekat di tenggorokannya. Menatap sosok itu, wajah itu, membuat rasa bahagia dan harunya bercampur dengan rasa tidak percaya dengan seseorang yang sedang tersenyum memandangnya.

__ADS_1


Fania kehilangan kata – kata, ia mengatupkan satu tangan di depan mulutnya serta mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.


“Masih inget gue ga?.” Tanya Andrew lembut pada Fania tanpa melepaskan senyum hangatnya yang menawan.


Air mata Fania yang tidak bisa gadis itu bendung, lolos begitu saja dari kedua matanya. Masih menutup mulutnya tanpa terpikir harus berkata apa. Suara isakan Fania mulai terdengar samar karna tertahan. Namun ia masih berdiri bergeming dan memandangi Andrew yang masih merengkuh bahunya.


“Little F, lo ga lupa kan sama gue, hem?.” Tanya Andrew pelan, sambil terus menatap Fania seraya melepaskan tangan gadis itu yang menutup mulutnya dan masih bergeming menatap Andrew dengan air mata yang sudah lolos terus menerus di pipinya. Mata Andrew pun sudah berkaca – kaca melihat ekspresi Fania.


“D – Do.... Nald ....” Fania berkata pelan bahkan hampir tak terdengar karena menahan isakan nya.


Andrew pun langsung memeluk Fania dengan erat. Membuat wajah Fania tersembunyi di dada bidangnya. Mata Andrew yang sempat berkaca – kaca, akhirnya juga sukses meloloskan air mata saat memeluk Fania.


“Gue kangen Fan....”. Ucap Andrew lirih meski ada bahagia di hatinya. Membuat Fania tak lagi menahan tangisnya dari isakan yang tertahan. Fania menangis tersedu – sedu dalam dekapan Andrew. Gadis itu belum bisa berkata – kata. Makin deras air mata Fania saat Andrew makin mengeratkan dekapannya pada dirinya, karna akhirnya Fania juga mendekap erat punggung Andrew.


Fania dan Andrew saling melepas kangen dalam pelukan. Fania hanya menangis tanpa bicara. Andrew memeluk Fania sambil mengelus lengan Fania yang ramping dan membelai kepala gadis itu yang tertutup topi.


Ara, Reno dan dua J juga membiarkan momen itu, tanpa ada yang menginterupsi. Reno paham perasaan Andrew saat bisa ketemu lagi dengan Fania, karena dia sudah merasakan momen itu sebelumnya. Terlebih lagi Reno tau kalau Fania punya sedikit rasa yang berbeda pada Andrew selain sebagai sahabat lama atau kakak.


Fania melonggarkan pelukannya, Andrew mencoba menghadapkan gadis itu untuk menatapnya. Namun Fania tertunduk dengan masih terisak.


“Kangen ga sama gue? Hem?.” Tanya Andrew dengan suara yang sedikit serak.


Fania menghapus air matanya saat menunduk dan mendengar Andrew bertanya apa dia kangen pada orang yang di panggilnya Donald itu.


“Lo ..... beneran Donald?.” Tanya Fania pelan menatap Andrew dengan tatapan haru masih dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Membuat Andrew tersenyum lagi.


“Terus, ini beneran Fania?.” Andrew berbalik bertanya jahil.


“Orang gue nanya beneran juga.” Ucap Fania yang masih sedikit terisak. “Lo beneran Donald yang janji bakal nemenin gue terus sejak kak Reno berangkat ke London, yang janji bakal jagain gue tapi malah ikut ninggalin gue bahkan lupa sama gue?!.” Ucap Fania lirih mengucapkan unek-unek hatinya.


Membuat Andrew menatap Fania dengan sedih karna merasa bersalah.


“Maafin gue ya?!. Kali ini gue bakal nepatin semua janji gue. Hem?.”


**


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2